
Tahun-tahun berlalu. Usia Dilara tepat tujuh belas tahun di hari ini. Mama dan Ayah sedang di rumah sakit, beliau-beliau berganti menjaga Nenek Salamah yang menjalani rawat inap. Dilara berdua saja di rumah bersama Rais--- adik laki-laki yang baru ia sadari, bahwa darah yang sama tidak mengaliri mereka.
Rais menjaga batasan. Dilara pun juga, terkadang-kadang Dilara memilih untuk tidak keluar kamar usia pulang sekolah. Alasannya, supaya tidak bertemu dengan Rais. Karena jujur, ia begitu merindukan adiknya. Tetapi kenyataan membuat sebagian sisi diri Dilara terpukul. Bagaimana bisa Rais bukan adik kandungnya? Bagaimana bisa pula Ayah dan Mama menyembunyikan ini sampai baru semalam ia tahu bahwa Rais adalah anak orang lain.
Mama bilang, kasih sayang itu tidak akan percuma. Karena Rais pun juga menyayanginya. Namun ia tidak mudah percaya, segala kebaikan Rais adalah tuntutan. Semacam kerelaan melakukan apapun, untuk membalas budi atas kebaikan seseorang.
Dilara juga muak dengan diri sendiri. Mengapa harus begitu menyayangi Rais? Bahkan dari kecil seharusnya ia sadar, bahwa Rais sebenarnya tidak pernah menyukainya.
Tok. Tok.
"Mbak, saya Rais."
Anak lima belas tahun, sok-sokan jadi orang dewasa. Manggil diri sendiri pakai sebutan saya! batin Dilara yang kesal. Ia ingin sekali acuh. Tetapi perintah Mama tidak pernah bisa di tolak. Beliau selalu bilang, tetap lah pada sikapmu yang dulu, supaya Rais tidak merasa terkucilkan.
"Saya sudah panasin lauknya. Mbak ndak makan?" lanjut Rais, lagi.
Tok. Tok.
"Mbak ..."
Dilara menyahut dengan keras. "Iya-iya! Udah sana kamu ke Masjid!"
"Ya sudah. Saya berangkat, Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," lirih Dilara.
"Nak, kamu ini nggak pa-pa ta? Ninggalin Dilara sama Rais di rumah berdua," ujar Ummi Salamah pelan.
Jafar menjawab, "Nggak pa-pa, Ummi. Ada CCTV. Jafar pantau dari sini."
__ADS_1
"Kasihan Alma, Nak. Udah pulang aja kalian. Nanti Ummi bisa minta bantu perawat kalau butuh apa-apa," pinta Ummi Salamah dengan sesekali bernafas panjang.
Jafar menggeleng. Dan tidak lama pintu kamar rawat inap terbuka lagi. Istrinya membawa dua nasi bungkus yang di beli di sekitar kantin rumah sakit.
"Ayo Mas, makan dulu," ucap Alma.
Ummi Salamah menatap sang menantu.
"Alma, pulang ya, Nak? Kasihan Dilara sendiri," bujuk beliau.
Alma tersenyum tipis dan mendekat pada mertuanya. "Tadi sudah Alma telpon, Ummi. Dilara baik-baik aja. Dia bilang nggak pa-pa. Lagian ada Umma yang setiap hari mengirim makanan untuk Dilara dan Rais."
"Permisi, Ning."
Dilara yang baru saja keluar dari persembunyiannya---kamar, di kejutkan oleh seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Nggih. Ada apa?"
"Ndak-ndak usah. Saya aja yang keluar. Matur nuwun." Dilara buru-buru mengganti kerudung yang lebih panjang lalu keluar menuju pintu.
"Assalamualaikum, Ning."
Mata Dilara melebar.
"Teman lama ndak di suruh masuk?" Lelaki itu menaikkan salah satu alisnya. "Lupa toh, kamu?"
