Almahyra

Almahyra
Bagian 60 : Walimatul'ursy (1)


__ADS_3

Mewah.


Bukan sederhana lagi.


Dekorasi hitam, putih dan abu-abu tua adalah pilihan yang tepat, seisi aula pernikahan ini di sewa satu hari penuh oleh Kiai Bashir. Bahkan aula ini pun di pisah sedikit diberi tenda untuk tempat beribadah. Alma tak tahu walimatul'ursy ini akan selesai pukul berapa, tetapi yang ia yakini mungkin akan lama.


Bunga-bunga pun di susun di sisi-sisi meja, putih dan merah maroon yang indah. Aroma aula ini pun menenangkan, bahkan tak ada tempat yang tak terterangi lampu. Semua cerah. Dari yang Alma dengar Lazuardi hotel adalah tempat penginapan mewah yang di naungi oleh keluarga Adiwangsa. Kiai Bashir berteman baik dengan Manggala Adiwangsa, sehingga anak beliau Gautama Adiwangsa merekomendasikan hotel ini untuk menjadi acara pernikahan.


Seminggu berlalu sangat cepat. Alma telah mempersiapkan diri. Namun jika di lihat-lihat lagi. Alma tak percaya ini hanya lah acara keluarga. Sebab terlalu megah untuk beberapa orang saja, ia sekali pun tak yakin yang datang sedikit. Pasti banyak. Sangat banyak.


"Bibirnya kemerahan, Mbak. Saya nggak suka mbak, maaf," ujar Alma.


Penata rias pengantin itu tertawa ringan. "Nggak pa-pa Mbak Alma nggak usah minta maaf toh. Sampean tinggal bilang nanti saya ganti yang agak nude."


"Mbak kira-kira pink flot cocok nggak sih? Saya takutnya nanti jelek," ujar Alma lagi sembari melihat diri di depan cermin.


Penata rias mengaplikasikan lipstik pink flot di bibir Alma. "Agak pucat, ya Mbak? Saya tambahi merah nggak pa-pa, ya? Janji nggak kemerahan kayak tadi, kok."


Alma mengangguk. "Iya, Mbak. Secocoknya aja, yang penting nggak terlalu menor."


Selesai.


Riasan wajah Alma telah usai, baju pengantin, hingga kerudung pun telah dipakainya hingga rapi. Cantik dan mempesona, kiranya itu yang ia dengar berkali-kali dari sang mertuanya dan juga Salwa.


"Kak Alma, pasti Mas Jafar terpesona. Yakin aku yakin, Kak," ujar Salwa. Adik iparnya itu mengeluarkan gawai di tas selempang. "Selfi yuk, Kak. Mau upload nanti."


"Nanti aja lho uploadnya. Sesudah Masmu lihat wajahnya Kak Alma," celetuk Ummi Salamah.


Salwa mengangguk-angguk dengan sigap mengklik tombol kamera, mengambil foto beberapa kali. "Masya Allah, cantik banget lho kakak ipar aku ini. Duh, bener-bener mempesona."


"Kira-kira nanti kalau aku nikah secantik Kakak nggak sih. Huaaa ..." Salwa menggeser layar gawai. "Di foto cantik. Aslinya tambah cantik banget. Heran, Ya Allah ..."


Alma hanya tersenyum tipis dan menggeleng.


"Kira-kira nanti aku secantik Kakak nggak ya? Pas nikah," ujar Salwa lagi.


Ummi Salamah menyahut, "Inget umur, Salwa. Masih sekolah nggak boleh mikir-mikir nikah."


Salwa cemberut. "Iya-iya, Bi. Orang aku a-anu cuma kepikiran bentar doang."


Benar. Salwa adalah Lutfan versi perempuan. Alma tiba-tiba saja terdiam saat penghulu menuntun suami Tante Bunga dan Jafar untuk melangsungkan akad pernikahan lagi. Entah lah jantungnya kembali berdebar-debar seakan belum pernah terjadi akad. Tangannya pun tiba-tiba saja basah, ia sangat gugup. Padahal ini semua pernah terjadi. Kiai Bashir bilang tak apa-apa untuk melaksanakan akad kedua kali, karena itu pun tidak akan merusak pernikahan.


