
Dokter Indira menyatakan, bahwa sebaiknya menunda memiliki anak sampai tujuh bulan kedepan atau kalau bisa lebih baik sampai satu tahun. Karena operasi perut ini baru saja di jalaninya, akan butuh kesembuhan yang lumayan lama. Takut-takut ada kemungkinan yang telah Dokter Indira sebut. Maka telah di putuskan oleh Jafar untuk tidak apa-apa menunda satu tahun.
Namun Alma tetaplah seorang wanita, yang akan lemah dan bersedih hati. Lagi-lagi ia merasa gagal tidak bisa memenuhi satu permintaan Jafar dan Ummi Salamah. Yaitu, memiliki seorang bayi.
"Nak, kenapa ngelamun terus? Nggak enak makanannya?"
Alma tersadar. Kemudian menggeleng. "Enak, Ummi. Maaf, Alma agak ... kurang enak badan."
"Lho?" Pandangan Ummi Salamah beralih pada Jafar. "Istrimu nggak enak badan itu lho, Nak. Ajak masuk kamar sana."
Jafar bangkit, mendekati Alma. Setelahnya, di tuntun lah sang istri menuju kamar tidur. Lantas dengan perlahan-lahan Jafar mendudukkan Alma di ranjang. Ia juga mengambil duduk di samping dengan menulis di buku catatannya. "Bagian mana yang sakit?"
"Hm?"
Jafar mendekatkan buku catatannya lagi. "Saya tahu, kamu sedang memikirkan apa yang Dokter Indira katakan."
"I-iya." Alma menaikkan kedua kakinya, berbalik menatap Jafar. "Kamu ... nggak pa-pa?"
"Kita menunda itu juga untuk kebaikanmu, Alma. Apa saya terlihat sangat memaksamu untuk memiliki seorang anak?" tulis Jafar.
Alma menggeleng.
"Jadi, mari jalani kehidupan pernikahan kita ini dengan baik," tulis Jafar.
Alma menekuk lututnya, ia maju ke depan, mendekati Jafar. Lantas tangannya merentang memeluk sang suami dari samping. "Te-terus kita ... ju-juga nunda melakukan i .. tu, Mas?"
Jafar menggeleng.
"Terus?" Alma terlihat heran. "Bu-bukannya nggak boleh? Kan nanti saya bisa ... hamil, Mas."
Jafar menarik dagu Alma. Supaya istrinya itu mendongak, menatap dirinya tepat di mata.
"Apa?"
Tangan Jafar mengeluarkan gawainya yang berada di saku kanan. Setelah itu ia mengetik. "Hal yang semacam itu tidak perlu di tunda, Alma. Hanya kehamilannya saja yang di tunda."
"Ca ... ranya?"
Jafar terdiam sejenak. Sepertinya tinggal di kota tidak mempengaruhi pikiran Alma, atau ... memang istrinya saja yang benar-benar tidak tahu?
"Mas ... kok diem?"
Jafar mulai mengetik dan menunjukkannya pada Alma. "Bisa menggunakan pelindung atau sejenisnya."
"Pe ... lindung?" Alma melepas pelukannya, memilih bersandar pada bantal. Ia memikirkan pelindung apa yang di maksud suaminya? Setelah bergulat dengan pikirannya, ia tersadar. "O-oh iya, sih."
__ADS_1
Bodoh, Alma! Pertanyaanmu! Ya Allah! Astaghfirullah!
Kedua pipinya memerah semu. Setelah melepas kerudung, Alma merebahkan diri membelakangi Jafar. Pertanyaannya benar-benar aneh.
"A-anu, Mas. Saya mau tidur sebentar. Nanti kalau kamu mau berangkat ke outlet tolong bang---"
Ucapan Alma tertahan, tiba-tiba saja Jafar juga ikut merebahkan diri. Tangan lelaki itu menjalar, memeluk tubuh mungilnya. Alma dapat merasa dagu suaminya tepat berada di pucuk kepala, sesekali ia di kecup. Sarapan pagi ini sepertinya bukan makanan. Jafar meminta sesuatu yang ia sukai, yaitu, pelukan.
"Mas ... ngapain?"
Jafar membuka resleting gamis depannya. Kemudian menarik ke belakang, sehingga gamisnya tersikap menampilkan tank top hitam yang di pakai.
"Mas Jafar ..."
Terlepas sudah gamis bagian atasnya. Setelah itu Jafar berhenti, tangannya memeluk erat sang istri.
"Kalau kamu nyuruh saya lepas gamis." Alma menjeda sejenak. "Sekalian aja saya ... saya lepas semua."
