
Satu tahun berlalu.
Segalanya dijalani dengan indah bersama, suka serta duka dilewati dengan semakin menumbuh cinta kasih di antara Alma dan Jafar. Kiranya mungkin dulu Alma sempat bersedih atas ketidak bolehannya mengandung, Jafar tentu memahami itu termasuk suatu pelarangan yang menyakitkan. Sebab menjadi Ibu ialah ingin yang Alma capai, begitupula dengan Jafar, menjadi Ayah adalah keinginan yang dulunya ia simpan rapat-rapat selama satu tahun.
Bahkan seorang wanita yang sekarang berdiri di depannya, yang detik kemudian berlari memeluknya erat-erat, masih terlihat seperti sediakala. Cantik, baik dan selalu menghargainya. Dengan senyum tipis Alma, istrinya itu mengangkat tangannya yang terlihat membawa barang yang orang-orang sebut itu dengan tespek.
"Mas, saya hamil."
Netra Alma yang selalu dipandangnya terlihat berkaca-kaca, pelukan pun tidak kunjung dilepas juga. Bahkan semakin erat saja.
"Saya ... saya bener-bener nggak nyangka pa---" Alma terisak-isak, bahagia yang tiada tara benar terasa nyata di benaknya dan juga Jafar. "Padahal, saya cuma iseng, Mas. Ternyata hasilnya gini."
Alma melepas pelukan, di tatapannya Jafar yang berbicara tanpa suara. "Duduk."
"Hm? Kamu minta saya duduk?"
Jafar mengangguk.
Sedangkan Alma berjalan duduk di ranjang, di susul oleh Jafar yang mengambil pena dan buku catatannya. Setelah itu Jafar duduk tepat di sebelahnya, sembari menulis.
"Untuk memastikan apa kamu mau memeriksa ke bidan bersama saya?" tulis Jafar.
Alma mengangguk-angguk. "Mau, Mas. Kenapa kamu pakai tanya segala, sih? ... Terus kamu bisanya kapan?"
"Sekarang?"
Membaca tulisan Jafar. Alma semakin bersemangat bahkan spontan memeluk sang suami lagi, dengan mendongak mengecup rahang kiri Jafar. "Eh ... ma-maaf, Mas. Habis saya seneng banget."
Jafar menggeleng dengan tersenyum tipis, seolah-olah mengatakan tidak apa-apa.
"Saya masih nggak nyangka. Semoga saya bener-bener hamil, Mas."
Jafar mengangguk-angguk, dengan tangan yang mengusap lembut surai hitam panjang sang istri. Setelahnya Jafar berhenti dan menulis lagi. "Ganti pakaianmu. Jangan lupa pakai kaos kaki, hari ini agak dingin pakai jaket juga."
__ADS_1
"Iya, Mas. Kamu juga. Saya ambilin jaket."
Alma cepat-cepat berganti pakaian. Hari ini ia merasa menjadi manusia paling berbahagia, sangat bahagia. Tespeck yang digunakannya ini akurat, ia membeli di apotek satu minggu lalu. Namun untuk memastikan memang lebih baik memeriksa saja.
"Mas di antar siapa?"
Jafar mengangkat buku catatannya. "Berdua saja."
Mengenai Jafar. Suaminya itu telah mengatasi masalah traumanya dalam berkendara, sungguh Alma bersyukur atas kehendak Allah pada takdir hidup suaminya. Meskipun belum bisa berbicara, setidaknya Jafar masih mengikuti terapi rutin.
"Mas, tiba-tiba saya pingin ayam bakar madu." Alma terlihat membayangkan bagaimana kiranya jika nanti makan. "Mampir kedai mau, ya?"
Jafar mengangguk.
"Sekalian nanti juga mampir ke kedai bersama. Saya juga tiba-tiba mau es krim. Boleh, ya Mas?"
Jafar mengangguk.
"Mau apa lagi?" tulis Jafar yang telah mengangkat buku catatannya.
Alma menunduk, pipinya memerah. Mengapa ia jadi malu seperti ini? Tidak apa-apa 'kan? Lagi pula ia meminta pada Jafar, suaminya sendiri.
"Saya mau ... bunga," cicit Alma dengan langsung berbalik memakai jaketnya, sebab ia tadi sudah berganti pakaian. Selanjutnya, mengunakan kerudung instan.
Saat berbalik, betapa terkejutnya. Jafar tepat berada di belakangnya. "Mas! Ya Allah ... saya kaget."
"Boleh. Ingin bunga apa?"
Membaca tulisan di buku catatan itu, senyuman Alma semakin merekah. Bahkan lagi-lagi spontanitas memeluk suaminya. "Mawar merah yang gelap gitu, cenderung agak maroon. Belinya di toko bunga harsa, ya Mas? Maunya saya di sana. Nggak pa-pa 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Mas ..."
__ADS_1
Alma baru saja tersadar, melepas pelukan perlahan. Jafar terlihat berekspresi biasa-biasa aja, biasanya Jafar akan tersenyum tipis. Namun saat mendengar kabar tentang kehamilannya seperti berbeda saja.
"Kamu kenapa?"
Jafar menggeleng dengan tersenyum tipis yang sangat dipaksakan.
"Kamu ... nggak bahagia ... saya hamil?"
Spontan Jafar mengambil gawainya, cepat-cepat mengetik di sana. "Kenapa berpikir seperti itu? Saya bahagia kamu mengandung, Alma. Tolong hapus pikiran buruk dari otakmu."
"Ta-tapi kamu kelihatan nggak suka. Nggak senyum sama sekali, senyum pun juga terpaksa."
Jafar menggeleng. Lantas mengetik lagi. "Saya hanya merasa khawatir. Bagaimana kelak anak itu lahir harus memiliki Ayah yang seperti saya, Alma."
Alma memahami arah pembicaraan Jafar. Maka tanpa banyak bicara tiba-tiba Alma menyusupkan tangannya pada pinggang Jafar, memeluk sang suami, lantas menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang selalu membuatnya nyaman.
"Kenapa harus khawatir? Harusnya ... anak ini bersyukur, lahir di dunia ini dengan memiliki Ayah seperti kamu. Selain baik hati, rajin mengaji, loyal, Ayahnya ini juga ganteng. Jadi harusnya dia bersyukur 'kan Mas?" Alma mendongak, sedikit berjinjit, tangannya menyentuh kedua rahang Jafar. "Sini. Cium dulu. Muach ..."
"Ayo. Kita berangkat! Tapi, senyum dulu, Mas ..."
Note:
Ini terakhir, ya!
Ada kabar gembira, Insya Allah Almahyra S2 berlangsung lagi 10 Maret 2020. Btw, cover barunya bagus nggak?
TADAAAA BOCORAN!
Di sana dedeknya udah lahir dengan nama Dilara Jahizah. Anak pertama. Ponakan Lutfan ini!
Jadi, saya harap kalian tetap menunggu, ya? Jangan lupa tetap simpan di favorit. Terima kasih🤍🌺
__ADS_1