
"Kamu mau tanya apa lagi, Mas? ... Kamu tanya ... saya ba-bakal jawaban semuanya," ucap Alma.
Jafar lagi-lagi mengalihkan pandangannya. Tangannya mulai bergerak menulis sesuatu. "Istirahat. Tidur. Saya akan keluar."
"Mas ..."
Alma mendongak melihat Jafar yang sudah berdiri hendak meninggalkan kamar. Tangan kanannya cakap menggenggam pergelangan tangan Jafar. "Kita belum selesai bicara. Saya nggak mau kamu pergi."
Tangan Jafar berusaha melepas genggaman itu.
"Mas Jafar!---Agh, pe ... rut saya."
Kram diperut Alma menyerah kembali dengan tiba-tiba. Genggaman tangannya dipergelangan Jafar terlepas begitu saja, sakit ini terasa berkali-kali lipat. Lemas. Rasanya ia tak sanggup bergerak. Netranya terpejam, tubuh kecil itu bersandar pada bantal-bantal yang bertumpu di samping kiri ranjang.
Jafar menyentuh pinggul Alma, melihat lebih dekat untuk memastikan istrinya itu baik-baik saja. Tatapan khawatir tersirat jelas di netra Jafar, ia kembali duduk dan membantu istrinya untuk merebahkan diri perlahan-lahan.
"Mas, sa ... kit."
Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, Jafar sudah tahu itu pasti Umminya yang entah sejak kapan beliau sudah pulang dari panti asuhan.
"Alma ... Nak, mana yang sakit?" ucap Ummi Salamah.
Air mata kembali mengalir melewati ekor matanya, dengan tetesan yang tak kunjung henti. "Perut ... pe ... rut Alma sakit, Ummi."
Ummi Salamah menatap Jafar.
"Istrimu lagi haid?"
Jafar mengangguk.
"Ummi minta tolong kamu rebus air. Terus taruh di baskom kasih sedikit air dingin, bawa juga kain bersih. Bisa 'kan Nak?"
Jafar mengangguk lagi, dan keluar dari kamar melaksanakan apa yang telah Ummi Salamah perintah. Tiga menit berlalu Jafar telah membawa semuanya dengan lengkap. Dan terlihat Alma masih meringis kesakitan akibat rasa nyeri yang di rasa di perut menjalar ke bawah tubuhnya.
"Ayo, buka dulu kancingnya, Nak," ucap Ummi Salamah yang hanya dibalas gelengan lemah dari Alma.
Melihat penolakan Alma yang berkelanjutan memaksa Jafar untuk kembali bertindak---ia lebih menuruti apa yang Ummi Salamah katakan dengan membuka kancing gamis istrinya itu satu persatu.
"Udah. Cukup, Nak," ucap Ummi Salamah saat kancing gamis Alma terbuka sampai di bawah perut.
Ummi Salamah menyikap gamis yang digunakan oleh Alma dibagiin atasnya, hingga menampilkan tank top hitam tanpa dalaman baju. Jafar yang melihat itu spontan menundukkan pandangan, beberapa kali ia memang telah melihat Alma dengan lingerie. Namun baginya situasi sekarang sangatlah berbeda.
"Udah-udah, Nak. Istighfar."
Tank top hitam itu di sikap ke atas sedikit sampai perbatasan bra merah maroon yang terlihat mengintip. Sebelum menaruh kain bersih diperut Alma, Ummi Salamah terdiam sejenak menatapi perut menantu beliau yang tanpa pusar, hernia itu terlihat jelas sekarang.
"Maaf ya, Nak. Ummi kompres dulu biar sakitnya mendingan."
Alma pasrah. Lagi pula Ummi Salamah dan Jafar telah menjadi keluarganya tidak perlu lagi ada rasa malu dan disembunyi-sembunyikan.
"Tidur, Nak. Tidur. Biar sakitnya mendingan."
Perlahan-lahan netra Alma terpejam. Sakitnya mereda. Namun ia tak ingin tidur, ia hanya ingin memejamkan netra saja---merasakan nyeri yang sedikit menyerang. Kompres itu dirasakan olehnya telah diangkat dari perut, dan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Jafar, Ummi nggak mau ikut campur. Tapi kenapa kamu setega itu sama istrimu? Alma juga lagi sakit, kamu itu kenapa?" ucap Ummi Salamah.
U-ummi dengar?
Alma tak tahu apa yang dituliskan Jafar. Lagi-lagi Ummi Salamah berucap, "Ummi emang nggak tahu akar masalah kalian itu apa? Tapi kamu harus inget, Nak. Alma ini istrimu. Mungkin emang kamu nggak bisa bicara, mungkin emang lisanmu nggak bisa menyakiti dia. Tapi apa kamu lupa, Nak? Tulisanmu itu bisa menyakiti istrimu. Bisa, Jafar."
