Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 17 : Penjelasan Jafar Atas Larangan Rais Terhadap Dilara.


__ADS_3

Alma tidak menyangka Jafar akan membalas ucapan Robin dengan perkataan setegas itu. Suaminya yakin bahwa Rais akan tumbuh menjadi laki-laki yang baik di lingkungan pesantren, ia kira Jafar akan suka rela menyerahkan Rais.


Karena ia lihat-lihat Jafar tidak begitu dekat dengan anak angkatnya itu. Terkadang pun Jafar terlihat acuh, bicara seperlunya, dan ia tidak pernah mendapati sang suami bercanda dengan Rais. Tetapi ternyata, suaminya mempertahankan Rais untuk berada di sisi keluarga ini.


"Sialan!"


Umpatan itu terdengar dari Robin Shaukat. Alma hanya berdiam diri di tempat, mendapati orang itu pergi. Lagi pula mengapa sampai marah? Robin tidak bertanggung jawab atas kehidupan Rais. Lelaki itu juga tidak menghamili Azizah.


"Ngapain juga dia repot-repot mengakui Rais?" gumamnya.



"Adek!"


Rais yang hendak memasuki rumah tiba-tiba berhenti mendengar teriakan sang Kakak.


"Habis bantuin apa? Lama banget lho. Mbak nungguin kamu," lanjut Dilara.


Rais membuka jalan untuk Kakaknya. Supaya masuk terlebih dahulu ke rumah. Kemudian ia menjawab, "Banyak, Mbak. Tadi juga sekalian makan. Mbak sendiri sudah makan belum?"


"Sudah, sih."


Rais menatap kamarnya sejenak, dan berganti menatap sang Kakak. "Kalau gitu aku masuk kamar---"


"Mbak ikut," sanggah Dilara.


Dengan buru-buru Rais menggeleng. "Enggak-enggak. Enggak boleh, Mbak. Kata Ayah, Mbak nggak boleh masuk kamar aku. Lagian juga aku mau ganti baju, cuci muka, wudu, terus tidur Mbak. Emangnya Mbak nggak ngantuk?"


"Enggak. Mbak masih mau bicara sama kamu," jawab Dilara penuh keyakinan.


"Besok juga masih bisa bicara sama aku, Mbak."


Dilara menggelengkan kepala. "Orang Mbak maunya bicara sekarang. Kalau misal kamu nggak mau ya udah. Seterusnya nggak usah kamu bicara sama Mbak!"


Rais terdiam sejenak. Ia menatapi Dilara. Sungguh terkadang-kadang ia bingung, mengapa sang Kakak sering marah-marah? Kadang juga semaunya sendiri. Padahal Ayah selalu bilang kalau ia dan Kakaknya tidak boleh terlalu dekat. Maksud Ayah itu semacam, tidak boleh pelukan kata Mama di ganti dengan salim. Kakak juga tidak boleh memasuki kamarnya, di ganti dengan bermain di luar kamar saja. Tetapi lagi-lagi Kakak sering memaksa, Rais jadi bingung untuk menolak.


"Aku capek, Mbak. Hari ini aja libur nggak bicara berdua. Apa Mbak bakalan marah sama aku seterusnya?" ujar Rais, akhirnya.

__ADS_1


Dilara terdiam.


"Kalau aku masuk kamar. Mbak tolong jangan ikut, aku takut Ayah marah. Mbak kan punya kamar sendiri. Terus lagian besok-besok bisa bicara lagi. Aku janji nggak bakalan bilang, capek. Tapi hari ini aku benaran capek, Mbak," sambung Rais.


Tiga detik menjeda, akhirnya Dilara berujar, "Kamu janji, Dek?"


"Janji, Mbak."


"Ya udah. Masuk kamar sana!"



Sampai kapan pun Rais tetap akan tinggal di lingkungan pesantren, batin Jafar.


Siapapun.


Termasuk, Robin Shaukat tidak berhak mendapatkan Rais, anak itu bukan anak Azizah lagi. Melainkan anaknya dan Alma. Jika kelak pun nanti Rais dewasa dan tidak mengakui, bukti-bukti nyata dari orang-orang di sekitar jelas tertuju pada keluarganya. Rais tumbuh besar bersama Dilara, balasan atas kebaikan keluarga sang Kakak, harus Rais penuhi apapun permintaan dirinya.


