Almahyra

Almahyra
Bagian 41


__ADS_3

Netra indah Alma terbuka perlahan, seperti biasa saat dirinya terbangun, Jafar---sang suami tidak berada di sampingnya, jikalau ia perkirakan mungkin ini sudah lewat waktu asar. Pendingin ruangan telah dimatikan, entah sejak kapan. Dan seperti biasa, selimut yang digunakan tersikap ke sana dan ke mari akibat tidurnya yang tak beraturan.


Alma mengambil posisi duduk menyamping. Dan saat tangannya hendak mengambil gawai yang terletak di atas meja, netranya menangkap secarik kertas di sana.


"Dari Mas Jafar?"


"Maaf saat kamu bangun saya tidak berada di sampingmu. Saya harus ke outlet dan perkiraan saya akan pulang sesudah magrib," tulis Jafar.


Alma manggut-manggut. "Seenggaknya kamu nggak di sini. Saya beneran masih malu gara-gara tadi."


Ia berbalik menatap ranjang yang cukup berantakan. Sesegera mungkin ia merapikan perlahan-lahan, dan setelah usai ia berjalan ke ruang ganti---untuk berganti mengunakan gamis serta kerudungnya.


"Ternyata udah jam lima lebih," gumam Alma.


Kling!


Gawai Alma yang berada di meja menampilkan notifikasi. Ia mendekat dan mengambil gawai, keningnya mengerut saat melihat pesan masuk dari Salwa yang dibersamai kiriman gambar.


Salwa


Assalamualaikum Kakak Ipar!


Ini-ini aku bawain beberapa contoh baju pilihan yang sekiranya cocok buat Kak Alma.


1.



2.



3.



4.



Jadi, suka yang mana? Ke-empat itu aku pilihin sesuai sama tipe-tipe Kakak gitu. Gradiasi biar kayak princess gitu anggun.


Alma tersenyum simpul---tangannya lihai membalas pesan.


^^^Waalaikumussalam^^^


^^^Semua Kakak suka lho.^^^


^^^Jadinya gimana?^^^


Salwa


Ya udah!


Semuanya!


Gassss


Aku bisa suruh orang butiknya bikin semua versi hijab.


^^^Becanda.^^^


^^^Nomor satu aja bagus simpel.^^^


Salwa


Padahal akunya serius, Kak!


Tapi nomor satu emang bagus bet cocok gitu sama Kakak.


Satu lagi nomor berapa?


^^^Empat.^^^


Salwa


Oke tercatat.


Nanti tinggal ukur-ukur aja


Ke butiknya nanti sama aku sama Bibi ya, Kak?


Tapi ke sananya pas schoolku lagi libur, ya?


^^^Iya.^^^

__ADS_1


^^^Apa nanti pakai baju adat?^^^


Salwa


Baju adatnya udah di pilihkan Umma sama Bibi Salamah, sama Bibi Sarah juga.


Nanti waktu ke butik lihat deh, cakep banget Ya Allah!


^^^Kalau gitu terima kasih infonya, Adik Ipar.^^^


^^^Udah dulu, Kakak ada urusan.^^^


Layar gawai itu mati. Alma mengambil duduk ditepi ranjang. Jikalau dipikir-pikir budget baju yang kelihatan mewah itu berapa, ya? Ia hanya merasa bahwa semua terlalu mahal, resepsi pernikahan yang ia minta secara sederhana pun----sepertinya tidak menjadi acara sesederhana itu.


Tidak masalah bagi Alma. Namun apa tidak apa-apa untuk Jafar? Baju resepsi yang bermodel sama tanpa lengan saja sudah sangat mahal, apalagi jika di model hijab akan menjadi seberapa mahal? Resepsi pernikahan memang tinggal empat minggu dihitung dari sekarang, segala kesiapan sudah mencapai sembilan puluh persen, tentu tinggal menyebar undangan dan fitting baju saja.


Langkah kecil Alma keluar dari kamar saat mendengar suara ketukan serta salam dari pintu utama. Karena sepertinya Ummi Salamah pun sedang pergi.


"Assalamualaikum Mbak."


Cucu Mbok Isna?


"Waalaikumussalam. Ada apa?"


Dimas tersenyum simpul. "Anu Mbak maaf saya disuruh Mbok ambil barang beliau yang ketinggalan. Maaf kalau mengganggu Mbak."


"Barang apa? Biar saya ambilkan," ucap Alma.


"Tas kecil beliau. Warnanya hitam. Mbok bilang ketinggalan di dapur," jelas Dimas.


Alma mengangguk dan meminta Dimas untuk menunggu di luar. Sedangkan ia memasuki dapur mencari-cari barang yang dimaksud, namun sampai tiga menit pun tak kunjung ditemukan. Meja, rak makan, dan lain-lainya sudah ia jelajahi, tapi di mana tas kecil yang dimaksud Mbok Isna?


