
Pada akhirnya, Jafar tetap meminjam pakaian tidur kepada Ummi Salamah. Alma merasa untuk istirahat sepagi ini tidak lah perlu sampai mengganti pakaian---melepas kerudung pun sudah cukup. Namun mau bagaimana lagi? Jafar keras kepala.
Bubur sudah Alma lahap habis begitu pun teh sudah di seduhnya. Gawai Jafar yang berada di samping nakas bermode silent tiba-tiba saja hidup menampilkan notifikasi.
"Lutfan?"
Alma sekilas dapat membaca isi pesan dari Lutfan.
Lutfan
Mas, kenapa sampean nggak bilang kalau cewek yang namanya Azizah itu datang tadi malam?
Pintu kamar mandi terbuka. Secepatnya Alma kembali pada posisi semula, dan pandangannya beralih pada Jafar yang baru saja keluar dengan handuk di tangan kanannya serta sisa air yang masih menetes dari rambut depannya.
"Itu tadi saya lihat ponsel kamu hidup. Takutnya ada yang penting," ucap Alma.
Jafar mengambil gawainya, dan beberapa detik kemudian raut wajah berubah---Alma yakin Jafar telah membaca pesan dari Lutfan.
"Kamu mau keluar lagi?"
Jafar menggeleng. Kemudian meletakkan gawainya kembali dan mengambil duduk di samping istrinya. Tangan Jafar mengayun pertanda meminta Alma untuk mendekat.
"Apa?"
Netra kiri Jafar mengerjap berkali-kali, sekarang Alma paham, Jafar memintanya untuk meniup supaya kesakitan di bagian kiri netra sedikit mereda.
"Masih sakit?"
Jafar menggeleng---dengan condong ke arah Alma, ia membuka laci di samping tempat tidur untuk mengambil buku catatan dan pena.
"Hari ini Jumat bersama. Saya dengar dari Ummi kamu ikut ke pesantren 'kan?"
Alma tersenyum malu-malu. "Iya. Ummi bilang, beliau mau ngenalin saya ke orang-orang pesantren."
"Kalau kamu sudah merasa sedikit baik. Bagaimana kalau kita mengurus berkas-berkas pernikahan dulu?" tulis Jafar.
"Di antar Lutfan?"
Netra Jafar melebar sekejap itu pula kembali semula, tiba-tiba ia tertawa.
"Kamu kok ketawa? Saya tanya serius. Di antar Lutfan 'kan?"
Jafar mengangguk dan menuliskan note untuk Alma. "Sepertinya untuk sekarang tidak. Lutfan sibuk. Kita bisa meminta antar Cak Yanto. Kamu tidak keberatan?"
"Enggak lah. Saya herannya kamu tiba-tiba ketawa. Kenapa?"
Jafar hanya menggeleng, lantas ia berdiri mengambil tas hitam dan mengeluarkan beberapa kertas dengan banyak warna---yang Alma lihat dari kejauhan seperti ... undangan?
"Undangan? Undangan pernikahan siapa?"
"Pernikahan kita. Saya bawa beberapa pilihan. Kamu suka yang mana?" tulis Jafar.
Desain pertama putih gold terlihat sangat mewah dengan bunga-bunga di setiap sisinya, desain kedua, abu-abu putih yang terlihat soft, beberapa pilihan itu bukan termasuk yang Alma mau. Tangan kanannya terus menerus menggeser beberapakali, hingga netranya menangkap desain hitam dengan abu-abu yang cukup cerah.
Ini pilihannya. Tepat.
"Ini bagus nggak?"
"Bagus."
"Kamu suka 'kan?"
__ADS_1
"Suka."
Semua gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma.
"Kamu tidak keberatan jika pernikahan kita dilaksanakan di hotel? Saya berjanji sesuai keinginanmu tamunya hanya orang-orang yang kita kenal serta keluarga besar kamu dan saya," tulis Jafar.
"Itu permintaan?"
