
Panggilan tatap muka sedang Alma lakukan dengan Salwa. Dikarenakan perbedaan rumah sakit ini membuat Ummi Salamah begitu merindukan dirinya sebagai menantu hingga tiada jeda untuk beliau ingin mengetahui kabar terbaru. Dan keluarga besar yang tahu tentang operasinya adalah Kiai Bashir, Ummi Salamah, Umma Sarah, Bibi Sulis, Jafar dan juga Salwa.
"Kak Alma udah makan?"
Alma menatap Jafar yang berada di samping siap untuk menyuapi bubur. "Ini makan."
"Ih ... disuapi!" Salwa terlihat berdiri, berpindah tetap menjadi bersebelahan dengan Bibi Sulis."Ummi-ummi lihat, Kak Alma sama Mas Jafar pamer. Masa VCan suap-suapan di depan aku lho!"
Alma hanya tersenyum tipis dan menerima suapan Jafar lagi. Sedang Bibi Sulis melihatnya sekilas. "Itu bukan pamer, Salwa Sayang! Emang kalau udah nikah mah bebas aja. Mata kamu nih yang merasa iri dan menganggap hal-hal wajar seperti itu dengan kata pamer."
Terlihat Salwa cemberut. "Ish Ummi nyebelin. Aku mau ke Bibi Salamah aja deh."
"Kamu ini ada-ada aja, Sal."
"Bibi Salamah, ini-ini Kak Alma." Salwa menunjuk ada mertuanya. Dilayar gawai terpampang jelas paras Ummi Salamah. "Nak, gimana kabarnya sekarang?"
"Membaik, Ummi." Alma meminta Jafar untuk duduk di samping ranjang, supaya paras suaminya itu terlihat di gawai. "Alma lagi makan bubur sama Mas Jafar."
"Ummi seneng banget lihatnya." Tatapan Ummi Salamah sejenak beralih ke arah lain. "Di sana hujan nggak, Nak?"
Alma sungguh tak tahu ruangan ini tertutup, dan tak terdengar suara hujan. Ia menoleh menatap Jafar dan suaminya itu mengangguk.
"Hujan?"
"Iya Ummi."
"Kamu bawa jaket, Jafar?"
Jafar menggeleng.
"Kebiasaan, kamu! Pasti habis magrib hawanya dingin lho, Nak!"
Alma menatapi Jafar, seingatnya tadi ia menggunakan long outer hitam polos, memang tak akan cocok di gunakan untuk Jafar dan memang juga tipis. Tapi setidaknya bisa untuk memberi sedikit kehangatan.
"Alma bawa long outer, Ummi. Nanti bisa buat selimut sama Mas Jafar," ucap Alma.
Ummi Salamah mengangguk.
"Ya udah Ummi matiin. Kalau Ummi kasih ke Salwa lagi bisa-bisa kamu nggak istirahat. Udah, ya? Assalamualaikum."
Panggilan tatapan muka terputus.
"Waalaikumussalam."
Jafar turun dari tepi ranjang. Lantas ia kembali menyuapi Alma, buburnya jikalau ia hitung-hitung tinggal tiga suapan saja. Setelah itu, ia berniat untuk mengajak Alma bersantai, sembari menonton film dari layar televisi yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Mas, udah."
Bibir Jafar bergerak. "Udah?"
"Iya."
Padahal tinggal dua suapan saja. Jafar meletakkan mangkuk di atas nakas, kemudian mendekat kursi ke brankar, dan menulis di buku catatan.
"Ingin melakukan sesuatu?" tulis Jafar.
Alma menunjuk layar televisi. "Itu. Nonton aja. Lagian ... di rumah sakit emang mau ngelakuin apa? Selain baring, makan, main ponsel, nonton tv pun kalau ada."
"Kamu bosan, ya?" tulis Jafar.
__ADS_1
Alma menggeleng. "Enggak."
"Tapi ucapanmu tadi mengesankan jika sebenarnya kamu merasa bosan, Alma," tulis Jafar.