Selama beberapa detik ia mencoba lagi. Namun tetap gagal. Alma pasrah---lebih baik meminta cucu beliau sendiri yang mencarinya.


"Saya nggak nemuin tasnya. Kamu yakin ketinggalan di sini?"


Dimas mengangguk. "Inggih, Mbak. Mbok bilang begitu."


Alma menghela napas. "Saya cari-cari dari tadi nggak ketemu. Tapi kayaknya emang nggak ada di sini."


"Apa boleh saya yang cari Mbak?" tanya Dimas.


Alma mengangguk. "Silakan."


"Ketemu?" tanya Alma.


Dimas menggeleng. "Masih belum, Mbak."


"Ja ... di di mana, ya?" ucap Alma dengan mendekat dan mencari-cari juga di sekitar bahwa meja serta lain-lainnya.


Saat hendak kembali berdiri dan berbalik Alma terkejut bukan main---Dimas tepat berada dibelakangnya.


"Kamu ngapain? Tolong mun---"


Tiba-tiba Dimas tersenyum dan menyanggah, "Gus Jafar ..."


Posisinya yang berdiri membelakangi pintu tidak bisa melihat kedatangan Jafar. Bahkan langkah kaki Jafar pun terlalu ringan, sampai ia sendiri tak menyadarinya. Secepatnya ia mendekati Jafar.


"Dia datang cari tas Mbok Isna, Mas," ucap Alma.


Jafar hanya mengangguk dengan tatapannya yang datar.


"Alhamdulillah. Sudah ketemu, Mbak. Gus, terima kasih, saya pamit," ucap Dimas.


Kening Alma mengerut. Padahal sudah beberapa kali ia mencari di bagian dekat rak piring tapi tidak menemukan. Sedangkan Dimas bisa menemukan itu? Pikirnya mungkin, cucu Mbok Isna lebih mengenali tata letak dapur ini, karena sudah bertahun-tahun di sini.


"Katanya kamu pulang ba'da magrib?"


Jafar berjalan ke arah lemari pendingin---mengambil minum dan meneguk segelas dengan duduk di kursi kayu.


"Kamu mau makan?"


Suaminya itu tidak mengindahkan sama sekali. Jafar melenggang pergi menuju kamar dan ia membuntuti suaminya, hingga kamar kembali tertutup.


"Kamu capek, ya?"


Deru napas Jafar terdengar berat. Bahkan sendari awal di dapur hingga sampai kamar tiada senyuman yang diperlihatkan untuk istrinya.


"Ka-kamu marah sama saya?"


Jafar mengeluarkan gawainya dan mengetik sesuatu di aplikasi note. "Apa pantas kamu seperti ini, Alma? Apa-apaan kamu mengizinkan cucu Mbok Isna itu memasuki rumah saat tidak ada saya dan Ummi di sini?"


"Saya nggak berniat gitu, Mas. Saya nggak berniat suruh diam masuk. Saya udah cari-cari tas itu tapi nggak ketemu, makanya saya tanya ke dia, apa beneran di sini? Terus dia minta buat cari sendiri, ya udah. Sa-saya izini, lagi pula di-dia udah sering ke sini bantu-bantu di dapur 'kan?" jelas Alma.


Netra Alma yang sendari tadi menatapnya tak kunjung mendapatkan balasan. Jafar lebih memilih menunduk untuk mengetik lagi. "Sering, bukan berarti semudah itu kamu mengizinkan dia masuk. Apa yang kamu pikirkan sampai tidak bisa menemukan barang yang dia maksud?"

__ADS_1


"Maaf."


"Saya tidak meminta maaf darimu, Alma. Dan apa-apaan tadi, jarakmu dengan dia bisa sedekat itu?" tulis Jafar.


Ingatan Alma kembali di dapur tadi. Ia pun tak mengerti bagaimana bisa cucu Mbok Isna itu tiba-tiba di belakangnya. "Sa-saya juga nggak tahu. Saya juga kaget tiba-tiba dia dibelakang saya, Mas."


"Kamu tahu? Jarak sedekat itu sangat membuat saya menyalah pahami dirimu, Alma. Saya ingin marah dan menegur lelaki itu, tetapi karena keadaan saya yang menyedihkan ini. Saya hanya bisa menatap dia saja," tulis Jafar.


Lagi-lagi kamu membahas tentang keadaan dirimu, Mas. Kenapa kamu harus seperti ini?


Azan magrib berkumandang---mendengar itu membuat Jafar berdiri mengambil pakaian ganti di lemari lalu memasuki kamar mandi. Tujuh menit berlalu Jafar akhirnya keluar dengan pakaian yang sudah rapi, suaminya itu berhenti sejenak di depan meja rias dan menunduk menuliskan sesuatu di secarik kertas.


"Mas ..."