Kening Jafar mengerut dan menulis. "Maksud kamu?"
"Itu permintaan kamu?"
Jafar menggeleng dan menulis. "Sebenarnya itu permintaan Kakek. Tapi bisa merujuk menjadi permintaan Ummi juga. Kamu keberatan?"
"Enggak."
"Jadi?"
"Ya udah, nggak pa-pa. Saya paham itu permintaan keluarga besar kamu," jawab Alma.
Layar gawai Jafar kembali hidup, dan sayangnya Jafar tidak menyadari itu. Alma dapat melihat dan membaca jelas notifikasi yang mana itu dari Lutfan lagi.
Lutfan
Urusanku juga, Mas.
Bisa-bisanya dia habis nolak sampean sekarang minta sampean nikahi? Gila cewek itu!
"Hmm ... ngomong-ngomong e-emang Lutfan sibuk apa?" tanya Alma.
Jafar tetap tak menyadari gawainya yang menyala hingga mati kembali---lelaki itu hanya fokus melihat-lihat undangan.
"Jafar ..."
Tapi kayaknya dia sekarang sibuk marah-marah sambil ngechat kamu, Jafar.
...🌺...
Sore hari Alma ikut berkeliling pesantren---niatnya ingin ikut Jumat bersama nanti malam, namun karena tamu bulanan yang datang mendadak Alma takut nanti tidak bisa menahan sakit kram di perut dan merepotkan orang-orang di sana.
Kali ini ia berkeliling ditemani oleh Jafar saja, Salwa yang tadinya bersama mereka, entah terpisah ke mana. Tadi seusai salat ashar Ummi Salamah mengenalkannya kepada orang-orang pesantren bahwa ia adalah istri Jafar. Bahkan juga memberitahukan resepsi pernikahan yang akan terlaksana minggu depan di hotel pilihan Kiai Bashir.
"Saya dulu mengajar di sini juga."
Jafar mendekatkan gawainya kepada Alma supaya istrinya bisa membaca apa yang dituliskannya.
"Waktu itu ... umur kamu berapa?"
"Dua puluh satu tahun."
Alma manggut-manggut. Pikirnya lelaki yang menjadi suami ia saat ini sungguh lah hebat, ia merasa sangat beruntung. Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya apakah ... suami yang ia lihat di depannya ini pernah nakal? Atau setidaknya bertingkah layaknya anak remaja dulu?
"Kamu pernah nakal nggak?"
Pertanyaan aneh menurut Jafar, bahkan saat mendengarnya ia mengerutkan kening.
"Pernah nggak?"
"Pernah."
Netra Alma melebar seolah-olah tak percaya lelaki kaku yang suka sekali berbicara formal kenakalan macam apa yang pernah dilakukannya?
__ADS_1
"Emangnya kamu nakalnya ngapain aja?"
"Dulu saya pernah berbohong kepada Ummi dan Abi, uang untuk membayar sekolah, saya gunakan untuk bermain di warnet."
Setelah membaca itu spontan Alma berhenti berjalan, dan menatap Jafar tak percaya.
"Kamu beneran ngelakuin itu?"
Jafar mengangguk---dan menuntut Alma duduk di kursi batu saat keduanya melewati taman.
"Tapi pada akhirnya saya jujur juga kepada beliau. Dan Abi menghukum saya untuk membersihkan Masjid serta toilet pesantren selama dua bulan penuh."
Alma tersenyum tipis. "Hukuman Abi nggak main-main, ya? Kamu jera nggak?"
"Jera lah. Coba kamu pikir anak usia lima belas tahun yang tahunya cuma mau main-main terus di hukum tiba-tiba begitu. Jelas jera 'kan?"
Alma manggut-manggut dengan menatap lurus di mana santri dan santriwati berlalu-lalang menatapnya dengan berbisik-bisik serta senyum-senyum tak jelas.
"Kayaknya ... ja-jangan duduk di sini deh. Banyak orang," ujar Alma.
