Almahyra

Almahyra
Bagian 49


__ADS_3

Sesudah salat subuh, Alma cepat-cepat membuat sarapan, tugasnya hari ini cukup banyak, karena ia harus ikut Jafar ke Kedai dan juga berkunjung ke Kedai Paman Idrus. Oseng sawi putih adalah pilihannya, dengan lauk tongkol digoreng dengan tepung. Setelah semuanya tersaji rapi di meja, ia hanya tinggal menunggu Jafar datang, dan juga menunggu Ummi Salamah keluar dari kamar.


"Eh ... nasi? Nasinya masih ada kan?"


Alma mendekat magic com, membuka perlahan. "Alhamdulillah, masih ada."


Ummi Salamah terlihat berjalan dari lorong dan mengambil duduk langsung di kursi kiri pertama. "Heran. Menantu Ummi satu-satunya ini kok sregep banget hari ini."


Jadi selama ini kayaknya aku nggak rajin rajin banget, ya?


"A-anu Ummi, Alma mau izin sama Ummi," ucap Alma.


Ummi Salamah tersenyum dan manggut-manggut. "Oh ... ternyata gini rasanya punya anak perempuan kalau mau keluar ke mana-mana pasti rajin banget, bersih-bersih dulu terus bilang, 'Ma, aku izin main.' dan akhirnya sang Ibu luluh karena rumah udah kinclong banget gara-gara tenaga anak yang terkuras."


"Ummi bisa aja. Ta ... pi emang bener." Alma mendekat dengan berjongkok, ia kian mendekat dan merebahkan kepalanya di pangkuan Ummi Salamah. "Anak perempuan Ummi ini ... mau izin keluar. Mau mengais rezeki."


Melihat tingkah manja Alma, Ummi Salamah memilih mengusap-usap kepala Alma dengan lembut. "Di mana? Sama siapa?"


"Di dua Kedai. Sama suami." Alma menggeleng. "Lebih tepatnya, sama anak Ummi."


"Kamu mau ikut Masmu keliling outlet, Nak?"


Alma mendongak. "Iya Ummi. Nggak pa-pa 'kan? Ummi izinin?"


"Ya Allah ... ya nggak pa-pa dong, sama suami kamu juga kok. Ummi izinin, pokoknya kalian hati-hati di jalan," ucap Ummi Salamah.


Alma berdiri, sedikit menunduk ia mengecup pipi kiri Ummi Salamah. "Makasih, Ummi."


Dari arah lorong menuju dapur tepat Jafar baru saja datang. Ia yakin, suaminya itu pasti juga melihat tadi ia mengecup pipi kiri Ummi Salamah. Lelaki itu tersenyum---mengambil duduk di tengah sedangkan Alma berseberangan.


"Mau nasi seberapa, Mas?" Alma mengambil satu centong nasi. "Segini?"


Jafar mengangguk, tangannya menarik pena serta buku catatan yang tertatah rapi di meja. Kemudian ia gunakan untuk menulis. "Ada apa tiba-tiba saja Alma mengecup pipi Ummi?"


"Kenapa? Nggak boleh menantu Ummi cium-cium Ummi gitu?"


Alma terkejut. Ternyata suaminya menanyakan tentang kecupan di pipi itu. "Iya, juga. Emang sa--a-aku nggak boleh cium pipi Ummi gitu?"


"Ternyata benar yang orang-orang katakan, jangan mengajukan pertanyaan di saat ada dua wanita dalam satu tempat." Jafar memberi satu jeda di halaman. "Jelas akan berisik."


Ummi Salamah tak habis pikir. "Udah-udah! Makan. Lagian, ciuman itu bonus dari menantu Ummi, kamunya jangan iri kayak nggak pernah dikasih kecupan aja!"


Detik setelah ucapan itu keluar, kini berganti Alma terbelalak. Ia menunduk, memerah sudah kedua pipinya. Padahal tak ada niatan beliau menggoda, entah mengapa reaksi Alma sedikit berlebihan.