Dilara terdiam. Matanya telah kembali semula tangan kanannya mengepal. Apa-apaan lelaki ini? Mengaku teman? Sejak kapan dirinya memiliki teman seperti orang ini?!
"Aku Baswara," ujar lelaki itu dengan menatap lurus.
__ADS_1
Dilara berbalik. Enggan berbicara apa-apa, atau menyahuti perkataan apapun untuk lelaki di depannya.
"Dilara ... aku masih ada foto-fotomu. Kalau Kiai sama Gus lihat. Kira-kira beliau bakal apain kamu, toh?" ancam Baswara tiba-tiba, yang langsung membuatnya berhenti berjalan.
Dilara berbalik langsung. "Foto apa? Jangan ngada-ngada kamu. Kamu ndak tahu? Yang kamu ancam ini Ning. Aku bisa laporin kamu ke Ayah dan Kakek---"
"Kenapa ndak kamu lapor dari dulu?" sanggah Baswara yang tersenyum miring. "Adik angkatmu juga, gimana kabar? Masih cengeng toh dia?"
Dilara menghela napas pelan. Keringat tiba-tiba mengucuri tubuh, jantungnya pun berdebar-debar. Ia tidak ingat kejadian satu tahun lalu, yang ingat hanya Rais. Karena Baswara membiarkan Rais bangun, sedangkan ... dirinya pingsan karena meminum sesuatu.
"Pergi," ujar Dilara dengan penuh penekanan.
Baswara bersandar pada dinding penyanggah. "Berani toh kamu usir aku? Bapakku aja penyumbang tetap di yayasan Al-Hikmah. Kamu ndak ada sopan santun sekali sama anak Juragan Antasena."
Dilara hendak membuka mulut, berniat memaki. Namun tiba-tiba ada seseorang yang datang, seseorang yang tidak pernah ingin Dilara temui.
"Mbak, ada tamu?" tanya Rais yang langsung menyelah. Dilara membuang muka. Bahkan berbalik dan memasuki kamar lagi. Urung sudah niat Dilara makan.
Mata Rais yang semula menatap sang Kakak. Kini berganti alih menatap pria yang lebih tinggi darinya.
"Rais?" Baswara menaikan sebelah alisnya.
Tatapan Rais berubah datar. Sialan. Ia masih mengingat betul wajah sombong dari anak Juragan Antasena ini. "Ada perlu, toh, sama Mbak saya?"
"Sudah besar ternyata. Gimana ... kamu masih ingat ndak sama kejadian tahun lalu?" Baswara tersenyum miring. Ia mendekatkan diri pada Rais, lalu berbisik, "Waktu aku lucuti pakaian Mbakmu."
Note:
Jadi gini ... karena mau tamat Almahyra S2 ini bakal memiliki kelanjutan kisahnya Rais dan Dilara. Jadi cerita Vincent Kirana di undur. Jangan bilang kecepatan, enggak kecepatan, kan? Rais masih 15 tahun sedangkan Dilara 17 tahun dan Baswara 18 tahun. Ini ceritanya agak rumit tapi nggak serumit Harshada kok, tapi kembali lagi cara pandang orang beda-beda, ini bisa lebih rumit dari cerita Harshada. Dan Dilara ya ... dia di lecehkan.
__ADS_1
Detail kejadiannya bakal saya ceritain di Almahyra S2 atau mungkin di cerita Rais dan Dilara sendiri. Intinya saya cuma mau kasih tahu umur kejadian aja. Waktu itu Dilara 16 tahun, Baswara 17 tahun dan Rais 14 tahun.
Ini cerita fiksi, tapi masih masuk di akal menurut saya. Karena ya ... nggak sedikit ada seorang anak di bawah umur yang menyaksikan kejahatan seperti pelecahan, atau ruda paksa yang terjadi pada seseorang. Jadi seperti Harshada saya ingin memberi amanat yang bisa di terima dalam suatu cerita.