
Sekitar jam satu dini hari Alma terbangun. Ia melihat Jafar masih berada di sampingnya, namun kali ini posisi lelaki itu berubah menghadap padanya. Dengan tenang ia pandangi terus menerus wajah teduh Jafar saat tertidur seperti ini. Ada sedikit sesak di dada, karena permintaan maaf serta pelukan semalam tak mendapatkan reaksi apa-apa dari Jafar.
Tetapi setidaknya Alma bersyukur, Jafar tidak menolak pelukan itu.
Ia menghela napas pelan, usai sudah memandangi suaminya. Rasa dahaga serta perut yang terus menerus memberontak mengusik ketenangan dirinya dalam memandang. Saat hendak berdiri, Alma telah yakin tidak melakukan pergerakan yang kasar tapi ternyata tiba-tiba saja tangan lembut miliknya di tahan oleh Jafar---yang entah sejak kapan, tak ia sadari terbangun.
"Ka-kamu kebangun, Mas? Ma-afin saya, Mas."
Jafar menggeleng, menyusul Alma untuk berdiri.
"Kamu mau ke mana?"
Jafar hanya menatap lurus pada netra Alma. Sedetik kemudian ia sadar maksud dari tatapan Jafar yang seolah bertanya, kamu ingin ke mana? Bahkan genggaman tangan di pergelangannya masih belum terlepas.
"Saya haus. Sa-saya mau ke dapur."
Suaminya hanya mengangguk.
"Ka-kamu mau ikut?"
Jafar melangkah dengan menarik tangan lembut istrinya---menuju dapur, dan ia mengambil duduk di kursi memandangi setiap gerak-gerik Alma dari mengambil minum sampai meneguk air.
"Kamu mau saya ambilin?"
Di meja dapur terdapat pena dan buku catatan kecil. Jafar mengambil itu dan menuliskan sesuatu. "Kamu lapar?"
"Ha-hah? I-iya sih. Saya lapar," jawab Alma.
"Kenapa kamu tidak makan? Jadi semalaman kamu kelaparan?" tulis Jafar.
Alma menunduk dalam. "Sa-saya nungguin kamu. Gimana bisa saya makan? Ka-kalau kamu marah sama saya."
Terdengar helaan napas pelan dari Jafar. Ia meletakkan pena dan buku catatan di meja, lalu berdiri---mengeluarkan rempah, sawi hijau serta telur dari lemari pendingin dan di susul mengambil nasi. Setelah usai memotong-motong bawang merah, bawang putih, dan juga sawi hijau. Jafar menghidupkan kompor dan memasak satu porsi nasi goreng.
"Makan."
Gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma, saat nasi goreng itu diletakkan di meja bersampingan dengan pena dan buku catatan.
"Terima kasih, Mas."
Pena dan buku catatan itu diambil oleh Jafar, karena sampai sepuluh detik pun berlalu istrinya tak kunjung juga melahap nasi hanya mengaduk-aduk saja. "Kenapa tidak makan? Tidak suka?"
"Su-suka. Saya suka."
Sendok itu diambil alih oleh Jafar dengan perlahan ia mengambil nasi dan menyuapkan nasi goreng pada Alma.
"Saya bisa makan sendiri, Mas," lirih Alma.
Suaminya tetap memaksa, dan ia hanya bisa pasrah menerima suapan itu. Sungguh sebenarnya ia bingung, apakah Jafar sudah tidak marah? Atau apa yang dilakukan oleh Jafar ini hanya sekadar kewajiban saja? Segala tanya memenuhi otaknya.
"Kamu juga makan."
Jafar menggeleng dan menyuapi Alma lagi.
"Kamu nggak bohongi saya 'kan? Kamu beneran udah makan?"
Sendok diletakkan sejenak oleh Jafa. ia mengambil pena serta buku catatan, lalu menuliskan jawaban di sana. "Saya berbohong. Saya tidak berselera makan, Alma."
