
"Azizah datang?" tulis Jafar di gawainya.
"Iya." Alma menuangkan air panas pada botol susu. Lalu menatap pada suaminya. "Mas ... kamu benar-benar akan membesarkan Rais, kan? Kamu nggak akan biarin dia tinggal di panti, kan?"
"Iya," jawab Jafar pelan.
Alma telah selesai membuat susu. Ia duduk di kursi dekat pintu dapur. "Saya mau kamu janji, sampai kapan pun Rais tetap akan menjadi bagian dari keluarga kita. Dia sudah jadi anak saya, Mas. Dia bagian dari hidup saya."
Jafar mulai mengetik di gawai lagi. "Saya tidak perlu menjanjikan apapun. Karena Rais memang telah menjadi bagian hidup kita. Tetapi, kamu perlu saya ingatkan, Alma. Bahwa Rais adalah laki-laki, kelak jika dia sudah berumur enam tahun, kamu harus sudah mulai mengajarinya tentang batasan. Supaya dia bisa menjaga sesuatu yang tidak boleh di langgar atas batasan dirinya dan Dilara."
"Saya tahu tentang itu, Mas. Kamu nggak perlu khawatir," ujar Alma.
Di dalam kamar, Dilara menatapi adiknya---Rais, yang sedang tertidur pulas dengan wajah tersenyum. Adik laki-lakinya dalam pandangan Dilara sangat imut dan tampan. Seperti di film-film yang biasanya ia lihat. Tetapi ia heran kapan Mamanya mulai mengandung? Sampai adik ini bisa keluar tanpa perut Mamanya yang membesar.
Aneh.
Tetapi ia tidak peduli. Bagian yang menyenangkan baginya adalah memiliki seorang adik laki-laki.
__ADS_1
"Lais, nanti kalau suda besal kamu halus jadi laki-laki yang baik. Halus jaga Embak, ya? Halus nulut sama yang Embak bilangin," tutur Dilara.
Dilara mencolek pipi Rais pelan. "Pokona kalau udah bisa bicala kamu halus bicala yang baik-baik. Halus pintel menyanyi juga kayak Embak, ya?"
"Iya, Mbak."
Suara itu membuat Dilara menengok ke samping ternyata sang Ibu memasuki kamar dengan membawa sebotol susu. "Rais bakal jadi hebat kayak Mbak Dilara. Nanti kalau sudah besar, Rais bakalan jaga Mbak terus."
"Mama? Mama habis bikinin ade susu?"
Alma mengangguk. "Iya. Ini susunya." Tangan kanannya mengusap-usap kepala Dilara. "Dilara kenapa bangun, Nak? Nggak tidur lagi?"
"Ooh, gitu?"
Dilara mengangguk.
"Sekarang nggak mau tidur lagi, Nak?"
"Engga, mau. Dilala lihatin ade aja, Ma," jawab Dilara.
__ADS_1
Bakda subuh Ummi Salamah yang tidak lain adalah Ibunya, ingin berbicara sesuatu tentang anak itu. Beliau meminta Jafar duduk di ruang tamu, dengan keadaan Alma, Dilara, dan juga Rais yang masih tertidur. Karena istrinya itu sedang haid.
"Kamu yakin membesarkan anak itu, Nak?"
Jafar mengangguk.
"Kalau begitu kenapa nggak kamu jadiin dia saudara sepersusuan saja sama Dilara?"
Jafar mengambil kertas dan pena yang terdapat di meja dekat sofa. "Dari awal mereka bukan saudara kandung ataupun sepupu. Jadi untuk apa saya menyatukan kedua anak manusia dalam ikatan ini? Toh, Rais baik-baik saja, Ummi. Dia cocok meminum susu formula," tulisnya.
"Jangan bilang kamu ... berencana menikahkan Dilara dan Rais?"
Jafar terdiam, tidak membuat pergerakan apapun.
"Jafar itu nggak benarkan, Nak?" ulang Ummi lagi.
Jafar mulai menggerakkan tangan lagi untuk menulis. "Tidak ada yang tahu bagaimana pasangan seseorang nantinya, Ummi. Tetapi jika Dilara bersedia. Rais pun juga harus bersedia. Anggap saja balas budi atas kebaikan yang telah saya dan Alma berikan, dengan menjaga Dilara untuk berada di sampingnya seumur hidup."
__ADS_1