Almahyra

Almahyra
Part VI POV Jafar


__ADS_3

Saya cukup merasa bahagia dengan kehidupan baru ini. Ya, pernikahan. Lelaki mana yang tak beruntung mendapatkan seorang istri yang menerima kurang dan lebih dirinya? Tidak perlu lagi saya jelaskan siapa kah dia? Tentu wanita itu adalah istri saya. Almahyra Azzahra.


Dia bukan lagi wanita yang saya temui di panti asuhan dulu. Bukan lagi wanita tak berperasaan, juga bukan lagi wanita yang meninggikan nada bicaranya bila sedang berbincang dengan saya. Dia seperti terlahir kembali atau ... memang itu adalah dirinya yang asli?


Lembut, manis dan pemalu.


Saya mengakui, bahwa hati ini telah jatuh di dasar terdalam miliknya. Saya mencintaimu, Alma. Segalanya tentang dia saya sukai. Bahkan mengingat hal pertama yang baru saja terjadi membuat pipi saya kembali memanas.


Suaranya benar-benar lembut saat menyebut nama saya berulang-ulang. Bahkan terus terdengar di telinga. Dan sekarang, dia sedang menahan malu, menutup wajahnya dengan merebahkan diri di pangkuan saya.


Manis sekali.


"Saya ini lagi malu, Mas ..."


Saya menarik lagi tangannya di wajah.


"Okay-okay saya lepas. Tapi ... tapi kamu janji jangan godain saya!" Dia melepas tangannya dari wajah dan langsung mengambil posisi duduk membelakangi saya. "Mas ... saya laper."


Saya mengetik di gawai, lalu merentangkan kedua tangan dan memeluknya dari belakang. "Saya sudah memesankan ayam bakar madu dari kedai."


Dia berbalik dengan senyum lebar. "Oh iya? Wah! Ayo makan, Mas."


Bersama-sama kita melahap makanan. Dia bilang, ingin menyuapi saya, sedang saya dipintanya mengecek hasil penjualan Kedai Amanah. Sebenarnya pun saya sama sekali tidak melarang, jika dia ingin bekerja juga, namun ia menolak, dengan alasan tak mau mengganggu momen bersamanya dengan saya.


"Mau minum?"


Saya mengangguk.


"Udah?"


Saya mengangguk sekali lagi.


Apa kamu tahu, Alma? Perhatian kecil yang kamu berikan untuk saya saja sudah sangat membuat saya bahagia. Bahkan tak henti saya berpikir, kiranya kelak jika kita memiliki seorang bayi, sungguh beruntungnya. Sebab anak kita memiliki seorang Ibu sepertimu.


Tiba-tiba saja gawai saya berbunyi, ada pesan masuk dari Ummi.

__ADS_1


Ummi


Ummi boleh videocall?


Saya memperlihatkan pesan singkat itu kepada Alma.


"Boleh dong, Mas. Saya juga kangen sama, Ummi." Dia terdiam diri sejenak. "Saya pakai kerudung, Mas?"


Saya mengangguk, takut nanti mungkin Ummi sedang di jalan. Maka baiknya memang menggunakan kerudung saja.


"Egh ..." Dia terlihat membuka lemari sedang yang disediakan oleh hotel. "Kira-kira ada kerudung panjang nggak, ya?"


Panggilan tatap muka tersambung. Ternyata benar Ummi sedang di rumah Bibi Sulis dan salam pun di sambung oleh teriakan Salwa.


"Kak Alma!"


Ummi terlihat terkejut dengan teriakan Salwa. "Salwa jangan teriak-teriak, Nduk!"


"A-anu, Bi. Maaf. Aku juga kangen sama Kak Alma."


"Gimana, Nak? Kabar kalian?"


Alma menjawab, "Baik, Ummi. Alhamdulillah. Tadi pagi kita jalan-jalan ke perpustakaan nasional."


"Wah senengnya. Terus ..." Ummi menjeda sejenak. "Tadi malam gimana, Nak?"


"Gimana apanya, Ummi?"


"Lancar?"


Pipi saya memanas lagi. Saya tahu arah pembicaraan Ummi. Namun sepertinya Alma masih tak paham, sedang berpikir agaknya.


"Ti ... durnya? Atau apanya, Ummi?" Netra Alma terlihat melebar. "Oh walimatul'ursy tadi malam? Alma rasa lancar-lancar aja 'kan Ummi?"


Dari seberang nampak beliau tertawa ringan. "Bukan itu maksud Ummi, Nak. Yang Ummi maksud yang lain. Masmu pasti paham."

__ADS_1


Sedetik Ummi mengatakan itu Alma memandangi saya seolah bertanya, apa maksud Ummi? Saya dengan terpaksa mengambil buku catatan dan pena. "Mungkin yang Ummi maksud adalah apa yang kita lakukan tadi siang sepulang dari perpustakaan nasional."


Dia terdiam seketika, saya rasa mungkin ia malu. Tersadar lagi, ia menunduk sejenak dan berkata pelan, "Egh ... itu Ummi ... do'ain saja Ummi."


"Pasti dong. Setiap hari Ummi do'ain. Karena kan pernikahan kalian baru sah secara hukum kemarin malam dan kamu pun alhamdulillah sudah pulih. Secepatnya punya momongan nggak pa-pa, Nak," ucap Ummi.


Saya menulis di buku catatan. "Bilang kepada Ummi, beliau ingin berapa cucu?"


Netra Alma terlihat melebar. Ia sadar saya menggodanya. Tangan kanannya mencubit paha luar saya. "Kamu ih," bisiknya.


"Ummi ... anu Alma sama Mas Jafar, mau---"


Ummi tiba-tiba menyanggah, "Oh ya udah-udah. Maaf Ummi ganggu. Pokoknya selama seminggu puas-puasin berdua, ya?"


"Iya, Ummi. Nggak ganggu kok Ummi."


"Ummi matikan. Assalamualaikum."


Layar tatap muka pun hilang. "Waalaikumussalam."


Raut wajahnya berubah. Mungkinkah dia kesal? Karena Ummi pasti berpikir yang tidak-tidak.


"Kamu kenapa?" Saya mendekatkan buku catatan padanya.


Dia menggeleng. "Nggak pa-pa cuma ... agak capek aja. Saya mau tidur lagi, Mas. Nanti jam lima bangunin saya, ya?


Saya mengangguk.


"Kamu marah?"


Dia menggeleng. "Enggak, Mas. Saya cuma capek."


Note:


Next Bagian 62 agak malam.

__ADS_1


__ADS_2