Jafar melihat sekeliling. Benar, banyak orang-orang. Ia berdiri menarik Alma ketempat yang sekiranya cukup sepi---taman yang terdapat daun kecil, dekat dengan persawahan yang hanya dibatasi oleh pagar kayu.
"Di sini enak. Nyaman. Pemandangannya juga bagus." Alma berdeham sejenak dengan menatap Jafar ia berkata, "Sa-saya boleh tanya tentang Abi?"
"Boleh."
Gerakan bibir Jafar dapat Alma baca dari samping.
"Abi itu ... kayak gimana? Saya mau tahu beliau. Apa ... kayak kamu? Atau kamu itu beda sama Abi? Terus ... Abi ke Ummi itu gimana juga? Cara beliau mendidik kamu gimana? Terus beliau kalau bicara gimana juga? Te---"
Bibirnya ia tutup dengan tangan kiri saat sadar Jafar terus menatapinya. Terlalu banyak bicara, jelas pasti membuat Jafar merasa dirinya cerewet.
"Ma-maaf saya banyak bicara."
Jafar menggeleng dan tersenyum.
"Saya akan menjawab satu-satu pertanyaan kamu," tulis Jafar.
"Alhamdulillah. Seenggaknya, kamu nggak protes pertanyaan saya banyak."
Duduk keduanya kian dekat saat Jafar menggeser posisi, bahkan pahanya dan Alma saling menempel. Setelahnya Jafar mengetik jawaban pertama untuk Alma.
"Abi itu baik. Beliau adalah figur Ayah yang saya dambakan saat kelak saya mendidik anak-anak."
Anak?
Alma tersenyum kilas. Semua lelaki saat menikah pasti sangat ingin memiliki keturunan---entah yang lahir lelaki atau perempuan, yang terpenting istrinya dapat memberikan keturunan.
Saya percaya kamu bisa jadi Ayah yang baik, Jafar.
"Pasti sebagai seorang Ayah, Abi mendidik kamu dengan sangat baik. Bahkan kalau pun Abi marah kamu tetap nggak pernah menganggap kemarahan beliau itu sebagai bentuk keegoisan. Karena pada akhirnya, kemarahan orang tua terkadang untuk kebaikan anaknya juga 'kan?"
Jafar mengangguk dan mengetik lagi. "Hukuman yang saya ceritakan tadi itu, atas pilihan saya sendiri. Abi bilang begini, 'Jika kamu merasa apa yang kamu lakukan itu salah, harusnya kamu bersedia menjalankan hukuman yang sekiranya setimpal dengan perbuatanmu. Lebih-lebih kamu laki-laki, dan tanggung jawab seorang laki-laki itu setara dengan harga diri.' Menurut kamu apa yang beliau bilang benar? Dan apa saya sanggup menjadi Ayah yang bijak seperti beliau dalam mendidik seorang anak?"
Netra Alma terbinar-binar, ia sangat kagum dengan cara mertuanya menyelesaikan masalah yang dibuat oleh anak beliau. "Abi benar-benar menganggumkan, Jafar! Dan tadi ... kamu tanya apa? ... Apa kamu sanggup menjadi Ayah yang bijak seperti beliau?"
Alma mengangguk cepat. "Bisa, Jafar. Saya yakin kamu bisa."
Raut wajah Jafar tiba-tiba saja berubah menjadi murung. Dibersamai dengan cahaya jingga yang mulai terlihat menghiasi langit-langit sore, beradu pula dengan semilir angin yang menyapu gamis serta kerudung yang digunakan Alma. Entah apa yang dipikirkan Jafar, mengapa raut bahagianya tadi saat bercerita berubah seketika?
"Ka-kamu kenapa?"
__ADS_1
"Kelak saat kita mempunyai anak. Apa dia akan merasa malu memiliki Ayah yang tidak bisa berbicara seperti saya?" tulis Jafar.