Almahyra

Almahyra
Bagian 64


__ADS_3

Sekitar pukul dua belas siang. Jafar telah berangkat ke outlet, sedangkan Ummi Salamah baru saja datang dan menghampirinya di kamar tidur. Terlihat sekali beliau nampak merindu, karena pelukan hangat tak terlepas, belum lagi beliau mengecup pipi kiri, kanan, kening dan yang terakhir punggung tangan Alma.


"Eh ... Ummi." Cepat-cepat Alma mengambil tangan Ummi Salamah dan mengecup berkali-kali punggung tangan beliau.


"Gimana kabar kamu, Nak?"


"Baik, Ummi. Alhamdulillah."


Tangan Ummi Salamah masih menggenggamnya. "Apa lancar?"


Pertanyaan Ummi lagi-lagi ini. Alma hanya tersenyum tipis dengan mengangguk-angguk.


"Oh iya mengenai ... ucapan Ummi waktu itu ... Ummi minta maaf, ya?" Beliau menjeda. "Ummi bener-bener nggak maksud apa-apa, Nak."


"Yang mana Ummi?"


Ummi Salamah menjawab, "Tentang momongan. Ummi nggak ngeburu-buruin kalian kok. Kalau masih mau berdua-duaan nggak pa-pa, anak itu kehendak Allah."


Mas Jafar ... nggak negur Ummi 'kan? Ya Allah ... enggak-enggak. Nggak mungkin.


"Soalnya Ummi kepikiran terus. Ummi takut apa yang Ummi ucap ini ada yang nyakitin kamu," imbuh Ummi Salamah.


Alma menunduk. "Iya, Ummi. Do'ain Alma sama Mas Jafar, semoga disegerakan."


"Pasti, Nak."


Ummi Salamah terdiam. Beliau sepertinya melamun.


"Ummi ..."


"Ya, Nak?"


"Ummi, kenapa?"


Jeda tiga detik Ummi berujar, "Ummi kepikiran Lutfan sama Mardiyah."


Tentu saja.


Belum lagi walimatul'ursy yang sebenarnya dilaksanakan seminggu setelah kepulangannya dan Jafar dari Lazuardi hotel terpaksa batal. Alma tak tahu penyebabnya. Mungkin saja, ini juga mengenai fakta bahwa Mardiyah adalah putri Gautama Adiwangsa. Dan jelas, lagi-lagi semua terulang, orang tua mana yang ingin anaknya menderita.


"Ummi ngerasa semua ini kayak ... ke ulang lagi, Nak. Mungkin bedanya Lutfan dan Mardiyah sudah menikah secara agama." Beliau menjeda sejenak. Kemudian ujar, "Lutfan dan Jafar beruntung terlahir dari keluarga yang penuh kehangatan. Tapi kenapa Nak? Rasanya untuk pernikahan sulit sekali berjalan lurus."


"Alma rasa Ummi, Mardiyah tetap akan bersama Lutfan. Belum lagi, sendari kecil dia tumbuh di panti asuhan. Alma yakin, Mardiyah nggak akan ninggalin Umma Sarah," ujar Alma.


"Aamiin."


Ummi Salamah terdiam sejenak. "Kamu berangkat ke kedai mulai besok, Nak?"


"Iya Ummi. Tapi Alma pulangnya sore, nggak sampai malam," jawab Alma.


Tangannya di genggaman erat oleh Ummi Salamah. "Kalian berdua sama-sama kerja. Jafar juga mengizinkan kamu 'kan?"


Alma mengangguk.


"Ummi minta tolong, jangan sampai kamu lalai dari salah satu tanggung jawabmu, Nak. Entah mengenai kedai, dan entah juga melayani suamimu. Jangan sampai Masmu merasa kamu berubah, nggak boleh gitu, ya? Prioritaskan yang menurut kamu penting. Tapi jangan sampai salah satunya terlupakan," lanjut Ummi Salamah.


Alma mengangguk lagi. "Iya, Ummi. Insya Allah Alma bisa membagi waktu. Semua sudah Alma persiapankan."


"Sini coba deketan, Nak."


Alma mendekatkan wajahnya. Lagi-lagi Ummi Salamah mengecup keningnya.


"Ya Allah Ummi ..." Alma menjeda dan berujar lirih, "Alma jadi malu."