Alma sedikit menunduk---membenarkan kerudung yang dipakainya. "Ada kamu. Ngapain bosen?"
Jafar tersenyum.
"Kamu malah senyum. Saya jawabnya serius lho. Kalau nggak ada ..." Tangan Alma terangkat menunjuk dada bidang suaminya. "Kamu. Saya benar-benar bosen, Mas."
Jafar mengangkat buku catatannya dan memberikan pada Alma. "Akhir-akhir ini kenapa kamu suka sekali menggoda saya?"
"Ooh. Jadi nggak boleh?" Alma tiba-tiba tersadar. "Bentar. Menggoda? Saya ... godain kamu?"
Alma menggeleng pelan. "Enggak-enggak. Saya nggak lagi godain kamu Mas. Saya ini ... emang ... kalau bicara sama ... kamu gini 'kan?"
"Sebelum menikah nada bicaramu cukup keras. Bahkan terdengar tegas," tulis Jafar.
"Itu beda, Mas." Raut wajah Alma tiba-tiba saja berubah. "Kamu pikir saya mau berlemah lembut ke laki-laki yang belum jadi suami saya?"
"Ya ... sekalipun dulu saya calon istri kamu. Saya tetep nggak mau sok-sok bersikap lembut gitu di hadapan kamu," imbuh Alma.
"Yang kamu lakukan sudah benar. Tetapi saya tetap merasa kamu sedikit berbeda," tulis Jafar.
"Beda gimana?" Alma menunjuk dada lagi. "Kamu! Kamu juga beda lho, Mas."
"Kamu nggak ehm ..." Alma menurun tangannya dari dada Jafar dan menatap lurus ke depan. "Nggak segalak dulu. Mata itu juga---."
Alma menengok menatap netra Jafar. "... nggak setajam dulu. Maksudnya ... kamu nggak semenakutkan dulu kalau ngelihatin saya."
Jafar terlihat menunduk tangan kanannya lihai menulis. "Saya tidak bisa lagi menatap kamu dengan amarah, Alma. Karena semua kasih sayang yang kamu berikan membuat saya tidak bisa menyakitimu lagi."
Jafar mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena saya membutuhkan itu," tulis Jafar.
Alma mengangguk. "Kamu benar. Semua manusia memang membutuhkan kasih sayang."
"Tapi ... alasan kamu untuk nggak marah lagi cuma karena kasih sayang yang saya berikan itu ... sedikit aneh, Mas."
Jafar menunduk lagi. Sekitar dua puluh lima detik ia menulis, kemudian lelaki itu meletakkan buku catatannya di pangkuan Alma.
"Tidak aneh, Alma. Kamu pikir seorang penjahat pun tidak bisa menangis saat melihat orang terkasihnya meninggal?" Terdapat jeda di satu halaman buku catatan itu. "Terkasih yang saya maksud adalah orang yang memberikan kasih sayang."
Alma mengangguk.
Lagi terdapat jeda di sana. "Lantas untuk sekadar saja menahan amarah di depanmu karena apa pun saya tidak bisa? Tentu bisa, Alma. Apa kamu tidak merasakannya?"
Jeda terakhir di buku catatan itu. "Jika tidak, tolong maafkan saya, berarti kasih sayang yang saya berikan untukmu masih tak begitu besar."
Alma menengok---menatap Jafar dengan menggeleng kuat. "Kok jadi minta maaf sih, Mas!"
"Yang ngerasain itu saya, jadi kamu nggak boleh menyimpulkannya langsung seperti itu."
Jafar mengangguk dan menggerakan bibir. "Jadi?"
"Ja ... di? Jadi apa?" Alma mengangguk paham. "O-oh ya banyak Mas. Kasih sayang ... semuanya, apa pun yang kamu berikan untuk saya itu lebih dari cukup."
__ADS_1
Alma tiba-tiba saja tertawa pelan, nyeri di perutnya terasa. "Akh! ... haduh Ya Allah, saya ..."
Jafar tiba-tiba bangkit.
"Saya nggak pa-pa, Mas."
