
...17 : Aku Baik-baik Aja?...
"Apa ... semudah itu kamu menyembunyikan semuanya Mar?"
Mardiyah tertawa kecil. Entahlah, tawa itu terdengar konyol namun sedikit menyesakan.
"Harus belajar bertahun-tahun untuk menyembunyikan sorot mata menyedihkan itu, Alma."
Mardiyah berdiri, berjalan ke ambang pintu, dan melihat hujan mulai mereda. Sepertinya hujan hanya ingin melewati tempat ini saja, Mardiyah mengeluarkan kunci dari saku gamis dan sebelum ia benar-benar pergi ia berbalik lagi dan berujar, "Tapi buktinya Alma, saat kita bertengkar waktu itu ... kelihatan menyedihkan sekali 'kan hidupku?"
"Aku pamit. Assalamualaikum."
Alma hendak berdiri, namun ia gagal. Hujan memang mulai reda, tapi tidak bisakah Mardiyah berdiam di sini sebentar? "Waalaikumussalam," jawab Alma lirih.
Setelah Mardiyah pergi. Alma berdiri, berjalan perlahan-lahan ke arah cermin untuk melihat raut wajahnya dan memastikan bahwa sorot matanya tidak semenyedihkan yang kelihatan.
"Nyatanya aku juga menyedihkan Mardiyah ... semua orang meninggalku lagi dan lagi."
Ia menatap cermin dengan tersenyum getir.
"Bahkan Bibi Maryam ... juga meninggalkanku," lirihnya.
Ia beralih pandang dari cermin ke bawah menatap meja kayu rias. Dan dengan menghela napas pelan ia mencoba mengatur segala kesakitan yang memenuhi dadanya. Alma memahami sebagai manusia, kehilangan adalah hal mutlak yang tidak pernah bisa dihindari. Namun lagi-lagi ia hanya makhluk yang lemah---yang bilamana kehilangan hanya sanggup meneteskan air mata.
Baginya, Bibi Maryam adalah Ibu sambung yang baik.
Bahkan, sangat baik.
"Bi ... nyatanya aku tetap Alma ... A-anak usai empat belas tahun yang sampai sekarang benar-benar takut ditinggal sendirian," gumam Alma.
Hujan telah benar-benar mereda. Ia terjatuh seakan-akan tak sanggup menahan kedua kakinya dan bersimpuh, mengeluarkan segala isak tangis yang tertahan sendari tadi.
"Bi-bi a-aku harus gimana? ... dada ku sa-kit Bi ... Kenapa Bibi ing-kar janji?"
Kedua tangannya terangkat menutupi wajah yang telah basah karena keringat juga air mata. Ia merasa tidak memiliki sandaran hidup lagi---yang benar-benar mengerti selayaknya seorang Ibu kepada Anaknya. Alma mencoba bangkit perlahan mencari-cari gawainya untuk menghubungi Paman Idrus, sungguh ia butuh mendengar langsung dari beliau.
"A-aku nggak akan percaya, se-sebelum Paman Idrus yang berbicara," lirih Alma dan sesegera mencari kontak nama Paman Idrus pada gawainya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."
Sekali lagi, Alma mencoba meng-klik tombol panggilan.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."
"Ke-napa nggak bisa?" Ia menghela napas berat, mengapa semua menjadi sia-sia. Usahanya untuk menghubungi Paman Idrus pun gagal---dan sampai kapan pun, ia tidak benar-benar bisa mempercayai yang dikatakan oleh Umma Sarah adalah benar.
Bibi Maryam tidak akan semudah itu meninggalkannya.
Apalagi, tanpa berpamitan.
Tidak akan pernah.
__ADS_1
Pintu kamar Alma yang semula terbuka sedikit kini melebar menampakan Ummi Salamah yang berdiri memandanginya dengan tatapan sendu. Entahlah tiba-tiba saja ia merasa seakan pendengarannya menuli, karena Ummi Salamah datang pun ia tidak dapat mendengar langkah kaki beliau.
"Alma ..."
Mendengar namanya disebut dengan lembut oleh Ummi Salamah. Ia mendongak dengan napas yang tersengal-sengal juga air mata yang kembali menetes, ditatapnya Ummi Salamah dengan sendu seakan-akan meminta beliau menyerap saja sedikit penderitaan kehidupannya.
"U-ummi ... Bi-bi Maryam .. a-apa beliau benar-benar me-meninggal?"
Kedua tangan hangat tiba-tiba merangkul tubuh rapuhnya---Ummi Salamah memeluknya dengan erat. "Nak, ayo naik ke ranjang. Di bawah dingin," ucap beliau pelan.
Bi-bi juga kedinginan 'kan?
"Alma ..." Ummi Salamah memapah Alma untuk berdiri dan berjalan ke arah ranjang dan mendudukkannya di sana. Kemudian tangan kiri dan kanan Ummi Salamah membantu melepas kerudung yang digunakan oleh anak asuhnya, karena benar-benar telah basah oleh air mata juga keringat.
Setelah terlepas. Tergerai indah surai hitam panjangnya, lantas tatapan Ummi Salamah beralih kepada wajah Alma yang memerah, serta mata yang membengkak, karena terlalu banyak menangis.
"Ummi bakalan temani kamu di sini. Kalau kamu mau menangis ... tuntaskan hari ini saja Alma, jangan meratapi terlalu lama, Nak," ucap Ummi Salamah pelan.
Bahkan aku belum terbiasa dengan kehilangan ini Ummi.
"Da-daku sa ... kit Ummi," lirih Alma.