__ADS_1


"Ummi sayang sama kamu, Nak. Makasih sudah membuat putra Ummi bahagia, makasih sudah terlahir di dunia ini untuk menjadi menantu Ummi, Nak." Netra beliau tiba-tiba meneteskan air mata. "Ummi benar-benar bahagia, Alma."


...🌺...


Tidak akan ada hentinya, bilamana seseorang terus menerus mencari dan menunggu yang sempurna. Sebab sempurna memiliki penilaian yang berbeda-beda di setiap mata, dan bagi Alma sendiri, laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya sekarang sudah lebih dari kata sempurna.


Bertanggung jawab dan baik hati.


Sebenarnya masih begitu banyak kelebihan-kelebihan Jafar yang tak disebutnya. Ia pun menjadi sadar, bahwa dalam memandang manusia sangat tak perlu melihat kekurangan. Jika ada suatu kelebihan mengapa tak melihatnya dari sisi sana saja?


"Mau saya bantu?" tulis Jafar yang tiba-tiba saja memberikan buku catatan.


"Ban ... tu? Bantu apa, Mas?"


Suaminya sekarang mengambil duduk tepat di samping dengan laptop yang berada di pangkuan bertumpu bantal. "Kamu mencatat hasil penjualan 'kan?" tulis Jafar di Microsoft word.


"Iya."


"Ingin saya bantu, tidak?"


Alma menggeleng, setelah membaca itu. "Enggak. Kamu juga lagi catat hasil penjualan hari ini 'kan?"


Jafar mengangguk.


Alma kembali mengetik di laptop dengan meneliti lagi hitungan. Apakah laba atau rugi? "Lagian saya cuma ngerjain satu outlet, Mas. Enggak kayak kamu banyak, pasti kerepotan banget."


"Habis ini juga selesai, kok." Alma menengok. "Atau kamu ... mau saya bantu, Mas? Biar cepat selesai."


Jafar menggeleng.


"Kenapa?"


Jafar mengetik di Microsoft word lagi. "Sudah selesai."


"Cepet banget." Alma menutup laptopnya. "Saya juga udah selesai. Sini laptopnya, saya taruhin di meja."


"Saya baru sadar, Mas. Lingerie yang kamu beliin ini juga warna merah maroon. Suka banget ya kamu warna ini?"


Jafar mengangguk. Lelaki itu mengambil gawainya. "Saya sudah pernah bilang, bahwa kamu terlihat cantik menggunakan warna itu, Alma."


Pipi Alma memerah.


"Mas .. sini coba lihat saya," ucap Alma dengan meminta Jafar menatapnya. "Jangan jauh-jauh. Kurang deket, Mas."


Jafar merubah posisinya dengan menghadap kepada Alma.


"Apa?" Jafar menggerakan bibirnya.


"Saya cuma mau lihatin kamu."


Jafar tersenyum tipis.


"Mas, makasih ..." Alma tersenyum tipis dengan mengusap pipi kiri suaminya. "Makasih atas semuanya."


"Atas pernikahan ini, penerimaan kamu atas diri saya yang seperti ini dan juga atas semua tanggung jawab kamu terhadap saya, Mas."


Alma sedikit menunduk menghindari tatapan Jafar.


"Saya udah nggak ngerasa berat menjalini hidup, Mas. Saya bahagia." Jafar menarik dagunya supaya dapat bertemu tatap. "Kamu membuat saya dan Tante Bunga kembali seperti saudara lagi."


"Surat kamu dulu. Saya masih ingat, Mas. Saya sadar, sebagai wanita saya benar-benar masih membutuhkan laki-laki." Alma menghela napas sejenak. "Dan sebagai manusia, saya nggak bisa menolak takdir, saya nggak bisa menentang garis kehidupan yang telah Allah berikan, Mas."


"Sama ..." Netranya telah berlinang air mata. "Seperti yang kamu bilang dulu, semua hal yang terjadi di kehidupan ini pasti memiliki hikmah."

__ADS_1


"Dengan di bawanya dulu ... anak usia empat belas tahun ke panti asuhan. Berpindah-pindah tempat, sampai akhirnya menetap dan saya ... dipertemukan dengan kamu."


Alma mengusap hidungnya, tertawa ringan dengan air mata yang masih mengalir. "Jangan kamu aja ngerasa beruntung punya saya, Mas. Saya juga be-beruntung punya kamu."


"Jangan menangis."


Alma dapat membaca gerakkan bibir Jafar.


"Saya nangis. Karena saya bahagia, Mas."


Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Saya merasa kehidupan saya bukan tentang kesedihan lagi. Saya bisa kembali bahagia itu karena kamu dan Ummi, Mas. Karena keluarga kamu menerima saya."


Walaupun sejenak merasa lega dan bahagia, tidak memungkinkan semuanya pernah merasa terluka yang amat dalam. Entah Jafar yang menyaksikan Ayah dan Pamannya meninggal, entah Mardiyah yang terpaksa ditelantarkan hingga begitu banyak orang-orang yang menyebutnya anak haram, entah pula Umma Sarah, Ummi Salamah dan Lutfan yang harus bangkit dari keterpurukan.


Entah pula dirinya dahulu, yang harus hidup sendiri di umur empat belas tahun. Bahkan yang menyakitkan adalah penolakan sanak saudara terhadap dirinya dulu. Berakhir menjadi yatim piatu, dan terpaksa bernaung di panti asuhan bukanlah takdir yang sepenuhnya menyakitkan.


Pertemuan dengan Bibi Maryam dan Paman Idrus benar-benar membuat kehidupannya berubah. Karena benar, tak selamanya orang lain bersikap acuh dan asing. Juga tak selamanya pula sanak saudara selalu ada.


Tangan hangat tiba-tiba menariknya dalam dekapan. Jafar memeluknya.


"Mas ..."


Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Mau progam hamil?"


^^^


TAMAT


^^^


Note:


S1 berakhir sampai sini


Jangan bilang gantung. Saya akan jawab, "Enggak. Ini nggak gantung. Part yang pas untuk saya tamatkan walau di bagian 64."


Kenapa tamat tiba-tiba?


Karena sejujurnya hati saya sudah berpaling kepada Beda Tiga Tahun (canda). Karena S1 memang sudah seharusnya berakhir, Alma bahagia, Jafar menerima diri sendiri, keduanya sudah saling menyatu. Hanya saja mungkin cobaan baru muncul di kehidupan Lutfan (sudah beda cerita ini) Saya takutnya kalau di terusin agak semakin nggak jelas. Jadi lebih baik saya tamatkan.


Ada S2 sudah saya persiapkan. Tapi saya nggak tahu updatenya kapan (mungkin saat Beda Tiga Tahun tamat). Saya spolier bahwa kedepannya akan fokus di masa penyembuhan Jafar, konflik mungkin ada sedikit-sedikit, dan yang pasti mungkin juga Jafar dan Alma sudah saya buat memiliki anak atau setidaknya Alma sudah hamil lah.


Dimohon untuk tidak kecewa, ya?


Dan untuk pembaca Almahyra. Terima kasih telah bertahan selama ini, semoga kalian bahagia selalu. Mohon di ambil amanah yang baik dari kehidupan Almahyra di S1 ini.


Ah iya. Mohon mampir di Beda Tiga Tahun dong, Lutfan dan Mardiyah menunggu kalian. Mungkin akan sedikit ada komedi karena Lutfannya tengil, mungkin juga radak ada sakit-sakitnya karena kehidupan Mardiyah yang agaknya menderita.


Dan satu lagi. Ekhmm ... Saya mau kasih hadiah buat kalian pulsa wkwk. Serius ini. Walau nggak banyak, tapi semoga beruntung, ya? Soalnya saya makasih banget sama kalian, karena bener-bener udah mau baca Almahyra.


Saya kasih pertanyaan dulu di bawah. Jawabannya harus tepat, detail, dan benar.


1. Penyakit apa yang diderita oleh Ayah dan Ibu Alma? (Sebutkan Part berapa beserta jawaban)


2. Cek yang diberikan Tante Bunga untuk operasi hernia Alma senilai berapa juta? (Sebutkan part berapa beserta jawaban)


Sudah itu aja. Satu orang yang menjawab pertama akan mendapat 10k dan satu orang lagi yang menjawab kedua mendapat 5k. Saya tahu ini nggak seberapa, tetapi itu sedikit dari saya.


Semoga beruntung. Kalau belum beruntung, di tamat cerita selanjutnya Insya Allah ada lagi.


Nantikan Almahyra S2, ya!


Dadah! Assalamualaikum!

__ADS_1


Balik halaman ke Beda Tiga Tahun, ya!


(Saya kasih bocoran, semua jawaban di atas itu pasti berada di part-part awal, tidak sampai pada part 30. Silakan cari)


__ADS_2