
Ucapan Ummi Salamah benar. Sesudah pulang dari Masjid yang berada di lingkungan rumah sakit, tiba-tiba saja Jafar mengeluh kedinginan, hujan di luar pun lebat dan pendingin ruang belum di atur cukup benar. Alma menatapi suaminya yang mengusap-usap kedua tangan, serta melihat suaminya itu sedang berkutat dengan laptop.
"Mas ..."
Jafar mengalihkan tatapannya dari laptop.
"Ada long outer di tas saya. Coba kamu pakai buat selimut, Mas. Kamu kedinginan 'kan?"
Jafar menggeleng.
"Jangan geleng gitu. Ambil, Mas. Kalau kamu sampai sakit siapa yang jagain saya?"
Jafar mengangguk. Ia beranjak dari duduknya menghampiri tas Alma yang tergeletak di sofa single bagian ujung, lantas mencari-cari long outer yang di maksud istrinya.
"Ketemu?"
Jafar menggeleng.
Alma memang membawa sedikit banyak barang. Maksudnya, kerudung dan gamis satu serta long outer satu. "Bawa sini, Mas."
Tas telah di taruh tepat di sampingnya. Ia mencari-cari long outer dan akhir tertemukan. Alma langsung menyampirkan pada bahu kiri suaminya. "Pakai buat selimut. Saya tahu itu tipis, tapi cukup bisa kok di jadian selimut."
Jafar mengangguk dan menggerakan bibir. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Jafar menyampirkan long outer dengan benar di bahu kiri dan kanannya. Kemudian duduk di kursi single bersebelah dengan Alma, dan di tepi ranjang ia meletakkan buku catatan. "Kamu tidak merasa dingin?" tulis Jafar.
Alma menggeleng. "Ada selimut, Mas. Saya sama sekali nggak kedinginan kok."
"Sudah sholat?" tulis Jafar.
Alma mengangguk. "Udah, Mas. Ngaji juga udah kok."
Jafar terdiam.
"Kenapa, Mas?"
Jafar menggeleng.
"Saya nggak suka kalau kamu ditanya geleng gitu." Tangan Alma menggeser buku catatan Jafar. "Tulis sesuatu di sini."
Sekitar lima detik menulis Jafar menyerahkan buku catatannya. "Maaf. Karena kita tidak bisa berjamaah berdua saja Alma. Kamu tentu tahu alasannya. Sungguh sebenarnya, saya ingin sholat berdua bersamamu."
"Nggak pa-pa, Mas. Insya Allah nanti kalau kamu udah rutin terapi, pasti bisa kok kita jamaah."
Jafar menggeleng, tangannya kembali menulis. "Saya tidak terlalu yakin, Alma. Tolong jangan pernah berharap pada laki-laki yang tidak berguna seperti saya."
Lagi-lagi Jafar seperti ini. Alma tak menyukai ini dan dengan lirih ia berujar, "Keluar kamu, Mas. Berapa kali saya bilang, saya nggak suka kamu kayak gini."
Terjadi kebisuan beberapa menit, hanya terdengar deru napas keduanya. Alma menatap lurus pada televisi, Jafar menunduk menyugar surainya kebelakang. Alma sama sekali tak mau Jafar seperti ini lagi. Tangan kanannya tiba-tiba saja di sentuh, lalu berubah di genggam
Hingga Alma tak bisa untuk tak menoleh. "Ingin menonton film, anime atau drama?" tulis Jafar.
Sekejap saja netra Alma berbinar-binar. Kemudian ia mengangguk kecil, tawaran yang sangat bagus dan sulit untuk ditolak. "Boleh! Tapi ... tunggu dulu."
Sejenak Alma terdiam. Apa benar seseorang seperti Jafar ini bersedia menonton hal-hal semacam itu? Ia pikir, Jafar akan sangat-sangat kaku dan kolot. "Kamu suka emang lihat gitu-gitu?"
"Terkadang," tulis Jafar.
Alma manggut-manggut. Terkadang? Apalagi jika menontonnya bersama-sama pasti akan semakin suka. "Tapi ... biasanya laki-laki jarang suka sama drama atau pun film yang menye-menye. Kamu gitu nggak?"
"Menye-menye yang kamu maksud lebih condong ke hal-hal romantis 'kan?" tulis Jafar.
"Ya gitu. Biasanya laki-laki lebih suka genre romance sebagai pelengkap, bukan sebagai topik utama dalam film," ucap Alma.
Jafar tersenyum tipis dan mengangguk. "Kamu benar. Jadi ingin menonton apa?" tulisnya.
"Saya kasih dua pilihan kamu pilih, ya?" Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Drama atau Anime?"
Jafar menunduk untuk menulis jawaban. Setelah itu ia mengangkat buku catatannya. "Anime?"
__ADS_1
"Anime?" tanya Alma seolah-olah tak percaya. Kemudian ia mengangguk kecil. "Okay. Mau nonton yang judulnya apa?"
"Tolong ambilin ponsel saya, Mas. Saya mau lihat-lihat dulu." Jafar memberi gawai yang diambilnya dari atas nakas. Setelah menerima Alma membuka aplikasi di mana biasanya ia menonton anime. "Attack on Titan? Kamu pernah lihat?"
Jafar menggeleng.
"Sama. Kebetulan saya juga belum, Mas."
Jafar bangkit, mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Alma.
"I ... ni, nonton di ponsel?"
Jafar mengangguk.
