
"Mas Lutfan kecelakaan, Kak."
Detak jantung Alma terpacu lebih cepat detik saat ia mendengar kabar tak baik itu terucap dari bibir Salwa. Lutfan? Lelaki penuh tawa kecelakaan? Apakah dia baik-baik saja? Segala tanya ingin ia sampaikan, namun tertahan rasanya di bibir.
"Di rumah sakit mana?"
Tulisan Jafar yang terbaca oleh Salwa dapat dilihat Alma.
"Adiwangsa Hospital, Mas."
Jafar hendak berbalik pergi. Namun tangan kanannya di tahan oleh Ummi Salamah. "Nak, jangan pergi. Kamu baru pulang, kamu di sini aja. Di sana ada Mardiyah, Bibi Sulis sama Kakek. Tolong kamu di sini, temani Bibimu," ucap beliau.
Pasrah.
Memilih menetap untuk menemani Umma Sarah. Padahal sungguh ia sangat mengkhawatirkan Lutfan. Namun apa boleh buat? Ucapan yang dikatakan oleh Umminya benar, lebih baik di sini, tentu di rumah sakit pun tak dibolehkan orang sebanyak itu menunggu.
Gawai milik Umma Sarah yang terletak di meja tiba-tiba berbunyi. "Siapa?" tanya beliau.
"Dari Mbak Mardiyah, Bi," ucap Salwa.
Panggilan tatapan muka menampilkan wajah Mardiyah yang memerah. Walau tak terlihat air mata, Alma tepat menyakini bahwa sebenarnya tatapan itu tak bisa berbohong. Mardiyah terpukul, pasti tak sanggup rasanya melihat Lutfan yang penuh bahagia terkapar lemah di brankar.
"Umma ... Lut ... Lutfan di vonis lumpuh."
Air mata yang kian mereda tiba-tiba saja menggenang kembali, Umma Sarah menangis hingga terisak-isak. Alma tak pernah tahu sakitnya, tetapi menatap langsung pada netra beliau seakan-akan menyalurkan rasa sakit itu padanya. Terlalu dalam dan terlalu menyakitkan.
"Gi-gimana bisa, Nak?"
Mardiyah menggeleng pelan. Terlihat gawai di ambil alih oleh Kiai Bashir, wajah kerutan di sekitar dahi dan pipi terpampang jelas di layar. "Sarah ... anak Abi, kamu harus kuat. Anakmu nggak pa-pa, anakmu baik-baik aja, kamu percaya sama Abi. Sekarang kamu harus istirahat, Abi temani cucu Abi di sini, Abi menginap, Abi nggak akan pulang. Abi janji temani Lutfan," ucap beliau.
Jafar berjongkok, menggenggam erat tangan kanan Umma Sarah, Jafar itu seakan-akan mengatakan, bahwa semua akan membaik. Ummi Salamah mengusap air mata di kedua pipi Adik beliau secara bergantian.
"Gimana bisa Abi ...? Anak Sarah ..." ucapan Umma Sarah tertahan.
Senyuman tipis yang seakan menutup luka, Kiai Bashir tampakan. "Bisa Sarah. Kamu tinggal memenjamkan mata dan tidur, Nak. Ada Abi yang menjaga anak kamu," ucap beliau.
"Salamah, jaga Adikmu."
Panggilan terputus secara sepihak. Alma memahami Kiai Bashir, Ayah mana yang sanggup melihat anaknya menitikkan air mata? Menatap saja sebenarnya pun tak sanggup. Cobaan kembali hadir di antara keluarga yang damai ini, melihat cucu sulung yang menderita karena kecelakaan dua tahun lalu pun belum usai, kini mendengar kabar yang kian membuat hati pedih.
"Jafar bantu Ummi," ucap Ummi Salamah dengan menuntun Umma Sarah masuk ke dalam kamar beliau.
Salwa ikut masuk, langsung mencari-cari kayu putih, dan mengambil duduk di tepi ranjang kiri, sedangkan Ummi Salamah di tepi ranjang kanan. Netra Alma dan Jafar bertemu, ia memahami kesedihan yang tak terucap itu, sorot mata yang sendu seakan-akan meminta penjelasan tentang semua yang terjadi sekarang.
