
Satu bulan berlalu. Anak Azizah, yang di beri nama Rais oleh Jafar telah berumur satu bulan. Seperti permintaannya yang melarang Alma memberi asi, jelas di turuti oleh sang istri.
Bahkan Dilara sangat senang memiliki seorang adik. Setiap hari tidur bersama, menanyakan kabar Rais, dan yang paling sering adalah menunggu Rais bisa berbicara. Kata Dilara, ia ingin di panggil Mbak bukan Kakak. Lalu juga, ia ingin memanggil Rais dengan Adik, bukan sekadar nama saja.
Tentu Jafar dan Alma hanya bisa mengiyakan. Semoga kelak jika Rais sudah dewasa ia memenuhi keinginan Dilara untuk di panggil dengan sebutan itu. Karena bagaimana pun juga Rais sudah menjadi bagian dari keluarga besarnya.
"Mas, susunya tinggal dikit. Mau beli sama-sama?" tanya Alma.
"Sa-ya saja," jawab Jafar pelan.
Selama satu bulan itu pula Jafar terus menjalani terapi. Hingga beberapa kata sulit yang dulu ia tidak bisa, perlahan-lahan mudah ia ucapkan.
Sekarang jarum jam menuju pukul delapan malam. Supermarket masih buka, dan Jafar telah bersiap menggunakan jaket untuk berangkat membeli susu formula dan keperluan lainnya.
"Mas, kamu bisa?"
"Bisa," jawab Jafar.
__ADS_1
Alma bangkit dari ranjang perlahan. Supaya tidak membangunkan Dilara dan Rais yang sedang terlelap. Lalu setelahnya, ia berjalan ke arah laci membuka pelan dan mengambil tas belanja. "Pakai tas ini, Mas. Jangan beli lagi," ujar Alma.
Jafar mengangguk, dan menatap Alma sejenak. "Ka-mu mau a-pa?"
"Aku lagi nggak mau apa-apa. Kalau boleh, satu eskrim cokelat buat Dilara, Mas," jawab Alma.
Jafar telah berangkat. Alma berniat untuk membaringkan tubuhnya lagi di ranjang. Namun tertahan saat mendengar seseorang mengetuk pintu rumah beberapa kali. Mungkin Ummi sudah tidur? pikirnya langsung berjalan ke depan.
Saat tangan Alma membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Namun saat matanya merendah, menatap bawah lantai ada paper bag yang tergeletak di sana.
Di dalam paper bag itu berisi Al-Qur'an mini, surat di amplop putih, dan yang terakhir kalung emas berinisial A. "Jangan-jangan ini dari Azizah?"
Alma terburu-buru membuka pintu lagi. Dan berlari begitu cepat mencari-cari Azizah, ia pun juga ke depan gerbang untuk bertanya pada penjaga. Namun sayangnya mereka tidak tahu, mereka hanya menjawab bahwa banyak orang yang masuk, di antaranya adalah para ustazah.
"Kenapa dia nggak masuk?" gumam Alma yang kembali masuk ke dalam rumah dengan lemas.
__ADS_1
Tiga langkah ia memasuki rumah, terdengar suara Rais menangis begitu keras. Hingga Alma terburu-buru lari memasuki kamar dan menimang-nimang Rais, dan tidak lupa memberikan susu supaya anak laki-laki ini segera terdiam.
"Rais ... kenapa, Nak? Di gigit nyamuk? Atau mimpi buruk, Sayang?" ujar Alma lembut.
Tangisan Rais mereda. Dilara pun tidak terusik tidurnya, Alma berencana membaca surat yang bersembunyi di balik amplop putih itu. Maka ia pun mengajak Rais duduk di ruang tamu, dengan tangan yang memegangi selembar kertas folio.
Assalamualaikum, Mbak Alma.
Saya punya hadiah kecil untuk bayi yang baru berusia satu bulan itu. Mbak pasti sudah lihat, kan? Hadiahnya adalah Al-Qur'an. Saya membelinya dengan uang yang saya sendiri, Mbak. Tolong Mbak dan Gus Jafar sering-sering bacakan untuk dia, ya? Saya mohon.
Lalu kalung itu, adalah pemberian Abi dulu. Simpan saja, Mbak. Berikan pada dia nanti kalau sudah dewasa, dan Mbak bilang saja bahwa itu adalah peninggalan dari wanita yang melahirkan dia.
Saya tidak berencana menemui dia, Mbak. Saya benar-benar berterimakasih Mbak dan Gus telah mengangkat bayi itu menjadi anak kalian. Semoga saja kelak jika dia dewasa dia mendapatkan segala kebaikan dari kedua orang tua angkatnya.
Aamiin.
Terimakasih Mbak Alma sudah bersedia menjadi Ibu untuk anakku.
__ADS_1
Tanpa sadar air matanya jatuh. Alma menunduk, ia menatap Rais yang kembali terlelap. Anak ini ... apa tadi menangis karena tahu Ibunya datang? batinnya.
"Nak ... semoga harapan baik Ibumu benar-benar terkabulkan nantinya. Mama Alma dan Ayah Jafar akan terus menjaga kamu," gumam Alma.