Pintu tiba-tiba di ketuk. Terlihat Bibi Sulis yang membuka. "Ayo keluar, Nak. Udah selesai akadnya."


Alma berjalan pelan di dampingi Ummi Salamah, Tante Bunga dan Bibi Sulis. Jantungnya pun kian berdebar, berjalan menyusuri karpet hitam yang selaras dengan dekorasi. Dari kejauhan Jafar nampak tersenyum tipis, sorak-sorai dari Salwa juga Kirana benar-benar tak bisa ia hindari. Terlalu berisik, namun ia senang mendengarnya.


"Di cium dulu tangan suaminya, Nduk," ujar Kiai Bashir saat Alma telah duduk tepat di samping Jafar.


"Mas ... tangannya," lirih Alma.


Telapak tangan kanan Jafar terbuka, detik berikutnya Alma menyambut dengan kecupan di tangan suaminya beberapa kali. Flash kamera mengambil beberapa banyak potret, hingga rasanya ia sedikit tak sanggup. Kilatan itu membuat ia tak bisa melihat jelas, karena tepat terpantul di netranya.


"Silau, Mas," bisik Alma.


Jafar mengangguk seolah paham.


Semua berkas-berkas telah ditandatangani. Jafar dan Alma telah meresmikan pernikahan secara hukum, semua dunia tahu bahwa Jafar adalah miliknya. Sekali lagi, miliknya.

__ADS_1


"Nggak mau cium kening saya?" bisik Alma lagi.


Jafar menggeleng, lelaki itu mengalihkan pandangannya pada Kiai Bashir.


Nyebelin banget.


"Ayo-ayo. Pengantin laki-laki belum kecup kening istri, boleh dong Mas di kecup bentar istrinya. Kenangan-kenangan indah semacam ini nggak boleh terlewatkan," ucap laki-laki pengambil foto.


Alma tersenyum jahil. Kira-kira mau nggak ya dia? Jafar berbalik, mengangkat wajahnya dengan telinga yang sedikit memerah. Suaminya malu!


Sesaat Jafar mendengar Alma berujar, "Di suruh fotografer mau, saya suruh nggak mau. Dasar kamu ini!"


"Yap! Sudah." Fotografer mempraktekkan genggaman tangan yang saling menautkan jari jemari. "Gini bisa?"


Alma mengangguk.


"Sebenarnya ... saya juga malu, Mas," bisik Alma.


Beberapa pose foto telah di ambil. Hingga tiba waktunya untuk menyantap hidangan awal, sungguh ia lapar, sangat lapar. Namun sayangnya, tempat makanan terlalu jauh, Ummi, Salwa atau siapa tidak terlihat lewat di depannya. Atau setidaknya staf hotel? Mengapa jauh-jauh sekali?


"Mas, saya laper."


Jafar menengok.


"Saya laper. Saya haus juga. Capek habis foto-foto."


Jafar hendak bangkit. Namun Alma tahan di lengan. "Kamu ke mana, Mas? Jangan pergi. Saya nggak mau sendirian."


Jafar tiba-tiba saja tertawa. Lelaki itu menulis di buku catatan. "Saya hanya pergi sebentar. Saya tidak akan meninggalkan kamu."


"Katamu tadi lapar dan haus. Bisa menahan memang?" tulis Jafar.


Sesaat mulut Alma hendak terbuka lagi, tiba-tiba saja ada staf perempuan yang melewati pelaminan. "Mbak-mbak!"


Staf itu menengok dan mendekatkan. "Iya, Kak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf ... bisa tolong ambilin saya minuman dan makanan?" ujar Alma.


Staf perempuan itu mengangguk dan tersenyum tipis. "Hidangan untuk pengantin akan segera di kirim, Kak. Mohon di tunggu. Ada yang bisa saya bantu lagi, Kak?"


"Enggak, Mbak. Itu aja. Terima kasih."


"Terima kasih kembali, Kak. Saya permisi."


Lima menit berlalu, hidangan untuk Jafar dan Alma benar-benar datang. Ummi Salamah meminta untuk dirinya dan Jafar memakan di ruang ganti hotel, sekalian mengganti pakaian pertama untuk walimatul'ursy.