Jafar mengangkat buku catatan untuk menunjukkan pada Ummi Salamah.
"Tolong izin Jafar ke rumah sakit, Ummi. Jafar tidak bisa berdiam diri seperti ini, Jafar butuh melihat Lutfan," tulis Jafar.
Ummi Salamah terlihat menimbang-nimbang, akhirnya keputusan beliau adalah mengangguk. "Kamu hati-hati. Berangkat dengan siapa?"
"Cak Yanto," tulis Jafar.
Jafar telah berpamitan. Alma mengekor di belakang, menarik pelan lengan Jafar hingga sang empunya berbalik. "Mas, saya ikut," ujar Alma.
"Jangan."
Gerakan bibir itu sudah Alma pastikan akan berujung pada penolakan. Tangan yang berada di lengan Jafar, ia eratkan. "Mas, saya ikut. Saya nggak akan ngerepotin kamu, saya mau temani Mardiyah di sana. Tolong, Mas."
Genggaman tangan di lengan Jafar tarik perlahan, tangan Alma di genggamannya erat untuk menuju mobil. Ia tak peduli lagi tentang rasa lelah yang ia ingin tahu sekarang adalah keadaan Lutfan, Adik sepupu yang sangat ia sayangi.
"Mas Jafar, maaf. Cacak nanti pamit pulang sebentar, mau ngecek Icha ndak pa-pa, Mas?"
Alma langsung menjawab, "Nggak pa-pa, Cak. Kalau Icha sendirian di rumah, Cacak bisa bawa Icha menginap di panti."
"Terima kasih, Mbak."
Dalam perjalanan Alma terus menggenggam erat tangan Jafar, memberikan kekuatan, supaya kekasihnya itu tetap bertahan. Adiwangsa Hospital termasuk di perkotaan, ia tak memahami mengapa sampai sejauh itu Lutfan di bawa ke sana? Apa mungkin karena terlalu parah? Atau memang kecelakaan itu terjadi di perkotaan?
"Minta Cak Yanto berhenti di Masjid."
Membaca buku catatan Jafar yang diletakkan di pangkuannya, membuat Alma tersadar ternyata sendari tadi sudah memasuki waktu magrib, ia yakin sebentar lagi ikamah.
"Cak berhenti di Masjid itu. Kita sholat dulu di sana," ucap Alma.
Mobil berbelok memasuki pelataran Masjid. Setelah berhenti cepat-cepat Alma ke bagian salat perempuan, mengambil wudu dan sekitar dua menit ikamah terdengar. Salat magrib tiga rakaat pun terlaksana, sejenak berdo'a. Usai itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Adiwangsa Hospital.
"Halo Mar? Masih di IGD?"
__ADS_1
Mardiyah di seberang menjawab, "Kenapa kamu ke sini? Umma gimana?"
"Aku tanya di IGD atau udah pindah ke ruang rawat?" ulang Alma.
"Ruang rawat. Kamar tulip VIP, lantai dua paling ujung," jawab Mardiyah.
Mobil memasuki Adiwangsa Hospital, Alma meminta turun di parkiran mobil samping ruang rawat. Setelahnya ia meminta langsung Cak Yanto untuk pulang, dan dengan menggandeng tangan Jafar, ia berjalan menuju ruang rawat.
"Mardiyah ..." Semua orang yang berada di sana menengok. Genggaman tangan Jafar telah dilepas, Alma mendekat pada Kiai Bashir dan Bibi Sulis untuk bersalaman. Kemudian mendekat pada Mardiyah. "Mar ..."
"Gimana keadaan Umma?" tanya Mardiyah.
Alma duduk di sofa tepat di samping Mardiyah. "Beliau baik, Mar. Kamu nggak usah khawatir, banyak orang yang jaga Umma di panti," jawab Alma.
"Kalian ini baru pulang kerja. Kenapa bisa tiba-tiba ke sini? Kakek tahu kalian ini capek," ucap Kiai Bashir.
