Almahyra

Almahyra
Bagian 45


__ADS_3

"Kamu sebagai suami saya aja marah melihat saya di sentuh. Lalu kamu pikir, saya sebagai pemilik tubuh saya sendiri, saya nggak marah di sentuh seperti itu, Mas?" sambung Alma.


Alma melihat Jafar bergeming tak berniat menulis apapun.


"Saya tahu kamu marah, saya tahu kamu kecewa. Saya tahu dan saya paham betul perasaan kamu, Mas." Alma mengalihkan tatapannya ke kiri, enggan melihat Jafar dan kembali berucap, "Suami dan istri adalah kedua orang yang ikut andil dalam menjaga keutuhan rumah tangga."


"Disaat kamu merasa hilang kepercayaan terhadap saya. Saya berusaha sebaik mungkin untuk meminta kepercayaan kamu lagi, Mas. Saya tahu sulit. Tapi saya ... sa-ya mohon kamu berusaha untuk mempercayai saya lagi."


Alma menghela napas pelan, dan menyikap surainya ke belakang. "Saya nggak mau terus dihantui rasa bersalah. Saya nggak pernah sedikit pun mengkhianati kamu dengan melakukan hal-hal diluar batas itu dengan laki-laki lain Mas."


"Saya salah."


Air mata itu kembali menetes di pipi kanannya. "Saya mengakui itu."


"Yang kamu bilang benar. Seharusnya saya mengunakan kerudung dan gamis yang benar saat diluar kamar."


Terdengar helaan napas pelan dari Alma. "Sehingga hal-hal seperti itu nggak akan pernah terjadi. Kesalahpahaman ini pun juga nggak akan terjadi."


"Maafin saya, Mas."


Alma menengok saat merasa Jafar memberi buku catatan itu kepadanya. "Pertengkaran adalah hal yang lumrah terjadi sekarang atau pun nanti, Alma. Dan kata maaf akan selalu terdengar kembali ditelinga saya atau pun kamu."


Terdapat jeda di buku catatan itu. "Saya hanya butuh sedikit waktu untuk memahamimu. Apakah kamu bisa saat kita bersama tidak membahas perihal tadi, Alma?"


Alma menggeleng.


"Kenapa, Mas? Ka-kamu nggak mau masalah ini terselesaikan dengan cepat? Waktu yang kamu maksud itu sampai kapan?"


Alma mengusap ujung hidungnya dan kembali berujar, "Saya sama sekali nggak bisa menerima kebaikan kamu, dengan keadaan kita yang sebenarnya nggak baik-baik aja."


"Kamu masakin saya, kamu bantu saya ke kamar mandi, kamu melakukan ini dan itu di depan saya seolah-olah semuanya baik-baik aja. Enggak, Mas. Saya nggak bisa. Saya nggak bisa bersandiwara seakan-akan hubungan kita ini baik-baik aja, saya nggak bisa ... Mas."


"Saya tidak memintamu bersandiwara. Jalani saja kehidupan rumah tangga kita seperti apa adanya," tulis Jafar.


Suaminya akan tetap seperti ini. Maka, Alma memilih untuk diam sejenak---mengakhiri perdebatan ini kembali. Jika memang waktu yang Jafar minta, Alma mengabulkan itu.


Alma mengambil gawai yang berada di samping ranjang dan membuka pesan Paman Idrus, lantas menunjukkan kepada Jafar.


"Beliau meminta saya ke Kedai Bersama, mungkin untuk membahas tentang kedai milik Bibi Maryam yang harus saya urus. Apa kamu mengizinkan saya?" tanya Alma---mengganti topik perbincangan.


Jafar membalik halaman buku catatan dan menulis. "Jika memang itu permintaan Pamanmu dan kamu menyanggupi. Terima. Asal kamu tidak lalai dengan tugasmu sebagai seorang istri."


"Terima kasih."


"Dokter Andira menghubungi saya kembali, bahwa jadwal operasi di undur hari Jumat setelah selesai shalat Jumat. Karena operasimu termasuk operasi kecil," tulis Jafar.


"Ya udah, berarti saya bisa fokus ke Kedai Bersama," jawab Alma.


"Jangan lupa kita harus membantu Ummi menulis nama-nama orang yang harus hadir di pernikahan kita," tulis Jafar, lagi.


Alma mengangguk. "Iya."


