
"Saya sudah memaafkan kamu. Manusia sudah sewajarnya melakukan kesalahan. Tapi saya meminta jangan pernah mengulang itu lagi. Karena sekarang, apa pun yang kamu ucap dan lakukan, akan selalu menjadi tanggung jawab saya," tulis Jafar.
Alma menunduk. "Iya. Sekali lagi saya minta maaf, Jafar."
Kling!
Suara gawai Alma yang tergeletak di atas ranjang berbunyi, menandakan ada notifikasi penting yang masuk. Ia mengambilnya dan membuka layar kunci, melihat siapa gerangan yang menghubunginya
Tante Bunga
Alma sayang, ini Tante Bunga.
Kamu sudah menjalankan operasi untuk hernia?
Alma terdiam. Bagaimana ia harus menjalankan operasi saat dirinya saja belum mengatakan tentang apa pun kepada Jafar. Ia berpikir, izin suaminya diperlukan dalam melakukan operasi ini.
^^^Secepatnya, Tante.^^^
^^^Terima kasih atas uang yang Tante berikan.^^^
^^^Alma akan berusaha mengambilkan uang itu^^^
Pandangan Alma menatap Jafar lagi, yang kembali sibuk dengan laptopnya. Sungguh ia ragu-ragu ingin mengatakan tentang hernia yang berada di perut, ia tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan Jafar. Apakah akan menerima? Atau reaksi-reaksi lainnya?
Alma ingin kembali mendekati Jafar, dan mengatakan semuanya. Namun lagi-lagi kecerobohan diri yang tidak bisa melihat bahwa ranjang sebesar itu ada di depannya---kaki Alma terbentur kayu tempat ranjang diletakkan.
"Ah! Aduh ..."
Jafar spontan mendongak. Bahkan berlari langsung mendekati istrinya. Jafar menuntut Alma untuk duduk, tanpa izin juga apa pun Jafar menyikap gamis hitam yang digunakan istrinya.
"Hari ini saya ceroboh banget. Ranjang di depan sebesar ini aja saya nggak lihat," gumam Alma.
__ADS_1
Ditekannya bagian kaki Alma yang terbentur lagi. "Jafar! Jangan ditekan-tekan gitu Ya Allah, sakit!" keluh Alma.
"Tidur."
Ucapan bibir Jafar terbaca oleh Alma.
"Kamu mau saya tiduran gitu?"
Jafar mengangguk dan membantu Alma untuk berbaring. Setelahnya langkah kecil Jafar mendekati meja rias, membuka laci pertama---tempat P3K diletakkan. Jafar mengambil betadine lagi.
"Kamu mau ngasih saya itu?"
Jafar mengangguk lagi dan kembali menyikap gamis---yang mana Alma tanpa mengunakan legging di dalamnya. Namun seperdetik gamis terkisap, istrinya menyentuh pergelangan tangannya, seolah-olah menahan tak mau diobati.
"Kenapa?" Jafar menggerakan bibirnya.
"Nanti dulu. Ini perih. Kalau kamu langsung kasih itu saya bakalan teriak kesakitan. Soalnya luka di lutut ini kan ngelupas gara-gara kebentur tadi."
"Kamu mau ngapain?"
Dengan tatapan polosnya, Jafar menghidupkan kipas dan mendekatkannya kepada lutut Alma.
"Jadi ... kamu ngambil itu buat ngipasin lutut saya?"
Jafar mengangguk.
"Biar kering dan hilang perihnya gitu?"
Jafar mengangguk.
Ya Allah suami siapa ini? Dia ... kenapa tiba-tiba tingkahnya mengemaskan gini, ya?
__ADS_1
"Kamu ... kalau gini jadi mirip Lutfan," lirih Alma.
Jafar yang tadinya fokus menunduk dan memegang kipas, spontan mendongak, dengan menggeleng cepat ia merasa sangat tidak setuju dengan ucapan istrinya.
"Kamu kelihatan lu ... cu."
Kipas angin kecil itu Jafar matikan. Ia mengeluarkan pena dan kertas lalu menulis sesuatu. "Kita memang satu keluarga. Tapi saya sama sekali tidak mirip dengan anak manja itu."
Alma tertawa kecil. "Oh iya? Emang kamu nggak pernah manja gitu sama Ummi?"
Jafar sedikit mundur, mengambil betadine yang dilekatkan tadi di meja, membukanya dan berikan setetes kecil di lutut Alma. Ia sama sekali tidak mau mengindahkan pertanyaan istrinya tadi---lebih memilih fokus mengobati.
Ke-kenapa aku tiba-tiba malu?
Tangan Alma spontan berusaha membenarkan gamis bawahnya, namun tangan cepat Jafar mengehentikan tindakan itu.
"U-udah kan? Saya mau gamisnya kembali semula."
Jafar menggeleng dan menggerakkan bibir. "Belum."
"Tapi kan udah tadi."
Dengan sedikit menunduk Jafar menulis. "Biarkan terbuka. Kalau kamu tutup akan meninggalkan noda di gamismu. Dan lagi, apa kamu tidak punya pakaian tidur yang selutut?"
Jantung Alma tiba-tiba saja berdebar. Bahkan wajahnya memanas, ia hanya bisa berharap Jafar tidak melihat rona merah di sekitar pipinya. Bagian kakinya yang terlihat adalah lutut dan sedikit ke bawah, karena bagian telapak dan jari-jari kakinya tertutup kaus kaki hitam.
"Pa-pakaian tidur? Selutut?"
Jafar mengangguk dan menulis pertanyaan lagi. "Kamu tidak punya?"
Alma spontan menggeleng.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini. Saya pinjamkan kepada Ummi," tulis Jafar.