
Asshalaatu khairum minan naum
Asshalaatu khairum minan naum
Azan subuh berkumandang. Seperti biasa saya akan salat di Masjid pesantren dan ... setelahnya, saya akan menulis surat untuk Alma---perempuan itu kenapa bisa berubah pikiran? Bahkan bersedia menikahi laki-laki bisu dan tidak berguna seperti saya.
Kling!
Sebuah pesan masuk di gawai milik saya. Siapa gerangan yang mengirim pesan subuh-subuh begini? Saya melihat layar notifikasi menampakkan nama: Lutfan gantengnya Umma. Astaghfirullah, bisa-bisanya selama bertahun-tahun saya tidak mengubah nama kontak konyol yang ditulis oleh Lutfan sendiri?!
Lutfan gantengnya Umma
Assalamualaikum, Gus Jafar
Ini adek gantengnya Mas
Umma pesan sampean nanti ba'da subuh disuruh ke kantor
Kita temu kangen juga Mas
Aku lho tau Mas kangen toh sama aku?
Makanya ditunggu nanti di panti
^^^Waalaikumussalam^^^
^^^Iya^^^
Saya meletakkan kembali gawai dan bergegas ke Masjid pesantren. Sekitar tiga puluh menit kegiatan di Masjid sudah selesai, lantas secepatnya saya kembali ke kamar memasukan surat untuk Alma di saku dan segera ke kantor panti asuhan di antar oleh Cak Yanto.
"Mas, kok pagi-pagi buta gini sudah ke panti toh?" tanya beliau.
Saya menulis catatan untuk beliau. "Kan ada acara minggu bersama, Cak di sana."
"Walah Ya Allah, iya Mas. Cacak lupa, pasti ndek sana rame. Saya mau ajak Icha ke sana nanti malem pasti dia seneng."
Saya mengangguk dan menulis sebuah note. "Pasti Cak. Bawa Icha ke sana saja, pasti seneng dianya."
Mobil berhenti di depan kantor Bibi Sarah langsung. Saya hendak menuju ke ambang pintu terdengar Bibi sedang berbicara dengan seseorang dan samar-samar sepertinya saya mengetahui dia siapa.
Saya mengetuk pintu kantor Bibi Sarah dengan pelan.
"Jafar kamu---"
"Ya Allah Gus Jafar!" Lutfan tiba-tiba saja datang dan memotong ucapan Bibi Sarah. Tidak sopan. Dia ini tengil sekali. "Gus-gus sampean ingat sama adik gantengnya Gus ini nggak?"
Saya menatapnya datar dan mengerakan bibir. "Lupa."
"Lutfan kamu ini! Masmu itu suruh masuk dulu. Jangan bicara di depan pintu gitu, Nak!" Mendengar teguran dari Bibi Sarah bisa-bisanya dia cengar-cengir tidak jelas.
"Jafar sini kamu masuk, Nak," ucap Bibi Sarah, lagi.
Saya dan Lutfan masuk duduk di kursi dekat lemari susun. Kemudian tidak lama Lutfan duduk tiba-tiba saja dia melambaikan tangan dan tersenyum dengan lebar kepada ... Alma?
"Ukhti ini sering banget ke kantor Umma. Jangan-jangan lo orang penting, ya?" ucap dia.
"Lutfan!" Bibi Sarah berseru dengan mata yang melebar menatap anak semata wayangnya itu. Kemudian beliau lanjut berucap, "Jangan pake lo-lo atau apa itu. Kamu ini bukan di Jakarta atau di kota besar lainnya. Dan juga perempuan yang kamu panggil lo-lo ini calonnya Mas---"
Tolong Bibi ... tidak perlu sejelas itu Bibi berbicara.
