
Paginya. Jafar melihat Alma tengah sibuk berbincang-bincang dengan Dilara. Niat hati ingin mendekat, tetapi ia urungkan saat istrinya itu ... mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatnya terpanah.
"Kemarin, Mama buat Dilara kecewa. Jadi ... Mama mau minta maaf banget. Maafin Mama yang larang Dilara dateng ke Kedai, ya?" ujar Alma.
Mata bulat Dilara menatap bingung. "Dilala enggak ngelasa Mama buat salah ke Dilala."
"Oh ya?" Alma membiarkan Dilara duduk di atas kursi sedangkan ia di bawah berjongkok. "Memang Dilala tahu orang yang salah sama nggak salah?"
Dilara terdiam sejenak. "Tahu."
"Kalau orang yang buat salah itu gimana?"
Dilara menatap Alma dengan serius. "Olang yang salah itu yang lebut main anak lain, yang mukul olang, yang malah-malah sama olang, yang ... enggak tahu itu yang Dilala tahu aja."
"Masya Allah, anak Mama sama Ayah pinter banget." Alma mengusap-usap lembut surai hitam Dilara. "Yang Dilara bilang benar, Sayang. Tapi kesalahan orang nggak cuma bisa dilihat dari yang Dilara ucap tadi."
"Telus gimana?"
Alma menjawab, "Waktu Mama larang Dilara dateng ke Kedai Dilara ngerasa nggak kalau hati Dilara sakit nggak? Terus Dilara ngerasa sedih tiba-tiba nggak, Sayang?"
"Iya sih. Dilala agak ngelasa gitu, Ma."
"Berarti itu ... tandanya Dilara kecewa sama Mama." Alma menghela napas. "Mungkin menurut Dilara, Mama nggak buat salah. Tapi menurut Mama bikin Dilara sedih itu termasuk kesalahan buat Mama. Jadi ... Mama mau minta maaf, Sayang. Supaya hati Mama tenang, supaya Dilara nggak sedih lagi."
Dilara tersenyum simpul dan mengangguk-angguk. "Dilala maafin Mama. Jadi Mama halus tenang, ya? Jangan banyak pikil pikil lagi."
"Makasih, Sayang. Insya Allah Mama janji, kalau Dilala mau main ke Kedai lagi. Mama nggak bakalan larang," ujar Alma.
Dilara menggeleng. "Mama enggak pelu janji. Dilala yang halusnya janji. Dilala tahu pasti Mama cibuk, ya?"
"Enggak, Sayang. Sesibuk apapun Mama, Insya Allah Mama masih bisa main sama Dilara."
Perbincangan istri dan anaknya telah sampai pada tahan memaafkan. Jadi Jafar keluar dan datang tiba-tiba mengambil duduk di samping Dilara.
Ia memberikan gawai yang telah berisi apa yang ingin ia ucapkan pada Alma. "Kamu dan Dilara mau sarapan di luar? Kita makan bubur."
Mata Alma membinar. Ia menatap Jafar sejenak. Kemudian menatap Dilara dan berujar, "Sayang, Ayah bilang gimana kalau kita sarapan bubur? Kita makan di luar. Dilara mau nggak?"
Gadis kecil itu mengangguk-angguk. "Mau! Mau! Dilala mau Ayah, Mama!"
"Mas itu ... Azizah, ya?"
Mata Jafar mengikuti arah pandang Alma. Benar itu adalah Azizah, anak dari Ustadz Hasan dan Bibi Hasna. Jujur Jafar terkejut saat melihat perut buncit Azizah. Dia hamil? Kenapa Bibi Hasna tidak mengundang saya dan Alma jika Azizah menikah? batin Jafar.
__ADS_1
"Dia sendirian?" Alma bangkit. "Saya ke dia dulu, ya, Mas? Titip Dilara sebentar."
Jafar mengangguk membiarkan Alma menghampiri Azizah. Beberapa tahun sudah berlalu mungkin umur Azizah sudah memasuki dua puluh tiga tahun. Kebetulan tempat orang penjual bubur ini sepi tidak terlalu ramai orang, jadi ia bisa untuk berbicara sebentar dengan Azizah.
"Azizah, ya?"
Mata perempuan itu membulat. Bahkan spontan saja berbalik ingin pergi. Namun Alma berhasil menahan. "Azizah, saya Alma. Saya ingin menyapa. Kenapa kamu pergi?"
"Tolong lepas, Mbak," ujar Azizah.
Alma tidak melepas. "Kapan kamu menikah? Kenapa Ustaz Hasan nggak kasih undangan---"
"Puas, kan, Mbak?" Tatapan benci dan sendu bercampur aduk dalam mata Azizah. "Abi udah pergi. Ummi sakit dan saya di usir. Mbak puas, kan?"
