
...21 : Perlakuan Jafar...
"Kerudungmu tersikap," tulis Jafar.
A-apa?!
Alma spontan menunduk, melihat kerudung yang dipinjamkan oleh Ummi Salamah memang tersikap. Bahkan memperlihatkan sedikit leher jenjangnya bagian depan.
"Astaghfirullah," gumam Alma.
Tangan kiri dan kanannya terburu-buru membenarkan kerudung. Lantas ia berjalan ke arah lemari kayu, dengan sedikit berjinjit diambilnya rempah-rempah. Setelah itu Alma duduk di kursi kayu dapur dengan mengiris-iris bawang putih, bawang merah, tomat, cabe rawit serta cabe merah secara berurutan dan meletakkan menjadi satu, namun ia beri pembatas.
"Seenggaknya satu kewajiban ini harus benar, dan nggak terlalaikan lagi," gumam Alma.
Usai sudah ia berkutat di dapur. Masakan untuk Jafar telah tersaji di meja makan. Namun suaminya itu belum terlihat sampai sekarang. Bahkan mentari telah terbit memasuki celah-celah rumah ini, Alma memilih duduk---menunggu. Ummi Salamah pun, belum pulang dari pasar.
Srek!
Suara sandal yang bergesekan dengan tanah kasar yang bercampur pasir-pasir halus, membuat pandangan Alma mengarah ke sana. Ternyata itu adalah Jafar yang melepas sandalnya, memasuki rumah melewati pintu belakang---yang mungkin saja suaminya dan Lutfan tadi sedang memberi makan beberapa ikan yang dipeliharanya.
"Kamu mau sarapan?"
Jafar mengangguk, lalu mengangkat kedua tangan yang kotor, memberikan tanda bahwa lelaki itu perlu untuk mencuci tangannya.
"Apa nasi---"
Ucapan Alma terhenti, saat Jafar mengambil alih piringnya. Seperti tak perlu dilayani oleh seorang istri, Jafar mengambil nasi sendiri, disusul mengambil lauk pun sendiri.
"Setelah makan, saya mau bicara denganmu, Jafar," ucap Alma.
Jafar meletakkan sendok, dan mengeluarkan pena serta buku catatan di saku. "Kamu juga makan," tulisnya.
"Saya masih kenyang."
Jawaban Alma membuat Jafar spontan meletakkan kembali sendok, serta membatalkan suapan nasi di mulutnya. Tangan kanannya kembali menuliskan note untuk Alma. "Saya mau kamu makan."
"Saya kenyang."
"Kamu mau membuat saya terlihat menjadi suami yang buruk?" tulis Jafar. Kali ini ia mengganti tempat duduknya, untuk lebih dekat kepada Alma.
"Saya nggak memahami maksud kamu, Jafar."
Jafar sedikit mendorong maju piring makanan, lalu dengan lihai ia menulis kalimat yang sedikit panjang untuk Alma.
"Prinsip saya dalam berumah tangga adalah bersama. Jika saya makan, maka kamu pun harus makan. Apa susahnya bagimu membersamai saya untuk sarapan?" tulis Jafar.
__ADS_1
Alma menghela napas pelan, tangannya mengambil piring, sendok serta nasi dan lauk. "Saya mau makan. Jadi habisin sarapan kamu."
Jafar melanjutkan makan, saat melihat istrinya mulai melahap perlahan sarapannya. Dan menjadi penurut sebenernya bukanlah sifat dari Alma, namun bagaimana lagi? Jafar adalah suaminya, mau tak mau ia harus patuh.
Lima menit berlalu, sarapan telah habis terlahap. Jafar tiba-tiba saja mengambil bekas piring makanan Alma, dan itu spontan membuat Alma berkata, "Biar saya yang cuci."
Jafar tidak mengindahkan, terus berjalan kearah wastafel dan mencuci bersih piring-piring serta bekas memasak Alma tadi. Setelah semuanya usai, Jafar kembali duduk---meminum setegak air mineral.
"Kamu mau bicara apa?"
Alma sudah membacanya, dan menggeser lagi buku catatan suaminya. "Tentang pernikahan ini," jawab Alma.
"Ada apa dengan pernikahan ini?" tulis Jafar.
Dengan menghela napas pelan dan menunduk dalam seberusaha mungkin Alma menjawab, "Kamu menerima pernikahan ini ... karena apa?"
"Ummi."
Saya sudah bisa menebak pasti karena Ummi.
"Terima kasih, Jafar. Setidaknya kamu nggak menolak pernikahan yang tiba-tiba terjadi. Entah apa pun alasanmu menerima ini semua." Alma mendongak, tepat saat itu pandang keduanya beradu sejenak. Jafar memutuskan sepihak dengan menatap kearah lain. Sedangkan Alma kembali berujar lirih, "Bagaimana pandanganmu mengenai ... saya?"
"Perempuan pilihan Ummi adalah yang terbaik," tulis Jafar.
Pada akhirnya, semua hal yang Ummi Salamah pilihkan untukmu akan selalu kamu anggap baik.
"Saya tanya pandanganmu tentang diri saya, Jafar. Bukan tentang perempuan yang Ummi pilihkan," tegas Alma.