Lagi-lagi Lutfan menyanggah ucapan Bibi Sarah. "Calonnya Mas? Ya Allah, jadi ukhti ini calonnya Gus Jafar yang sholeh? Waduh! Umma kok bisa Mas punya calon istri aku nggak dikabari, sih? Mana waktu pertama kali ketemu sama dia, Umma bilang anak asuhan Umma, bukan--"
Jika dikabari jelas-jelas kamu akan seheboh ini, Lutfan!
"Maaf Lutfan, kamu terlalu banyak bicara." Kali ini Alma menyahut dan memotong ucapan Lutfan. Sungguh raut mukamu sangat lucu Lutfan, saya benar-benar tidak habis pikir memiliki adik sepupu seperti dia.
Mata Alma beralih tatap ke Bibi Sarah dan berucap lagi, "Alma pamit, Umma. Karena masih banyak tugas yang harus Alma selesaikan."
"Assalamualaikum."
Alma pergi. Dan lelaki tengil ini mengoceh.
"Sumpah dia?! Bisa-bisanya dia bilang gantengnya Umma ini banyak omong? Ya Allah aku nggak nyangka Umma dia---"
Bibi Sarah memukul lengan Lutfan pelan. "Harusnya kamu sadar diri, Nak. Kamu ini emang banyak omong. Ummi nggak bisa bayangin gimana nanti istrimu nanggepin kamu yang cerewetnya kayak gini!"
"Ummaaaa."
Dia merengek seperti bayi. Bahkan bergelantungan di lengan Bibi, saya tidak habis pikir laki-laki berusia dua puluh tahun bisa semanja ini. Bagaimana kiranya kelak Mardiyah menangani Lutfan? Saya yakin dia akan dibuat diam seketika oleh Mardiyah.
"Jafar kamu sudah tahu tugasmu kan? Sama kayak bulan lalu. Kamu, Lutfan sama Banyu jaga stan koin sama stan mainan sebelah gitu."
Saya mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah, kalian boleh pergi. Dan seperti biasa koinnya di simpan di gudang," lanjut Bibi Sarah.
Saya dan Lutfan pergi. Setelah mengambil koin di gudang, saya dan Lutfan sesegera mungkin ke lapangan. Saat sampai di sana, Banyu sedang memasang ... saya tidak tahu namanya, mungkin itu sejenis tenda untuk menutupi hujan. Bagian hias menghias memang di serahkan kepada Banyu.
"Gus, gimana kabar?" tanya Banyu.
Saya mengangguk, menuliskan sesuatu di kertas untuk membalasnya. "Baik. Kamu gimana? Sudah ada istri?"
Mungkin Lutfan ikut membaca karena tiba-tiba saja laki-laki tengil itu tertawa. "Jangankan istri, Mas. Dia nih dia deket cewek aja malu-malu. Itu tuh si Salsa, Nyu. Tipe-tipe lo kan?"
Banyu melempar sisa-sisa kertas koran pada Lutfan. Mungkin dia refleks, karena ada Salsa dari dua stan kami. "Husssst, Lutfan! Mulutmu tolong ya dikondisikan."
"Lho kan gue bener, Nyu. Dia itu tipe-tipe kalem, sedikit ceria nggak pemalu kayak lo, gas lah. Siapa juga yang nggak mau sama Putranya Bapak Cipto, belum lagi Kakak lo itu ustadzah di---"
Mulut Lutfan dibekap oleh Banyu. Sungguh sepertinya Banyu sudah muak mendengar ocehan anak tengil ini. Kalau boleh jujur pun saya juga muak.
Saya menuliskan note lagi untuk Lutfan dan Banyu. "Sudah! Ayo kerjain. Habis itu ada makan bersama di aula kan?"
Lutfan dan Banyu kembali serius. Saya berjalan ke arah anak kecil perempuan yang sedang menikmati lollipop. Kemudian saya menuliskan sesuatu di buku untuk dibacanya. "Gus boleh minta tolong?"
Anak kecil itu mengerjap. "Gus pesantren, ya?"
Saya mengangguk.
"Boleh-boleh, Gus. Gus ini mau minta tolong apa toh?"