Kemudian ia mengambil bubur itu kembali dan melahapnya sampai habis. Tidak lupa meminum air putih yang disediakan oleh Jafar tadi. Sesaat ia ingin turun telah menggunakan kerudung, untuk mengembalikan mangkuk dan gelas, lagi-lagi Jafar melarangnya.


"Saya udah sembuh. Lepas. Saya cuma mau cuci ini aja," jelas Alma.


Sentuhan dipergelangan tangan Alma terlepas. Hingga ia bisa menuju dapur----wastafel untuk mencuci mangkuk dan gelas tadi. Setelahnya ia menaruh semua di rak piring. Dan mengambil duduk di kursi dapur.


"Jadi pengen es krim. Enak kali, ya?" gumam Alma.


Alma memasuki kamar hendak mengganti gamis serta kerudungnya, tiba-tiba saja Jafar mengangkat buku catatannya, menunjukkan apa yang ditulis. "Kamu ingin ke mana? Bukankah saya sudah bilang, jika membutuhkan sesuatu saya akan membantumu?"


"Beli keperluan di mini market," jawab Alma.


Sekalian juga mau beli es krim.


"Saya akan membelikan semuanya. Tulis saja di catatan," tulis Jafar.


Alma menggeleng pelan. "Nggak usah. Saya nggak mau ngerepotin kamu."


"Jika saya menawarkan, berarti saya sudah siap untuk direpotkan," tulis Jafar, lagi.


Sama-sama keras kepala, tidak akan yang mau mengalah. Maka Alma mengambil keputusan untuk ke mini market bersama-sama saja, ia tidak ingin hal kecil menjadi perdebatan.


"Saya pesan taksi online. Cak Yanto masih nemenin Ummi 'kan?"


Jafar mengangguk pertanda setuju.


...🌺...


Memasuki mini market Jafar membutut dibelakangnya. Alma melihat-lihat di bagian perlengkapan wanita, lantas mengambil pemb*lut ukuran jumbo dan mengambil handbody, minyak zaitun, serta lulur, kadang-kadang ia menengok memandang Jafar sejenak yang terus menerus di sampingnya.


"Kamu nggak butuh sesuatu untuk dibeli?"


Jafar mengeluarkan gawainya dan mengetik. "Apa perawatan perempuan sebanyak itu?"


"Tergantung. Tapi saya rasa ini masih wajar. Nggak terlalu banyak." Alma berjalan ke arah camilan, memandangi satu persatu mana hendaknya yang ingin ia beli dan rasa. "Camilan yang asin-asin gurih kayaknya enak."

__ADS_1


Alma menengok lagi. "Kamu nggak butuh apa-apa Mas?"


Jafar menggeleng.


Netra Alma menangkap bulu-bulu di atas bibir suaminya, tangan kanan itu terangkat menyentuh wajah Jafar sejenak. "Kumismu agak lebat. Kamu nggak mau beli alat cukur?"


Jafar mengangguk.


"Itu artinya apa? Iya?"


Jafar mengangguk lagi.


"Kamu coba pilih merk alat cukur yang biasanya kamu pakai," ucap Alma.


Segala merk alat cukur terpampang di depannya. Tangan Jafar mengambil satu merk yang biasanya ia gunakan. Kemudian menatap Alma dan menggerakkan bibir. "Sudah."


"Ehm ... a-anu, sa ... ya mau beli itu," ucap Alma berbelit-belit.


Jafar mengetik di gawainya. "Apa? Jangan berbelit seperti itu."


"Saya mau es krim," jawab Alma.


Jafar terdiam sejenak---dan setelah berpikir berkali-kali ia mengetik. "Memang tidak ada larangan untuk meminum sesuatu yang dingin saat haid. Tapi perutmu baru saja membaik, lebih baik yang lain saja."


Wajah Alma nampak murung. Padahal ia ingin es krim untuk setidaknya mengembalikan moodnya yang turun tadi. Langkah kecilnya langsung menuju ke kasir dan saat hendak mengeluarkan uang Jafar mengambil alih dengan membayar semuanya.


"Uang yang kamu kasih ke saya masih utuh. Gimana mau habis, kalau kamu bayarin barang-barang saya gini?" ucap Alma saat Jafar membuka pintu mini market untuknya.


Saat Alma hendak memesan taksi online lagi. Netranya menangkap penjual jus di depan mini market. "Saya mau jus. Saya mau beli jus dulu."


Jafar mengangguk setuju.


"Beli jus semangka satu, Pak." Alma menengok pada Jafar yang duduk di sampingnya. "Kamu apa? Ummi juga sukanya apa?"


