
Rabu, tepat delapan hari Alma telah menyandang status sebagai seorang istrinya. Hari ini juga sebenarnya, jadwal ia untuk melakukan operasi hernia. Namun diundur hari Jum'at. Ia bangun lebih awal dibandingkan Jafar, supaya ia bisa membersihkan diri, karena haidnya pun sudah usai.
Gemericik air yang cukup nyaring di dalam kamar mandi, membuat Alma sama sekali tak menyadari kalau ada yang mengetuk pintu berkali-kali. Setelah selesai membilas surainya, ia hendak memeriksa, apa benar ada yang mengetuk pintu? Di atas laci kamar mandi ia mengambil handuk sedang, lalu melilitkan di tubuh mungilnya.
Dan Alma berjalan mendekati pintu---membuka sedikit dan berucap, "Mas ... kamu udah bangun? Kamu mau ke kamar mandi?"
Tak ada balasan.
Sedetik Alma ingin menutup pintu, tiba-tiba saja satu tangan menahan---mendorong pintu sedikit lebar dan masuk. Netranya terbelalak, ia terkejut bukan main. Setelah mendongak dan mengerjap berkali-kali untuk memastikan bahwa di depannya sekarang adalah Jafar, suaminya. Ia sedikit bisa bernapas lega.
"Kamu ini! Mau bikin saya jantung?"
Jafar menggeleng.
"Kamu mau mandi?"
Jafar mengangguk.
Netra Alma melebar lagi, ia baru sadar ternyata Jafar tak mengunakan baju. Badan yang sangat ideal dan indah untuk terus menerus dipandanginya, spontan membuat Alma menunduk. Sekalipun kulit Jafar lebih condong sedikit gelap, mengapa semakin terlihat eksotis seperti ini? Alma terpesona melihat ini.
"Ya-ya udah mandi sana. Saya mau ke ..." Alma telah berbalik. Namun pelukan dari belakang yang tiba-tiba membuatnya mematung. " ... luar."
Handuk hanya menutupi bagian belakang dan depan tubuhnya. Bahu serta lehernya masih terbuka, kulit kuning langsat yang kontra itu tiba-tiba disentuh dengan lembut di bagian tangan. Kecupan-kecupan kecil juga terasa di bahu kiri Alma. Ia malu. Bahkan tak sengaja menyikut pelan Jafar supaya pelukan serta kecupan itu dihentikan.
"Mas ... sa ... saya mau keluar."
Lagi-lagi tak ada balasan, Jafar tetap memeluknya, kali ini lebih erat, seakan-akan tak mau melepaskannya.
"Mas Jafar ... ka-kamu dengerin saya 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Ka-kalau gitu ... tolong lepas Mas."
Perlahan-lahan pelukan itu mengendur. Jafar menjauh. Dan Alma dengan cepat keluar dari kamar mandi tanpa menengok sedikit pun. Jantungnya sama sekali tak aman, berdetak kencang terus menerus, karena merasa hawa kamar mandi yang mulai panas.
"Malu banget Ya Allah ..." gumam Alma dengan tergesa-gesa, mengambil gamis dan masuk ke ruang ganti.
"Oke udah rapi. Untung ada kerudung di sini. Pokoknya aku harus cepet-cepet keluar sebelum Mas Jafar keluar," monolog Alma.
Dengan terbirit-birit Alma keluar dari ruang ganti. Ini masih pukul tiga pagi, tapi ia tak mau tahu ia ingin keluar saja ke dapur. Barang kali Ummi Salamah sudah bangun, akan lebih baik jika ia ke situ saja.
"Ummi ..."
Pintu kamar Ummi Salamah terbuka. "Lho Alma? Nak, kamu ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain Ummi. A-alma mau a-anu mau bicara-bicara aja gitu sama Ummi. Alma kangen," ucap Alma.
Ummi Salamah tiba-tiba tertawa. "Kangen? Kamu ini aneh. Setiap hari ketemu sama Ummi, kok!"