Saya mengeluarkan surat untuk Alma dari saku celana. Kemudian menuliskan note lagi untuk anak kecil ini. "Tolong kamu kasih ini ke Mbak-Mbak yang ada duduk di sana."
"Di pinggirnya lapangan itu?" tanya dia.
Saya mengangguk, kemudian menulis lagi. "Iya, yang sendirian. Namanya Mbak Alma."
"Ya udah. Mana suratnya, Gus?"
Saya menyerahkan surat kepadanya. Dan anak kecil itu sudah berlari, padahal saya ingin mengucapkan terima kasih.
...🌺...
Jam menunjukkan pukul 06.20 WIB. Sudah saya putuskan surat itu akan terima oleh Alma tanpa mendapatkan balasan kembali. Namun nyatanya saya salah, Alma membalasnya. Anak kecil yang saya suruh mengantar surat itu kembali lagi, dengan membawa secarik surat balasan dari Alma.
"Hayooooo, apa itu Mas?" goda Lutfan.
Sungguh saya tidak habis pikir. Kapan anak tengil ini datang dihadapan saya?
"Dari Ukhti Alma ya, Mas?" tanya Lutfan, lagi.
Saya menoleh menatap Lutfan dengan datar. Kemudian mengibas tangan menyuruh dia pergi, saya harap dia paham dan tidak banyak mengoceh.
"Mas!" seru Lutfan, lagi.
Saya mengambil pena dan menulis note untuk Lutfan. Lantas setelahnya, saya menyobek kertas catatan itu dan meletakkannya di atas meja makan aula.
"Jangan banyak bicara Lutfan," baca Lutfan saat membaca note yang saya tuliskan. Kali ini matanya melebar, mungkin dia merasa sangat terhina.
"Astagfirullah Mas! Sampean nggak ada bedanya sama si ukhti-ukhti itu, suka banget nistain orang ganteng! Tega sumpah sampean tega Mas, adikmu ini benar-benar nggak habis pikir sama kalian berdua, uwis emang cocok kalian berdua. Cepet sampean nikahi ukhti---"
Ucapannya berhenti saat saya memukul lengan dia pelan. Sungguh saya tidak pernah menyangka akan memiliki sepupu laki-laki yang sangat suka berbicara tanpa henti. Lutfan ini tidak ada bedanya dengan Salwa, sama-sama suka bertanya ini dan itu.
"Ayo ambil air di dapur panti, Lutfan. Takut ditunggu sama Banyu," tulis saya dan memberikan kepada Lutfan.
"Iya-iya, Mas!"
__ADS_1
Saya dan Lutfan berjalan ke dapur. Kebetulan anak kecil itu menyerah surat di depan aula makan bersama laki-laki. Jadi, tidak cukup jauh jarak sekarang dengan dapur yang dituju.
Saya menulis note untuk Lutfan. "Kamu ambil. Mas tunggu di sini."
"Di baskom aja, ya Mas?"
Saya mengangguk pertanda setuju. Saat hendak duduk di kursi dekat meja, kening saya mengerut mendapati sebuah rantang---yang biasanya digunakan untuk mengirim makanan berada di sana.
Apa Alma lupa?
"Yok, Mas! Siap nih baskomnya udah ada airnya," ucap Lutfan.
Baskom biru itu di pegangin Lutfan dengan erat. Saya melihat serbet kotak-kotak di atas rak piring, barangkali dibutuhkan lebih baik saya bawa.
Brak!
Lutfan menabrak seseorang. Dasar! Tidak bisa hati-hati. Dan memakan waktu saja.
"So-sorry ... Demi Allah, ukhti. Gue nggak sengaja, gue kaget, gue---"
Ukhti? Apa yang ditabrak itu Alma?
"Lutfan! Ya Allah, kamu jalan itu mata dipakai nggak sih?"
Benar. Itu suara dia.
