Almahyra

Almahyra
Bagian 59 (3)


__ADS_3

Jahitan telah dilepas dan Alma benar-benar merasa lega. Setidaknya ia tak akan dilarang melakukan ini dan itu, semua bisa ia kerjakan lagi seperti biasa.


Menyenangkan pasti.


Mobil melaju ke toko serba ada. Sebelumnya tadi ia sudah singgah di toko muslimah untuk membeli gamis titipan Mardiyah dan kerudung untuk Kirana juga Inayah. Sekarang, ia ingin membeli beberapa peralatan tulis titipan Mardiyah. Ternyata Jafar juga membutuhkan buku catatan dan pena, karena stoknya pun menipis.


"Biasanya kamu beli berapa, Mas? Buat nyetok buku catatan sama pena?"


Jafar menulis. "Satu kardus."


"Banyak, dong?" Netra Alma kembali normal. "Apa nanti buku catatannya ini nggak rapuh, Mas? Kan kertas. Takutnya nggak bertahan lama."


"Satu kardus berisi dua puluh buku catatan. Saya biasanya menyetok satu kardus, karena saya jarang mengajak orang mengobrol. Dan dalam satu bulan dulunya saya habis tiga buku saja," tulis Jafar.


"Tiga buku? Dulu?" Alma menjeda sejenak. "Kalau sekarang?"


"Lima sampai enam buku catatan," tulis Jafar.


Alma berdeham. "Yakin kamu, Mas?"


"Pe-perasaan saya nggak sesering itu deh ajak kamu ngobrol. Atau ... saya yang nggak sadar, ya?" imbuh Alma.


"Kamu selalu tidak sadar memang," tulis Jafar.


Mobil daihatsu hitam yang ditungganginya berhenti, telah sampailah di depan toko serba ada. Sesuai yang dibutuhkan Alma dan Jafar beli, setidaknya sekitar hampir setengah jam mereka di toko itu untuk membeli hadiah anak-anak panti asuhan juga.


Setelah usai, Jafar tidak ke outlet hari ini. Suaminya lebih memilih melakukan pekerjaan via online, di rumah. Tepat pukul sebelas siang mobil memasuk pelataran pesantren.


"Assalamualaikum Ummi," ucap Alma, langsung bergabung dengan Ummi Salamah yang sedang memisah-misahkan undangan.


"Waalaikumussalam."

__ADS_1


Ummi Salamah menggeser beberapa undangan. "Ini, buat pihak keluarga kamu, Nak. Tulis aja semuanya. Kalau kurang minta lagi."


"Iya Ummi."


Jafar langsung ke ruang kerja, setelah meletakkan belanjaan tadi. Alma tetap lihai menulis nama-nama keluarga yang diinginkannya, termasuk Tante Bunga, dan lain-lainnya. Keluarga yang sempat menganggap dirinya dahulu adalah beban.


Tak apa-apa.


Semua manusia telah terbebani dengan masalah hidupnya sendiri-sendiri. Mungkin anak usai empat belas tahun dulu, cukup menganggu. Hingga lebih baik di asuh oleh panti asuhan saja, dari pada di telantarkan.


"Lima belas aja?" tanya Ummi Salamah.


Alma mengangguk. "Iya, Ummi. Keluarga Alma nggak terlalu banyak."


"Ya sudah. Nanti sore mau lihat hotelnya nggak sama Ummi, Nak?"


"Hotel tempat walimatul'ursy nanti?"


"Boleh, Ummi."


"Sekalian fitting, ya? Ummi takut baju adatnya agak ketat kamunya sesak lagi. Terus jilbabnya, ya menutupi dada 'kan?"


Alma mengangguk. "Iya, Ummi."


Ummi Salamah melihat-lihat nama yang baru saja ia tuliskan di undangan. "Tante Bunga udah kamu tulis, Nak?"


"Udah, Ummi. Pertama tadi."


"Acara kamu kan satu hari setelah Minggu bersama di panti asuhan. Nanti pasti anak-anak panti banyak yang datang. Kamu nggak masalah kan, Nak?"


Alma secepatnya menggeleng. "Sama sekali nggak masalah, Ummi. Alma seneng kok."

__ADS_1


"Tapi pasti rame."


Alma tersenyum tipis. "Nggak pa-pa Ummi. Hari bahagia bersama, Alma sanggup kok berdiri lama-lama. Insya Allah juga nggak bakalan pusing. Alma seneng kalau anak-anak panti di undang."


"Alhamdulillah."


"Egh ... Ummi ..."


Ummi Salamah berhenti menulis dan menatap Alma. "Apa, Nak?"


"Lutfan sama Mardiyah ... jadi walimatul'ursy kan?"


Ummi Salamah menulis lagi. "Jadi. Alhamdulillah, Mardiyah bisa bujuk Lutfan. Tapi keponakan Ummi itu mintanya satu minggu setelah acaramu dan Jafar, Nak."


Nggak pa-pa. Seenggaknya Lutfan mau. Alma mengangguk. "Alhamdulillah, Ummi. Jadinya kan bisa langsung di sah kan secara hukum. Biar nggak ada yang salah paham."


"He'em. Sama kayak pernikahan kamu dan Jafar. Biar orang-orang tahu, kalau anak Ummi udah nikah. Udah sah. Jadi nggak boleh ada yang ganggu lagi."


Alma tertawa ringan.


"Semoga semua lancar, Ummi."


"Aamiin. Insya Allah lancar, Nak."


Note:


Part 60 akan terjadi walimatul'ursy. Alhamdulillah ide saya sudah bertabur-tabur kembali. Dan sebentar lagi Almahyra akan tamat.


Saya harap kalian siap lanjut menuju pada kisah cinta Lutfan dan Mardiyah dengan judul Beda Tiga Tahun.


Mungkin ada S2. Karena saya berpikir menamatkan dekat dengan acara sesudah walimatul'ursy.

__ADS_1


Tidak apa-apa 'kan?


__ADS_2