
Jafar menyambut Robin Shaukat di tempat makan bersama laki-laki, bukan di kediamannya. Alasan itu ia lakukan karena dekat, tidak jauh seperti kediamannya yang di depan gerbang pesantren. Tetapi adab dalam menyambut tamu ia terapkan, ia menyuguhkan segala makanan serta minuman yang cukup untuk di nikmati.
Setelah beberapa menit akhirnya Robin menatap Jafar lagi. Lelaki itu berucap, "Anda mengenal saya, kan, Gus?"
"Lebih tepatnya saya mengenal Ayah anda," jawab Jafar.
Robin mengangguk-angguk.
"Saya telah menjadi penyumbang tetap di panti asuhan Al-Hikmah. Dan saya ingin Gus Jafar memberikan anak panti asuhan yang memanggil anda dengan sebutan Ayah tadi," ujar Robin.
Alis Jafar terangkat. Maksud orang ini ... Rais? batinnya. "Kenapa dengan anak itu?"
"Saya tahu anak itu bukan anak anda."
"Informasi dari mana?"
"Anda tidak perlu tahu, Gus. Saya hanya meminta anak itu, karena anak itu memiliki darah keluarga saya," jawab Robin.
Tatapan mata Jafar menajam. "Anak anda?"
"Bukan urusan anda untuk mempertanyakan hal pribadi ini. Bagian terpentingnya anda tahu bahwa anak itu memiliki darah yang sama dengan saya," balas Robin.
Jafar menggeleng, lalu memandang ke arah gelap tepat di belakang bangunan pesantren. "Apa susahnya bagi anda untuk menjawab ya atau tidak?"
__ADS_1
Robin terdiam.
"Anak itu adalah anak saya. Bukan kehendak anda mengambilnya, karena dia besar di bawah tanggung jawab saya dan istri saya. Bukan di bawah naungan rumah panti asuhan Al-Hikmah," jelas Jafar dengan tegas.
Robin mengeluarkan sesuatu di dalam sakunya. Ada selembar kertas yang ternyata adalah cek senilai uang lima ratus juta yang bisa di cairkan.
"Apa uang ini kurang?"
Jafar memandang Robin. "Seberapa pun anda memberikan saya uang. Anak itu tetap tidak akan saya serahkan. Lagi pula anda bukan Ibu atau Ayahnya."
"Baik-baik lah. Anda ingin tahu hubungan saya dengan anak itu, kan?" Robin menjeda beberapa detik. "Saya Pamannya."
"Jadi siapa yang menghamili Azizah?"
Robin terdiam.
Robin akhirnya menjawab, "Adik saya."
"Sekarang dia masih hidup?"
"Pertanyaan anda terlalu kasar, Gus." Robin menggeser cek itu ke arah Jafar. "Tapi jika anda ingin tahu. Jelas sampai sekarang adik saya masih bernafas."
Jafar tiba-tiba saja bangkit. "Jika begitu, ajak adik anda yang masih bernafas itu, untuk mengambil anak yang di tinggalkan Azizah di rumah saya."
__ADS_1
Alma mematung.
Niat hati berhenti di tempat makan laki-laki, untuk mengambil air dari kran terdekat. Namun, berakhir mendengar pembicaraan ini. Suaminya dan anak dari pemilik Bank Fortunata itu membahas soal Rais. Alma sudah menduga, Azizah tidak mungkin melakukan itu dengan sembarangan orang.
Buktinya lima tahun berlalu. Orang ini yang mengaku sebagai Paman dari Rais ingin mengambil buah hati yang ia besarkan bersama suaminya.
"Gus, seharusnya tahu seberapa bajingannya adik saya." Lelaki itu menjeda. "Dia tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan Azizah."
"Lantas sekarang anda ingin saya membawa laki-laki yang tidak menganggap keponakan saya itu ada?" lanjut Robin.
Jafar terlihat berhenti.
"Jika adik anda saja tidak ingin mengakui anak itu. Lalu untuk apa anda berada di sini?" Jafar berbalik. "Anda hanya seorang Paman, bukan Ayah kandung."
"Apa menjadi Paman dari anak itu saja tidak cukup?" Lelaki itu ikut berdiri. "Saya ingin kehidupan dari keturunan Shaukat terjamin. Saya tidak ingin dia hidup di lingkungan yang terlalu tertutup seperti ini."
"Jika Azizah meninggalkan anaknya di sini. Bukankah berarti dia suka rela membiarkan anaknya tumbuh di lingkungan ini?" Jafar mendekat lagi pada lelaki itu. "Jadi berhenti berbicara, seolah-olah pesantren adalah tempat yang tidak bisa berkembang."
Alma ingin menyelah. Namun rasa-rasanya akan percuma.
"Keturunan keluargamu itu akan hidup terjamin. Anak itu pun, akan saya pastikan tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab," tuntas suaminya, yang langsung melenggang pergi. Alma terburu-buru bersembunyi.
__ADS_1
[.]