Lutfan mengangguk. "Kaki sama mata sinkron, Ukhti. Udah gue pakai cuma gue i-itu, gue refleks lo tiba-tiba masuk."
Alma terlihat marah. Saya sebenarnya sangat setuju kalau Lutfan ini kadang-kadang ceroboh. Saya menyipitkan mata saat Lutfan bergeming dan fokus pada satu titik, jelas saya mengikuti di mana arah dia menatap.
Astagfirullah, Lutfan!
"Tutup mata---"
Spontan saya melempar serbet kotak-kotak di tangan saya ke wajah Lutfan. Ini tidak durhaka, Lutfan saja yang sulit menjaga pandangan!
"Jafar?"
Saya menunduk dan mengibaskan tangan. Harapan saya dia sadar bahwa ia harus segera pergi dari sini dan mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.
"Ta-tapi saya mau nganter---"
Lagi-lagi saya mengibas tangan. Sungguh apa dia tidak paham bahwa ada saya di sini? Biar saya yang mengantar untuk Ummi.
"Mas Jafar aku nggak lihat sumpah. Aku nggak lihat itu---"
Anak ini tidak bisa diam saja! Secepatnya saya membungkam mulutnya dengan tangan.
"Ada saya."
Lagi-lagi saya berharap dia paham dengan gerakan bibir ini. Saya mengibaskan tangan lagi dan menggerakkan bibir lagi. "Pergi."
Alma pergi meninggalkan dapur. Dan Lutfan sudah mengambil serbet itu dari wajahnya. "Sumpah Mas. Aku tadi nggak sengaja, terus aku nggak lihat apa-apa Mas."
Saya mengambil pena dan menulis note untuk Lutfan. "Istighfar cepet!"
"Astaghfirullah astaghfirullah. Udah Mas udah."
Lutfan ke wastafel lagi untuk mengambil air. "Yok, Mas! Mas dulu deh yang keluar, entar aku nabrak lagi, ngisi lagi. Capek Mas capek."
Saya mengambil rantang dan keluar, disusul Lutfan di belakang saya. Saat telah sampai di aula makan bersama laki-laki, Lutfan di telepon oleh Ummi. Beliau bilang Kakek, Bibi Sulis, Salwa dan kedua adiknya, Putra Putri sedang di pesantren.
"Mas mau ke sana dulu nggak?"
Saya mengangguk.
"Ya udah. Kalau gitu sampean tak antar dulu naik motor biar cepet. Oke?"
Lagi, saya mengangguk.
Sekitar lima belas menit. Akhirnya saya tiba di pelataran pesantren. Seperti biasa saya langsung di sambut oleh Salwa yang penuh tanya itu.
"Mas-mas, sampean kabarnya baik, kan? Terus-terus katanya Bibi Mas punya calon istri ya? Cieeeeee."
Saya mengabaikannya.
Saya mendekatkan diri ke arah Kakek, kemudian mencium punggung tangan beliau dan saya mendapatkan usapan kepala dengan lembut.
"Alhamdulillah. Cucunya Kakek ini sehat. Le sudah makan toh?"
Saya mengangguk. Sebenernya belum tapi sempat mencicipi sedikit masakan di aula makan bersama, jadi saya anggap saja sudah.
"Lho? Rantang makanannya?"
Saya menuliskan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Ummi. "Mungkin Alma lupa, Ummi. Tolong Ummi maklumi."
Setelah membacanya, Ummi senyum-senyum tak jelas. Saya tidak salah menuliskan? Kenapa Ummi bisa seperti ini?
"Iya-iya Ummi maklumi."
Salwa tiba-tiba saja duduk di sebelah saya. "Mas calonnya Mas cantik nggak? Ustadzah? Atau apa? Orang sini atau ... orang kota? Namanya juga sia--"
Bibi Sulis menyanggah, "Salwa kalau tanya itu satu-satu dong, Nduk!"
