
Saran dari Mardiyah telah Alma laksanakan. Ustazah Aini datang dengan beberapa santriwati senior lantas membantu mengangkat Ummi Salamah di ranjang. Kayu putih sudah sendari tadi dipegangnya, Alma mendekat, duduk di tepi ranjang dan memberikan kayu putih untuk Ummi Salamah hirup.
"Ummi ..."
"Mbak, Ummi barusan pingsan atau dari tadi?" tanya Ustazah Aini.
Alma menggeleng pelan. "Saya kurang tahu, Ustadzah. Tapi kayaknya udah dari tadi."
Pintu kamar yang semula sedikit tertutup tiba-tiba saja terbuka lebar. Datanglah Lutfan, Umma Sarah, Mardiyah dan juga Jafar. Spontan saja Alma berdiri---membiarkan Umma Sarah untuk duduk ditepi ranjang.
"Kak Salamah ..."
Ummi Salamah membuka mata perlahan---beliau sadar. Dengan wajah pucat serta lemah beliau mencoba duduk di bantu oleh Umma Sarah. Sedangkan Jafar, terduduk dibawa. Lutfan berdiri di samping Mardiyah serta Alma dan Ustazah Aini di dekat ambang pintu.
"Kak Salamah ... apa yang sakit? Kita ke rumah sakit, ya?" ucap Umma Sarah.
Dengan tersenyum tipis Ummi Salamah menggeleng. "Kakak nggak pa-pa, Sarah. Cuma kecapekan aja, tiba-tiba aja tadi kepala Kakak sakit."
Kecapekan?
Ha-harusnya aku yang ke pasar ... Ummi pasti capek tadi jalan terlalu jauh.
Pandangan Ummi Salamah beralih kepada Jafar. "Ummi nggak pa-pa, Nak. Ummi cuma pusing tadi. Kamu jangan terlalu khawatir."
Gimana bisa Ummi minta Jafar nggak khawatir? Jelas-jelas cuma Ummi satu-satunya orang tua yang Jafar punya. Kalau aku menjadi Jafar pun, aku juga benar-benar khawatir seperti dia.
Jafar terdiam dengan tatapan sendu terus menerus memandangi Ummi Salamah. Alma terduduk di bawah menyusul suaminya---dengan berjongkok di samping Jafar, Alma berucap pelan, "Ummi ... kita ke rumah sakit, ya?"
"Ya Allah, Ummi nggak pa-pa, Nak. Kalian semua jangan khawatir."
Ustazah Aini yang semula bergeming di ambang pintu, kini mendekat ke ranjang. "Yang dibilang sama Alma benar Ummi. Aini antar ke rumah sakit, Aini temeni Ummi di sana. Aini benar-benar khawatir sama Ummi."
Alma mendongak, menatap Ustazah Aini yang begitu mengkhawatirkan Ummi Salamah. Dan dari setiap ucapan yang keluar dari Ustazah Aini, seperti sudah sangat menjelaskan bahwa kedekatannya dengan Ummi Salamah begitu erat.
"Nggak perlu Ustazah. Ummi sudah ada yang menemani," sahut Mardiyah seolah-olah tahu apa yang dipikirkan Alma.
"Udah ... Ummi benar-benar nggak pa-pa. Nanti kalau Ummi ngerasa pusing lagi, Ummi bakalan minta langsung ke rumah sakit." Setelahnya, pandangan Ummi Salamah menatap Ustazah Aini dan kembali berujar, "Aini, terima kasih sudah membantu Ummi, ya? ... Sekarang baiknya kamu kemba---"
"Aini bisa temani Ummi, di sini," sanggah Ustazah Aini.
Dia ... benar-benar mempedulikan Ummi.
__ADS_1
Umma Sarah menyahut, "Aini, terima kasih atas bantuannya. Biar saya yang menjaga Kakak saya. Kamu boleh kembali, Nak."
Ummi Salamah baik-baik saja. Ustazah Aini pun telah pamit. Sekarang yang menemani Ummi Salamah di kamar adalah Umma Sarah---adik beliau. Di ruang tamu, Alma, Mardiyah, Jafar dan Lutfan duduk terdiam berkutat dengan pikiran masing-masing.
"Mas aku yakin, Bibi pasti baik-baik aja," ucap Lutfan tiba-tiba.
Jafar hanya mengangguk.
"Mardiyah makasih, udah bantu aku tadi," ucap Alma.
Mardiyah mengangguk. "Iya."
"Mas hari ini biar aku yang keliling semua outlet, buat lihat hasil penjualan kemarin. Mas di sini aja temeni Bibi," ucap Lutfan.
Jafar menggeleng pertanda tak setuju. Kemudian ia mengeluarkan pena dan buku catatan menuliskan note untuk Lutfan. "Tugas adalah tanggung jawab, Lutfan. Saya sudah memiliki tugas saya sendiri, dan kamu kerjakan tugasmu sendiri," tulis Jafar.