Jafar tidak mengindahkan saat Alma hendak mencium punggung tangannya. Lelaki itu melenggang pergi tanpa menoleh sedikitpun.


Meja rias ialah tujuan Alma sekarang. Ia ingin melihat apa yang dituliskan oleh suaminya.


"Tolong jelaskan kepada saya, Alma. Bagaimana bisa saya tidak menyalah pahami dirimu? Apa kamu pernah memikirkan perasaan seorang laki-laki cacat yang melihat istrinya sedang berada dalam satu ruang dengan laki-laki normal?" tulis Jafar.


Netra Alma berkaca-kaca. Ini adalah kesalahannya. Mengapa lagi-lagi Jafar harus merasa seperti ini? Yang diucapkan oleh Mardiyah benar, seharusnya ia lebih berhati-hati. Begitu pula yang dituliskan oleh Jafar juga lah benar, memang tak sepantasnya seorang istri mengizinkan laki-laki asing memasuki rumah tanpa seizin dari suaminya.


"Sa ... saya nggak bermaksud begitu, Mas," lirih Alma.


...🌺...


Sampai pukul delapan malam pun Jafar tidak kunjung pulang. Alma menunggu suaminya itu dengan duduk di balkon kamar---barang kali akan terlihat dari sini. Dan setiap menit berlalu pun Jafar tak kunjung terlihat, rintik-rintik hujan serta hawa dingin menerpa wajah serta tubuhnya yang tertutup gamis tipis---yang biasa ia gunakan di rumah.


Kenapa Mas Jafar belum pulang?


Alma menunduk melihat gawai ditangannya. Ia ragu-ragu hendak menghubungi Jafar, sungguh takut mengganggu bilamana suaminya itu sibuk. Namun rasa khawatir itu telah melingkupi diri, menunggu kabar sang kekasih.


Jam digital menampilkan, pukul 20.30 WIB. Semakin larut tapi yang ditunggu tak kunjung tiba. Hujan pun kian menderas, sesaat netra indah itu menatap lurus ia melihat sesosok lelaki yang ditunggunya sedang berlari ditengah hujan.


"Mas Jafar ..."


Alma dengan tergesa-gesa keluar kamar---sebelum itu membawa handuk dan menyambut Jafar di depan pintu utama.


"Kamu kok nggak pakai payung sih, Mas?" ucap Alma dengan memberikan handuk kepada Jafar.


Pakaian yang digunakan Jafar hanya basah bagian atas saja. Ia menerima handuk yang diberikan oleh istrinya, dan setelah itu melenggang masuk ke dalam kamar terlebih dulu.


Ka-kamu nggak mau natap saya, Mas?


Alma menyusul masuk dengan wajah sendunya, rasanya sedikit sakit melihat Jafar enggan menatapnya seperti biasa.


"Kamu langsung tidur? Nggak mau makan?"


Jafar yang ingin membaringkan tubuhnya terhenti, sejenak ia menatap Alma lantas mengambil pena serta kertas dan menuliskan sesuatu. "Saya lelah, tolong izinkan saya istirahat, Alma. Tolong pahami saya."


"Tapi kamu udah makan 'kan, Mas?"


Jafar mengangguk---lantas merebahkan diri membelakangi Alma.


Entahlah Alma tak tahu Jafar benar lelahnya atau juga dibersamai kecewa karena masalah Dimas tadi. Ia mengakui bahwa dirinya salah. Bahkan sangat salah. Ia berjalan menuju ke kamar mandi---mengganti pakaian tidur.


Sesaat ia ingin bergabung di ranjang bersama Jafar, gawai miliknya di nakas berbunyi menampilkan notifikasi pesan dari aplikasi.


Paman Idrus?


Paman Idrus


Alma sayang, besok jika ada waktu kamu bisa ke kedai? Paman ingin bertemu denganmu, Nak.


^^^Insya Allah, Paman.^^^


Melihat pesan singkat dari Paman Idrus, sungguh tiba-tiba membuatnya merindukan Bibi Maryam.


Bibi ... Alma sudah menikah.


Cincin yang berada di jari manisnya disentuh. Dan ia sedikit berbalik menatap Jafar yang telah berbaring. Sungguh ia ingin bercerita kepada Bibi Maryam, Ibu dan juga Ayahnya tentang betapa baiknya Allah mengizinkan ia memiliki suami seperti Jafar.


Terima kasih Bibi ... telah mencarikan Alma suami sebaik Mas Jafar.


Alma menyusul bergabung, dengan menghadap pada Jafar---tangannya terangkat untuk memeluk suaminya.


"Sa-saya mau peluk kamu, Mas."


Jeda tiga detik Alma berujar lirih, "Saya tahu saya salah, Mas ... tolong maafin saya."


Note:


• Bibi Maryam punya kedai. Nggak lupa 'kan?


• Gambar diambil di Printerest.

__ADS_1


__ADS_2