Jafar mengetik. "Alpukat dan wortel."


"Sama alpukat satu, wortel satu, Pak."


Kling!


Gawai di tangan Alma berbunyi.


Salwa?


Salwa


Kak Alma sama Mas Jafar di mana?


Katanya Bibi, Kakak tadi sakit, terus sekarang tiba-tiba ngilang?


^^^Lagi belanja bentar.^^^


"Mas, Salwa kayaknya di rumah."


Kening Jafar mengerut.


"Kebiasaan anak itu kalau libur tidak bisa berdiam diri di rumah. Merepotkan Bibi Sulis saja," tulis Jafar.


"Biarin. Namanya juga masih remaja, maunya jalan-jalan aja." Alma melihat ke penjual saat jus sedang di proses. Kemudian melihat Jafar lagi dan bertanya, "Salwa sukanya jus apa?"


Tangan Jafar menunjuk tulisan alpukat.


"Tambah satu alpukat lagi, Pak."


Semua jus telah selesai dan kali ini membayar menggunakan uangnya. Taksi online pun sudah tiba, sekarang hanya menunggu beberapa saat sampai di rumah.


"Terima kasih, Pak," ucap Alma dengan memberikan uang lembaran dua puluh ribu.


Sambutan tidak seperti biasanya---yang sepi. Salwa terlihat dari kejauhan mengukir senyum dengan suara nyaringnya ia berteriak, "Kak Alma! Ka ... kak Alma dan halo Mas Jafar!"


"Assalamualaikum."


Salwa spontan menutup mulut. "Eh iya lupa! Waalaikumussalam."


Jafar mengambil alih belanjaan---untuk meletakkannya di kamar. Sedangkan Alma duduk bersama Salwa diruang tamu.


"Itu jus. Kamu suka alpukat, kan?"


Salwa girang dengan manggut-manggut. "Suka-suka, Kak. Makasih banget."


"Sama-sama."


Terlihat Jafar keluar dari lorong kamar, mengambil jus untuknya dan Ummi Salamah meletakkan di lemari pendingin depan. Kemudian ia meletakkan secarik kertas di meja, lalu berlalu pergi.


"Nulis apa Mas Jafar, Kak?"


Alma menggeleng dan mengambil secarik kertas itu. "Ada Salwa yang menemanimu. Saya ingin ke pesantren sebentar dan memeriksa dua outlet saja dekat-dekat sini. Kalau Salwa pulang kamu hubungi saya."

__ADS_1


Rasa khawatir ini benar-benar membuat saya nyaman berada di dekatmu, Mas.


"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong kamu ke sini ngapain?"


Salwa bersandar dengan meneguk jusnya. "Sebenarnya nggak ngapa-ngapain, bosen aja di rumah. Ya udah ke sini."


Salwa berdeham. "Ta ... pi sebenarnya a-anu Kak. Aku tuh mau tanya ke Kakak."


Kening Alma mengerut. "Tanya apa?"


Salwa mendekat duduk di samping Alma, mengeluarkan gawai---mengutak-atik sejenak dan memberikan gawai itu.


"Baca coba, Kak."


Senyuman Alma tidak berhenti mengembang saat melihat isi pesan di mana seorang remaja laki-laki menyatakan cinta terhadap Salwa.


"Terus ini maksud gimana? Kamu mau tanya apa?"


Salwa memanyunkan bibir. "Kak Alma ih! Ketawa! Ngeselin. Padahal aku serius mau tanya."


"Iya-iya. Mau tanya apa?"


Lagi, Salwa berdeham. "Adik Kak Alma dapat pesan gitu. Tanggapan Kak Alma gimana?"


"Ya ... nggak gimana-gimana. Wajar juga masih remaja waktunya suka-sukaan." Alma menatap Salwa yang masih sibuk dengan jusnya. "Tanggapan kamu sendiri dapat pesan cinta gimana lho?"


"Ya sama kayak Kak Alma, nggak gimana-gimana," jawab Salwa dengan menatap lurus.


"Biasa aja gitu?"


Salwa mengangguk. "Iya."


"Tapi kamu suka balik nggak sama dia?"


"Suka! Or---bentar. Pernyataan Kak Alma tadi apa?" Salwa berhenti meminum jusnya. "Suka, ya? Ya kalau suka. Aku suka. Orang semua temen-temen aku baik. Terus dasarnya aku bilang nggak suka itu apa? Iya 'kan Kak?"


