Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 15 : Robin Shaukat


__ADS_3

Malamnya, jumat bersama. Semua orang berkumpul, ada Nenek Salamah, Nenek Sarah, Tante Mardiyah, Om Lutfan, dan anak-anaknya juga. Rais menatap keluarga besar dari Ayahnya ini benar-benar harmonis. Kakaknya--- Dilara saja bahagia, sampai tertawa tiada henti bersama saudaranya dari pihak Tante Mardiyah. Sedangkan Rais sendiri, agak canggung. Ia sulit membangun suasana, ia hanya dekat dengan Dilara saja. Bagaimana kalau ia berbaur mereka-mereka tidak menyukainya karena ia tidak tahu apa-apa?


Bahkan Mama yang selalu memperhatikannya, kini sedang sibuk. Ia bingung ingin melakukan apa? Lebih baik duduk menikmati cara saja. Supaya tidak merepotkan siapa-siapa.


Aduh, aku kebelet mau pipis, batin Rais yang menoleh ke kiri kanan, ia ingin mengajak seseorang menemaninya. Tapi ia tidak dekat dengan anak-anak pesantren seusianya. Ada, sih. Tapi ia malu, karena tidak pernah bermain bersama.


Ya udah, sendiri aja nggak pa-pa, batin Rais yang mulai bangkit dari duduk beramai-ramai untuk ke kamar mandi.


Saat perjalanan sebagain tempat sepi karena orang-orang sibuk di lapangan. Tetapi saat ia hendak memasuki kamar mandi, ia melihat ada seorang lelaki yang seusia Ayah Jafar menghampiri.


"Permisi," ujar orang itu.


Rais urungkan niatnya masuk. Lelaki di depannya ini lebih tinggi dari Ayah Jafar. Pakaiannya koko berwarna maroon, dengan celana hitam tidak ketat, Rais tidak tahu celana apa. Saat ia mendongak lagi, memperhatikan wajahnya lelaki itu kelihatan lebih muda dari Ayah Jafar, alisnya tebal tetapi bulu mata tipis, dan kelihatannya orang campuran Jepang atau China. Siapa Om ini? Pikirnya.


"Iya ada apa, ya, Om?"


Lelaki itu tersenyum. "Kalau mau ketemu sama Gus Jafar di mana, ya, Dek?"


Oh ... beliau mau ketemu Ayah, batin Rais.

__ADS_1


"Om mau aku anter nggak?" tawar Rais.


"Boleh-boleh, Dek."


Jari telunjuk Rais mengarah pada pintu kamar mandi. "Aku ke kamar mandi dulu, ya, Om. Om nggak pa-pa nunggu? Aku janji nggak lama-lama, cuma mau pipis aja kok aku."


"Iya, nggak pa-pa, Dek."



Setelah berbicara dengan Banyu---selaku temannya yang membantu mengurus pesantren. Jafar mengedarkan pandangannya, hingga matanya menangkap sesosok bocah yang ia cari dari tadi, sedang berjalan dengan orang asing.


"Ayah!" teriak bocah itu dengan tersenyum lebar, Rais menunjuk-nunjuk dirinya. "Ini Ayah. Ada yang cariin Ayah."


Jafar melihat lelaki yang berdiri di samping Rais melebarkan mata, seolah-olah terkejut dengan panggilan yang Rais ucapkan untuknya.


"Ada perlu dengan saya?" ujar Jafar.


Lelaki itu mengangguk dan mendekatkan tangan. "Saya Robin Shaukat. Apa Gus Jafar ada waktu? Saya butuh membicarakan sesuatu dengan anda."

__ADS_1


Shaukat? Anak pemilik Bank Fortunata? batin Jafar saat mendengar nama belakang dari keluarga itu.


"Anda mengenal saya?" tanya Jafar.


"Tentu. Siapa yang tidak mengenal anda, Gus?" Lelaki yang mengaku memiliki nama Robin itu melepas jabatan tangannya. "Jadi, apakah boleh anda menyambut saya?"


Jafar terdiam sejenak. Ia menatap Banyu yang beberapa centimeter di dekatnya. "Banyu."


"Nggeh, Gus?"


"Saya ada tamu. Bisa tolong undur penyambutan saya atau kamu ganti saja dengan Lutfan?"


Banyu berpikir sejenak. "Ndhak pa-pa, Gus. Nanti saya minta Mas Lutfan aja yang gantiin."


"Terima kasih."


Jafar beralih menatap Robin. "Mari ... ikut saya."


"Ayah, aku ik---"

__ADS_1


"Bantu orang-orang," sanggah Jafar pada Rais yang langsung melenggang pergi.


__ADS_2