
Sesuai janji Jafar bahwa pukul sembilan ia akan berangkat ke outlet. Dan Alma hanya diperkenankan istirahat saja, sebenarnya ini sangat membosankan tapi ia harus menaati prosedur sebelum operasi. Belum lagi juga, ia besok harus berpuasa, jadi ia hanya menurut saja pada keputusan Ummi Salamah.
"Alma ..."
Dari dalam rumah ia mendengar Ummi Salamah memanggilnya.
"Iya, Ummi?"
Ummi Salamah melihat ke kanan dan ke kiri jalan. "Udah berangkat Masmu?"
"Udah, Ummi. Kenapa?"
Ummi Salamah menggeleng. "Nggak pa-pa. Ummi mau ke Adiwangsa Hospital habis ini. Nanti Dimas datang ambil air mineral gelas di sini, tolong kamu tungguin, ya Nak?"
Oh iya, besok Jumat bersama. Kenapa juga harus hari Kamis gini? Mana nggak ada orang lagi.
"Alma ... kamu denger, Nak?"
Alma mengangguk kecil. "Iya Ummi Alma denger. Siap, nanti Alma tungguin."
Mungkin Alma berbohong perihal menunggui. Ia tak akan mau bertemu dengan Dimas lagi, atau dengan terpaksa ia akan bertemu dengan perantaraan anak panti asuhan. Alma berencana mengundang Kirana dan Inayah, karena Mbok Isna masih belum masuk kerja, dan tiba-tiba saja cucu beliau datang. Sungguh ia tak mau kesalahpahaman berulang lagi. Cukup. Itu sangat memuakkan.
"Ummi di jemput sama Cak Sur. Nanti kalau kamu laper, masak ya Nak? Ada banyak bahan makanan di kulkas. Pokoknya kamu jangan bersih-bersih rumah banyak-banyak, nyapu nggak pa-pa. Cuci piring sama ngepel nanti biar Ummi aja," jelas Ummi Salamah.
"Ya Allah Ummi ... Alma ini cuma operasi kecil kok. Nggak pa-pa biar nanti Alma bersih-bersih rumah sekalian semuanya. Nggak bakal capek kok, nanti juga Alma mau ngajak Kirana sama Inayah ke rumah pasti mereka bantuin Alma," ucap Alma.
Kedua tangan Ummi Salamah terangkat menampilkan dua jempol. "Bagus. Baiknya emang kamu undang mereka ke sini, adik-adik asramamu itu pasti kangen sama kamu. Jadi kalau Ummi tinggal kamu juga ada temannya."
Suara klakson mobil---sepertinya Cak Sur sudah datang. Alma mengambil tangan Ummi Salamah dan menciumnya. Dan sebelum pergi beliau berujar, "Di kulkas juga ada es krim, nanti kamu kasih ke Kirana sama Inayah aja."
"Iya Ummi. Makasih. Hati-hati Ummi," ucap Alma.
Setelah mobil meninggalkan pelataran pesantren. Alma membuka gawainya untuk mengirim pesan pada Salsa.
^^^Salsa^^^
Beberapa detik tiba-tiba balasan dari Salsa muncul.
Salsa
Iyo Mbak?
Ada apa toh?
^^^Inayah sama Kirana masih sekolah?^^^
Salsa
Masih Mbak.
Habis ini aku jemput mereka
Kenapa toh?
^^^Bisa ajak mereka ke pesantren?^^^
Salsa
Isok Mbak isok
Nanti tak ajak mereka ke sana
^^^Oke. Makasih Sal^^^
Biasanya memang jam sepuluh anak-anak seusia Kirana dan Inayah pulang sekolah. Alma memilih menunggu di ruang tamu saja, suatu keberuntungan karena rumah Ummi Salamah tidak terlalu berdekatan langsung ke pesantren---maksudnya bukan akses keluar masuk santri. Jadi tidak akan terlalu ramai lalu-lalang orang.
Alma menengadah dengan disusul helaan napas pelan---tangan kanannya meraba perut, hernia ini nampak kecil dan tak terlalu terlihat. Namun saat disentuh terasa keras dan menonjol. Apakah nanti operasinya akan sakit? Ah, tidak-tidak. Pasti di bius. Maksud Alma, apa nanti setelah ia sadar rasa dari bekas operasi tadi sakit? Ia hanya berharap semoga tidak.