"Bukankah kamu adalah perempuan pilihan Ummi?"
Alma tahu. Tapi apakah Jafar tidak bisa memahami? Yang ia butuhkan adalah pendapat Jafar tentang dirinya yang sekarang telah menjadi seorang istri. Apakah sesuai dengan yang diinginkan Jafar? Apa ia terlihat pantas bersanding dengan Jafar? Dan segala pertanyaan lain yang memenuhi pikirannya.
"Iya. Tapi saya mau kamu menilai saya sebagaimana biasanya kamu menilai seorang perempuan," jawab Alma.
Jafar menuliskan lagi sebuah balasan yang memakan waktu cukup lama sekitar satu menit lebih. Namun kali ini, bukan dengan memberikan buku catatan. Jafar merobek selembar kertas dan berdiri, meletakkan balasan untuk Alma lantas meninggalkan meja makan.
"Jangan pernah meminta saya menilai seseorang. Karena saya rasa itu tidak pantas. Pandangan saya mengenai kamu? ... Kamu adalah perempuan baik. Bahkan sangat membuat saya merasa tidak pantas menjadi pendamping hidupmu. Namun jika saya bisa meminta Alma, jangan pernah mengakhiri hubungan yang kamu mulai sendiri," tulis Jafar.
Setelah membacanya, Alma menengok melihat apakah Jafar telah benar-benar meninggalkan ruang makan. Selembar kertas dari balasan Jafar, dilipatnya dengan begitu rapi, Alma beranjak dari kursi dan menuju kamar---membuka tas selempang yang dibawanya malam itu, lantas menyimpan selembar kertas itu didalamnya.
Mungkin selembar kertas ini bisa menjadi pengingat, supaya saya bisa berpikir jernih sebelum memutuskan mengakhiri hubungan pernikahan yang baru terjalin ini.
"Alma ... Nak, Ummi udah pulang. Kamu di mana?"
Secepatnya Alma keluar dari kamar, saat mendekat suara Ummi Salamah. "Alma di sini, Ummi."
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan, Nak?"
Alma mengangguk. "Sudah Ummi, Jaf ... ehm Mas Jafar juga sudah Ummi."
"Alhamdulillah."
"Ummi mau sarapan? Alma siapin, ya?" tawar Alma.
Ummi menggeleng. "Nggak usah, Nak. Ummi tadi kebetulan udah sarapan di tempat makan langganan Ummi sama Ustadzah Aini."
Alma hanya mengangguk.
"Ummi antar ke panti asuhan, buat ambil barang-barang kamu," ucap Ummi Salamah.
"Nanti aja Ummi, Alma bisa ambil barang-barang itu sendiri. Ummi habis ke pasar, pasti Ummi capek."
Alma menolak. Dan ia mendekati meja ruang tamu, mengambil apa-apa yang dibeli oleh mertuanya dari pasar. Mulai dari rempah-rempah, daging, sayur mayur dan lainnya.
"Masmu di mana, Nak?"
Kening Alma mengerut saat Ummi Salamah bertanya seperti itu.
Masmu? Mas? ... Jafar?
"A-anu Ummi Mas Jafar keluar. Alma nggak tanya beliau mau ke mana," jawab Alma.
Ummi Salamah menggeleng dan sedikit berdecak. "Anak itu kebiasaan, ke mana-mana nggak izin. Padahal sekarang ada istri yang butuh tahu ke mana dia pergi. Jafar ... Jafar ..."
"Mu-mungkin beliau ke pesantren, Ummi."
Mendengar ucapan Alma ada benarnya. Jafar---anaknya terbiasa mengelilingi pesantren di pagi hari, entah berjalan menyusuri kelas, taman, melihat anak-anak berlatih, atau di mana pun itu, sudah menjadi kebiasaan Jafar untuk tidak bisa diam di pagi hari.
"Mungkin iya," ucap Ummi Salamah.
Usai sudah tugas Alma memasuki semua belanja Ummi ke dalam lemari pendingin dan tempat penyimpanan kering. Ia berdiri, dan menyusul duduk Ummi Salamah di sofa abu-abu ruang tamu.
"Maaf ya Ummi ngerepotin."
Alma menggeleng. "Nggak Ummi, ngerepotin apanya? Alma sendiri yang mau bantuin Ummi kok."
Seulas senyuman tercetak jelas di wajah beliau. Jeda lima Ummi Salamah berujar, "Alma ... apa Jafar memperlakukan kamu dengan baik?"
"Ummi bisa melihatnya sendiri, bahwa anak Ummi adalah lelaki yang baik," jawab Alma.
Kali ini, Ummi Salamah menggeleng. "Bukan dari yang Ummi lihat. Tapi dari yang kamu lihat dan yang nggak bisa Ummi lihat."
__ADS_1
"Maksudnya? Alma sedikit nggak memahami maksud Ummi."
Ummi Salamah menghela napas pelan dan berujar dengan lirih, "Apa putra Ummi ... memperlakukan kamu dengan baik di dalam kamar?---Maksud Ummi, di sudut ruangan mana pun, saat kalian sedang berdua. Apa Jafar ... berperilaku buruk?"