Kenapa pipiku pakai merah segala?!


Tadi Jafar menyerahkan buku catatan itu. Alma tak tahu apa yang ditulis suaminya. Tiba-tiba Ummi Salamah menjawab, "Enggak Ummi nggak mau ikut. Kalian berdua aja, Ummi tunggu di rumah aja."


Mungkin Mas Jafar menawari Ummi?

__ADS_1


"Ummi hari ini nggak ada kegiatan?" tanya Alma.


Ummi Salamah menggeleng. "Nggak ada. Tapi nanti Ummi mau ke panti aja, Ummi mau bicarain tentang pernikahan Lutfan sama Mardiyah."


"Mau Alma antar Ummi?"


Ummi Salamah menggeleng lagi. "Nggak usah, Nak. Nanti Ummi minta jemput Lutfan aja."


Jafar membuka penutup pena lagi, dan menulis. "Jangan Ummi. Nanti berangkat bersama kita saja dengan Cak Yanto."


"Ya udah iya kalau kalian maksa."


...🌺...


Pukul delapan pagi mobil meninggalkan pelataran Pesantren Al-Hikmah. Ummi Salamah duduk di jok depan dengan Cak Yanto sedangkan Alma dan Jafar di belakang. Sekitar lima menit berlalu mobil berhenti di panti asuhan, Ummi Salamah meminta turun di depan pagar saja.


"Kalian hati-hati, ya?"


Mobil melaju kembali. Jafar menengok memandangi Alma yang melihat keluar jendela. Semua masih persawahan dan perumahan warga, pemandangan yang kian indah untuk dipandang berkali-kali. Jafar sadar juga, ternyata ia lama tak pernah mengajak istrinya itu untuk sekadar berjalan-jalan.


Gawai di tangan kanan Alma berbunyi, menampilkan notifikasi khusus yang mana tertera nama kontak suaminya.


Mas Jafar


Kamu sudah menghubungi Paman Idrus?


Alma menengok. "Udah, Mas. Saya bilang kalau kita akan berangkat sekitar jam delapan."


Jafar mengambil alih buku catatan itu dan dengan seksama Alma memperhatikan gerakan bibir Jafar. "Terima kasih. Terima kasih, Alma."


"Kamu yakin ingin ikut saya keliling semua outlet? Saya takut kamu kelelahan," tulis Jafar.


Alma menatap Cak Yanto dari pantulan cermin depan---beliau fokus menyetir. Kemudian Alma berujar, "Cak Yanto, saya mau tanya."


"Monggo, Mbak. Mau tanya apa toh ke saya?"


Jafar menatap Alma dengan heran. Padahal ia baru saja bertanya, kenapa istrinya ini tak menjawab? Malah memilih untuk berbicara dengan Cak Yanto.


"Waktu pertama kali dulu nemenin Mas Jafar keliling outlet-outlet Cacak ngerasa capek nggak?" tanya Alma.


Dari pantulan cermin Alma dapat melihat Cak Yanto tersenyum canggung. "Kalau capek ya capek toh Mbak, namanya juga baru pertama kali. Kalau udah kebiasaan kayak gini, Insya Allah capeknya nggak terlalu," jawab Cak Yanto.


Setelah mendengar jawaban Cak Yanto, Alma menengok pada suaminya. "Kamu dengarkan Mas yang di bilang sama Cak Yanto? Kalau capek, ya pasti capek. Orang saya baru pertama kali ikut kamu keliling outlet gini. Kecuali kalau kamu emang berniat sering-sering ajak saya, ya ... ya mungkin nggak bakalan terlalu capek dan saya jadi terbiasa."