"Ayam bakar? Wah ... bismillah." Alma mengigit pelan. "Enak banget Ya Allah."


Alma tiba-tiba saja tersadar menatap Jafar. "Ini ... kayak menu di Kedai Amanah, Mas. Apa iya? Atau emang rasa semua ayam bakar gini?


Jafar mendekatkan buku catatannya pada Alma. "Semua hidangan memegang dari Kedai Amanah. Staf pun juga sebagai dari Kedai Amanah dan sebagai lagi dari staf hotel."


"Ya Allah tapi beneran enak, Mas ..."


Jafar mengangguk-angguk.


"Sambelnya apalagi ... Masya Allah."

__ADS_1


"Jika kamu suka sepulang dari outlet setiap hari akan saya bawakan Ayam bakar madu. Mau?" tulis Jafar.


Alma menggeleng dengan tangan yang melahap nasi lagi. Terlihat Jafar mengerutkan kening terheran-heran.


"Nggak usah, Mas. Kalau saya lagi mau aja, saya pasti nggak segan minta sama kamu." Alma tiba-tiba saja terkekeh, mengingat permintaannya sebagai hadiah pemulihan diri yang ia beli secara online dengan nominal yang lumayan. "Sekali lagi, makasih abaya-abayanya, makasih buat lima judul buku yang kamu beliin di Gramedia, dan makasih juga buat kerudung yang kamu beliin semua warna. Makasih pokoknya! Makasih!"


Jafar pun tak sanggup menahan tawa.


"Uang kamu masih ada kan, Mas?"


Jafar mengangguk. "Kenapa bertanya? Ingin kamu kuras lagi?" tulis Jafar.


"Jika di izinkan saya bersedia lho, Mas."


Jafar hanya menggeleng-geleng.


"Saya juga pernah janji ngasih kamu sesuatu." Alma meneguk air mineral sejenak. "Nanti setelah walimatul'ursy kamu boleh tagih ke saya. Apa aja. Asal tolong Mas ... jangan mahal-mahal."


"Saya baru ambil alih Kedai Bersama soalnya."


Jafar mengangguk dengan tersenyum simpul. "Insya Allah sesuatu yang saya minta, tidak akan memberatkan kamu," tulisnya.


"Tahu dari kamu, Mas? Ya kamu mintai kan saya nanti, jadi yang tahu permintaan kamu memberatkan atau enggak itu ya saya lah," ujar Alma.


Penata rias tiba-tiba saja datang. "Permisi Mbak Alma dan Mas Jafar. Sebentar lagi, mau ganti baju pertama, boleh saya bantu dulu istrinya, Mas?"


Jafar mengangguk, dan berlalu pergi menuju ruang gantinya sendiri.


"Mbak udah azan zuhur?" tanya Alma.


"Sudah. Mbak Alma mau sholat dulu, toh? Soalnya para tetamu juga sholat di mushola kok, Mbak."


"Iya, Mbak. Tolong bantuin saya bersihin make up. Te ... rus." Alma memandang penata rias itu di cermin. "Sholat berjamaah sama saya ya, Mbak? Lagi haid nggak?"


"Iya, Mbak." Penata rias itu tersenyum tipis. "Kebetulan saya lagi hamil, Mbak."


Netra Alma terbinar-binar. "Wah Masya Allah, Mbak! Berapa bulan? Nggak kelihatan lho saya, Ya Allah."


"Dua minggu, Mbak."


Tiba-tiba saja penata rias itu mengusap-usap perut. "Permisi, ya Mbak."


Tangan perempuan itu menyentuh perutnya dengan mengusap-usap beberapa. "Bismillah. Semoga Mbak Alma di segerakan punya momongan."


"Aamiin allahumma aamiin."


Penata rias fokus menghapus make up. Sedangkan Alma membuka gawai mengklik aplikasi pesan singkat, lantas mencari-cari nama suaminya: Mas Jafar.


^^^Mas, penata rias ini hamil lho^^^


^^^Perut saya tadi di usap-usap,^^^


^^^beliau juga doain saya sama kamu, Mas^^^


^^^


^^^

__ADS_1


__ADS_2