Ummi Salamah menuntut Alma untuk tidur. Namun lagi-lagi gadis keras kepala ini menolak. "Alma ... kamu harus istirahat, Nak."
Dengan terpaksa Alma menyetujui untuk tidur terlentang dibantu oleh Ummi Salamah. Bahkan kedua tangan lembut beliau mengusap sisa air mata yang berada di pipi kanan dan kirinya, disusul menyikap gamis hitam yang Alma kenakan untuk melihat keadaan luka yang telah Mardiyah obati.
"Sebentar lagi waktu ashar, kamu tidur dulu. Ummi tunggu di sini, Ummi temani kamu di sini."
Sebelum kedua mata Alma benar-benar tertutup ucapan itu yang didengarnya.
Ummi ...
Ummi bukan pengganti Bibi Maryam.
Ka-karena sampai kapan pun Bibi Maryam adalah Ibu Pengganti terbaik yang pernah kumiliki ...
...°°°...
"Bibi ..."
Suara dari bibirnya disusul dengan netra yang terbuka serta napas yang tersengal-sengal. Ia memimpikan sesuatu yang buruk---bahkan sangat buruk. Mimpi yang mana itu adalah kenyataan bahwa Bibi Maryam telah pergi meninggalkannya.
"Alma, atur napas kamu, Nak," ucap Ummi Salamah.
Alma menunduk dalam, saat sadar ternyata Ummi Salamah---seorang wanita paruh baya yang akan segera menjadi mertuanya itu memilih menetap menunggu dirinya yang tengah dilanda duka.
"Minum dulu," ucap Ummi Salamah, lagi.
Alma menengok, melihat secangkir teh disediakan untuknya. "A-aku bisa minum sendiri Ummi."
Ummi Salamah mengangguk dan memberikan secangkir teh hangat pada Alma. Lantas segera di seduh teh itu perlahan-lahan hingga habis oleh anak asuhnya.
__ADS_1
"Habis ini kamu sholat ashar dulu, ya Nak?"
Alma mengangguk. "Iya, Ummi. Ini aku mau---"
"Tayamum saja, Nak. Luka di kakimu sulit untuk dibuat jalan, apalagi kalau kena air," sanggah Ummi Salamah.
"Iya. Alma tayamum," jawab Alma.
Ummi Salamah berdiri, berjalan kearah gantungan baju, mengambilkan mukena yang tergantung di sana dan meletakkannya di ranjang, supaya Alma bisa mengambilnya dengan mudah.
"Mau Ummi bantu?"
Alma menggeleng. "Alma bisa, Ummi."
"Ummi keluar sebentar, Nak. Assalamualaikum."
Pintu kayu asramanya kembali tertutup. Tempat ini menjadi sunyi dan dengan lirih ia bergumam menjawab salam dari Ummi Salamah. "Waalaikumussalam."
Alma mengunakan mukena perlahan, kemudian melaksanakan salat empat rakaat---dan berlalu lah waktu dua puluh menit ia telah menyelesaikan salat serta berzikir. Bahkan tidak lama pula terdengar ganggang pintu disentuh, yang ternyata Ummi Salamah telah datang---dengan membawa nampan.
"Kamu makan. Ummi suapi, ya?"
Alma menggeleng. Lagi pula ia tidak lapar dan makan bersama biasanya akan dilaksanakan seusai salat magrib untuk para anak panti yang berpuasa, sedangkan yang tidak biasanya seusai salat isya.
"Kenapa?"
Ia meletakkan kembali mukena yang dikenakan tadi di samping ranjang dengan rapi kembali di gantungan. "Tadi siang Alma sudah makan bersama Ummi. Dan se---"
"Itu tadi siang. Sekarang sudah sore, Nak," sanggah Ummi Salamah.
Lagi, Alma menggeleng. "Ummi, tolong ... jangan memperlakukan Alma seperti ini. Alma belum menikah dengan Jafar, dan Alma tetap anak asuhan di panti ini. Jadi sudah menjadi kewajiban Alma untuk mengikuti peraturan panti asuhan," jelas Alma.
"Tapi ... kamu kelihatan lemah, Nak."
Dengan sedikit tersenyum Alma menatap Ummi Salamah dan berkata, "Ummi ... yang memahami keadaan Alma adalah diri Alma sendiri. Jadi Ummi nggak perlu khawatir, Alma baik-baik aja."
"Jadi kamu nggak mau makan?" tanya Ummi Salamah sekali lagi.
"Enggak, Ummi."
Ummi Salamah tertunduk, menatapi makanan ya g berada di nampan. Dan berujar lirih, "Padahal Ummi capek-capek masak buat kamu ..."
"U-ummi yang memasak?"
Ummi Salamah mengangguk.
"Ya Allah Ummi, seharusnya Ummi nggak perlu repot kayak gini. Alma baik-baik aja, Alm---"
"Kamu bohong, Nak. Nggak ada satu pun manusia yang merasa baik-baik aja disaat-saat seperti ini." Ummi Salamah meletakkan nampan berisi makanan di samping ranjang Alma, dan kedua netra yang semula enggan bertatapan kini bertemu. Lantas Ummi Salmah lanjut berujar, "Jangan pernah mengucapkan hal itu di depan orang lain yang pernah merasakan hal yang sama denganmu, Alma."
" ... karena seberusaha apa pun kamu mengatakan, kalau dirimu baik-baik aja, itu akan sia-sia. Karena Ummi, jelas bisa melihat kebohongan itu di matamu," lanjut Ummi Salamah.
__ADS_1