
Enam hari berlalu. Maka tepat seminggu di mana ia dan Jafar menginap di Lazuardi hotel. Pagi ini setelah sarapan ia dan Jafar segera check out, tentu kembali lagi ke pesantren. Sudah lama sekali merindukan pesantren, dapur dan panti asuhan.
Aneh memang.
Tapi ia benar-benar rindu tentang dapur. Karena di tempat itu begitu banyak kenangan dirinya dan Jafar. Cukup banyak. Ia rindu juga di masakan oleh suaminya.
"Kamu ingin mampir ke sesuatu tempat sebelum pulang?" Jafar mendekatkan gawai padanya.
Alma menggeleng. "Langsung pulang aja. Saya kangen rumah, Mas."
Keduanya di jemput oleh Cak Sur. Sopir yang biasa mengantar Lutfan, karena tadi Cak Yanto harus mengantar Mardiyah dan Umma Sarah ke kota. Sedangkan Ummi Salamah menemani keponakannya itu di panti asuhan bersama Salwa.
Lagi-lagi juga fakta yang mengejutkan datang dari Mardiyah---yang mana ternyata dia adalah keturunan dari Gautama Adiwangsa, cucu tidak sah dari Manggala Adiwangsa. Alma tak ingin ikut campur lebih dalam, namun ternyata sesuatu di dunia ini tidak pernah benar-benar kebetulan saja. Semua sudah tergaris, begitu pula dengan kehidupannya sekarang.
"Sampun sampai Gus, Mbak," ujar Cak Sur.
Alma benar-benar tak sadar ternyata bisa sampai secepat ini. "Cak Sur, makasih."
"Nggih sami-sami."
Akhirnya ia dapat kembali melihat kolam ikan, pohon-pohon lebat, persawahan dan lebih-lebih taman indah di mana biasanya ia berbincang-bincang dengan Jafar. Seperti tak melihatnya setahun saja.
"Tidak ingin masuk?" Jafar mengangkat buku catatannya.
Alma menunduk sejenak dan memilin tangannya. "Eghmm ... saya mau lihat-lihat pesantren. Boleh? Gimana kalau kamu ajak saya ke taman yang bisanya? Yang dekat sama persawahan itu lho, Mas."
Saya sadar.
Saya memang agak cerewet akhir-akhir ini.
"Kalau kamu nggak bisa nggak pa-pa, Mas." Alma menjeda sejenak. "Habis ini juga kamu mau ke itu kan? Apa? ... outlet kan? Jadi ya nggak pa-pa lah kapan-kapan aja. Atau nanti saya juga bisa jalan-jalan sendiri ke taman itu. Kamu juga kelihatannya kayak capek banget."
Jafar terlihat tersenyum tipis dan mengusap pucuk kepala Alma yang tutupi kerudung.
"Kenapa senyum? Nggak bisa nggak pa-pa lho Mas. Saya nggak bakalan marah."
Lelaki itu mengeluarkan gawainya dengan sedikit menunduk menulis di sana. "Kamu semakin hari semakin manis saja, Alma."
Terdapat jeda di aplikasi note. "Ingin ke sana sekarang? Atau ingin masuk dulu?"
__ADS_1
Alma mengangkat kedua tangan sejajar pada dada bidang Jafar, ia seolah-seolah mengatakan, tunggu dulu. Lantas detik selanjutnya ia berlari ke arah dapur, mengambil air mineral dan meneguknya perlahan dengan duduk.
Setelahnya cepat-cepat ia kembali ke depan rumah dan menggandeng lengan Jafar. "Ayo, Mas! Sekarang."
Saat perjalanan menuju taman, Alma merasa ada yang aneh. Karena para santri dan santriwati menyapa Jafar dengan senyum-senyum tak jelas.
Ooh ... tanganku.
Tersadar detik itu pula ia melepas gandengan tangannya pada lengan Jafar. Salah tingkah rasanya. Kenapa semenjak ... kejadian sepulang dari perpustakaan nasional ia jadi manja dan tak ingin jauh seperti ini? Menyebalkan! Bagaimana kalau nanti Jafar merasa tertekan?
"Kenapa diam?" Jafar mendekatkan gawainya.
"Hm?" Alma tersadar. "Ya pengen diem aja. Soalnya lagi jalan."
Sesampai di taman biasa, yang langsung disajikan dengan pemandangan persawahan di mana orang-orang mulai bertani. Indah. Seminggu sudah ia tak melihat ini, walau sudah memasuki pukul delapan pagi tetap masih sejuk. Karena ternyata semalam hujan, kursi yang di dudukinya pun sedikit basah, becek walau sebagian sudah kering.
"Kamu ingin waktu sore-sore kita duduk di sini?"
