
Pelukan hangat keduanya terlepas.
"Kamu mau nulis sesuatu?"
Jafar mengangguk, tangannya lihai menulis. "Semoga operasimu berjalan dengan lancar, Alma."
"Aamiin. Pasti, Mas."
Alma menatapi Jafar yang menunduk. Suaminya itu masih terus menulis, entah apa ia tak tahu karena terlihat begitu panjang. Tangan Alma terangkat mengusap-usap surai hitam legam itu. Hingga beberapa detik, Jafar membalikkan buku catatannya. "Dokter yang menangani saya dulu sempat berkata, bahwa saya bisa kembali berbicara jika saya rutin menjalani terapi, Alma."
Terdapat jeda di halaman itu. "Saya tahu ini kabar yang membahagiakan, tetapi entah mengapa saya merasa itu percuma."
Alma mengangkat dagu suaminya. "Percuma kenapa, Mas? Ini membahagiakan. Kamu bisa berbicara lagi."
Jafar kembali menunduk dan menulis. "Akan menjadi percuma jika itu gagal, Alma. Saya akan kembali membuat Ummi bersedih, tentu juga akan membuat kamu kecewa."
"Mas, lihat saya." Jafar mendongak, Alma menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Nggak akan ada yang sedih lagi, enggak akan ada yang kecewa."
"Itu usaha kamu untuk diri sendiri, Mas." Alma mengusap pipi kiri suaminya. "Enggak ada yang berhak menghakimi keadaan dirimu."
"Saya dan Ummi enggak akan pernah merasa seperti itu. Kalau pun Mas ..." Alma tersenyum tipis, usapannya menjalar ke telinga Jafar. "Kamu nggak bisa sembuh, kamu ... kamu nggak bisa kembali berbicara pun nggak pa-pa."
"Saya nggak pernah ada niatan ninggalin kamu kok." Alma mengangguk kecil dengan netra yang berkaca-kaca. "Percaya sama saya, Mas."
"Kalau tiba-tiba saya berubah pikiran dan berniat ninggalin kamu ... tolong tahan saya, Mas. Lakuin apa pun buat nahan saya supaya saya nggak pergi," imbuh Alma.
Jafar mengangguk, netra tajamnya di bagian sisi kiri meneteskan air mata.
"Kenapa nangis, Mas?"
Alma mengusap air mata itu, Alma sedikit bangkit dan mengecup pucuk kepala Jafar. "Udah. Jangan nangis, saya jadi nggak tahan pengen peluk lagi."
Jafar mendekatkan dirinya, dan memeluk erat sang istri.
"Gimana pun kamu Mas, saya tetap akan berada di sisi kamu. Saya nggak peduli kamu bisa bicara atau pun nggak, saya udah nggak peduli tentang itu." Alma menepuk-nepuk punggung suaminya. "Karena saya ... menemukan rumah baru, di mana segala kasih dan sayang bisa di dapatkan dengan mudah tanpa saya minta, Mas."
Alma mengangguk kecil. "Ini memang berkat Bibi Maryam yang memilih lelaki seperti kamu untuk menjadi suami saya. Bahkan juga nggak terlepas dari amanah Ibu saya, Mas."
__ADS_1
"Orang-orang benar, Mas, pilihan orang tua adalah yang terbaik." Senyum tipis Alma tampakkan. "Saya nggak tahu rasanya menikahi seseorang karena cinta."
"Tapi ... saya tahu rasanya menikah dengan seseorang yang memiliki cinta yang begitu besar untuk orang-orang disekitarnya."
Jafar melepas pelukan itu---dan menatap istrinya dengan lembut.
"Orang-orang juga bilang, cinta akan hadir karena terbiasa." Alma sedikit menunduk dan tertawa ringan. "Biasanya si perempuan nggak akan percaya, kalau laki-lakinya belum bilang ... I love you atau yang lain-lainnya."
Alma menatap Jafar dengan masih tertawa. "Itu mah bodoh. Padahal ada yang namanya bahasa cinta, kan Mas? Enggak perlu ucapan pun saya ---"
Ucapan Alma tertahan saat ia merasa tatapan suaminya itu kian dalam. Bahkan seakan-akan menanti ucapan selanjutnya.
"Saya ... saya udah tahu kalau kamu ..." Alma menunduk---tawanya berhenti sudah. "Cinta sama saya, Mas."