Alma menggeleng dan menjawab, "Kita udah istirahat sebentar, Kek. Kita baik-baik aja, alhamdulillah. Kata Ummi, Kakek udah di sini dari tadi siang, Kakek pulang aja biar Alma yang di sini."
Kiai Bashir menggeleng. "Kakek nggak mau pulang. Kakek mau di sini temani Lutfan."
Alma memahami Kiai Bashir begitu mengkhawatirkan cucu beliau. Ia menatap lurus ke depan melihat Lutfan terbaring di brankar, netra Lutfan terpejam bagian pipinya terdapat goresan sedikit panjang, tangan kanannya pun terdapat goresan juga. Dan untuk kaki, Alma tak bisa melihat. Entah bagaimana kecelakaan itu terjadi, tapi ia begitu bersyukur Lutfan tetap bertahan.
"Kakek, Bibi Sulis, Mardiyah ini Mas Jafar beli makanan, tolong di makan."
Mardiyah menyahut, "Aku nggak laper."
Bibi Sulis mengambil duduk di samping kanan Mardiyah, membuka makanan untuknya, Kiai Bashir dan juga Mardiyah.
"Kamu mau Lutfan ngomelin Bibi, gara-gara calon istrinya nggak makan, Mar?" ucap Bibi Sulis.
Dengan terpaksa Mardiyah menelan makanannya. Sedangkan Alma mengedarkan pandangan mencari-cari di mana suaminya, yang ternyata sedang duduk di samping Lutfan memperhatikan Adiknya dengan sedemikian jelas. Alma tahu Jafar sedih. Mungkin seperti berkaca melihat keadaan dirinya dulu yang tengah terbaring. Alma beranjak dari sofa menghampiri Jafar yang duduk di kursi single.
"Mas ..."
Tangannya yang berada di bahu Jafar tiba-tiba ditarik dan di genggam erat.
"Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk Lutfan, Mas."
Jafar mengangguk.
...🌺...
"Kamu nggak capek, Mar?"
Mardiyah menggeleng.
"Kamu tidur, biar aku sama Mas Jafar yang jaga Lutfan. Kamu udah dari siang nggak istirahat Mar."
Mardiyah menengok. "Nggak usah nyuruh aku, Alma. Kalau aku capek, aku bakal tidur."
Alma terdiam. Ia tahu Mardiyah tidak akan pernah bisa semudah itu untuk istirahat. "Aku mau keluar sebentar," ucapnya.
Saat Alma keluar, ia baru menyadari bahwa diluar sedang diguyur hujan yang cukup deras. Hawa dingin tiba-tiba merasuk masuk, ia hanya menggunakan gamis tanpa jaket atau lainnya. Bukan lupa, memang ia pikir mungkin tak hujan. Di sepanjang jalan, Alma mencari-cari kantin untuk membelikan orang-orang teh hangat.
Kling!
Gawai di tangan kanannya berbunyi.
Mas Jafar
Kamu di mana?
^^^Kantin^^^
Mas Jafar
Sedang apa di sana?
^^^Beli teh hangat^^^
^^^Kamu mau apa?^^^
Mas Jafar
Tunggu di sana
Saya keluar
__ADS_1
^^^Iya^^^
Layar gawai Alma matikan.
"Ngapain juga mau ke sini?" gumam Alma.
Sekitar dua menit menunggu terlihat Jafar berjalan kearahnya, pakaian yang digunakan suaminya pun tetap sama sendari pagi. Karena memang ia dan Jafar tak sempat untuk mengganti pakaian.
"Kenapa kamu keluar, Mas? Butuh sesuatu?"
Jafar menggeleng.
"Te ... rus?"
Jafar mengeluarkan gawai dan mengetik. "Jangan pergi sendiri. Kamu membuat saya khawatir."
"Sa-saya perginya nggak jauh, Mas. Cuma ke kantin aja, kok."
Jafar menanggapi dengan wajah datarnya. Ia kembali menunjukkan gawainya. "Jauh atau pun dekat sama saja. Kamu sadar ini sudah malam 'kan?"