Jafar mengangguk.
"Kamu tulis gini, apa nanti saya bisa menjadi Ayah yang bijak dan sebaik Abi?" Alma tersenyum tipis dan menghela napas. "Saya mau ulangi jawaban saya boleh, Mas?"
Jafar mengangguk, lagi.
Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Ummi bilang, kamu seperti Abi, Mas. Mungkin bedanya ada di cara kamu memperlakukan diri sendiri."
"Maksud kamu?" Jafar mendekatkan gawainya.
"Kamu sulit percaya diri sendiri, kamu menyakiti diri sendiri." Alma mengalihkan pandangannya pada awan-awan biru putih yang tersusun indah di langit cerah. "Bukan karena kekurangan kamu."
"Ummi sempat bilang, bahwa hidup menjadi kamu sangat berat, Mas. Sebelum terjadi kecelakaan pun, kamu ternyata orangnya pendiam, menutup diri. Saya baru tahu beberapa hari ini, dan kamu ..." Alma menengok sejenak. "Jangan salahin Ummi, saya yang tanya beliau sendiri."
"Tapi ..." Alma mengambil tangan Jafar dan menggenggamnya erat. "Kamu itu tetap kamu kok. Nggak perlu jadi orang lain, saya suka kamu kayak gini."
"Lagi pula juga ... kamu nggak setertutup dulu."
Jafar mendekat gawainya. "Maafkan saya."
"Dan juga ini nih. Kamu sering meminta maaf, Mas." Dengan tertawa Alma kembali berujar, "Kalau kata Ummi, Abi seringnya bilang sayang-sayang gitu."
__ADS_1
Alma tersenyum tipis dengan menengok menatap Jafar. "Kamu ini nggak salah apa-apa, Mas. Suka banget minta maaf, hm?"
"Jika saya merasa telah melakukan kesalahan. Saya memang harus meminta maaf, Alma," tulis Jafar di gawai.
"Hmm ... tapi kamu nggak ada buat salah apa-apa kok." Alma tetap menggenggam tangan Jafar dengan menyandarkan kepalan di bahu suaminya.
"Kamu aneh. Di saat saya ingin meminta maaf kamu seakan-akan membuat saya tak bersalah. Namun saat saya tidak meminta maaf dan jelas saya bersalah, kamu tiba-tiba saja memaafkan saya. Bahkan tanpa saya meminta maaf," tulis Jafar dengan cukup panjang.
"Kamu tahu karena apa?"
Jafar menggeleng.
"Karena dari sudut pandang saya. Saya merasa kamu nggak buat salah, Mas. Udah, itu aja."
Sebab bagi Alma untuk apa meminta maaf, saat jelas-jelas saja tak ada perbuatan buruk yang suaminya lakukan. Jika seperti yang terjadi di panti asuhan dulu, di mana tangannya di genggam dan di tarik begitu kuat. Baru lah itu, Alma merasa Jafar salah. Bahkan wajib untuk meminta maaf. Walau sebenarnya pun, ia terlebih dahulu yang memaafkan Jafar sebelum lelaki itu menuliskan kata maaf.
"Baiklah. Jadi kamu ingin kebiasaan saya yang seperti apa?" tulis Jafar.
Alma menggeleng. "Jangan tanya saya, Mas. Lakukan kebiasaan baru yang kamu sukai saja. Jangan berpatok pada ucapan saya."
"Jika kebiasaan saya bersangkutan paut dengan kamu. Apa kamu tidak keberatan?"
Setelah membaca itu, ia tertawaan ringan. "Boleh aja, asal nggak merepotkan saya."
"Sepertinya akan sedikit merepotkan," tulis Jafar.
Dilepaskannya genggam tangan itu. Alma menatap Jafar dengan teliti. "Emangnya apa? Kamu buat kebiasaan baru yang seperti apa?"
"Pelukan."
Alma tersenyum tipis membaca itu. Ia mengangguk-angguk. "Pelukan, ya? Enggak merepotkan kok."
"Saya ingin sebelum berangkat dan sesudah pulang dari kerja kamu memeluk saya, Alma. Saya ingin itu menjadi kebiasaan yang akan menjadi wajib," tulis Jafar.
Alma mengangguk. "Iya, Mas."
Bukan sunah lagi. Sudah menjadi wajib ini.
Note:
__ADS_1
Insya Allah up dua kali. Next bagian agak malaman.
Sudah bisa membayangkan gambaran kisah Lutfan dan Mardiyah, kan? Nanti di Beda Tiga Tahun akan saya buatkan pohon keluarga Adiwangsa, ya walau Mardiyah bukan anak sah. Jika ingin mengenal keluarga Adiwangsa lebih dalam bisa baca WIYATI.