Sungguh ia tak tahu bagaimana reaksi Jafar.
"Ummi keluar. Ummi mau nganter makanan ini ke Mbok Isna. Kamu nggak usah ikut, kamu jaga istrimu," ucap Ummi Salamah.
Setidaknya Ummi nggak tahu apa yang aku dan Mas Jafar pertengkarkan.
__ADS_1
Samping kiri ranjang bergerak. Alma yakin Jafar merebahkan diri di sampingnya, sedetik kemudian usapan lembut terasa di dahinya, serta benda kenyal juga ikut menyentuh.
Dia mengecup keningku?
...🌺...
Sekitar pukul sepuluh, netra Alma terbuka perlahan---yang mana itu tepat membuatnya bertatapan langsung dengan Jafar yang tengah memandanginya. Sesaat kemudian ia mengambil posisi duduk, dan ia tersadar surainya tergerai lurus, kerudung yang ia gunakan telah terbuka entah sejak kapan.
"Sa-saya mau ke kamar mandi," ucap Alma.
Jafar turun terlebih dahulu---mengambil posisi di samping kanan untuk membantu istrinya itu berdiri.
"Sa-ya bisa sendiri, Mas."
Enggan untuk melepas. Namun kian mengeratkan pegangan di bahu istrinya, Jafar tak akan pernah mungkin memberi istrinya berjalan sendiri.
"U-udah. Kamu tunggu di sini aja."
Jafar mengangguk. Sekitar dua menit Alma telah usai dengan kegiatannya di kamar mandi. Saat membuka pintu, ternyata Jafar masih berdiri di ambang pintu menungguinya.
"Ini jam sepuluh. Kamu nggak ke outlet?"
"Tidur."
Gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma. Ia sama sekali tak ingin kembali tidur. Ia hanya ingin pertanyaannya di jawab oleh Jafar.
"Saya nggak mau tidur lagi. Ka-mu berangkat aja ke outlet. Sa-saya akan istirahat di kamar."
Setelah mendudukkan Alma di tepi ranjang. Jafar mengambil pena dan kertas, lalu menulis. "Saya libur. Outlet bisa di urus via online"
Alma menggeleng pelan. "Kamu pernah bilang ke Lutfan, tugas adalah tanggung jawab. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba kamu lalai? Saya nggak pa-pa, nyerih di perut saya juga udah mereda, kok."
"Kamu keras kepala. Kalau tiba-tiba saja perutmu sakit kembali, siapa yang akan membantumu? Ummi masih keluar," tulis Jafar.
"Saya bisa tanpa bantuan kamu. Selama saya berada di dekat ranjang, Mas. Saya akan baik-baik aja."
"Saya nggak haus."
"Minum."
Gerakan bibir Jafar terpaksa membuat Alma untuk meminum beberapa sendok makan. Setelahnya ia meletakkan kembali dan menatap Jafar dengan bagian netranya yang sedikit membengkak akibat tangisan tadi.
"Kita tadi belum selesai Mas. Kamu nggak bertanya lagi? ... saya bener-bener akan menjawab semuanya."
"Kamu ingin makan apa? Saya akan membuatkan sesuatu untuk kamu makan," tulis Jafar.
Suaminya menghindar. Alma tahu tak semudah itu untuk Jafar memaafkan semuanya. Ia tahu rasa kecewa masih menghinggapi Jafar, dan mungkin ... dengan menghindar dari segala pertanyaan akan membuat emosi Jafar mereda.
"Apa aja yang kamu masak bakal saya makan," ucap Alma.
"Saya akan memasak sebentar," tulis Jafar.
Alma mengangguk.
Jafar telah keluar. Dan Alma teringat belum menghubungi Paman Idrus mengenai tidak bisanya ia untuk berkunjung ke Kedai Bersama, karena sakit di perutnya yang tiba-tiba menyerang.
Secepatnya Alma mengambil gawai dan mencari-cari kontak Paman Idrus dan meng-klik tombol panggilan.
"Assalamualaikum, Nak."
Panggilan tersambung.
"Waalaikumussalam, Paman. A-anu Paman, Al-alma minta maaf, Alma tadi janji menghubungi jam enam ternyata Alma lupa."
Terdengar suara tawa ringan dari Paman Idrus di seberang. "Tidak apa-apa, Sayang. Jadi gimana? Kamu bisa?"
__ADS_1
"Alma belum bisa Paman, perut Alma tadi sakit. Dan Alma baru bangun tidur sekarang. Sedikit pun Alma nggak berniat mengingkari permintaan Paman. Maafin Alma, Paman."
"Paman kan sudah bilang, kalau tidak bisa tidak pa-pa, Nak. Sekarang keadaan kamu gimana?"