Alma tersenyum simpul. "Saya cuma ngerasa lucu, sama jalur pernikahan kita ini Mas. Maksudnya kayak gini ... awalnya saya nolak, eh tiba-tiba saya yang pengen kamu nikahi."
Alma menggeleng pelan. "Astaghfirullah, maafin saya ya Mas? Udah lagi, belum juga ucapan saya di pertemuan per---"
Mulut Alma tiba-tiba saja di bungkam oleh tangan Jafar. Alma menaikkan sebelah alisnya, menatap suaminya seolah bertanya, kenapa? Jafar melepas bungkam dan hanya menggeleng.
"Ke-kenapa, Mas?"
Jafar menunduk dan tangannya lihai menulis. "Saya tidak suka mengingat-ingat masa pertemuan itu, Alma. Karena saat itu saya menyakitimu."
Alma memahami. Padahal sebenarnya jika diingat-ingat lagi tidak lah salah Jafar untuk marah, karena yang pertama berulah adalah dirinya. Dan sampai sekarang ia menyesali ucapannya terdahulu, yang pernah dengan sengaja menghina Jafar.
"Iya Mas ..." Alma tiba-tiba saja teringat sesuatu. "Tapi Mas kalau saya ingat-ingat lagi ... pertemuan pertama kita itu di rumah Ummi."
Kening Jafar mengerut seolah tak percaya.
"Iya, Mas." Alma meminta Jafar mendekat dengan menarik siku suaminya. "Waktu itu saya nganterin makanan. Kamu bilang, Ummi nggak ada."
Jafar akhirnya mengangguk dan tersenyum.
"Kamu ingatkan?"
Jafar mengangguk lagi.
"Pertemuan pertama kita bener-bener canggung sih bagi saya. Kalau ... kamu?"
Jafar menulis, "Jujur saya tidak merasakan apa pun. Bahkan melihat kamu saat itu pun hanya sekilas. Pertemuan yang benar-benar nyata adalah di panti asuhan."
Alma mengangguk.
"Lanjutkan pembicaraan kita yang tadi," tulis Jafar.
Kening Alma mengerut. "Apa?"
"Tatapan seperti apa yang saya berikan ke kamu saat itu? Kenapa kamu bilang sekarang berbeda?" tulis Jafar.
"Pertemuan kita di panti asuhan. Tatapan kamu tajam, Mas. Banget malahan. Tapi sekarang ..." Tangan Alma terangkat mengusap lembut pipi kiri Jafar. "Tatap seperti ini ... yang kamu berikan untuk saya."
"Sayang banget nggak ada kaca. Kalau ada saya mau kamu lihat, gimana teduh dan tenangnya mata kamu saat menatap saya sekarang," imbuh Alma.
Usapan Alma menjalar ke telinga bekalang Jafar. "Bahkan Mas ... di saat pertengkaran kita karena kesalahan paham waktu itu, tatapan kamu tetap seperti ini. Nggak berubah."
"Jadi yang kamu tulis benar, Mas? Kamu nggak bisa lagi menatap saya dengan amarah." Alma menundukkan kepala Jafar dengan sedikit menunduk ia mengecup pucuk kepala suaminya. "Saya percaya itu. Karena saya nggak pernah mendapati kamu berbohong, Mas."
Jafar mendongak---netra itu kian teduh menatapnya.
"Dekatan sini Mas. Saya mau bicara."
Jafar kian mendekat. Bahkan lelaki itu duduk di tepi ranjang.
"Sebentar lagi ... uang kamu bakalan terkuras, Mas. Di otak saya penuh dengan daftar-daftar keinginan saya. Tolong nanti ..." Alma menahan senyum dengan mengigit bibir bawahnya. Kemudian Alma mendekat pada telinga Jafar dan membisikan, "Jangan mengeluh. Karena kamu yang menawarkan, Mas."
Jafar tersenyum tipis dan menggeleng.
__ADS_1
"Azan. Kamu sholat gih di Masjid, saya nggak pa-pa sendirian dulu."