Saya menulis note untuk Salwa. "Dia cantik. Karena dia perempuan. Namanya, Alma."
"Widih! Bibi-Bibi Mas bilang calon istrinya cantik. Aduh, Ya Allah pengen nik---"
"Apa? Nikah?! Nggak-nggak kamu ini masih kecil udah kepikiran nikah-nikah aja. Istighfar kamu!" Lagi-lagi Bibi Sulis menyanggah anaknya.
Saya pamit pergi ke kamar. Ingin sebentar saja mengistirahatkan diri.
Kalau mengingat-ingat Salwa. Wajar saja dia perempuan, terlalu banyak mengkhayal dan menonton film romantis mengakibatkan dia ingin cepat-cepat menikah. Padahal ... pernikahan bukan tentang tidur bersama, makan bersama dan lain-lainnya bersama. Dalam kehidupan berumah tangga begitu banyak yang harus di jalani, karena menyatukan dua kepala dalam satu atap tidak semudah yang dibayangkan.
Tentu akan begitu banyak rasa; kecewa, marah, kesal dan sedih. Karena lagi-lagi dalam pernikahan tidak selamanya baik-baik saja. Seperti yang dikatakan orang-orang, pertengkaran ialah bumbu-bumbu dalam pernikahan.
Saya duduk di tepi ranjang dan membuka surat yang telah Alma berikan.
Waalaikumussalam.
Tidak ada seorang pun yang memaksa saya untuk menyetujui pernikahan ini. Bukankah kamu tahu? Bahwa saya sempat terang-terangan menolakmu, Jafar.
Setelah berpikir dengan matang keputusan yang saya ambil adalah setuju. Dan untuk tujuh bulan itu, saya merasa sangat cukup untuk berpikir kembali. Keputusannya pun saya pastikan tetap sama dan tidak akan berubah.
Satu pertanyaan dari saya:
Bagaimana jikalau sebaliknya, kelak kamu yang merasa malu memiliki istri seperti saya?
-Alma
(Keinginan saya membalas surat ini. Bukan menjadi hakmu untuk melarang saya)
Kenapa saya harus malu, Alma? Pertanyaanmu sangatlah tidak jelas.
Saya bisu.
Dan kekurangan yang saya miliki ini, bisa dilihat orang-orang secara gamblang. Maka bukankah pantas, jika saya bertanya bahwa kamu akan malu?
Semenjak pembatalan pernikahan dengan putri Ustaz Hasan saya tidak lagi berharap lebih kepada seseorang. Entah perjodohan ini tentang amanah atau bukan, jelas-jelas kamu pernah menolak saya.
Maka akan saya tunggu selama tujuh bulan. Apakah kamu akan berubah pikiran? Atau justru tetap rida memiliki suami yang tidak berguna seperti saya ini.
...🌺...
Saya tidak tahu kalau Alma sempat ke rumah pagi tadi. Ummi bilang, Kakek ingin bertemu Alma. Waktu berlalu begitu cepat, sekarang sudah memasuk waktu magrib, azan pun sudah berkumandang.
"Assalamualaikum, Bibi Salamah."
Saat baru keluar dari pintu saya melihat Lutfan masuk, dan mencium punggung tangan Ummi.
"Waalaikumussalam, Lutfan. Kamu mau jemput Masmu, ya?"
Lutfan tersenyum. "Iya, Bi."
"Bibi juga mau ke panti kan?"
__ADS_1
Ummi mengangguk. "Iya, ini mau berangkat sekarang. Kalian langsung ke Masjid dulu ya? Sholat dulu."
Saya dan Lutfan pergi ke Masjid, untuk salat magrib kita berjamaah di pesantren. Lalu setelahnya, kita segera pergi ke panti asuhan. Saat telah sampai di lapangan orang-orang begitu banyak berlalu-lalang sibuk dengan tugasnya. Saya memilih duduk di kursi yang telah di sediakan di stan koin.
"Gus."
