
"Maaf. Saya rasa itu satu-satunya cara, supaya kamu terdiam," tulis Jafar.
Supaya a-aku diam?
Alma menghela napas pelan. Pemahaman dari mana yang Jafar pelajari bahwa mendiamkan seorang istri harus dengan menciumnya?
"Saya nggak nyuruh kamu minta maaf. Saya tanya, kamu marah? Kamu kecewa? Kamu ngerasa kalau saya bohongin kamu?" tanya Alma bertubi-tubi.
"Apa pelukan saya tidak bisa menjelaskan semuanya?" tulis Jafar.
Alma menggeleng.
"Saya memahami keadaanmu. Sedikit pun tidak ada rasa kecewa, dengan kamu jujur seperti ini. Kamu sudah benar-benar menghargai saya sebagai suamimu," tulis Jafar.
Alma menunduk.
"Gimana ... kalau pada akhirnya hernia ini mempengaruhi hal-hal lain di dalam tubuh saya?"
"Apa?" tulis Jafar.
Tangan Alma menyentuh hernia yang sedikit menonjol itu---dan menatap lurus pada layar laptop milik suaminya. "Gimana kalau ternyata saya nggak bisa ngasih kamu keturunan?"
"Saya rasa tidak mungkin. Dari yang saya dengar tentang penyakit itu, tidak mempengaruhi kehamilan selama wanita yang menderita itu tidak mandul," tulis Jafar.
Alma mengangguk.
"Saya tahu. Tapi segala kemungkinan kemungkinan bisa terjadi."
Terdengar helaan napas panjang dari Alma. "Dan kalau pada akhirnya ... hernia ini mempengaruhi hal lain, termasuk keturunan. Saya minta---"
" ... jangan pernah menceraikan saya."
Jafar mengetik dengan lihai mengunakan kedua tangan. "Tidak akan pernah, Alma."
"Saya percaya."
__ADS_1
Saat menunduk membenarkan selimut, anak-anak rambut Alma turun menyentuh lengan kanan Jafar---karena keduanya duduk tanpa jarak.
"Besok saya antar ke rumah sakit," tulis Jafar.
Alma mengangguk.
"Saya boleh tanya, sesuatu lagi? Supaya saya lebih memahami kamu sebagai seorang istri," ucap Alma.
Jafar terlihat mengangguk, dengan menatap fokus pada layar laptop menampilkan data-data penjualan.
"Kamu menyukai wanita yang berpenampilan seperti apa?"
Tangan Jafar berhenti mengetik, saat pertanyaan yang menurutnya pribadi tiba-tiba diajukan oleh istrinya---ia menengok tatapannya fokus kepada wajah Alma.
"Itu pertanyaan serius. Kenapa kamu menatapi saya seperti itu?"
Jafar kembali menatap layar laptop---membuka microsoft word dan mengetik. "Wanita yang bisa menyesuaikan diri dalam berpenampilan."
"Maksudnya?"
Alma memahami maksud Jafar, tapi bukan itu yang dirinya maksud. "Saya paham. Tapi ... kalau di kamar---mak ... sud saya, i-itu. Ka-kamu suka saya berpenampilan seperti apa?"
Ia membuang muka. Memerah sudah kedua pipinya saat dengan lantangnya ia berbicara mengenai kamar.
"Maksud sa ... ya, kamu suka rambut panjang atau pendek. Dan menurut ka-kamu apa saya harus beli pa-pakaian tidur juga?" sambung Alma.
Seulas senyum simpul terlukis di bibir Jafar, meja rias di depan mereka membuat Alma mampu melihat senyuman itu.
"Jangan senyum-senyum! Saya tanya ini serius."
Jafar mengangguk dengan menatap cermin rias yang memantulkan wajah kesal sekaligus malu istrinya---dengan perlahan Jafar menarik lengan Alma yang tadinya menjauh karena malu. Kemudian meletakkan laptop di pangkuan istrinya yang bertumpu bantal kecil.
"Apa pun saya suka. Tapi saya lebih suka rambut pendek sebahu. Dan pakaian tidur? Sepertinya, saya memang harus membelikan itu untukmu. Karena sangat tidak mungkin kamu tidur mengunakan gamis setiap hari 'kan?" tulis Jafar.
Laptop sedikit digeser ke kanan. Jafar mencari-cari di google pakaian jenis mana yang sekiranya cocok dipakai oleh Alma.
__ADS_1
"Kamu ngapain cari-cari di google segala?"
Netra Jafar menangkap pakaian tidur merah maroon selutut tanpa tangan. Bagi Alma ini terlalu terbuka, tapi memang sangat bagus, belum lagi berbahan satin.
"Lingerie?" ucap Alma saat membaca tulis yang tertera di bawahnya.
Jafar mengangguk---mengambil gawainya dan membuka aplikasi note. "Kamu suka?"
"Kamu suka nggak?"
Kening Jafar mengerut. Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan? Kebiasaan wanita yang tidak akan pernah bisa Jafar pahami adalah hal yang seperti ini.
"Ka-kamu suka nggak?" ucap Alma, lagi, kali ini sedikit terbata-bata.
"Suka."
Gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma.
"Ka-kalau gitu, ya udah ..."
Jafar mengetik. "Ya udah? Apanya?"
"Ya-ya udah beli. Katanya kamu suka."
Jafar mengetik, lagi. "Kamu mau memakainya?"
"I-iya lah. Kalau saya nggak mau pakai. Ya nggak mungkin saya suruh kamu beli," ujar Alma.
...•...
...•...
...•...
Note:
__ADS_1
Karena akhir-akhir ini saya kurang enak badan. Jadi setiap part saya bagi dua; berisi kisaran 600+ atau 900+ perkata. Jadi kalau digabungkan 1000 kata lebih.