Netra Alma tiba-tiba saja berkaca-kaca. Apa-apaan kamu, Mas? Gimana kalau kamu sakit? Ia mengambil alih sendok---memposisikan duduk bersampingan dengan Jafar dan berganti menyuapkan nasi goreng yang diterima langsung oleh sang empunya.
"Kenapa kamu nggak makan? Kalau kamu sakit gimana? Ke-kenapa juga kamu harus bohong?"
Jafar menunduk untuk menulis. Nasi goreng di mulutnya pun telah habis. "Kamu mengkhawatirkan saya seolah-olah dirimu sendiri baik-baik saja."
Terdapat jeda di buku catatan itu. "Alma, tidak salah 'kan? Jika saya merasa kecewa padamu?"
Pasti karena masalah tadi sore.
Jafar kembali menulis. "Sebagai laki-laki saya merasa ego saya sedikit terluka. Katakanlah jikalau saya ini egois pun tidak apa-apa, saya sangat tidak suka apa yang telah menjadi milik saya, tiba-tiba saja terlihat sedekat itu dengan laki-laki asing."
Alma telah membaca, dan Jafar membalik buku catatannya lantas kembali menulis lagi. "Lebih-lebih kamu tahu, laki-laki yang menikahimu ini tidak sesempurna itu."
"Mas ..."
__ADS_1
Jafar memberi jeda lagi di satu halaman itu. "Sudah saya usahakan membuang segala pikiran tak pantas di otak saya ini, Alma. Nyata apa? Tidak bisa. Saya percaya kepadamu. Tapi otak ini seolah-olah tidak mau mengikuti perintah saya. Segala macam pikiran buruk memenuhi otak saya, Alma. Katakanlah sekarang saya harus bagaimana?"
Nasi goreng yang beberapa menit lalu masih berasap kini sudah mendingin---ia kembali meletakkan sendok. Sesak sekali rasanya, membaca apa yang telah Jafar tuliskan. Ia sangat tahu Jafar sedang berusaha untuk tidak berprasangka buruk padanya.
"Jadi kata maaf itu ... nggak akan berguna, ya Mas?" Alma manggut-manggut dengan air yang telah begitu banyak berada di peluk netranya. "Tulis apa pun, Mas. Tanya apa pun, dan keluar segala hal yang membuat kamu merasa sulit seperti ini."
"Kamu nggak lupa 'kan? Bahwa prinsip kamu dalam berumah tangga adalah bersama."
Jafar mengangguk.
"Saya akan selalu membersamaimu, Mas."
Jeda tiga detik Alma tersenyum tipis. "Sekali pun sekarang kamu merasa kecewa dan enggan untuk menerima permintaan maaf saya pun, nggak pa-pa Mas. Saya memahami itu."
"Ta-tapi tolong tanya apa pun pada saya Mas, jangan membuat dirimu tenggelam dalam pikiran buruk itu sendiri," sambung Alma.
Jafar menunduk menuliskan sesuatu---yang mana bisa langsung dibaca oleh Alma. "Dia menyentuhmu?"
Alma menggeleng.
"Di pertemuan pertama saya dan dia. Dia nggak sengaja menyentuh tangan saya, Mas. Ka-karena mengambil alih pecahan gelas," jelas Alma.
Terdengar Jafar menghela napas panjang. Tangan Alma terangkat untuk menyentuh dan menggenggam tangan suaminya itu. "Saya mau bicara semua padamu, Mas. Tapi jangan bertindak seolah-olah saya diperlakukan buruk olehnya, ingat dia adalah cucu Mbok Isna. Beliau adalah orang yang amat Ummi percaya bertahun-tahun ini."
"Berani menyentuh tanganmu saja itu sudah termasuk hal yang sangat keterlaluan bagi saya, Alma. Dan apa yang kamu bilang? Hanya karena dia cucu Mbok Isna, tidak memungkinkan dia bisa berbuat buruk juga," tulis Jafar.