"Ya-ya nggak pa-pa 'kan? Masa menantunya kangen mau peluk ini." Alma mendekat merangkul pinggul Ummi Salamah. "Nggak boleh, ya?"
__ADS_1
"Hmmm, boleh-boleh. Kapan Ummi bilang nggak boleh? Ayo masuk, Nak."
...🌺...
"Masmu udah bangun, kan Nak?"
Pertanyaan itu yang Alma dapatkan saat baru mendaratkan diri duduk di tepi ranjang Ummi Salamah.
Spontan Alma mengangguk. "Iya Ummi, Mas Jafar udah bangun kok."
"Te ... rus?"
Alma membeo dengan terbata-bata, "Te-terus? Terus apa Ummi?"
"Nggak jadi." Ummi Salamah yang baru saja selesai mematikan lampu tidur, mendekat pada Alma. "Itu rambutmu basah, ya?"
"I-iya Ummi. Habis keramas."
Ummi Salamah menghela napas pelan dan menggeleng. "Kerudungnya di lepas dulu dong, Nak. Nanti bau rambutmu, terus biasanya bikin pusing juga."
Iya ya bener kata Ummi.
"Nggak usah malu sama Ummi. Ummi paham kok."
Kening Alma mengerut. Apanya yang Ummi paham? Ia merasa tak memberitahu apa-apa yang butuh Ummi Salamah pahami. Sedikit membingungkan tapi ia mencoba acuh, dengan mengikuti perintah Ummi Salamah ia membuka kerudung. Supaya surai hitam panjangnya cepat kering.
"Ummi baru sadar ... ternyata rambut kamu bagus banget."
"Emang Alma rambut panjang gini nggak cantik Ummi?" imbuh Alma.
"Cantik, dong. Menantu Ummi ini rambut panjang pendek tetep cantik."
Pujian demi pujian terus Alma dapatkan, sesaat ia ingin membuka mulut membalas ucapan Ummi Salamah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Kalau di pikir-pikir mungkin Jafar? Tidak mungkin orang lain. Mbok Isna pun tak mungkin datang sepagi ini.
"Ummi aja yang buka. Kamu diam," ucap Ummi Salamah.
Alma memperhatikan siapa gerangan yang akan terlihat dibalik pintu itu. Tepat. Jafar, suaminya berdiri di sana dengan buku catatan yang di angkat seolah-olah sudah persiapan. Supaya saat pintu terbuka Ummi Salamah bisa langsung membaca.
Alma tercengang.
Pinjam?
Dikira aku barang apa?
"Boleh. Kan menantu Ummi ini istri kamu. Jadi silakan," ucap Ummi Salamah.
Ke kamar Ummi Salamah ternyata bukan keputusan yang benar. Karena sampai kapan pun Ummi Salamah akan berpihak kepada Jafar, dan Alma lagi-lagi harus menahan malu untuk sekadar saja bertatap muka dengan Jafar. Menyebalkan. Harusnya tadi ia di dapur saja, atau kalau tidak sembunyi saja di ruang ganti, yang pasti aman tanpa diketahui oleh suaminya.
"Kok nggak berdiri?" Ummi Salamah melihat kearahnya dengan senyum-senyum tak jelas. "Mau di gendong sama Masmu?"
__ADS_1
Spontan Alma menggeleng cepat. "Kok Ummi izinin sih Alma di pinjam? Padahal Alma lagi kangen lho sama Ummi."
"Nanti bisa kangen-kangenan lagi. Ini Masmu kayaknya butuh sesuatu, Nak."
Dengan segala keterpaksaan Alma membuntuti Jafar sampai ke kamar. Lelaki itu memintanya duduk di meja rias, lantas mengambil handuk dan membantu mengeringkan surai miliknya.
"Kamu ngapain Mas? Udah nggak usah. Ini udah setengah kering kok."
Tangan Jafar berhenti.
"Terima kasih, Mas. Kamu nggak perlu repot-repot."
