Almahyra

Almahyra
Bagian 16


__ADS_3

...16 : Membandingkan kehidupan?...


"... Bibimu meninggal, Alma."


Udara di dalam paru-paru Alma serasa diregut seketika. Bagaimana bisa ... Bibi Maryam? Seorang wanita baik yang mengasuhnya dulu telah wafat meninggalkan dirinya sendiri.


Alma tidak percaya.


"Umma bohong, tadi baru aja Paman Idrus menghubungi Alma dan beliau nggak bilang apa-apa ..."


Umma Sarah berdiri, duduk di samping Alma untuk menjadi sandaran sementara kesedihan anak asuhnya. "Pamanmu bilang, kalau beliau nggak sanggup berbicara tentang wafatnya Bibimu, Alma."


"Umma ... tapi ini semua nggak mungkin. Bibi Maryam pasti sembuh, Bibi pasti baik-baik aja a-aku---"


Dipeluknya Alma dengan erat oleh Umma Sarah. Hatinya kian rapuh, untuk sekadar saja merasa bahagia mengapa sulit sekali bagi dirinya? Ingatan-ingatan tentang Bibi Maryam berputar lagi dalam pikiran---di usia empat belas tahun, di mana beliau menghampiri pemakaman Ibunya Anggraini, dan mengangkat seorang yatim piatu ini sebagai anaknya.


Sakit.


Mengapa lagi-lagi kehilangan harus dirinya rasakan?


"Umma tolong lepas ..." Alma berdiri. Setelah melepaskan pelukan dari Umma Sarah, kemudian tanpa berpamitan ia segera pergi meninggalkan kantor panti asuhan---menuju kamar asramanya dengan berlari diiringi derai air mata.


"Nggak-nggak mungkin ..."


Melewati tempat makan bersama laki-laki Alma kembali bergumam, "Bibi ... i-ini semua nggak mungkin ..."


Semua orang entah anak asuhan laki-laki dan perempuan menatapinya. Namun sungguh Alma tidak peduli, dan entah mengapa asramanya lagi-lagi menjadi sangat jauh, saat dirinya benar-benar butuh tempat untuk berteduh agar rasa sakitnya tidak diketahui oleh siapa pun.


Brak!


"Ah!" keluh Alma.


Kali ini ia tidak menabrak seseorang. Ia tersandung sebuah batu dan terjatuh, melukai bagian kanan kakinya, bahkan gamis yang ia kenakan pun robek. Alma tidak peduli lagi dengan rasa sakit lukanya. Namun entah mengapa sulit sekali kaki kanannya bergerak---ia hanya bisa menunduk, meratapi rasa sakit yang menerjang dua kali di tubuh dan hatinya.


"Bibi ..."


Kedua tangan Alma meremas tanah yang bercampur pasir di tempat ia terjatuh. "Ke-kenapa Bibi bohong? Bi-bi janji akan pulang ..."


"A-aku bakalan panggil Bi-bi, Ibu ... Bi-bi harus pulang, Bi-bi harus te-temui aku ... Bibi jahat, Bibi .. Bibi ninggalin aku ..."


Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh lengan kiri Alma. Ia tahu, bahwa tangan itu adalah milik seorang perempuan, dan ia ... hanya terus menangis tanpa mendongak melihat siapa yang membantunya.


Orang itu, membawanya duduk di kursi batu taman.


"Bisa jalan?"

__ADS_1


Mardiyah?


Spontan Alma mendongak menatap seorang perempuan dengan gamis hitam serta kerudung cokelat tengah menyentuh telapak tangan kirinya.


"Kamu bisa jalan?" tanya Mardiyah, lagi.


Alma mengangguk.


"Aku antar," ucap Mardiyah dan memapah Alma berdiri perlahan. Mungkin kisaran jarak yang ditempuh untuk menuju ke asrama Alma adalah satu asrama dan tempat makan bersama perempuan.


Lumayan jauh.


"Kakimu sakit. Kamu tunggu sini, aku bakalan---".


Alma menggeleng dan menyanggah, "Aku bisa jalan, Mar."


"Bener kata Umma, kamu terlalu keras kepala," gumam Mardiyah.


Dan sesaat Mardiyah telah berucap dari arah tempat makan bersama laki-laki terlihat Lutfan sedang mengendarai motor matic entah menuju ke mana. Namun saat melihat Mardiyah dan Alma di taman, spontan Lutfan menghentikan mesin dan mendekati keduanya.


"Lo kenapa?"


Pertanyaan itu bukan di ajukan kepada Alma, karena tatap netra Lutfan mengarah kepada Mardiyah.


"Kamu salah orang. Harusnya yang kamu tanya itu Alma," ucap Mardiyah datar.


Pandangan Lutfan beralih lagi ke Mardiyah. "Lo apa-apaan sih Mardiyah! Jangan---"


"Berhenti Lutfan, jangan menyalah-nyalahkan Mardiyah. Saya menangis bukan karena bertengkar lagi dengan dia," ucap Alma.