Saya mengerutkan kening. Sejak kapan Banyu di depan saya?
"Boleh duduk, Gus?"
Saya mengangguk---kursi di sebelah kosong, lagi pula anak-anak lain juga masih sibuk dengan tugasnya.
"Gus ada rencana menikah?"
Saya mengangguk, menuliskan balas untuk Banyu. "Pasti ada, Nyu. Tapi nggak dalam waktu dekat ini."
"Katanya, Gus mau nikah sama anak panti, ya?"
Mata saya melebar. Apa-apaan ini?! Bagaimana bisa cepat tersebar? Saya menuliskan note balas untuk Banyu. "Siapa yang bilang?"
"Orang-orang, Gus."
Dia berdeham. "Sebenarnya ... tadi beberapa orang dengar kalau di depan dapur panti ada yang bertengkar."
Bertengkar? Saya membalas Banyu. "Siapa yang bertengkar?"
"Katanya, calon istri Gus."
Alma? Ini benar-benar tidak lucu. Untuk apa dia bertengkar dan dengan siapa?
"Sama siapa, Nyu? Terus gara-gara apa juga?" tulis saya.
Lagi-lagi dia berdeham. "Mardiyah. Katanya---"
"Hei-hei ada apa kok bisik-bisik gini?" Lutfan tiba-tiba datang dan menyanggah. Dia ini benar-benar tidak sopan!
Dia duduk berjongkok di depan saya dan memegangi paha saya dan berucap, "Monggo dilanjut. Gue mau nyimak."
"Tapi btw, tadi gue denger lo nyebut-nyebut Mardiyah, Nyu. Kenapa?"
Banyu menatap saya sekilas, kemudian beralih menatap Lutfan. "Dia bertengkar, Lut."
"Hah?" Spontan Lutfan berdiri. "Sama siapa?"
"I-itu kata orang-orang calon istrinya Gus. Aku nggak tahu namanya Lut."
Lutfan menatap saya. "Si Ukhti, Mas? Ngapain juga mereka itu bertengkar, sih?! Gue mau ke---"
Saya menahan lengan Lutfan.
"Aku mau ketemu Mardiyah, Mas."
"Lut, kamu itu apa-apaan toh? Ngapain juga kamu mau nemuin Mardiyah?" sahut Banyu.
Lutfan tersenyum miring. "Kenapa? Nggak boleh? Asal lo tahu Mardiyah itu calon ist---"
Spontan saya memukul punggung Lutfan. Dia tidak boleh membicarakan sesuatu yang masih rencana. Saya tahu Mardiyah adalah calon istrinya. Tapi pernikahan belum ditetapkan, jadi baiknya tidak banyak orang yang tahu.
"Calon ...?"
Lutfan menggeleng. "Calon ... pengurus panti selanjutnya maksud gue."
"Perasaan tadi ist---"
"Udah, Nyu. Udah! Jangan ghibah lo! Gue mau ke kantor Umma! Assalamualaikum."
Lutfan pergi. Dan Banyu juga pamit. Saya benar-benar tidak memahami Alma bertengkar dengan Mardiyah karena alasan apa?
Saya mengambil gawai di saku celana. Kemudian mencari kontak Ummi dan mengirim pesan untuk beliau.
^^^Ummi di mana?^^^
Sekitar lima detik Ummi membalas pesan saya.
Ummi
Kamu di mana?
Ya Allah, Ummi! Saya yang tanya Ummi di mana? Tiba-tiba saja beliau tanya saya yang di mana? Ini benar-benar membingungkan.
^^^Jalan ke Masjid^^^
Ummi
Jangan ke sana dulu
Kamu ke perpustakaan laki-laki
Ummi mau bicara
Penting
Cepat
^^^Iya, Ummi^^^
Beliau ingin berbicara apa? Sampai-sampai saya harus secepat itu datang. Saya memutar balik---berganti haluan menuju tempat baca.