"Mas ... aku ngerti. Tapi kan kalau urgent gini ya nggak pa-pa. Aku bener-bener nggak kerepotan. Insya Allah, aku bisa," bujuk Lutfan, lagi.
Jafar menggeleng dan berdiri---meninggalkan ruang tamu menuju kamar.
"Jangan memaksa," ucap Mardiyah.
Alis kiri Lutfan terangkat. "Gue nggak ada niat maksa-maksa Mas Jafar. Kan gue niatnya ban---"
Alma menyusul---memasuki kamar perlahan. Terlihat Jafar tengah duduk di tepi ranjang menghadap meja rias mengunakan pakai rapi; baju putih oblong dengan celana hitam. Ia rasa sepertinya Jafar tengah gundah, merasa benar-benar takut akan sesuatu yang terus di duga-duga.
"Saya bakalan jaga Ummi. Kalau emang kamu mau berangkat kerja nggak pa-pa," ucap Alma pelan.
Jafar menengok menatap Alma dari kejauhan. Tatapan netra itu benar-benar menyiratkan segala kekhwatiran, tangan kanan Jafar terangkat dan keempat jarinya mengayun pelan---meminta Alma untuk mendekat.
"Saya bisa jaga Ummi. Saya bakalan hubungi kamu langsung kalau ada apa-apa sama Ummi."
Alma telah mendekat. Dan Jafar menyentuh jari-jari tangan istrinya---lantas meminta Alma duduk di sampingnya. Tiba-tiba saja Jafar kesulitan bernapas, beberapa kali ia mengambil dan membuang napas.
"Ka-kamu kenapa?"
Sentuhan tangan itu menjadi genggaman yang erat. Jafar mencoba mengendalikan diri, mengatur napas lagi dan lagi. Hingga napasnya membaik, ia jatuh menyandarkan kepalanya di bahu Alma.
Di-dia kenapa?
"Jafar ... kamu baik-baik aja?"
__ADS_1
Jafar mengangguk pelan, napasnya pun telah kembali normal. Ia mengangkat diri, menjauh dari pelukan Alma dan mengambil pena serta buku catatan.
"Saya takut. Saya takut kehilangan Ummi," tulis Jafar.
"Saya tahu. Jadi sekarang terserah kamu mau berangkat atau pun nggak. Saya nggak akan memaksa. Kalau emang kamu mau berangkat, saya bakalan jagain Ummi. Dan setiap menit kalau kamu tanya keadaan Ummi pun tinggal telepon, saya bakalan jawab secepatnya," ujar Alma.
Jafar dengan sedikit membungkuk menulis balasan untuk Alma. "Saya mau berangkat. Tapi apa tidak merepotkan kamu?"
Alma menggeleng. "Sama sekali nggak, Jafar. Ummi itu mert---U-ummi sudah seperti Ibu saya sendiri."
Kenapa sih bilang mertua aja harus malu?
Jafar mengangguk, lantas ia berdiri berjalan ke lemari---mengambil jaket hitam dan memakainya. Kemudian menunduk lagi di meja rias meletakkan secarik kertas di sana.
Jafar pergi. Setelah Alma mencium punggung tangannya. Dan Alma kembali melihat meja rias.
"Saya usahakan pulang cepat. Dan nanti sore kamu tidak perlu memasak, saya akan membawa makanan dari outlet. Kamu perlu mencobanya," tulis Jafar.
Alma mengangguk dengan senyum tanpa sadar.
Jadi sebenernya ... dia kerja apa?
Outlet? Menghitung hasil penjualan?
Apa itu usaha suami Ummi dan Umma?
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Disusul oleh suara Mardiyah yang memanggilnya. Lantas secepatnya, Alma berdiri---meletakkan kembali kertas Jafar di meja dan membuka pintu.
"Di panggil sama Ummi," ucap Mardiyah.
Alma memasuki kamar Ummi Salamah.
"Ummi manggil Alma?" tanya Alma.
Ummi Salamah mengangguk, meminta menantunya mendekat dengan mengayunkan tangan beliau. "Kamu ke panti sana, ambil barang-barang kamu. Di antar sama Mardiyah, ya?"
Alma menggeleng. "Alma mau jagain Ummi. Besok 'kan masih ada hari Ummi."
"Sekarang kan ada Umma Sarah. Jadi kamu ke panti sekarang, ya?"
Terpaksa Alma mengiyakan. Setelah menggunakan kaos kaki, ia menghampiri Mardiyah ke depan---dan berjalan bersama menuju parkiran.
__ADS_1
"Kapan pernikahan kalian diresmikan secara hukum?" tanya Mardiyah tiba-tiba.
"Secepatnya, Mar." Alma berdeham dan menengok pada Mardiyah, dengan senyum menggoda ia lanjut berucap, "Kamu ... sama Lutfan kapan menikah?"