
...23: Permintaan Sebagai Seorang Istri...
"Ya udah. Ummi keluar, kamu tidur lagi. Istirahat yang cukup. Jangan lupa kerudungnya dilepas biar tidurnya nyaman," ucap Ummi.
Seperdetik Ummi Salamah menutup pintu. Alma melepas kerudungnya---surai hitam legam panjang indah itu, langsung tergerai hingga pinggang. Tangan kanan serta kirinya lihai melipat kerudungnya menjadi empat bagian dan setelah meletakkannya di samping ranjang, ia mendongak.
Tatapannya beradu sejenak dengan Jafar.
Sekejap kemudian lelaki yang menjadi suaminya itu memutus pandangan secara sepihak, dengan berjalan ke arah meja rias. Sedangkan Alma perlahan turun dari ranjang, berjalan mendekati Jafar dan berhenti tepat di belakang. Dan sesaat Jafar mendongak, menatap cermin, netranya melebar.
Di-dia terkejut?
Jafar menunduk seketika, hendak berjalan ke samping. Namun tangan lembut Alma terangkat menyentuh lengan kekar Jafar.
"Jafar ... sa-ya minta maaf," ucap Alma lirih.
Alma menundukkan kepala---mengakibat anak-anak rambutnya turun menyentuh kulit tangan Jafar. Punggung tangan suaminya terlihat begitu banyak goresan, mungkin darah itu memang telah kering. Namun luka itu tetap akan terasa sakit bilamana tidak segera diobati. Dengan perlahan sentuhan tangan Alma, menjalar turun ke arah punggung tangan milik Jafar---dan mengusapnya perlahan.
Pasti sakit.
"Saya obati, ya?" tanya Alma dengan lirih.
Dituntutnya Jafar mundur untuk duduk di kursi meja rias, kemudian Alma membuka laci kedua mengambil P3K di sana. Dan dengan perlahan-lahan ia memberi betadine pada luka-luka gores di punggung tangan Jafar, disusul sela-sela jari, setelahnya ia mengambil perban, lantas menutup luka dengan memutar rapi.
Dan selesai. Luka telah tertutup.
Setelahnya, Alma sedikit mendongak menatap Jafar dan berujar lirih terbata-bata, "Sedikit pun, saya nggak merasa malu. Sa-saya cuma belum bisa membaca situasi dengan cepat, Jafar. Saya ... saya nggak tahu kalau ternyata Bapak itu ... nggak tahu tentang keadaan kamu yang sekarang."
Perlahan Alma melepas genggaman tangan Jafar, meletakkan kembali P3K di laci, dan melangkah mendekati ranjang.
"Kalau saya emang malu, saya nggak akan pernah mau menikah sama kamu."
Tepi ranjang ialah pilihan untuk Alma duduk, kamar ini menjadi sedikit membara karena pendingin di pagi hari terbiasa untuk dimatikan. Netranya menatap lurus pada pintu yang tertutup, dan dengan tersenyum getir Alma kembali berujar, "Kamu bilang pernikahan adalah tentang kerida'an. Saya rela Jafar menikah sama kamu. Seperti kamu yang menerima pernikanan ini karena Ummi, saya pun sama, menerima pernikahan ini karena Ibu."
"Jafar ... kenapa sulit sekali bagimu menerima dirimu sendiri?"
Alma menjeda, menghela napas perlahan dan kembali berucap, "A-apa kamu pikir orang-orang di sekitarmu bisa dengan mudah menerima keadaanmu saat ini? ... Nggak. Apalagi Ummi, saya yakin beliau nggak akan pernah sanggup."
__ADS_1
Setitik air mata menetes di pipi kirinya. Alma tak tahu apa yang membuatnya ikut merasa sesak. "Tapi setidaknya orang-orang di sekitarmu berusaha menerima. Ummi, Umma dan Lutfan. Mereka semua berusaha mengimbangi dirimu, mereka semua berusaha mengakhiri segala penderitaanmu. A-apa sedikit pun kamu nggak bisa menghargai usaha mereka? ... Dengan cara menerima dirimu sendiri?"
Menunduk.
Alma menghindari Jafar yang telah berdiri di depannya, entah sejak kapan langkah kaki lembut suaminya itu tak terdengar.
"Semua manusia punya kekurangan. Bahkan saya pun nggak pernah luput dari kekurangan itu," lanjut Alma lirih.
Jafar tiba-tiba saja berjongkok, tangan lelaki itu terangkat mengusap surai lembut Alma perlahan menyamping menyentuh pipi kanan istrinya dan mengusap air mata yang masih menetes terus menerus.