Jafar meletakkan handuk di kursi meja rias. Kemudian berdiri di samping Alma dengan sedikit menunduk ia menulis di buku catatan. "Paman Idrus mengirim pesan lagi. Sepertinya hari ini saya ingin berlibur sejenak dengan ikut bersamamu ke Kedai Bersama."
"Te-terus? Kedai Amanah gimana? Kok kamu bilang pakai libur segala sih?" Alma menggeleng tak setuju. "Harusnya kamu tetep ngecek outlet-outlet Mas."
"Kamu ingat. Itu tanggung jawab kamu, jangan mentang-mentang kamu yang punya Kedai jadi apa-apa bisa libur? Bantuan kamu pasti juga dibutuhkan di sana Mas. Terlepas kamu cuma mengurus perihal keuangan atau sekedar cek-cek aja tetep, kamu nggak boleh lalai kayak gini," imbuh Alma.
Melihat Jafar yang terdiam, Alma langsung tersadar bahwa ia keterlaluan karena berani mengurui suaminya. "Ma-maaf sa-saya nggak masuk mengurui kamu, Mas. Sa-saya minta maaf, Mas."
"Ada orang selesai menasihati meminta maaf?" Terdapat jeda di buku catatan itu. "Ternyata benar adanya. Orang itu kamu."
"Saya rasa yang kamu ucapkan barusan terdengar seperti nasihat, bukan terdengar kamu seperti mengajari saya. Jadi jangan meminta maaf, istri seperti ini yang saya butuhkan." lanjut Jafar dalam tulisan.
Alma mengangguk. "Maaf, Mas."
Jafar menghela napas, dan membalik halaman. "Meminta maaf lah jika kamu berbuat salah, Alma. Untuk sekarang jangan, karena saya tidak merasa kamu bersalah kepada saya."
"Ja ... di?"
"Saya akan outlet," tulis Jafar---sebagai keputasan akhir.
Tepi ranjang, pilihan yang Jafar ambil untuk duduk. Raut wajah suaminya seakan-akan jelas menunjukkan secuil rasa kecewa. Alma paham mungkin Jafar khawatir karena Kedai Bersama lebih ke kota dan jalannya memang melewati Kedai Amanah juga. Namun untuk dibilang berjarak dekat tentu tidak cukup dekat.
"Kamu nggak perlu khawatir Mas, nanti saya dijemput sama sopir kiriman dari Paman Idrus kok. Jadi Insya Allah aman," ucap Alma dengan duduk di samping Jafar dan menyatukan jari jemari kiri mereka.
Gawai di samping Jafar di ambil, ia mengetik mengunakan satu tangan. "Bukan saya tidak percaya. Tapi saya sedang khawatir. Dan jika boleh saya ingin Cak Yanto saja yang mengantar jemput kamu ke sana."
Alma menggeleng pelan. "Nggak bisa, Mas. Kalau Cak Yanto antara saya, terus yang antar Mas dari outlet satu ke outlet lain siapa?"
"Kamu benar-benar tidak paham, bahwa saya sangat mengkhawatirkan kamu, Alma," tulis Jafar.
Alma melepas genggaman jari jemari meminta Jafar menghadap padanya, menyentuh pipi kanan lelaki itu---beberapa kali ia mengusap, dan sentuhan itu turun ke tengkuk Jafar, Alma menarik pelan hingga membawa suaminya itu dalam dekapan hangat.
"Saya tahu. Saya paham, Mas."
Senyuman tipis tercekat dibibir Alma dengan dibersamai usapan-usapan. "Ya udah. Gimana kalau saya ikut kamu keliling outlet dulu? Terus nanti ... kita mampir ke Kedai Bersama. Saya usahakan mengobrolnya nggak lama, tapi kalau lama bisa kamu tinggal di satu outlet dulu. Nanti kita keliling outlet lagi sama-sama."
"Gimana?"
Jafar mengangguk setuju, dan pelukan itu kian erat. Seperti biasa pula, Alma merasa ada kecupan di lehernya---karena lagi-lagi suaminya itu menyusup di samping leher.
__ADS_1
"Kebiasaan kamu suka banget kayak gini."