Alma tersenyum. "Alhamdulillah Alma udah baikan, Paman. Ehm ... Pa--Ayah gimana kabarnya?"
"A ... yah?" Terdengar tawa ringan di seberang. "A ... yah, baik-baik saja, Nak."
"Alhamdulillah."
"Bagaimana pernikahanmu dengan Jafar, Nak?" tanya Paman Idrus.
"Baik, Ayah. Pernikahan Alma dengan Mas Jafar baik."
Paman Idrus diseberang terdiam.
"A ... yah? Ayah Idrus masih di sana?" panggil Alma.
"Iya. Ayah masih di sini, Nak."
"Alma pikir Ayah kenapa-napa. Ayah Idrus mau tanya kabar apa lagi?"
Jeda tiga detik Paman Idrus berkata, "Apa Jafar memperlakukanmu dengan baik?"
Alma terdiam sejenak. Semua orang seakan-akan mempertanyakan perilaku Jafar terhadap dirinya. Entah memang semua orang-orang yang telah menikah mendapatkan pertanyaan seperti ini, entah hanya dirinya saja? Alma tak mengerti.
"Tentu, Ayah. Mas Jafar memperlakukan Alma dengan baik. Mas Jafar sekarang suami Alma, dan Mas Jafar adalah laki-laki terbaik yang Ibu Maryam pilihkan," jawab Alma.
Terdengar suara pintu kamar dibuka. Jafar---suaminya itu telah datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Alhamdulillah, Ayah senang mendengarnya. Apa kamu juga bahagia, Nak?" tanya Paman Idrus, lagi.
Jafar meletakkan nampan itu di meja abu-abu dekat pintu. Dan Alma menjawab Paman Idrus. "Tentu, Ayah. Alma telah menikah. Alma selalu bahagia atas segala hal yang dipilihkan oleh Ibu Maryam."
Netranya mengikuti arah jalan Jafar yang mendekat untuk duduk di sampingnya.
"Sekarang suamimu di mana, Nak? Kerja?"
Alma spontan menggeleng. "Mas Jafar di samping Alma ini. Beliau titip salam untuk Ayah."
"Ya sudah. Ayah tidak mau mengganggu pengantin baru. Ayah matikan, ya Nak? Assalamualaikum."
Panggilan terputus. "Waalaikumussalam."
"Bubur?"
Jafar mengangguk. Dan mengambil bubur di atas nampan dan menyuapkan pada Alma.
"Saya bisa makan sendiri, Mas."
Gawai telah diletakkan. Alma mengambil alih bubur ditangan suaminya. "Makasih, Mas."
Jafar terlihat menulis di buku catatannya. "Ada apa Paman Idrus menghubungimu?"
"Saya lupa Paman minta saya ke Kedai Bersama. Tapi karena perut saya sakit, saya minta izin nggak datang dulu hari ini," jelas Alma.
"Kenapa kamu tidak bicara kepada saya?" tulis Jafar.
"Saya lupa, Mas." Alma menyuap kembali bubur ke dalam mulutnya. "Dan lagi pula, kita sekarang nggak baik-baik aja. Apa pantas tiba-tiba saya meminta izin pergi?"
"Pantas-pantas saja, jika saya mengizinkanmu. Karena orang yang meminta kamu datang adalah Paman Idrus. Yang notabenenya adalah Ayah sambungmu," tulis Jafar.
"Terus apa Mas pikir. Saya bisa pura-pura kalau semuanya baik-baik aja di depan Paman? Nggak bisa, Mas. Kalau pun sekarang Mas izinin saya pergi, tetep aja saya nggak mau." Suapan ketiga telah tertelan dan sesaat kemudian ia kembali berujar, "Kesalahpahaman ini bener-bener nggak cuma menyakiti Mas aja. Kesalahpahaman ini juga menyakiti saya, Mas. Apa lagi segala tuduh itu mengarah ke saya semua Mas."
"Wajar untuk kamu merasa kecewa atau pun marah. Kalau saya menempatkan posisi kamu sekarang, saya juga akan marah, Mas. Tapi apa kamu sadar? Sudut pandang yang kamu lihat itu hanya di depan dirimu sendiri."
__ADS_1
Alma meletakkan bubur yang hanya tinggal setengah saja di atas meja samping. "Kamu sama sekali nggak mau membuka mata untuk memandang dari sudut lainnya. Kamu nggak mencoba memahami saya yang ... yang kamu tuduh seperti itu, Mas."
"Kamu sebagai suami saya aja marah melihat saya di sentuh. Lalu kamu pikir, saya sebagai pemilik tubuh saya sendiri, saya nggak marah di sentuh seperti itu Mas?" sambung Alma.