Terdapat jeda di buku catatan itu. "Karena kamu tidak akan pernah mengetahui cara laki-laki memandang seorang perempuan dengan matanya."
"Di-dia mungkin nggak sengaja, Mas. Jangan berprasangka buruk seperti itu," ucap Alma.
Jafar menulis lagi. "Bagian tangan mana yang dia sentuh?"
Netra Alma sedikit melebar, ia seolah tak percaya suaminya bertanya seperti itu---dan dengan perlahan ia mengangkat tangan kiri, lalu menunjuk punggung tangannya.
"Ini ... tangan kiri."
Mendengar jawaban Alma---Jafar kian mendekat, menarik pelan tangan kiri itu dan mengusap-usap lembut, lantas mengecupi punggung tangan istrinya.
Sentuhan itu terlepas. Jafar kembali menulis lagi. "Jangan biarkan dia menyentuhmu lagi, entah sengaja atau pun tidak."
Alma mengangguk.
"Ayo, habiskan nasi goreng itu, suapi saya juga," tulis Jafar.
...🌺...
"Kamu mau sholat?"
Jafar mengangguk, sebelum berlalu ke kamar mandi ia duduk di tepi ranjang---melihat jam digital menunjukkan pukul 01.31 WIB. Ia mengambil gawai dan membuka aplikasi note lalu mengetik di sana.
"Haidmu belum selesai?"
"Belum, Mas."
Jafar mengangguk lagi dan mengetik jawaban. "Kalau begitu, tolong tunggu saya selesai sholat, ya?"
"Iya, Mas."
Suaminya itu memasuki kamar mandi--mungkin hendak membersihkan diri sejenak. Kemudian setelahnya Jafar keluar, mengambil wudu di samping mushola dalam rumah. Sekitar dua menit berlalu Jafar kembali lagi dan menggelar sajadah di depannya. Alma kian memperhatikan suaminya. Lagi-lagi ia merasa pemandangan ini membuat dirinya merasa nyaman. Sangat tenang.
Beberapa menit berlalu salat Jafar telah usai. Ia mendekati Alma dan punggung tangannya disambut kecupan singkat dari bibir Alma.
"Mau tidur lagi?"
Senyuman tipis terukir di bibir Jafar tiba-tiba.
"Kenapa kamu senyum?"
Temaram lampu tidur menampakkan senyuman simpul lagi dari Jafar yang kini duduk tepat di sampingnya, dengan pena serta buku catatan yang baru saja di ambil.
"Kamu senyum lagi. Kenapa?"
"Kamu cantik. Kamu kelihatan cantik di bawah lampu yang remang-remang seperti ini," tulis Jafar.
__ADS_1
Spontan Alma menunduk dalam. Kedua tangannya terangkat menyentuh pipi kiri dan kanan---ia malu mendapat pujian yang sederhana seperti itu.
"Udah, Mas. Ayo, kita tidur."
Jafar mengambil duduk bersandar pada ranjang yang di tumpu bantal-bantal, begitu pula dengan Alma yang hendak merebahkan diri. Namun ditahan oleh tangan Jafar.
"Kenapa? Kamu nggak mau tidur?"
Buku catatan yang entah kapan telah ada tulisan itu ditunjukan kepada Alma. "Saya mau berbincang sebentar. Tidak apa-apa 'kan?"
"O-oh, ya-yaudah ayo. Kamu mau ngobrol tentang apa?"
"Tentang kamu."
Setelah membaca itu Alma mengangguk. "Tentang saya? Apa yang mau kamu tahu lagi tentang saya?"
"Banyak yang belum saya ketahui tentang kamu." Terdapat jeda di buku catatan itu. "Apa yang kamu pikirkan di pertemuan pertama kita, Alma?"
