
...20: Pernikahan?...
"Ganti bajumu dengan ini. Supaya luka di kakimu mudah bernapas dan bisa di obati lagi," tulis Jafar.
Alma patuh. Ia berdiri, memasuki kamar mandi, dan saat sampai di dalam pandangannya mengedar, melihat ternyata ruangan mandi ini nampak begitu estetik. Tetapi warna putih lebih dominan dan abu-abu hanya pada bagian atas saja, dan kursi duduk.
Ternyata ... tidak sesederhana yang Alma lihat dari luar.
"Jadi baju ini ... milik Ummi?" gumam Alma dengan menatapi diri dalam pantulan kaca yang sampingnya berpembatas kayu abu-abu pekat.
Alma menanggalkan satu persatu pakaiannya. Dan berganti mengunakan baju tidur yang Jafar berikan, serta tidak lupa juga kerudung instan navy yang senada.
Setelah itu ia berjalan ke arah wastafel, mencuci muka, dan netranya menangkap sikat gigi baru yang masing terbungkus, lantas ia memakainya. Sekitar tujuh menit kamar mandi Alma memutuskan keluar, usai sudah aktivitasnya.
"Ja .. far---kenapa kamu? ... Tidur di bawah?"
Jafar tak bergerak, yang mana Alma yakini mungkin suaminya itu telat tertidur. Langkah kakinya mendekati Jafar perlahan, dengan sedikit berjongkok ia menggoyangkan tubuh atletis Jafar yang tertutup kaus hitam polos.
"Jafar ..."
Mata yang semula terpejam kini terbuka---dalam detik berikutnya, tatapan Jafar dan Alma bertemu, seolah-olah lelaki itu bertanya, "Ada apa?"
"Kenapa kamu tidur di bawah?"
Jafar bergerak, mengambil posisi duduk.
"Apa gunanya ranjang seluas itu, Jafar?"
Alma menjeda. Setelah menatap ranjang, ia berjalan ke arah meja rias, mengambil pena serta buku catatan, dan memberikannya kepada Jafar. "Jawab saya. Tulis sesuatu di sini," ucap Alma.
"Akan sangat tidak nyaman bagimu tidur bersama laki-laki. Lagi pula, kamu terpaksa mempercepat pernikahan ini. Jadi, anggap saja bahwa ini adalah kamarmu dan saya hanyalah bayangan di sini," tulis Jafar.
Pena dan buku catatan tersebut Jafar letakkan di samping ia berbaring. Bahkan lagi-lagi ia tidak menyadari bahwa terkadang apa yang dituliskan untuk Alma sedikit menyakitkan.
Atau bisa sangat menyakitkan.
"Kamu bilang, bersedia. Dan sekarang kamu tiba-tiba membahas tentang pernikahan ini? ... Kalau memang kamu nggak nyaman, saya bisa kembali ke panti dan---"
Alma terdorong dengan terduduk, saat tiba-tiba saja Jafar menyentuh lengan kiri dan kanannya secara bersamaan. Ia tidak mengerti maksud dari semua ini.
"Tolong diam."
Sebagai seseorang istri yang mencoba memahami suaminya, Alma membaca gerakan bibir Jafar tadi. Ia yakin, Jafar marah. Karena memang dirinya terlalu banyak bicara. Padahal ia hanya ingin memastikan alasan apa yang membuat Jafar tidur di bawah dan meninggalkan ranjang luas nan empuk itu.
"Nyatanya yang merasa nggak nyaman saat berada dalam satu ruangan adalah kamu, Jafar. Bukan saya. Tolong lepas tangan kamu, saya mau tidur di ruang---"
Tangan kanan Jafar membungkam bibir merah alami itu. Alma terdiam, dengan netra yang melebar. Mungkin terkejut. Tapi mau bagaimana lagi? Cara efektif bagi Jafar untuk membungkam mulut yang terus menerus berbicara adalah menggunakan tangan.
__ADS_1
"Saya minta kamu diam."
Gerakan bibir Jafar terbaca lagi oleh Alma.
Dan sedetik kemudian Alma menyentak tangan Jafar yang membungkam bibirnya dengan cukup keras. "Gimana caranya saya bisa diam? Ka-mu sendiri jelas-jelas menolak kehadiran saya di kamar ini ... Atau bahkan juga rumah ini."
Jafar menggeleng.
Pena dan buku catatan kembali diambil oleh Jafar dengan lihai Alma melihat lelaki itu kembali menulis sesuatu. "Saya sedikit pun tidak pernah menolak kehadiran kamu, Alma," tulis Jafar.
"Terus kenapa kamu harus tidur di bawah? Ranjang itu milikmu, Jafar. Jangan pernah mengasihani saya seolah-olah kehidupan yang saya jalani ini menyedihkan," ujar Alma.
Walaupun sebenarnya, kehidupan saya sangat menyedihkan.
Jafar menunduk, membalikkan kertas di buku catatan yang kosong lantas menuliskan lagi untuk Alma. "Kakimu sakit. Dan saya rasa suhu tubuh pun meningkat. Ranjang itu memang lumayan luas, tapi saya takut kakimu akan tertindih," tulis Jafar.
"Kamu terlalu banyak beralasan," ucap Alma dan berdiri perlahan, berjalan menuju ke ambang pintu.
Pilihan Alma adalah keluar.
Seterusnya pun Jafar akan menolak dengan berbagai alasan dari yang logis sampai tidak logis sekali pun. Pernikahan ini memang dilakukan secara mendadak, bahkan hanya pernikahan diatas tangan---yang hanya sah secara agama saja. Dan mungkin orang-orang pesantren akan menyalah pahaminya saat esok pagi terbangun dari rumah Ummi Salamah.
