
Setelah makan bersama, sekitar pukul dua dini hari semua kembali terlelap. Selain Alma yang tetap terjaga, ia tidak menemukan posisi tidur kembali yang nyaman. Di pandanginya Lutfan dari kejauhan, ia memahami bahwa jikalau lelaki tengil itu bangun dan sadar akan keadaan dirinya yang tak sama lagi, mungkin tawa bahagia yang selalu di dengar Alma akan sulit untuk kembali.
Jafar pun tadi masih bisa tersenyum, Alma begitu bersyukur. Ia hanya takut lagi-lagi cobaan ini membuat satu sisi dalam diri suaminya terluka kembali dan mengingat-ingat kejadian lampaui tentang kecelakaan.
Alma menghela napas pelan, di mainkan gawainya. Hingga tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Ummi Salamah, mertuanya.
Ummi
Nanti kalau bangun tolong telepon Ummi, Nak.
^^^Ummi, Alma belum tidur^^^
^^^Kenapa?^^^
Ummi
Ummi mau tanya keadaan kamu gimana?
^^^Alma nggak pa-pa, Ummi^^^
Ummi
Sesudah subuh kamu pulang, ya?
^^^Iya^^^
^^^Nanti Alma balik lagi agak siangan^^^
Ummi
Nggak kamu di rumah aja
Jumat kamu harus operasi
Ummi minta kamu istirahat
Alma cemberut. Sebenarnya yang diucap Ummi Salamah benar, tapi ia ingin membantu menemani Lutfan. Hari ini Kamis dan besok adalah Jumat, berarti ia memang harus istirahat total untuk persiapan operasi hernia.
^^^Iya Ummi^^^
__ADS_1
Layar gawai mati dan diletakkan gawai di atas nakas. Alma berdiri merenggangkan tubuhnya, ia menengok memandangi wajah manis Jafar saat terlelap begitu teduh dibawah lampu yang sangat terang. Ia berjalan sembari meraba-raba dinding mencari tombol lampu, ia sedikit kesulitan kalau terlalu banyak cahaya, karena sungguh remang-remang lebih membuat nyaman untuk proses tidur.
"Aah--astaghfirullah, Mas ... kamu ngagetin saya."
Pinggangnya yang sentuh tiba-tiba sangat membuatnya terkejut. Bahkan langkah kaki Jafar terlalu ringan, Alma tak dapat mendengar langkah, jelas tidak salah ia terkejut.
"Kok kamu bangun?"
Jafar menggeleng.
"Kenapa? Mau ke kamar mandi kamu? Atau butuh sesuatu?"
Jafar menggeleng, dan menarik Alma untuk duduk kembali di kursi single masing-masing. "Kenapa tidak tidur?" tulis Jafar di buku catatan.
"Nggak bisa."
Jafar menggerakkan bibir. "Kenapa?"
"Lampu." Alma menunjukkan ke atas. "Terlalu terang."
"Kamu tinggal memenjamkan mata pasti akan gelap," tulis Jafar.
"Kalau begitu saya temani," tulis Jafar dan mengubah posisi kursi singlenya saling berseberangan dan di beri jarak sekitar lima puluh centimeter. Jafar kembali duduk dan menulis. "Taruh kaki kamu di atas paha saya."
"Nggak mau, nanti kamu capek. Bisa kesemutan juga, Mas," tolak Alma.
Jafar menunduk---menarik paksa kedua kaki istrinya yang meronta-ronta enggan untuk di angkat. "Mas Jafar ..." ucap Alma pelan.
"Lepasin tangan kamu dari kaki saya, Mas."
Jafar menggeleng dan menggerakan bibir. "Diam."
Alma berdecak kesal. Sungguh ia hanya takut bertumpuan seperti ini bisa membuat kaki suaminya sakit.
"Ummi meminta kamu untuk istirahat yang cukup. Kamu tidak lupa 'kan? Bahwa Jumat kamu menjalankan operasi hernia," tulis Jafar.
"Iya, Mas. Saya nggak lupa. Ummi juga tadi ngirim pesan saya disuruh pulang subuh nanti," jelas Alma.
Jafar menggerakan bibirnya. "Tidur."
__ADS_1
"Iya. Saya lagi berusaha Mas."
Alma memenjamkan netranya sekitar delapan detik terbuka lagi, ia kesal---tetap tidak bisa tidur. "Mas ... gimana sih caranya tidur?"
"Ini mata saya nggak mau tidur. Saya capek, tapi saya nggak bisa tidur, lampunya ganggu," ucap Alma dengan merengek.
Jafar melempar pelan jaketnya. Kemudian mengangkat buku catatannya. "Tutup wajahmu dengan jaket."
Alma mengangguk.
"Ha ... rum."
Aroma tubuh Jafar dengan perfume menyatu di jaket hitam ini. Memabukkan. Rasanya seperti dipeluk oleh Jafar, sungguh ia tak berbohong. Belum lagi kedua kakinya yang di pijat-pijat pelan, suatu kenikmatan yang sangat langka.
"Kayaknya ... saya ... mulai ngantuk Mas."
Alma tentu tak bisa melihat reaksi Jafar, tapi ia merasakan kedua kaos kakinya dibuka oleh Jafar. Sepertinya niat memijat Jafar sangat besar, sampai-sampai ia merasakan minyak kayu putih terasa di berikan di telapak kakinya.
"Hangat, Mas."
"Ka ... mu, pinter banget."
Kantuk kian menyerang Alma.
"Makasih Mas ... Ma ... kasih."
Deru napas Alma mulai normal tapi mulut wanita didepannya ini tak kunjung diam.
"Saya ... saya bakal kasih kamu upah ... upah ... hadiah."
Terlihat jaket bergerak karena Alma mengangguk-angguk. "Apa pun. Tapi ... jangan minta ... yang mahal, ya ... Mas?"
Terdiam.
Tiada kelanjutan.
Jafar bersyukur, istrinya telah terlelap tidur.
[.]
__ADS_1