"Kamu ini ada-ada saja. Saya sedang serius, saya benar-benar khawatir kamu kelelahan," tulis Jafar


Alma mengambil alih pena dan buku catatan Jafar. Ia merasa tak enak untuk mengobrol karena ada Cak Yanto di sini. Maka baiknya ia juga ingin menulis saja di buku catatan. "Saya juga lagi serius, Mas. Kamu ini percaya nggak sama saya? Istri Mas itu nggak selemah kelihatannya, waktu itu aja emang kelihatan lemah gara-gara nyeri haid. Kalau sekarang saya nggak bakalan lemah, nggak bakalan juga saya tiba-tiba pingsan. Jadi kamu nggak usah khawatir, selama kamu di dekat saya. Saya bakalan kuat, kok," tulis Alma.


Jafar tercengang, ternyata lisan atau pun tulisan Alma tetap sama-sama pandai berkata, satu halaman penuh dengan tulisan tangan istrinya.

__ADS_1


"Oke, Mas?"


Jafar pasrah dengan mengangguk. Dan mengambil alih buku catatan, membalikkan halaman berikutnya lalu menulis. "Saya tidak keberatan kalau tiba-tiba kamu pingsan. Asal jatuhnya tepat di pelukan saya."


Wah!


Kamu lagi godain saya, Mas?!


Tawa Alma benar-benar tertahan. Jikalau tidak ada Cak Yanto di sini sudah ia cubit-cubit habis kedua pipi suaminya itu. Bagaimana bisa lelaki di depannya ini semakin pintar menggoda?


"Berani, ya? Kamu godain saya di depan Cak Yanto gini?" bisik Alma---dengan sedikit condong ke Jafar.


"Saya tidak berniat menggodamu, jadi jangan tergoda seperti ini. Tolong jaga jarak, kita sedang di mobil bertiga, bukan berdua saja."


Membaca tulisan suaminya yang semakin menjadi-jadi spontan Alma menjaga jarak, tote bag yang semula ada di samping kiri, ia letakkan di tengah-tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Jafar.


"Jaga jarak."


Kling!


Gawai di tangan kanannya berbunyi.


Paman Idrus


Terima kasih sudah mau berkunjung, Nak.


Paman tunggu kehadiranmu.


^^^Iya, Paman.^^^


Alma menengok menatap suaminya. "Mas, kita ke Kedai Bersama langsung atau ke Kedai Amanah dulu?"


"Kedai Bersama. Kenapa?" tulis Jafar.


"Nggak kenapa-napa saya cuma tanya. Ta ... pi emang biasanya buka jam berapa sih Kedai Amanah?"


Jafar mengangkat buku catatannya. "Setengah sembilan."


Mobil melaju terus menerus. Sempat berhenti di pom bensin pertama, segala bangunan tinggi di perkotaan terlihat di mana-mana, perjalan satu jam ini cukup melelahkan dan memakan waktu. Hingga tepat pukul sembilan lebih lima belas menit mobil berhenti di depan Kedai Bersama---yang mana ternyata sangat luas. Namun tak seperti Kedai Amanah, Kedai Bersama seperti cafe gaul yang di datangi anak muda.


"Langsung masuk?"


Jafar mengangguk. Ia menulis sejenak di buku catatannya. "Apa kamu mau duduk dulu di luar? Sebagai pengunjung misalnya."


"Enggak lah! Saya datang sebagai pekerja kok."


Lebih tepatnya, ia datang sebagai anak dari pemilik Kedai Bersama. Hampir satu tahun ia sudah jarang ke mari, ternyata kedai ini semakin bagus dan kian cocok untuk anak muda. Beberapa kursi-kursi baru telah di susun, dan tema kedai ini tetap sama yang sangat potret-able di setiap sudutnya.


"Silakan, Kakak. Ingin pesan apa?" tanya seorang staf wanita yang mungkin seumurannya.

__ADS_1


Alma berdeham. "Saya Alma. Saya sudah membuat janji temu dengan Bapak Idrus. Boleh tolong tanyakan kepada beliau?"


__ADS_2