Mardiyah berdiri, dan membuka telapak tangannya di depan Lutfan.


"A-apa?"


"Saya pinjam motor kamu," ucap Mardiyah.


Kening Lutfan mengerut. "Buat apa?"


"Mata kamu nggak lihat kaki dia luka?"


Lutfan menyerahkan kunci motor. Dan seketika saja ia berbalik tanpa menatap Mardiyah lagi. Namun sebelum pergi ia berucap, "Nanti parkir motor gue di depan kantor Umma."


"Iya."


Mardiyah kembali mendekati Alma---lantas mencoba memapah gadis itu secara perlahan menuju motor. Dan setelah berhasil naik, Mardiyah menghidupkan mesin.

__ADS_1


"Pegangan yang erat," ucap Mardiyah.


Jika mengunakan motor jarak yang ditempuh jadi berkurang jauhnya. Sekarang Alma dan Mardiyah telah sampai di asrama, secepatnya ia turun dan lagi-lagi Mardiyah membantu memapah.


Entah apa yang telah Umma Sarah katakan kepada Mardiyah. Sehingga ... Alma merasa Mardiyah begitu baik hati.


"P3Kmu di mana?"


Alma menggeleng dan sedikit mendongak menatap Mardiyah. "Mar, cukup. Makasih udah nganter aku ke asrama. Nanti aku bakal---"


"Pertolongan seseorang harusnya nggak kamu tolak, Alma."


"Astaghfirullah. Aku nggak niat nolak Mar, a-aku cuma nggak mau ngerepotin kamu."


Netra Mardiyah menangkap P3K terletak rapi di meja samping dekat lampu tidur milik Alma. Secepatnya Mardiyah mengambil, lantas duduk di bawah menyikap gamis hitam serta melipat legging Alma.


"Untung nggak terlalu parah, cuma goresan," gumam Mardiyah.


Setelahnya Mardiyah mengobati, ia mengembalikan P3K dan  menyusul duduk di ranjang samping Alma.


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." Mardiyah menghela napas pelan. Sungguh tidak biasanya ia banyak berbicara dengan orang baru---apalagi mengingat pertikaiannya dengan Alma waktu itu. Kemudian ia menatap Alma dari samping dan kembali berujar, "Memang nggak baik membanding kesedihan atau pun kesengsaraan hidup dengan orang lain. Tapi Alma ... nyatanya hidupmu lebih pahit dibandingkan aku."


"Dan ..." Kali ini Mardiyah menatap lurus di depan meja-meja Alma yang tersusun buku. Lalu ia lanjut berucap, "Aku merasa jadi manusia paling jahat di dunia ini. Saat ... saat aku bilang, bahwa kamu mengambil semuanya dari aku."


"Nyatanya di sini, yang menjadi egois adalah aku. Karena ... aku nggak pernah rela membagi seseorang yang penting dalam hidupku dengan siapa pun," lanjut Mardiyah.


Alma menunduk, meluruskan kedua kakinya---dengan sekilas menampakan senyum getir, Alma berucap, "Sampai kapan pun Mar, kita nggak pernah tahu penderitaan orang lain, sebelum kita merasakannya sendiri."


"Jadi jangan mengatakan bahwa hidupku lebih pahit di bandingkan hidupmu. Karena nyatanya, jika cobaan hidupmu yang kulalui sekarang, mungkin aku nggak pernah sanggup untuk bertahan."


Alma menjeda. Kali ini ia dan Mardiyah saling beradu netra. "Bukankah ...  Allah memberi cobaan hidup tidak melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya?"


Mardiyah mengangguk.


Suara rintik hujan tiba-tiba terdengar dari atap asrama. Kebisuan yang terjadi diiringi oleh hujan yang makin menderas. Alma masih merasa canggung dengan Mardiyah, bahkan tidak enak hati rasanya saat merepotkan Mardiyah seperti ini.


"Alma ... aku minta maaf," ucap Mardiyah.


"Aku ... juga minta maaf, Mardiyah." Tatapan netra keduanya Alma patahkan, dengan menatap lurus kepada meja di depannya. "Karena yang kamu katakan benar, Mar. Harusnya aku ... nggak mengambil hak milik orang lain."


"Ucapanku waktu itu salah, Alma. Lagi pula ... Umma Sarah menyayangi semua anak panti asuhan, aku saja yang terburu-buru menilai," ucap Mardiyah.


Alma mengangguk dan menghela napas pelan. "Mar ... gimana caranya kamu mengatasi kesedihan hidup?"


"Karena yang kudengar dan lihat, kamu seolah-olah abai dengan ucap orang lain tentang hidupmu, Mar. Bahkan ... rasanya aku jarang melihat sorot mata yang menyedihkan darimu."

__ADS_1


Jeda tiga detik Alma lanjut berujar, "Apa ... semudah itu kamu menyembunyikan semuanya Mar?"


__ADS_2