"Kalau gini ..." Tangan Jafar masih memeluknya. "Jatuhnya saya malah risih, Mas."
Alma memaksa Jafar untuk melepas pelukan. Setelah benar-benar lepas Alma mengubah posisinya duduk, dan menarik turun semua gamis. Lagi pula, ia menggunakan tank top dan celana pendek. Ia juga sudah terbiasa berpenampilan menarik menggunakan lingerie di depan Jafar. Jadi, menurutnya tak apa-apa. Tidak perlu, malu.
"Udah." Alma kembali merebahkan diri dengan menghadap Jafar. "Nanti saya taruh gamisnya ke bak cucian kotor."
"Sekarang ki---"
"Kamu cantik."
Alma dapat membaca gerakan bibir Jafar.
"He'em ... kamu udah sering memuji." Tangan Alma terangkat mengusap-usap pipi serta dagu suaminya. "Kamu tahu, Mas? Ini ... masih pagi."
Jafar mengangguk polos.
"Tapi ..." Alma menghindari tatapan Jafar. "Nggak pa-pa kalau ..."
"Kamu mau."
Jafar mengangguk. Namun saat ia ingin memulai, tiba-tiba saja Alma menahan, seperti tersadar akan sesuatu.
"Be-bentar, Mas." Tangan Alma tepat menyentuh dada bidang Jafar. "Kamu udah beli ... itu a-apa?"
"Ada."
...🌺...
__ADS_1
Sebagai seorang istri. Entah Alma yang sering menggoda entah pula Jafar yang sulit menahan diri. Karena pikirnya hampir setiap hari mereka melakukan aktivitas itu dua kali. Jika tidak siang, pasti pagi. Keduanya tentu saat malam, jika tidak biasanya sesudah Jafar salat tahajud.
Selalu.
Sampai-sampai Alma menghafalnya. Alma tidak protes. Bahkan ... cenderung ia merasa senang. Memang siapa yang tidak senang dan bahagia? Saat di perlakukan selembut itu oleh sang suami.
"Kamu baik-baik saja?"
Jafar telah siap untuk berangkat ke outlet. Namun Alma seketika terdiam saat membaca apa yang di tuliskan Jafar di buku catatannya. Suaminya ini ... pernyataan selalu saja sama.
"Kamu ..." Alma menjeda.
"Kenapa kalau kita baru selesai ... eghm." Alma menghindari tatapan Jafar dengan menatap ke arah lain. "Melakukan itu ... pertanyaan kamu selalu kayak gini, Mas?"
Jafar mengambil buku catatannya lagi. Setelah selesai menulis, ia mengambil duduk di samping Alma. "Apa kamu merasa pertanyaan saya aneh, Alma?"
Terdapat jeda. "Padahal sebagai suami. Saya hanya merasa khawatir saja. Saya takut apa yang saya lakukan itu menyakitimu."
Alma menggeleng.
"Enggak. Kamu nggak nyakitin saya kok."
Jafar mengangguk-angguk dengan tersenyum tipis, ia. "Jadi jawab pertanyaan saat tadi, Alma. Apa kamu baik-baik saja?"
Alma mengangguk.
"Baik. Alhamdulillah. Saya baik-baik aja, Mas."
Tangan Jafar terangkat mengusap-usap surai hitam Alma yang masih basah.
"Udah. Kamu berangkat sana, Mas."
Jafar mengangguk, hendak berbalik.
"Mas, tunggu!"
Jafar menatapnya seolah-olah berkata, ada apa?
"Kamu hati-hati."
^^^
Note :
Sudah saya bilang, mereka bahagia. Tetapi apakah kalian merasa okay melihat kedua manusia ini yang sedang memadu kasih. Mungkin part selanjutnya, tetap sama. Di sini sebelum time skip ke (2/3 tahun nanti) sekilas saya gambarkan kehidupan mereka. Saya juga sudah memutuskan bahwa di S2 mereka sudah memiliki 1 anak.
__ADS_1
Ah, iya. Apa kalian tidak berminat mengunjungi Lutfan dan Mardiyah di Beda Tiga Tahun (Sudah Part 21). Kalau saya gambar kisah mereka seperti ... Tuan Putri yang baru saja tersadar bahwa Pangeran Muda mencintainya. Namun terhalang oleh, sang Raja (dari pihak sang Tuan Putri) Sebab kalian sudah tahu kalau Mardiyah adalah keturunan dari Adiwangsa. Udah-udah. Pangeran, Tuan Putri, Raja itu hanyalah analogi saja.