Almahyra

Almahyra
Bagian 13 (2)


__ADS_3

...13 (2) : Tentang Pilihan Dan Waktu....


"Bukan dengan Mardiyah saja. Tapi dengan siapapun," tutur Ummi Salamah.


Alma mengangguk dan membisu. Jari-jari tangan kanannya mengusap hidung dengan perlahan, sesekali ia masih sesenggukan. Netra indah miliknya telah sembap, karena tangis yang tiada henti tadi.


"Ta-tapi, Ummi---"


Ummi Salamah menyanggah, "Tapi apa, Nak?"


"Mardiyah suka Jafar. Dan Alma nggak mau ngambil---"


Secepatnya Ummi Salamah menggeleng dan menyanggah, "Ngambil apa, Nak? Ngambil milik orang lain? Enggak. Jafar itu putra Ummi, dan milik Ummi."


"Nggak ada yang namanya rebut merebut sebelum orang itu benar-benar berpasangan. Jafar masih lajang dan belum menikah. Kamu jangan berpikir seolah-olah kamu ini lagi ngambil suami orang, Nak!" lanjut Ummi Salamah.


Alma merasa setuju. Tapi tetap saja hatinya berkata ini salah. "Ummi tolong tanya ke Jafar. Dia lebih ingin menikahi Alma atau Mardiyah?"


"Kenapa Ummi harus tanya? Jafar akan menikah dengan kamu, dan Mardiyah dengan Lutfan. Itu sudah ditetapkan," ucap Ummi Salamah.


Alma menggeleng tak setuju. "Ummi harusnya tahu bahwa perasaan seseorang itu nggak bisa dipaksakan. Apalagi ini juga tentang pernikahan. Alma cuma minta Ummi tanya ke Jafar, kalau Jafar lebih milih Mardiyah. Alma nggak pa-pa," ucapnya.


"Kalau akhirnya Jafar lebih memilih kamu. Apa kamu bersedia langsung menikah dengannya?"


Ucapan Ummi Salamah membuat jantungnya berpacu lebih cepat. "I-iya. Tentu Alma akan menikah dengan Jafar, Ummi. Kalau Jafar pun bersedia."


"Okay. Ummi akan tanya ke Jafar," jawab Ummi Salamah.


Ummi Salamah berdiri, dan ikut menariknya berdiri juga. "Kamu nggak usah ikut minggu bersama di lapangan. Hari ini kamu istirahat aja di kamar," titah Ummi Salamah.


Alma mengangguk. "Iya, Ummi."


...🌺...


Takdir ini memang cukup menyakitkan.


Ia hanya sanggup menerima dan menjalani. Tiada niat lagi mempertanyakan keadilan Yang Kuasa itu di mana. Karena pada akhirnya pun, ia bisa sampai bertahan di posisi ini tentu atas kehendak Sang Pencipta. Lantas apakah baik, jika ia mempertanyakan hal-hal yang sudah semestinya menjadi takdir?


Tidak.


Ia akan terus bertahan tanpa bertanya lagi.


"Jafar ..." gumam Alma.

__ADS_1


Ia tidak mengerti kenapa Ibunya harus menikahkan dirinya dengan orang yang begitu jauh? Terlebih-lebih Jafar adalah anak pemilik pesantren.


Sungguh terkadang, ia merasa sangat tak pantas bersanding dengan Jafar---terlepas dari segala kekurangan yang Jafar miliki. Tetap saja, ia merasa kecil. Ummi Salamah adalah orang yang begitu baik, ia tidak akan pernah sanggup lagi mengecewakan beliau. Pernikahan ini adalah dambaan kedua orangtua dari pihaknya dan pihak Jafar.


Harusnya ... ia setuju.


Namun mau bagaimana lagi? Ada seseorang yang memiliki perasaan mendalam untuk Jafar, Alma merasa itu patut untuk dipertimbangkan. Karena baginya, perasaan seseorang tidaklah sepele. Apalagi orang itu adalah Mardiyah---perempuan yang telah dikenal Jafar bertahun-tahun.


Sedangkan dirinya?


Mungkin baru beberapa Minggu.


"Akan lebih baik. Kalau kamu memilih Mardiyah di bandingkan saya, Jafar," gumam Alma, lagi.


Kamar ini redup dan diluar sunyi. Semua orang pasti sibuk dilapangan menikmati acara yang begitu meriah. Ia sudah berusaha menahan segalanya. Tetapi, saat mengingat Mardiyah kembali, membuatnya sedikit sesak.


"Karena saya bukanlah perempuan yang pantas bersanding dengan kamu," gumam Alma, lagi.


Tiba-tiba saja terdengar pintu kamarnya diketuk. Alma sudah siap dengan kerudung yang ada diatas nakas dan mengenakan dengan secepatnya. Lantas ia berjalan di kearah pintu dan membukanya.