"Jafar! Sini, Nak. Cepet!"
Itu suara Ummi. Beliau menarik saya untuk masuk ke dalam perpustakaan. "Duduk, Nak."
Saya duduk---sesuai permintaan beliau.
"Jafar, kamu mau kan menikah sama Alma?"
Saya terdiam. Harusnya pertanyaan ini Ummi tunjukkan kepada Alma bukan kepada Jafar. Karena lagi-lagi Ummi lupa, kalau yang punya segala kurang itu anak Ummi bukan Alma.
Saya menulis note untuk beliau. "Ummi sudah tahu Jafar akan menjawab apa."
"Kamu mau," ucap Ummi.
Lagi, saya menulis note. "Dengan syarat dia juga mau."
"Dia mau kalau kamu mau, Nak." Kini Ummi mendekat. Saya yang mula duduk berseberangan berganti bersebelahan, beliau mengusap pipi kanan saya. "Jafar ... Ummi ingin kamu kembali percaya, bahwa masih ada perempuan yang mau menikah denganmu."
" ... tanpa peduli tentang kekuranganmu atau apapun itu."
Saya menatap mata sendu beliau. "Karena pernikahan ini bukan tentang amanah kedua orang tua Alma saja. Pernikahan ini juga impian Abimu."
Mata Ummi berkaca-kaca. Terdengar sesekali beliau menghela napas dan berganti mengusap rambut hitam saya. "Abimu bilang, ingin anaknya menikahi perempuan terbaik pilihan Ummi. Beliau yakin, Ummi sanggup mencarikan jodoh untukmu. Nggak harus putri seorang ustaz, nggak harus lulusan pesantren, dan nggak harus juga berpendidikan tinggi."
"Mungkin ... untuk saat ini Alma belum sepenuhnya menerima kamu. Tapi Ummi yakin lambat laun kalian akan bahagia bersama, dan saat kelak kalian punya anak, Alma akan mendidik anak-anakmu dengan baik."
Kini Ummi tersenyum simpul dan tangan saya terangkat menghapus sisa-sisa air mata beliau. "Kamu cukup percaya bahwa dia bisa menjadi istri dan Ibu yang baik, Nak."
"Supaya ... suatu saat kalau Ummi pergi---"
Saya menggeleng. Berhenti Ummi, jangan mengucapkan sesuatu hal yang sangat tidak ini Jafar dengar.
"Ummi bisa percayakan kamu kepada Alma."
Ummi kian mendekat---ternyata beliau hendak memeluk saya. Tolong, Ummi ... setidaknya jangan pergi dahulu. Sebelum saya benar-benar bisa menerima bahwa kepastian manusia yang hidup adalah mati.
Karena sungguh Ummi ... Jafar takut sendirian.
Dan anakmu ini ... tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
Note:
• Pertemuan pertama kali Jafar dan Alma nggak masuk ya. Karena emang setelah nerima rantang makanan dari Alma, Jafar nggak mikirin apa-apa tentang Alma.
• Ada revisi di bagian 4. Jafar nggak bawa tas kecil. Tapi, pena dan buku catatannya ada di saku.
• Kejadian di atas mungkin mencakup part 3-13 dalam sudut pandang Jafar. Maka dari itu banyak, niatnya mau bagi dua atau tiga. Tapi takut menganggu part-part lainnya. Dan next part ya bagian 14, POV Jafar nanti lagi kalau sudut pandang Jafar di perlukan.
__ADS_1
• Kalau kalian baca teliti bisa menemukan spoiler cerita Salsa dan Mardiyah lagi.
• Menurut Alodokter : Adanya riwayat kecelakaan terutama trauma kepala dapat menyebabkan berbagai efek samping pada korban kecelakaan salah satunya adalah tidak dapat berbicara atau disebut juga dengan speech impairment atau tuna wicara. Tolong kalau ada anak kedokteran yang baca, boleh kasih tahu saya barangkali ada kesalahan.