Jafar mengangkat dagu Alma, hingga tatapan keduanya bertemu. Lelaki yang telah menjadi suami itu mengangguk dan menggerakkan bibir. "Benar. Kamu benar."
Alma tersipu malu.
"Mas ... pokoknya setelah saya pulih dari operasi, saya mau rutin nganterin kamu terapi. Mau, ya?"
Alma mengangkat telunjuk dan meletakkan di kening. "Kecup kening saya, Mas. Tanda kalau kamu setuju."
"Okay. Tanda persetujuan telah tercetak di kening saya!"
Jafar sedikit menunduk dan mengambil pena serta buku catatan. "Kamu selalu membuat saya bahagia dan merasa beruntung, Alma."
"Oh ya? Jangan puji-puji saya Mas!"
"Beritahu kepada saya bagaimana cara membuatmu merasa bahagia dan tersenyum?" tulis Jafar.
"Saya punya kamu. Itu sangat membahagiakan, Mas."
Jafar menghela napas. "Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu ucapan selain itu? Karena sungguh saya juga bahagia memilikimu." tulisnya.
"Terus kamu mau saya ngucapin apa?"
"Apa pun. Selain memuji saya," tulis Jafar.
__ADS_1
"Selain memuji, ya?" Alma manggut-manggut. "Jadi, kalau nasihati atau semacamnya nggak pa-pa, kan Mas? Saya rasanya nggak tahan mau ngucapin ini."
Jafar mengangguk.
"Tolong rawat diri kamu. Saya nggak suka tiba-tiba kamu nggak makan, saya juga nggak suka tiba-tiba kamu nggak mau istirahat. Apa pun keburukan yang kamu lakuin akhir-akhir ini ke diri kamu sendiri, saya nggak suka!" Alma mendongak dan meletakkan telunjuknya di dada bidang Jafar. "Kamu ini sadar nggak? Kalau diri kamu ini berarti buat orang-orang."
"Jadi berhenti lalai. Berhenti mengambil keputusan tanpa melibatkan orang lain." Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Seperti akhir-akhir ini."
"Dan juga. Berhenti melarang-larang saya melakukan sesuatu yang ringan, semacam mencuci piring." Alma memanyunkan bibirnya. "Saya nggak suka kalau kamu gantiin saya, Mas!"
Jafar mengangguk dengan tersenyum tipis. Ia menarik tangan Alma dan dengan sedikit menunduk ia menulis. "Kenapa kamu berbeda dari perempuan lain, Alma?"
"Ya beda lah! Saya-saya dia-dia. Nggak ada orang yang seratus persen sama, Mas."
"Semua perempuan ingin dijadikan ratu setelah menikah. Sedangkan kamu? Saya membantu kamu mencuci piring saja kamu mengomel tiada henti," tulis Jafar.
Alma mengangguk kecil.
"Menjadi ratu nggak harus dengan merendah suaminya kan Mas?" Alma menggeleng kuat dengan kedua tangan yang mengibas ke kiri dan kanan. "Bukan-bukan! Bukan merendah."
"Saya cuma nggak mau kamu merasa terbebani lagi di rumah." Alma mengusap pipi kiri Jafar. "Pekerjaan di dalam rumah biar saya aja yang ngerjain. Kamu pasti udah capek nyari nafkah di luar rumah."
Jafar menggeleng dan menunduk. "Pekerjaan rumah tangga tidak di bebankan kepada istri saja, Alma."
"Saya tahu, Mas. Saya tahu kok, seorang suami emang diharuskan membantu istrinya, dan yang dibicarain orang-orang diluar sana itu salah. Kalau yang di bilang, pekerjaan rumah tangga cuma di kerjain istri."
Jafar mengangguk.
"Kamu boleh kok bantu saya. Boleh banget, Mas." Lagi-lagi tangan Alma terangkat mengusap pipi kiri Jafar. "Tapi ... kalau kamu lagi nggak capek."
"Sepuasnya juga boleh lho Mas."
Alma menunduk---tangannya menjalar turun menggenggam kedua tangan Jafar. "A ... sal, kamunya nggak capek."
"Ngerti 'kan?"
Jafar mengangguk.
__ADS_1
"Okay." Alma mendongak melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. "Ayo tidur dulu, Mas."