Alma mengangguk. "Sukanya gimana dulu, nih?"


"Suka sebagai teman. Ya kali aku sukanya kayak Kak Alma suka ke Mas Jafar. Beda lagi itu!" celetuk Salwa.


Tangan Alma terangkat mengusap pucuk kepala Salwa yang tertutup kerudung. "Ish! Bisa aja kamu!"


"Tapi Kak, Kak Alma kan pernah remaja gitu. Kalau dapat pesan cinta gini jawabnya Kakak gimana?"


Alma menimbang-nimbang. Ia ingat dulu juga pernah mendapat pesan cinta seperti ini dari teman sekolah dan juga teman panti asuhannya dulu.


"Tinggal jawab sesuai keinginan kamu. Kalau Kakak dulu, Kakak tolak dengan pengertian yang sebaik-baiknya," tutur Alma.


Salwa meletakkan jus alpukatnya yang tinggal setengah di meja. "Pengertian sebaik-baiknya itu gimana, Kak?"


"Ya kamu jelasin Salwa, alasan kamu menolak dia."


Salwa terdiam dan terlihat mengetik. Sedangkan Alma mengambil jus semangkanya meminum secara perlahan menunggu-nunggu Salwa menulis apa? Kalau dipikir-pikir usai seperti ini memang rawan untuk merasakan rasa suka kepada lawan jenis.


"Gini gimana, Kak?" Salwa menyerahkan gawainya. "Sorry, Za. Aku nggak bisa balasan perasaan kamu."


Netra Alma melebar. "Serius sesingkat ini?"


"Mana kamu ucapan pertamanya sorry. Bukan makasih atau apa gitu? Terus alasannya mana juga?" sambung Alma.


"Ya udah ya udah aku ganti, Kak." Gawai di dekat kepada Alma dan Salwa kembali mengetik. "Terima kasih atas sedikit perasaan yang kamu berikan, Za. Sorry. Pada akhirnya perasaan kamu nggak akan semudah itu aku balas. Kamu tentu tahu alasannya apa. Aku nggak mungkin menjalani hubungan dengan laki-laki selain pernikahan. Sekali lagi, sorry. Kita tetep bakalan jadi teman, Za."


"Terlalu formal nggak sih, Kak?" imbuh Salwa.


Alma menggeleng. "Nggak juga. Ta ... pi entah kenapa Kakak ngerasa kamu ngetiknya ini pakai hati. Kamu suka sama dia?"


"A-apa sih, Kak!"


Seulas senyuman tercetak di wajah Alma. "Nggak ada salahnya kamu merasa suka dan tertarik sama lawan jenis. Itu tandanya kamu normal, Salwa. Nggak ada orang di dunia ini yang bisa mengendalikan rasa semacam itu."


"Asal kamu tahu batasan, Sal."


Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Dan juga, kamu pernah dengerkan kalau perempuan dan laki-laki itu nggak bisa berteman."


Salwa mengangguk.


"Sebenarnya pemahaman itu nggak bener seratus persen. Ta ... pi. Tapi tetep aja witing tresno jalaran soko kulino. Kalau kamu terbiasa dan terus apa-apa sama dia, jelas 'kan? Ketertarikan lebih itu akan hadir, entah di kamu entah juga di dia," jelas Alma.


Salwa menunduk. "Te-terus aku harus gimana Kak?"


"Beri jarak antar kamu dan dia. Bukan berarti kamu memutus pertemanan kamu sama dia, enggak. Bukan gitu. Kalau ketemu ya sapa, kalau ada apa-apa ya kamu kabari, tapi nggak perlu sedekat dulu."


Salwa mengangguk. "Kalau di ... dia tiba-tiba ngerasa aku aneh atau berubah gimana ya, Kak?"


"Ya nggak gimana-gimana. Kamu kan udah kasih penjelasan ke dia. Dia pasti paham."


Salwa mengambil dan membuang napas berkali-kali---dan mengambil jusnya kembali, lantas ia tertawa ringan. "Gini banget rasanya jadi cucu Kiai Bashir."

__ADS_1


"Lho kalau kamu mau bisa langsung aja iyain pacaran sama dia," sahut Alma.


Spontan Salwa menengok. "Bu-bukan gitu maksudnya, Kak! Maksud aku gini banget rasanya jadi cucu Kiai Bashir selalu mempesona padahal akunya nggak niat tebar pesona."


__ADS_2