"Pertemuan per ... tama kita?" Ingatan Alma berkelana di pertemuan pernyataannya dengan Jafar---yang mana itu saat mengirim rantang makanan untuk Ummi Salamah setiap pagi. "Saat itu ... saya bertanya-tanya apa kamu juga merasa asing ditengah keramaian ini?"
"Kamu pasti terkejut. Karena itu pertama kalinya kamu bertemu dengan laki-laki bisu seperti saya 'kan?" tulis Jafar.
Alma mengangguk. "Iya."
"Tapi Mas yang saya pikirkan adalah kamu. Bagaimana kehidupanmu dan lain-lainnya tentangmu, saya nggak tahu kenapa," lanjut Alma.
"Kamu mengasihani saya, Alma," tulis Jafar.
Dalam pencahayaan minim, setelah membaca apa yang Jafar tuliskan, ia mendongak menatap suaminya itu dengan teduh. "Sebagai manusia wajar bukan, Mas? Kalau saya merasa bersimpati kepada kamu? Juga nggak ada salahnya sesama manusia kita saling mengasihani."
"Saya yakin. Ada waktu di mana kamu juga mengasihani saya atau pun orang lain 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Jadi berhenti menyimpulkan seolah-olah rasa kasihan itu semacam hal buruk yang nggak pantas untuk ditunjukkan," imbuh Alma.
"Apa di saat-saat dulu kamu juga pernah merasakan hal yang sama seperti saya?" tulis Jafar.
Alma manggut-manggut. "Pernah."
"Saya memahami kok, Mas. Saat hati kita berada di satu lingkup kesedihan mendalam, pasti akan muncul rasa enggan untuk menerima ucapan atau pun tatapan yang hanya menambah penderitaan saja."
Alma memutuskan pandangan dengan menunduk dalam ia berujar lirih, "Contohnya ... dengan di tatapan penuh iba oleh orang lain."
"Kenapa kamu berbicara seakan-akan hidupmu lebih menyakitkan dibandingkan saya, Alma?"
Buku catatan itu diletakkan di pangkuan Alma.
"Lebih menyakitkan apa, Mas? Enggak."
Senyum tipis Alma tampakan sejenak. "Hidup saya sekarang adalah kamu, Mas. Kenapa tiba-tiba kamu menulis hal seperti ini? Kamu seakan menegaskan bahwa sebenarnya hidupmu lah yang sangat menyakitkan."
"Kenapa? ..." Alma mendongak lagi menatap suaminya. "Apa kehadiran saya di kehidupanmu kurang untuk membuat sakit itu mereda?"
Jafar enggan menjawab. Namun tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya kepada Alma---sedetik berlalu, kecupan singkat itu mendarat, pertemuan kedua benda kenyal terjadi lagi sejenak.
"Mereda."
Gerakan bibir Jafar kali ini sedikit sulit untuk Alma baca.
"Kamu bilang apa?"
Jafar tersenyum tipis dan menunduk mengambil lagi buku catatan di pangkuan Alma, lalu menulis. "Rasa sakit ini mereda, Alma. Betapa beruntungnya laki-laki seperti saya bisa menikahimu, dan memiliki istri yang begitu memahami suaminya."
"Saya juga beruntung, Mas."
Jafar membuka halaman berikutnya di buku catatan. Kemudian menulis kembali. "Saya memaafkan kamu. Tetapi tolong jaga lah jarakmu dari cucu Mbok Isna itu. Atau kalau perlu, jika tiba-tiba saja dia datang sendiri, usir dia."
"U-usir?"
"Iya." Terdapat jeda di buku catatan itu. Beberapa detik Jafar menulis lagi yang dapat langsung dibaca oleh Alma. "Lebih baik saya memberi penjelasan kepada Mbok Isna dan Ummi. Dibanding mendengarkan penjelasanmu, tentang tingkah laku tidak sopan laki-laki itu yang berani menyentuh sesuatu yang bukan miliknya."
"Lebih-lebih yang dia sentuh adalah kamu. Milik saya," lanjut Jafar.
__ADS_1