Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 9 : Kelahiran, Rais.


__ADS_3

📍 Kediaman Ustadz Hasan.


Jafar telah sampai di rumah itu bersama dengan Alma, istrinya. Saat ia menekan bel dan Alma mengucap salam, tiada sahutan, hingga beberapa kali barulah muncul seorang ART yang bekerja di sana, dengan menggunakan kerudung hitam serta daster bunga-bunga.


"Mbak, Masnya cari siapa?"


Alma menjawab, "Bibi Hasna ada, Bu?"


"Ada, Mbak. Sebentar, njeh. Saya izin ke Ibu Hasna sebentar," ujar ART itu.


Alma dan Jafar tersenyum tipis dan mengangguk. Sedangkan pintu kembali tertutup, Alma terlihat memandangi dirinya. "Mas, saya baru tahu Bibi Hasna punya ART," ujar Alma.


Jafar mengeluarkan gawai dan mengetik. "Saya juga baru tahu."


Selang beberapa menit, pintu kembali terbuka di sana ada Bibi Hasna yang ikut menyambut dengan meminta Jafar dan Alma untuk duduk di sofa ruang tamu. Beliau terlihat kurus dan tirus. Apa semenjak kepergian Ustad Hasan, Bibi Hasna tidak baik-baik saja?


Ah betapa bodohnya Jafar. Tentu siapa pun yang ditinggal oleh orang terkasih, tidak akan pernah merasa baik-baik saja.


"Bibi minta maaf, nggak ngasih kabar atas wafatnya Ustad Hasan, ya, Nak Jafar," ujar Bibi Hasna pelan.


Alma terlihat menatap Jafar sejenak. Kemudian Alma menjawab, "Saya dan Mas Jafar paham, Bi. Bibi masih dalam suasana berduka. Tapi ... kalau boleh saya tahu, Azizah ada di mana, ya, Bi?"


Memang awalnya lebih baik bertanya dahulu. Jika Alma langsung meminta penjelasan atas di usirnya Azizah, itu akan semakin menambah beban Bibi Hasna, batin Jafar yang mengangguk.


Sedangkan, Bibi Hasna terlihat diam tidak ada tanda-tanda ingin menjawab.

__ADS_1


"Bibi ..."


Bibi Hasna tidak menatap Alma. Pandangan beliau tiba-tiba beralih pada Jafar. "Jafar, beruntung kamu menikahi Alma. Bibi nggak pernah menyangka anak yang Bibi kandung akan berakhir menjadi perempuan yang buruk."


Astaghfirullah, batin Jafar.


"Atau mungkin ... ini salah Bibi yang terlalu memanjakan dia? Hingga dia berbuat sesuatu di luar batasan. Bahkan sampai menghasilkan benih yang Bibi yakin ... dia sendiri pun nggak akan pernah mau mengurus," sambung Bibi Hasna.


Alma terdiam. Bahkan tanpa sadar menunduk menatapi kedua tangannya yang menyatu.


"Keputusan Bibi saat itu ... adalah mengusir Azizah. Bibi benar-benar marah Jafar." Bibi Hasna menatap Jafar dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia bahkan ... menjadi penyebab Abinya masuk rumah sakit dan ... astaghfirullah."


"Abinya meninggal pun gara-gara dia!" lanjut Bibi Hasna, lagi.


Jafar tidak memiliki keputusan untuk menjawab apapun tentang kesedihan serta luka yang ditoreh Azizah pada Bibi Hasna. Karena sesungguhnya pun, Jafar juga merasa sakit sebagai orang tua yang merasa tidak di hargai oleh anaknya.



Tiga bulan berlalu di klinik persalinan, Azizah melahirkan anak laki-laki dengan di dampingi oleh Alma. Anak itu telah berhasil lahir dengan sehat dan baik-baik saja. Karena Alma telah memperingatkan Azizah untuk tidak berbuat yang tidak-tidak pada janin yang di kandung.


Bahkan ia sendiri tidak tahu. Apa yang terjadi, malam hari ini Azizah memaksa pergi. Ia bilang, tugasnya untuk melahirkan anak itu sudah selesai. Ia tidak mau memberi nama, menyusui atau melihat anak itu. Ia ingin pergi, hidup lagi sebagai manusia yang baru.


Alma sungguh tiada pilihan selain mengabulkan. Ia membiarkan Azizah pergi, dan beberapa jam berlalu Jafar datang membawa perlengkapan yang di butuhkan, bersama dengan Dilara.


"Mama, adikna ucu. Ini ... adik Dilala?"

__ADS_1


Alma mengangguk. "Iya, Sayang."


"Namana siapa?"


Alma menatap Jafar sejenak. Kemudian menatap Dilara lagi. "Coba tanya Ayah. Mama belum kasih nama, Sayang."


Dilara berbalik menatap Jafar. "Nama adikna siapa, Yah?"


"Ra-is," jawab Jafar pelan berusaha menggunakan suara.


"Lais? Bagus! Bagus." Dengan mata membinar Dilara menatap sang Ibu. "Jadi Lais ini adikna Dilala, ya Mama?"


"Iya, Sayang."


"Lais ini laki-laki atau pelempuan, Ma?"


Alma yang baru saja mengganti popok Rais pun menjawab, "Laki-laki. Inget, ya Dilara. Rais ini adik kamu. Kamu harus baik sama dia, harus sayang juga sama dia. Ngerti, Nak?"


Dilara mengangguk-angguk. "Ngelti. Oh iya, Mama. Adikna nggak minum susu, Ma?"


Alma terdiam sejenak menatap Jafar.


"Jangan beri dia asimu." Jafar memberi jeda di note gawainya."Lebih baik susu formula saja."


"Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"I-kuti saja," putus Jafar.


__ADS_2