"U-ummi?"


Ummi Salamah tersenyum. Bagaimana bisa beliau sudah berada di sini? Ia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya pukul 19.30 WIB. Baru satu jam setengah beliau pergi, tetapi sudah kembali lagi.


Alma membuka pintu kamarnya dengan lebih lebar. "Silakan, Ummi. Maaf, agak berantakan kamar Alma."


Ummi Salamah mengambil duduk di tepi ranjang dan menariknya untuk bergabung di sana. Kemudian beliau meraih tangan kanan Alma dan berujar, "Pilihan Jafar tetap kamu, Nak."


Entah perasaan apa yang melingkupi hati Alma sekarang. Jantungnya berdebar-debar mendengar ucapan dari Ummi Salamah. Lelaki itu---Jafar. Kenapa Jafar harus memilihnya sebagai seorang istri? Padahal ia sungguh yakin Mardiyah akan lebih menghargai Jafar sebagai suami, dibandingkan dirinya yang pernah terang-terangan menghina Jafar.


"Alma ..."


Alma tersadar. "I-iya Ummi apa?"


"Jafar memilih kamu untuk menjadi istrinya," ucap Ummi Salamah, lagi.


Alma hanya membalas dengan anggukan.


"Jadi?"


Alma linglung, benar-benar tak mengerti maksud Ummi Salamah. "Jadi apa, Ummi?" tanyanya.


"Jadi kapan kamu mau siap menikah dengan Jafar?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Ummi Salamah secara langsung, membuat Alma spontan terbatuk-batuk. Ia tidak tahu apa yang memasuki mulutnya tiba-tiba, tapi sungguh ia terkejut mendengar pertanyaan itu.


"A-anu Ummi tu-tujuh bulan lagi, kan?" ucap Alma.


Ummi Salamah menggeleng. "Kamu bilang, kalau Jafar lebih memilih kamu untuk di jadikan istri. Kamu siap untuk menikahi anak Ummi langsung. Kamu nggak lupa, kan?"


Tapi nggak sekarang juga kan?


"Ta-tapi kan Alma perlu waktu, Ummi," jawab Alma.


"Ummi tahu. Tapi tujuh bulan terlalu lama, Nak."


Alma menghela napas. "Alma harus operasi---"


"Satu bulan setelah kamu operasi. Bagaimana, Nak?" sanggah Ummi Salamah.


Alma menggeleng tak setuju. "Ummi ... itu terlalu cepat, Alma---"


"Lebih cepat lebih baik, Nak."


Lagi-lagi Alma menggeleng. Lebih cepat memang lebih baik, tapi untuk pernikahan ia rasa itu terlalu terburu-buru. Alma melepas genggaman tangan Ummi Salamah, kemudian meraih tangan kanan beliau dan menggenggamnya. "Ummi tolong ... setidaknya Ummi memahami Alma. Pernikahan memang baik dilakukan secepatnya. Tapi Alma tetap membutuhkan waktu Ummi. Karena bagi Alma kesiapan pernikahan bukan tentang busana, walimatul'ursy dan lain-lainnya. Tapi pernikahan itu juga tentang kesiapan diri Alma sendiri dan Jafar."


Alma menghela napas sejenak. Tiga detik kemudian ia lanjut berujar, "Alma meminta waktu bukan untuk mengulur-ulur, Ummi. Justru Alma ingin mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjadi pendamping Jafar."


Tatapan netra Ummi Salamah terlihat berkaca-kaca. Apakah kiranya ucapan itu salah? Kenapa beliau hendak seperti menangis?


"Ummi benar-benar bersyukur, Jafar akan menikahi seorang perempuan sepertimu, Nak," ucap Ummi Salamah.


Bukankah aku juga harus bersyukur kelak akan memiliki suami seperti Jafar, Mi?


"Entah kamu dan Jafar dulu yang menikah, atau entah Mardiyah dan Lutfan dulu. Ummi akan tetap menunggu-nunggu hari baik itu," lanjut Ummi Salamah.


"Sekarang, kamu istirahat ya Nak? Besok kita ke rumah sakit---"


"Enggak, Ummi. Satu minggu, Ummi janji kasih Alma waktu satu minggu," sanggah Alma dengan melepas genggaman tangan itu.


"Kita ke sana untuk periksa. Ummi janji nggak lebih dari itu. Kita harus bertemu dokter dulu, Nak."


Alma mengangguk paksa. "Iya, Ummi."


Note:


• Ini sambungan dari part yang kemarin.

__ADS_1


• Next part akan ada POV Jafar. Kalian siap-siap mengetahui segalanya tentang kehidupan Jafar.


__ADS_2