"Saya maafin kamu," ucap Alma lirih.
Seakan-akan ia tahu bahwa suaminya---Jafar tengah memohon permintaan maaf yang teramat dalam untuk segala kesalahan. Usapan Jafar turun melewati bahu, menurun lagi dan berhenti dipergelangan tangan Alma---lantas di sikapnya sedikit gamis yang menutupi pergelangan tangan istrinya.
Memerah.
Jafar benar-benar telah menyakiti Alma.
"Nanti merah-merahnya bakalan hilang sendiri. Ini juga udah nggak terlalu sakit," jawab Alma seolah-olah mengetahui segala tanya yang ingin suaminya tahu jawabannya itu.
"Ah!" rintih Alma saat dengan sengaja Jafar menekan pergelangan tangannya yang memerah. "Jangan ditekan. Sakit."
"Ka ... mu jangan diam terus. I-ini saya bawain pena sama buku," ucap Alma setelah duduk di samping Jafar.
Dia masih marah?
"Ah iya, saya lupa. Tangan kamu luka, pasti susah buat nulis ya? Ya-udah nggak usah nulis apa-apa, nanti tanganmu sakit," ucap Alma, lagi.
Saat Alma hendak berdiri lagi mengembalikan pena dan buku catatan. Sedetik itu juga lengannya ditarik pelan oleh Jafar, namun karena mendadak mengakibatkan Alma hilang kendali. Hingga jatuh terduduk di pangkuan Jafar.
"Astaghfirullah. Ma-maaf, sa-saya nggak sengaja."
Dengan segala permintaan maaf yang Alma ulangi terus, Alma berdiri dari pangkuan Jafar. Dan menuju meja rias lagi, lalu mengambilkan pena serta buku catatan di tempat.
Astaghfirullah.
Kenapa bisa jatuh segala, sih?!
__ADS_1
"Sa-saya permisi keluar."
Saat langkahnya hampir mencapai pintu, Alma berhenti. Ia menyentuh kepala, ingat bahwa ia telah melepas kerudung, dan meletakkannya di samping ranjang. Jadi haruskah ia kembali lagi berbalik dan mengambil kerudung di dekat tempat Jafar terduduk?
Malu.
"Saya permisi, ma-mau ambil i-itu."
Tatapan mereka beradu. Jafar seolah-olah tak memahami bahwa istrinya membutuhkan kerudung yang terlipat rapi di dekat ranjang---dan dengan netra yang sulit sekali Alma baca Jafar terus menerus memandanginya.
"Duduk."
Gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma saat ia semakin dekat hendak mengambil kerudungnya.
"Saya mau keluar," jawab Alma lirih.
Alma tidak mengindahkan Jafar dan hendak berbalik serta ingin memakai kerudung. Namun detik itu juga gerakan tangan Jafar yang cepat, menahannya. Sehingga lagi-lagi Alma jatuh terduduk di pangkuan Jafar.
"Ja ... far," ucap Alma lirih saat tangan milik suaminya itu beralih turun menyentuh pinggang rampingnya.
Jafar menundukkan kepala, mendekatkan wajah miliknya pada leher samping istrinya perlahan---lantas Jafar kian mengikis jarak antara dirinya dan Alma, semakin dekat. Hingga pelukan hangat itu terasa.
Di-dia memelukku?
Perlahan tangan kanan Jafar terangkat menyikap anak rambut yang menutupi bagian leher depan Alma, dan tepat saat itu pula Alma mendengar deru napas Jafar. Bahkan suasana sunyi dari ruangan ini membuat keduanya dapat merasakan debaran jantung satu sama lain.
Ba-sah?
Leherku basah?
Di-dia menangis?
"Jafar ..."
Tiada pergerakan dari Jafar. Selain mempererat pelukannya di pinggang Alma dan semakin mendekatkan wajah pada leher istrinya.
"Sedikit pun, kamu nggak perlu menyesali perbuatanmu tadi. Sa-saya baik-baik aja." Alma menjeda dengan mengusap lembut rambut belakang Jafar beberapa kali. Bahkan sesekali tangan kanan Alma menyentuh telinga, hingga bagian wajah samping Jafar. Kemudian ia kembali berujar, "Tapi, saya minta ..."
__ADS_1
"Se-sebagai seorang istri."
Jeda tiga detik Alma berucap, "Sa-saya mau suami saya, menerima dirinya sendiri ... sebagaimana saya dan orang-orang menerima kamu, Jafar."