Saat tangan kanan Alma hendak memegang ganggang pintu, sebuah tangan besar menyentuh jari jemari kecilnya. Tangan itu milik Jafar. Sentuhan itu berganti dengan genggaman tangan, lantas ditariknya perlahan Alma untuk kembali ke kamar. Sungguh netra yang sekarang bisa Alma tatapi dengan lama mengapa sulit sekali untuk dibaca? Jafar seolah-olah tidak mengizinkan Alma mengetahui kehidupan miliknya lebih dalam.
"Lepas. Saya nggak mau tidur di ran---"
"Jafar ... terima kasih. Karena kamu bersedia menikah dengan saya," ujar Alma lirih.
...🌺...
Satu hari menjadi istri yang berbakti untuk Jafar, ia telah merasa gagal. Karena terlalu lama menangis dan perjalanan yang cukup melelahkan membuat Alma baru saja terbangun---itu pun berkat mertuanya juga.
"Maaf, Ummi," sesal Alma.
Ummi Salamah terlihat menggeleng pelan. Dan mengeluarkan mukena baru dari lemari kaca di mushola kecil rumah beliau. Kemudian menatah dua sajadah sejajar dan menatap menantunya.
"Kamu salah apa? Kenapa harus minta maaf, Nak?"
"A-alma bangun kesiangan," jawab Alma.
Ummi Salamah terkekeh pelan. "Ini masih pagi belum siang. Lagi pula, sudah menjadi kebiasaan Jafar bangun sepagi itu, Nak. Kamu nggak perlu merasa seolah-olah kamu ini nggak berbakti dan melalaikan kewajiban."
"Ayo, sholat dulu! Habis sarapan, Ummi antar ke panti asuhan," lanjut Ummi Salamah.
Seperti biasa, salat di imami oleh Ummi Salamah. Sedangkan Alma melaksanakan salat dengan duduk, kakinya dibiarkan lurus, supaya luka yang berada di balik gamisnya tidak bergesekan dengan lantai.
Dua belas menit berlalu, segala kegiatan dalam beribadah telah usai Alma dan Ummi Salamah kerjakan. Terdengar juga pintu depan terbuka, mungkin saja itu Jafar, atau mungkin Mbok yang membantu membersihkan kediaman ini.
__ADS_1
"Mau bantu Ummi masak?" tanya Ummi Salamah.
Spontan Alma mengangguk cepat. "Mau, Ummi. Tapi---"
"Apa?"
"Bukannya Ummi setiap pagi jarang memasak? Karena biasanya Alma yang mengantar makanan untuk Ummi dan Ja---maksud Alma, Mas Jafar," ujar Alma.
Ummi Salamah mengangguk.
"Sekarang, perempuan yang biasanya mengantar makanan ada di depan Ummi, terus ngapain Ummi harus nunggu lama-lama? Lebih baik memasak berdua sama menantu Ummi ini, kan?"
Alma spontan terbatuk, ucapan Ummi Salamah sedikit membuat gugup. "Ummi istirahat aja. Alma yang memasak."
"Ummi rencana, mau keluar sebentar sama ustadzah Aini, ke pasar. Nggak pa-pa 'kan Ummi tinggal?" ucap Ummi Salamah.
Alma mengangguk. Keduanya berjalan ke ruang tamu dan melihat Jafar baru saja pulang, pandangan Ummi Salamah langsung membinar. "Kebetulan kamu udah pulang, Nak. Temenin Alma masak, ya? Bantu dia cari-cari bahan di dapur. Mbok bilang datangnya agak siangan. Dan Ummi rencana mau ke pasar sama Ustadzah Aini."
Jafar terlihat mengangguk.
Ummi telah berpamitan. Sedangkan Alma memilih menuju dapur---sunguh canggung harus ditinggal berdua oleh laki-laki yang telah menjadi suaminya ini. Bahkan ia benar-benar bingung ingin memasak apa? Tempat Ummi meletakkan sayur dan ikan di mana? Apa harus ia menanyai Jafar sedetail itu?
"Kamu butuh sesuatu?"
Selembar kertas terletak di samping kompor di mana Alma tengah berdiri. Ia menengok, menatap Jafar sejenak dan menjawab, "Iya."
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Alma.
"Telur, boleh. Atau apa pun sebisamu," tulis Jafar.
"Kalau begitu, telur rebus di kecap. Mau?" tanya Alma, lagi. Kali ini ia berjalan menuju kulkas dan mengambil lima telur untuk direbus, karena sepertinya Jafar pun bersedia memakan itu.
Dari arah luar terdengar suara yang cukup nyaring dan langkah kaki yang menuju ke dapur. Siapa lagi kalau bukan lelaki tengil---Lutfan. "Assalamualaikum, pasutri baru!"
"Waalaikumussalam."
"Ihiw, Masya Allah pengantin baru. Masaknya berduaan," goda Lutfan.
Alma tidak mengindahkan, karena fokus menyalakan kompor. Namun saat ia berbalik ingin mengambil beberapa bumbu, tiba-tiba saja di depannya sudah ada Jafar.
"Ka-kamu ngapain?" tanya Alma.
"Astaghfirullah, astaghfirullah mataku! Mataku! Mas Jafar kalau bucin mah sampai istrinya nggak mau dilihat orang, pakai ditutupi segala. Ya udah, deh! Aku nunggu di ruang tamu aja!" cerocos Lutfan.
Lutfan pergi. Jafar menjauh, dan berbalik meletakkan selembar kertas di atas meja lantas menyusul Lutfan ke ruang tamu.
"Kerudungmu tersikap," tulis Jafar.
__ADS_1