Alma mengangguk kecil. "Iya, Mas. Sadar. Maaf."
Keduanya memasuki kantin. Alma memesan dua teh hangat dan dua jeruk hangat, semuanya di bungkus. Kecuali satu jeruk hangat yang di bungkus dengan sedotan yang langsung Alma minum. "Terima kasih, Mbak. Jadi berapa, ya totalnya?"
"Dua belas sama delapan. Jadinya dua puluh ribu, Neng."
Alma dan Jafar keluar dari kantin---kembali menuju ruang tulip VIP, setelah meletakkan dua teh hangat di meja. Alma kembali keluar, dan Jafar tetap mengekor duduk juga di luar ruangan menikmati hawa dingin serta memandangi guyuran hujan.
"Kamu mau nemenin saya di sini?"
Tak ada reaksi.
"Kamu nggak capek, Mas?"
Jafar menggeleng.
"Tidur, Mas. Saya cuma duduk-duduk di sini. Saya cuma mau lihatin hujan aja."
Pena dan buku catatan dikeluarkan dari saku depannya. "Saya akan menemanimu," tulis Jafar.
"Saya nggak bakal hilang. Saya cuma duduk di sini, Mas." Alma menyentuh lengan suaminya dengan menatap dalam. "Kamu istirahat, ya?"
Jafar menggeleng lagi.
"Kamu ... mau saya peluk?"
Jafar mengangguk dan tanpa pikir panjang---detik Alma merentangkan kedua tangan, ia langsung memeluk istrinya dengan begitu erat. Sesak di dada yang ditahan sedikit lega, bahkan air mata yang enggan ia jatuhkan pun terpaksa keluar. Kesedihan ini memang tak selamanya, namun sungguh ini menyakitkan. Dan pelukan Alma adalah obat terbaik untuk sekadar saja menenangkan dirinya.
"Kamu harus percaya Mas, Allah nggak akan pernah memberi cobaan hidup melebihi batas kemampuan hambaNya." Air mata Alma keluar tanpa aba-aba. Usapan demi usapan ia lakukan di surai hitam Jafar hingga turun ke punggung. "Lutfan pasti sembuh, Mas."
Jafar mengangguk.
Sekitar enam menit lamanya pelukan hangat itu terlepas, Alma membantu mengusap air mata suaminya perlahan di pipi kanan dan kiri. "Udah," ucapnya pelan.
"Lutfan lumpuh. Apa menurut kamu Mardiyah akan menerima Lutfan sebagaimana kamu menerima saya, Alma?" tulis Jafar di gawainya.
Mardiyah terdiam sejenak. "Kamu nggak bisa baca tatapan Mardiyah ke Lutfan?"
Jafar menggeleng.
"Itu bukan tatapan iba, Mas. Itu tatapan penuh rasa khawatir. Entah makna dibaliknya pun saya nggak tahu, entah dia menatap Lutfan sebagai Adik atau sebagai calon suaminya," jelas Alma.
Jafar mengetik. "Tapi apakah dia tetap akan menikah dengan Lutfan?"
"Tentu, Mas. Kamu percaya sama Mardiyah, dia nggak akan pernah mengecewakan Umma Sarah."
Jafar menyandarkan kepalanya di bahu kiri Alma. Ia kembali mengetik. "Jika pada akhirnya dia menerima Lutfan. Saya akan semakin percaya bahwa perempuan berhati mulia di dunia ini masih begitu banyak."
Terdapat jeda di aplikasi note itu. "Salah satunya, adalah kamu dan mungkin juga Mardiyah."
Alma hanya mengangguk.
Jafar kembali mengetik. "Saya ingin bertanya."
"Apa?"
"Alasan apa yang membuatmu mempertahankan pernikahan dengan laki-laki cacat seperti saya, Alma?" tulis Jafar.
__ADS_1
Note:
Spoiler cerita Mardiyah dan Lutfan sudah terlihat. Judulnya, Beda Tiga Tahun, belum saya update rutin because masih fokus ke Almahyra. Setelah cerita ini tamat, soon cerita adalah kisah mereka berdua.