Kling!
Gawainya kembali berbunyi. Ia pikir itu Salsa. Ternyata Mardiyah.
Mardiyah
Terima kasih untuk tadi malam, Alma
^^^Memangnya apa aku lakuin tadi malam?^^^
Mardiyah
Maaf merepotkanmu dan Jafar
Sekarang Alma paham arah pembicaraan ini. Mardiyah berterima kasih atas bantuan dirinya dan Jafar mengenai penanganan Lutfan kemarin malam. Harusnya tak perlu seperti ini. Karena ia dan Jafar adalah bagian dari keluarga, sudah sepantasnya saling membantu tanpa berpikir tentang merepotkan atau pun tidak.
^^^Sama sekali enggak, Mar^^^
Mardiyah
Alma, beri aku pertanyaan yang sama
^^^Maksudnya?^^^
Mardiyah
Pertanyaan yang dulu pernah aku ajukan sebelum pernikahanmu dengan Jafar terjadi
Ingatan Alma melambung di masa lampaui di mana dulu pertengkarannya dengan Mardiyah yang terselip pertanyaan mengenai malu tidaknya ia memiliki suami yang tunawicara. Saat itu Alma ingat betul bahwa ia menjawab tidak, dan Mardiyah mengelak berpikir ia menerima Jafar karena harta serta keturunan keluarga yang baik.
__ADS_1
Jadi sekarang, Mardiyah ingin ia bertanya mengenai malu tidaknya ia memiliki suami yang lumpuh kelak?
Gawai kembali berbunyi.
Mardiyah
Aku jawab, Alma
Aku sama sekali nggak merasa malu
Jeda tiga detik gawai berbunyi lagi.
Mardiyah
Aku percaya, Alma
Lutfan memang orang yang tepat
Dia akan menjadi suami yang baik
Tiga detik kemudian gawai berbunyi lagi.
Mardiyah
Perasaanku selama ini salah
Bahkan aku terlambat menyadari perasaan Lutfan
Alma memahami manusia terkadang tak begitu menyadari bahwa perasaan terdalam dari orang-orang di sekitarnya. Karena sungguh biasanya itu sangat samar, orang-orang terlampaui lambat untuk sadar.
Mardiyah
Maaf pernah hendak mengambil Jafar darimu
Maaf juga karena pernah mengajukan pertanyaan tak berbelas kasih itu ke kamu, Alma
Tolong do'akan untuk kesembuhan Lutfan
Sudah beberapa kali Alma meminta pada hatinya untuk tak lagi-lagi membandingkan cobaan yang diterimanya dan orang lain. Namun rasanya tak bisa. Mardiyah pernah bilang, bahwa memandingkan kesedihan dengan orang lain bukan lah suatu hal yang baik. Alma tahu. Tapi entah mengapa, kesakitan yang dirasakan Mardiyah, Umma Sarah, Ummi Salamah, Jafar dan juga Lutfan terasa sangat berat.
Menjadi pendamping hidup Jafar selama berhari-hari ini membuatnya sadar. Bahwa tak seharusnya tangisan ini lebih menyakitkan dibandingkan tangisan suaminya. Jafar bertahan hidup dengan kesedihan yang tiada akhir, Alma selalu mengingat tatapan tajam lelaki itu dipertemukan pertanyaan dahulu. Sekarang ia memahami, bahwa penerimanya atas diri Jafar saat ini, mampu membuat lelaki itu bangkit dan kembali merasa berguna untuk orang-orang di sekitarnya.
^^^Mar, Mas Jafar pernah bilang bahwa penerimaan lebih penting dibandingkan rasa cinta bagi orang-orang yang kekurangan seperti dirinya^^^
^^^Kamu ngerti 'kan maksudku Mar?^^^
^^^Rasa cintamu itu nggak akan pernah cukup untuk Lutfan, jika rasa penerimaanmu atas diri Lutfan masih terbilang kecil^^^
Mardiyah
Rasa penerimaan dia terhadapku saja begitu besar. Lalu atas alasan apa lagi aku nggak menerima dia?
Layar gawai Alma matikan. Pesan itu adalah akhir dari jawaban Mardiyah. Terkadang ia iri bagaimana rasanya tumbuh bersama sewaktu kecil dengan Jafar juga?
"Assalamualaikum."