"Lampunya bisa di matiin nggak, ya Mas? Biar seru gitu maksudnya."
Mendengar ucapan Alma, Jafar turun mencari-cari tombol lampu lalu mematikannya dan kembali duduk di samping Alma.
"Makasih, Mas."
...🌺...
Kurang lebih Alma dan Jafar menonton tiga episode Attack on Titan S1. Sesaat mendengar azan isya Alma meminta jeda sejenak saja, ia ingin nanti dilanjutkan lagi, tetapi sebelum itu ia dan Jafar harus melaksanakan salat isya.
"Hujannya masih deras, Mas?"
Jafar mengangguk.
"Nanti kamu jalannya hati-hati ya? Lantai rumah sakit biasanya licin, saya takut kamu jatuh. Pelan-pelan pokoknya," ucap Alma.
Jafar mendekat---tangannya terangkat mengusap pipi kanan istrinya. "Iya." Ia menggerakkan bibir.
Tangan kanan Alma pun ikut terangkat perlahan, bertumpu pada tangan Jafar yang berada di pipinya. "Jangan lupa juga, kamu mampir beli makanan. Ini udah isya, saya takutnya kantin bakalan tutup."
Jafar mengangguk.
"Saya ... merepotkan, ya Mas?"
Jafar menggeleng.
Jafar menggeleng lagi---kali ini ia mendekat diri ke Alma dan mengecup singkat pucuk kepala istrinya yang tertutup kerudung.
"Kamu pasti bakal bilang gini, sudah sewajarnya suami dan istri saling merepotkan." Alma tersenyum tipis, kecupan singkat berakhir Jafar menatap lagi. "Saya setuju, kok. Dan nanti kalau saya udah pulih, saya benar-benar siap untuk di repotkan, entah hal sekecil apa pun kalau kamu mau minta bantuan saya. Minta aja, ya?"
Jafar mengangguk. "Pasti." Bibirnya bergerak.
"Ya udah kamu berangkat, Mas."
Jafar mengangguk. Sebelum itu ia berdiri di atas nakas, dari pengelihatan Alma sepertinya Jafar sedang menulis. Dan setelah usai, lelaki itu mendekat lagi, memberinya secarik kertas yang telah di lipat. Kemudian berbalik pergi meninggalkan ruang rawat inap.
Setelah Jafar benar-benar pergi, Alma menunduk melihat secarik kertas itu, lantas membukanya perlahan. "Saya juga sudah siap merepotkan kamu. Begitu banyak permintaan saya nanti, tolong jangan merasa kerepotan, ya? Dan juga, saya siap menerima list apa saja yang kamu inginkan. Tetapi syaratnya, kamu harus pulih terlebih dahulu."
Senyum tipis Alma tampakkan. Perlahan-lahan ia dapat dengan mudah memahami Jafar, laki-laki yang penuh kasih sayang, melakukan apa pun untuk orang terkasih dan terkadang-kadang masih merendahkan diri.
Tidak ada yang salah Alma memaklumi.
Kling!
Gawainya berbunyi---saat ia ingin bersiap melakukan tayamum lagi.
Mardiyah?
Mardiyah
Gimana kabarmu?
^^^Baik^^^
Mardiyah
Operasi apa yang kamu jalani?
__ADS_1
^^^Hernia^^^
Alma menjawab jujur. Karena sungguh tak apa-apa, Mardiyah akan menjadi bagian dari keluarganya, tak perlu ada lagi yang disembunyikan.
Mardiyah
Lancar?
^^^Alhamdulillah, iya^^^
Mardiyah
Lutfan juga makin membaik, kalau kamu ingin tahu kabarnya
^^^Alhamdulillah, Mar^^^
^^^Titip salam untuk Lutfan^^^
Mardiyah
Aku dan Lutfan akan menikah
Netra Alma terbelalak. Menikah? Se ... karang? Tangan kanannya lihai membalas.
^^^Sekarang, Mar?^^^
Mardiyah
Iya
Aku yang minta
Nggak salah 'kan?
^^^Kamu serius, Mar?^^^
^^^Kenapa?^^^
Mardiyah
Pernikahan ini emang udah di tetapkan,
dan menurutku waktu yang tepat hari ini
Aku nggak masalah Alma, kalau Umma Sarah ingin mengikatku menjadi menantu beliau secepatnya
Karena bagiku itu lebih baik, dan memudahkanku untuk menjaga Lutfan.
Alma tersenyum tipis. Kenapa harus berbelit-belit kalau alasan utamanya adalah Lutfan? Mardiyah terlalu gengsi.
^^^Aku paham, Mar^^^
^^^Lebih baik emang seperti itu^^^
^^^Jadi sekarang kamu mau menikah secara agama?^^^
Mardiyah
Iya
Dan walimatul'ursy nya satu hari setelah acara pernikahanmu dengan Jafar.
Nggak keberatan?
^^^Sama sekali nggak, Mar^^^
^^^Aku menantikan pernikahanmu^^^
^^^Kabari lagi nanti^^^
Tidak salah. Alma pun juga memaksa Jafar menikahinya detik di mana jenazah Bibi Maryam di pulang kan. Mungkin situasi ini berbeda, tetapi perasaan Alma dan Mardiyah sebagai perempuan tentu sama. Lagi pula, manusia mana yang sanggup bertahan saat melihat orang terkasih tak berdaya?
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Mar. Saya memahami situasimu," gumam Alma.
[.]