Almahyra

Almahyra
Bagian 33


__ADS_3

"Jadi Alma, jika suatu saat pun kamu mengecewakan saya. Saya akan mencoba memahami situasimu. Saya tidak akan marah sebelum mendengarkan penjelasanmu. Tapi jika saya lalai tolong ingatkan saya, sebagaimana seorang istri mengingatkan suaminya," tulis Jafar.


"Sebagaimana seorang istri ... mengingatkan suaminya?" Setelah mengatakan itu Alma mendongak---kembali menatap Jafar yang tengah tersenyum. "Kalau begitu ... jika situasinya terbalik. Tolong juga ingatkan saya sebagaimana seorang suami mengingatkan istrinya."


Lagi-lagi Jafar hanya tersenyum mengangguk.


"Saya mau lihat tangan kamu," ucap Alma dengan menarik tangan suaminya.


"Lukanya sudah kering. Nggak sakit?"


Jafar menggeleng.


"Jangan pernah ngelukain diri sendiri lagi, Jafar."


Jafar membalas dengan note. "Saya tidak bisa berjanji."


"Saya nggak minta kamu janji. Saya cuma minta jangan pernah melukai diri sendiri, Jafar. Saya tahu semarah apa pun kamu. Kamu nggak akan pernah bisa menyakiti wanita, tapi ... nggak dengan cara melukai diri sendiri kayak gini," jelas Alma.


Alma melihat suaminya itu menengadah---langit-langit kamar di pandangi oleh Jafar dengan sedemikian jelas, sesekali terdengar helaan napas.


"Kamu dengar saya bicara 'kan?" tanya Alma.


Jafar mengangguk dan kembali menunduk menuliskan balasan untuk Alma. "Kamu tahu, Alma. Laki-laki adalah manusia yang sulit untuk mengontrol emosinya. Saya selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang terdekat saya. Tapi saya tidak bisa berusaha untuk tidak menyakiti diri saya sendiri."


"Bukankah itu berarti kamu abai pada dirimu sendiri? ... Jangan seperti itu Jafar. Mementingkan orang lain memang benar, tapi mengabaikan diri sendiri itu salah," ucap Alma.


"Kamu mengatakan seolah-olah kamu tidak pernah mementingkan orang lain saja."


Setelah membaca itu Alma melihat Jafar terkekeh pelan, seakan-akan menyakiti diri sendiri untuk melindungi orang lain adalah hal yang sepele.


"Sa .. saya?"


Jeda tiga detik ia kembali berujar, "Saya nggak pernah mementingkan orang lain secara berlebihan."


"Wanita memang selalu tidak sadar telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri, demi kebahagiaan orang lain," tulis Jafar.


"Ma-maksud kamu?"


"Kita sama saja, Alma. Mungkin perbedaannya kamu lebih memikirkan kebahagiaan orang lain. Sedangkan saya lebih memikirkan untuk tidak menyakiti orang lain," tulis Jafar.


Alma menunduk sejenak. Ia telah memahami apa yang suaminya maksud---dengan kembali menatap Jafar, Alma berucap, "Kebahagiaan orang lain yang kamu maksud itu kebahagiaan Ayah, Ibu, dan juga Bibi Maryam serta Ummimu, Jafar ..."


"Tetap saja. Selain dirimu sendiri. Mereka itu adalah orang lain. Saya pun juga orang lain."


Buku catatan itu tetap di pangkuan Alma. Karena Jafar berdiri mengambil laptopnya dan kembali duduk di samping Alma dengan laptop yang terbuka menampilkan Microsoft word.


"Jadi, jangan pernah melarang saya seolah-olah kamu tidak pernah mementingkan orang lain."

__ADS_1


"Pernikahan ini adalah kebahagiaan semua orang."


"Kamu tahu bahwa pernikahan ini kebahagiaan semua orang. Bahkan pengorbanan dari kebahagiaanmu juga. Lantas bagaimana bisa malam itu kamu mengatakan bahwa saya harus menikahi Azizah?" tulis Jafar.


Alma mengigit bibir bawahnya---ia paham ia bersalah, yang dikatakan Jafar adalah benar. Tapi baginya amanah pernikahan Jafar dan Azizah juga termasuk kebahagiaan Ayah mertuanya.


"Pernikahanmu dengan dia adalah kebahagiaan Abi."


Tombol delete Jafar tekan lama dan beberapa detik kemudian ia mengetik. "Terlihat jelas bukan? Kamu terlalu mementingkan orang lain. Dan juga mengabaikan dirimu sendiri."


"Bahkan Abi dia sakit. Kamu pikir sa-ya bisa setega itu?"


"Kali ini kamu melupakan kebahagiaan satu orang, Alma. Apa kamu tahu bagaimana perasaan saya saat kamu tiba-tiba saja berkata bahwa saya harus menikahi Azizah?"


Jafar menghela napas pelan---mengklik tombol enter dan kembali mengetik. "Saya merasa terluka."