Suara nyaring salam dari pintu utama menyadarkan lamunan Alma. "Waalaikumussalam."
"Kak Alma!"
Kirana berbalik menghambur dipeluknya.
"Kirana kangen, Kak!"
Senyum tipis Alma tampilkan. "Kak Alma juga kangen."
Alma mendongak menatap Salsa dari tempat duduknya. "Sal, duduk."
"Endak, Mbak. Aku mau ke ..." Ucapan Salsa tertahan.
"Ke?" tanya Alma.
Salsa menunjuk sisi kiri. "Ke Ustazah Aini, Mbak."
"Ooh. Silakan-silakan. Nanti kalau udah ke sini lagi, ya?"
Salsa pergi. Kirana dan Inayah mengambil duduk di sofa panjang sesuai permintaan Ummi Salamah juga, es krim di lemari pendingin di berikan kepada adik-adik panti asuhan.
"Ba-bang Lutfan sakit, ya Kak?" tanya Inayah.
Alma mengangguk. "Iya. Do'ain Bang Lutfan, ya Nay Na?"
"Pasti Kak. Kirana tadi sholat subuh udah do'a kok. Pasti Allah bakal kabulin do'a Kirana sama Inayah. Iya 'kan Nay?" ucap Kirana.
"I-iya. Aamiin."
...🌺...
"Assalamualaikum."
Suara ketukan pintu---yang Alma yakin itu adalah Dimas, membuatnya minta Kirana yang membuka pintu dan menyambut cucu Mbok Isna.
"Waalaikumussalam, ada apa Mas?"
"Ooh. Kirana?"
"Iya aku Kirana. Mas Di dititipin apa? Mau ambil apa?"
__ADS_1
"Air mineral gelas, Na."
"Silakan, Mas."
Sengaja Alma bersembunyi di bilik dapur. Sesaat setelah pintu utama kembali di tutup Alma keluar, berterima kasih atas bantuan Kirana.
"Kak ini udah sore. Aku sama Inayah mau pulang ta ... pi, kok Kak Salsa belum balik, ya?" ucap Kirana.
Benar. Ini sudah sore. Langit jingga serta awan-awan hitam menggumpal, sepertinya akan hujan. Mengapa juga Salsa belum kembali?
"Kak Alma mau cek---"
"Assalamualaikum. Maaf lama, Nay, Na. Ayok pulang," ucap Salsa yang tiba-tiba saja datang.
Anak-anak panti asuhan telah pamit. Rumah ini kembali sepi, sejujurnya ia tak suka suasana sunyi ini. Ia butuh ditemani oleh siapa saja. Bahkan Jafar---suaminya, masih pulang nanti sekitar pukul tujuh. Jadi selama itu, ia harus di rumah sendirian.
Kling!
Gawai yang ia letakkan di meja berbunyi.
Jafar
Kamu sedang melakukan apa?
Kedua sudut bibirnya terangkat. Entah ia memang sudah terikat dengan Jafar atau entah ini suatu kebetulan saja. Suaminya itu selalu ada di saat-saat ia merasa butuh.
^^^Saya nggak ngapa-ngapain^^^
^^^duduk aja^^^
Jafar
Ingin makan apa?
^^^Apa aja yang kamu bawa saya makan^^^
Jafar
Saya sedang menawarkan, Alma
jangan menjawab seperti itu
^^^Saya udah makan, Mas^^^
^^^Saya tadi masak^^^
Jafar
Kalau begitu kamu ingin apa?
Ia ingin apa? Sedang tidak ingin apa-apa. Ia hanya butuh ditemani saja.
^^^Kamu^^^
Jafar
Kamu?
Saya?
Apa yang kamu mau dari saya, Alma?
^^^Kamu masih belum pulang?^^^
Jafar
Saya tidak suka pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.
Kamu jawab pertanyaan saya tadi
^^^Saya cuma mau ditemani, Mas^^^
^^^Kamu masih kurang berapa outlet lagi?^^^
Jafar
Satu outlet lagi
Setelah itu saya akan pulang
^^^Ya udah. Hati-hati saya tunggu Mas^^^
Jafar
Tolong tunggu sebentar
Saya akan segera pulang
^^^Iya Mas.^^^
[.]
Note:
Salah satu keluarga besar di WIYATI akan berpengaruh pada cerita Beda Tiga Tahun.
__ADS_1