"Kamu---"
"Iya. Mbak udah bisa nyumpulin itu, kan?" sanggah Azizah. "Jadi, lepasin saya, Mbak!"
"Azizah. Saya butuh bicara---"
Lagi-lagi Azizah menyanggah, "Bicara apa sih, Mbak?"
"Saya minta kita ke pesantren sebentar," ujar Alma.
"Saya nggak mau, Mbak!"
Azizah terdiam, dia sepertinya pasrah dan bersedia ikut ke pesantren. Alma meminta Azizah menunggu sebentar, ia harus menghampiri Jafar untuk meminta izin pada suaminya.
"Nggak pa-pa, kan, Mas?"
Jafar mengangguk. Pandangan Alma beralih pada Dilara. "Sayang, makan dulu yang kenyang. Mama pulang duluan ya, Nak? Nanti Dilara pulang sama Ayah. Okay?"
"Oke, Ma."
📍 Pesantren Al-Hikmah.
Lebih tepatnya di rumah Ummi Salamah. Azizah duduk terdiam di sampingnya. Setelah menyajikan teh hangat, Alma masih belum mengeluarkan tanya.
"Abi meninggal dua bulan yang lalu." Azizah mencengkram gamis yang dipakainya. "Waktu beliau tahu ... kalau saya hamil, penyakit beliau kambuh. Beliau---"
"Semua memang salah saya, kan, Mbak? Harusnya saya nggak menolak amanah Abi, harusnya saya nggak memilih buat kuliah, harusnya saya bener-bener jadi anak yang penurut. Supaya ... ini semua nggak terjadi," lanjut Azizah.
Alma terdiam sejenak. "Siapa Ayahnya?"
__ADS_1
Azizah terdiam.
"Azizah---"
"Mbak mau saya sebut nama laki-laki bajingan itu?" sanggah Azizah. "Demi Allah saya jijik, Mbak. Saya bahkan mau gugurin anak ini---"
"Istighfar, Azizah."
Tiba-tiba Azizah menggenggam tangan Alma. "Mbak ... usia kandungan saya delapan bulan. Anak di kandungan saya ini laki-laki. Saya ... bakal kasih anak ini ke Mbak Alma. Saya nggak mau urus anak ini saya---"
"Azizah---"
"Lebih baik saya kasih ke Mbak Alma." Azizah menjeda. "Atau saya buang aja, Mbak? Atau lebih baik saya bunuh?"
Ya Allah Azizah, batin Alma.
"Saya udah nggak tahan, Mbak. Lebih baik dia hidup tanpa tahu saya Ibunya. Toh dia laki-laki, kan? Dia nggak butuh Ayah atau Ibunya buat menikah nantinya. Dia pasti bisa hidup bahagia kayak anak-anak panti asuhan Umma Sarah." Tiba-tiba saja Azizah bersimpuh.
"Azizah ... enggak-enggak. Kamu ngapain?" Alma berusaha menahan.
"Mbak saya mohon. Saya mohon. Saya minta tolong. Saya udah capek. Saya bakalan gila. Gimana kalau saya beneran bunuh----"
"Enggak, Azizah! Okay. Saya harus bicara dulu sama Mas Jafar. Kamu tulis alamat tempat tinggal kamu sekarang," putus Alma.
Malam. Sekitar pukul dua belas. Jafar baru bisa benar-benat bertanya tentang apa yang dibicarakan istrinya bersama Azizah. Karena akhirnya Dilara telah terlelap tidur, dan istrinya itu turun dari ranjang.
"Mas, saya mau bicara tentang Azizah."
Jafar menatapnya.
"Azizah hamil. Tapi ... dia belum menikah. Dan, ternyata sudah dua bulan Ustadz Hasan meninggal, Mas." Alma menyentuh tangan Jafar. "Saya tahu mungkin kamu nggak akan setuju. Tapi, Azizah bilang mau kasih anaknya ke saya, Mas. Atau kalau nggak dia mau buang anak itu, atau mungkin ... dia bisa bunuh anak itu, Mas."
Apa-apaan Azizah ini, batin Jafar.
"Mas, apa ... kita terima aja? Terus kita taruh anak itu di panti asuhan Umma Sarah?"
Jafar terdiam.
"Mas ..."
Jafar mengeluarkan gawainya dan mengetik. "Minggu ini kita ke rumah Ustaz Hasan. Saya mau berbicara dengan Bibi Hasna."
.
__ADS_1
Note:
Masih inget Azizah, kan? Kalau lupa silakan intip bagian 37 dan bagian awal-awal biar inget lagi.