"Saya memahami bahwa pernikahan yang kita jalani ini tanpa adanya cinta. Tapi tidak bisa kah kamu menghargai saya yang tengah berusaha menerima pernikahan ini juga?"


Alma tersenyum getir.


"Pernikahan ini ... baru berjalan dua hari. Ta-tapi kenapa bisa semenyakitkan ini?"


Jeda tiga detik Alma kembali berucap, "Terima kasih, Jafar. Bahkan ternyata ... kamu juga berusaha menerima pernikahan yang terjalin tiba-tiba ini."


Jafar meletakkan laptop tepat disampingnya, netranya berubah menjadi teduh kian menatap Alma terus menerus.


Senyum tipis terukir di bibir Jafar, dengan perlahan ia mendekat tangannya menyusup menyentuh pinggang Alma dan menariknya dalam dekapan. Bahkan lagi-lagi Jafar menyandarkan kepalanya di leher samping Alma.


Untung kali ini leherku tertutup kerudung.


"Kamu capek?"


Jafar menggeleng.


"Bohong. Biasanya orang yang habis pulang kerja itu capek." Alma tiba-tiba saja tertawa, ia memang bodoh mengapa harus bertanya? Sudah pasti suaminya lelah. Usapan lembut yang semula di punggung Jafar beralih ke belakang kepala. "Mau saya pijatin?"


Jafar menggeleng.


"Biasanya orang yang baru pulang kerja, suka kalau ditawari gitu. Kok kamu nggak suka, ya? ... Kamu maunya apa? Makan?"


Jafar menggeleng lagi. Kali ini pelukan di pinggang Alma kian erat, bahkan Jafar lebih menyusup dalam di leher istrinya---sengaja pula, Jafar melepaskan kerudung yang menghalangi itu.


"Jangan ditarik gitu, Jafar. Kerudung ini ada jarumnya, nanti kalau kena kamu gimana?" ucap Alma.


Kerudung itu terlepas dengan bantuan Alma.


"Ka-kamu ngapain?"

__ADS_1


Lagi-lagi Jafar menggeleng---deru napas Jafar terdengar di telinga Alma, bahkan hembusan napasnya terasa di leher, Alma bukan merasa tak nyaman. Namun sedikit canggung, dan ... malu.


"Jafar lepas ... sa-saya capek di-di peluk kayak gini."


Capek?


Astaghfirullah alasan macam apa?!


Alma bodoh!


Pelukan itu terlepas saat Alma mengeluhkan kelelahan. Alasan itu memang tiada jelasnya, namun setidaknya bisa melepas pelukan yang---sebenernya membuatnya nyaman.


Laptop yang berada di samping Jafar diambilnya lagi lantas ia mengetik sesuatu. "Saya lebih suka di peluk saat sedang kelelahan."


"Hah? A-apa?"


"Kamu tadi yang menawarkan pelukan. Sekarang kamu mengeluhkan kelelahan karena saya peluk?" Jafar tertawa, dan lanjut mengetik. "Kamu aneh, Alma. Apa saya terlalu erat memeluknya?"


Alma menggeleng. "Ka-kamu cuma---"


Terdengar suara ketukan dari luar disusul suara Ummi Salamah yang memanggil berkali-kali.


"Jafar ... Alma .... Sudah siap, Nak?"


Alma terburu-buru berdiri mengambil dan memakai kerudungnya kembali---membuka pintu dan tersenyum tipis di depan Ummi Salamah.


"U-ummi, hari ini ... kayaknya di tunda dulu. A-alma ngerasa nggak enak badan," ucap Alma.


Netra Ummi Salamah melebar, tangan beliau terangkat menyentuh kening dan turun ke bahu kiri dan kanan menantunya. "Apa yang sakit, Nak?"


"A-alma cu-ma ngerasa agak pusing, Ummi."


Ummi Salamah paham, pasti penyebabnya karena Alma terlalu banyak menangis semalam. "Ya Allah, Nak. Ummi buatin Teh, sama bubur mau, ya?"


Alma mengangguk. "Terima kasih, Ummi."


Pintu tertutup kembali. Alma mengambil duduk lagi di samping Jafar. "Maaf. Saya lupa kasih tahu Ummi tadi."


"Kamu istirahat. Saya pinjamkan pakaian tidur kepada Ummi lagi."


Setelah membaca tulisan Jafar spontan Alma menggeleng kuat. "Jangan jangan! Ka-kamu bikin saya malu pinjam pakaian tidur ke Ummi terus."


"Lantas kapan perkiraan pakaian tidur itu datang?" tulis Jafar.


"Ya-ya saya nggak tahu. Es-estimasi waktunya dikirim sebelum tanggal lima belas, kok," jawab Alma dengan kelagapan.


Jafar tersenyum singkat dan kembali mengetik. "Kamu ini aneh. Kenapa harus malu kepada Ummi? Jelas-jelas beliau itu mertua kamu, Alma. Bahkan hanya sebatas meminjam pakaian tidur pun kamu malu?"

__ADS_1


__ADS_2