Entah itu pernikahan, atau lain hal yang mengharuskan Rais berada di sisi Dilara seumur hidup. Jafar tidak peduli, dan Rais harus memenuhi.


Anggap saja ini keegoisan dirinya sebagai manusia. Karena mengkhawatirkan masa depan anak gadis sematawayangnya, Dilara. Yang kelak akan tumbuh besar sebagai dublikat dari dirinya dan Alma. Jafar yakin putrinya akan menjadi gadis ceria, pintar dan yang terpenting menjaga harkat dan martabat keluarga.


"Ayah!"


Jafar melihat ke arah suara. "Belum tidur?"


"Belum bisa, nggak ngantuk juga," jawab Dilara lirih dengan merentangkan kedua tangan memeluk sang Ayah erat. "Ayah, Dilara boleh tanya?"


"Boleh."


"Kenapa ya Adek kelihatan jauhin Dilara? Maksud Dilara kayak aneh, Ayah. Dia selalu apa-apa bilang nggak boleh gini gitu sama Ayah." Dilara mendongak, menatap sang Ayah. "Emangnya Ayah larang Adek apa aja? Dilara juga nggak di bolehin masuk kamar Adek peluk Adek juga nggak boleh. Semua itu kata Adek nggak di bolehin Ayah."


Jafar menghela napas. Sesekali ia mengusap surai lurus sebahu milik sang anak. "Sekarang gantian Ayah yang tanya ke kamu."


Dilara menatap bingung.


"Kenapa kamu mau masuk kamar Rais? Padahal main di ruang tamu dan di luar lebih luas. Kenapa juga kamu mau peluk Rais? Sedangkan, masih banyak orang yang bisa di peluk. Termasuk, Ayah," ujar Jafar.

__ADS_1


"Kok Ayah bolak-balikin pertanyaan Dilara sih? Dilara jadi bingung."


Jafar tersenyum tipis, dan memegangi kedua pipi Dilara. "Kamu nggak perlu bingung, Sayang. Dengerin Ayah. Rais itu memang Adik kamu. Tapi Rais kan laki-laki sedangkan Dilara ini ..."


"Perempuan," jawab Dilara langsung.


"Pintar." Jafar menatap serius. "Jadi, baiknya seperti Ayah dan Mama. Salim itu sudah cukup, enggak perlu peluk-peluk."


"Terus masuk kamar yang sama juga nggak boleh? Sedangkan Ayah sama Mama tidur bersama, Dilara sama Rais nggak boleh?" tanya Dilara, lagi.


Jafar menurunkan tangannya pada pinggang Dilara. Supaya sang putri tidak sampai jatuh dari pangkuan. "Ayah sama Mama itu orangtua. Beda. Sedangkan Dilara sama Rais itu apa?"


"Saudara?"


Jafar mengangguk.


"Jadi ada beberapa hal yang meskipun saudara nggak bisa dilakukan bersama-sama, Sayang." Jafar menjeda. "Contohnya itu tadi."


"Lagi pulanya kamu aneh, Sayang. Kamu kan punya kamar sendiri. Kenapa suka banget ke kamar Rais? Padahal kalau Ayah lihat-lihat kamar kamu lebih bagus dari pada punya Rais," sambung Jafar.


Dilara terdiam.


"Nggak pa-pa, Dilara suka aja deket-deket Adek," jawab Dilara pelan.


"Ooh gitu?"


Dilara mengangguk.


"Kira-kira Ayah ... sampai kapan Dilara nggak boleh peluk sama masuk kamar Adek? Soalnya kalau Dilara ingat-ingat dulu waktu kecil, waktu Adek masih bayi Dilara boleh peluk cium," ujar Dilara.


Jafar terdiam sejenak. Ia memikirkan jawaban yang benar. "Eum ... sampai Dilara besar. Waktu Dilara sama Rais sudah sama-sama kerja. Mungkin Dilara boleh masuk kamar Rais." Atau lebih tepatnya, sewaktu kamu sudah menikah dengan Rais, lanjut Jafar dalam hati.


"Ooh gitu, ya, Ayah?"


"Iya."


"Lama ya, Ayah?"

__ADS_1


"Enggak juga. Kalau Dilara fokus belajar, makan banyak dan berbakti sama orangtua, nanti bakal cepat besarnya," jelas Jafar.


__ADS_2