
Mas Jafar
Maka do'akan kebaikan untuknya juga, Alma.
Setelah membaca pesan singkat itu. Layar gawai Alma matikan di tatapnya sang penata rias di pantulan cermin. "Semoga sehat selalu sampai persalinan ya, Mbak? Adeknya sehat, Ibunya juga sehat. Aamiin."
"Aamiin. Makasih doanya, Mbak."
Make up telah di hapus, Alma dan penata rias pengantin mengambil wudu untuk melaksanakan salat zuhur bersama. Sekitar dua puluh menit berlalu, Alma kembali duduk di meja rias, wajahnya di make up lagi yang lebih natural.
"Sesuai sama gaunnya, Mbak. Tapi sebenarnya tetep sih lipstick harus agak merah gitu. Bajunya juga bagus lho Mbak Alma, gradiasi gitu. Kelihatan mewah," ujar penata rias.
Alma tersenyum tipis. "Hm. Iya, Mbak. Secocoknya sama baju aja, saya ikut Mbak aja."
"Kalau pengantinnya nurut gini, Insya Allah hasilnya bakalan bagus, Mbak."
Walimatul'ursy berlanjut. Alma sangat-sangat bersyukur, Lutfan dan Mardiyah datang. Tak salah baginya untuk mengasihani Lutfan sebagai seorang ipar. Tak salah. Lelaki tengil itu cukup menghibur, akan sangat disayangkan bila tawa serta bahagianya memudar.
Karena sesungguhnya pun akan berefek juga kepada Jafar---suaminya, yang teramat menyayangi Lutfan. Ia mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk, keluarga dari pihak Ibu dan Ayahnya belum ada yang datang. Mungkin hanya Tante Bunga, suami beliau dan anak-anak saja.
Tidak masalah.
Acara tetap akan berjalan dengan ada atau tidaknya kehadiran keluarganya. Semakin menuju ashar pun semakin ramai, banyak anak-anak panti yang berlari-lari sambil makan-makan bersama. Pemandangan yang membuat lupa sedih seketika.
Begini kah?
Pernikahan ini memang kebahagiaan semua orang.
Jafar tiba-tiba saja meletakkan buku catatannya di pangkuan Alma. "Kamu lelah? Ingin istirahat?"
"Tadi saya udah istirahat kok. Kamunya capek nggak?"
Jafar menggeleng.
"Kamu udah makan juga 'kan?"
Jafar mengangguk.
Dari arah kiri terlihat Salwa berlari mendekati pelaminan. "Kak, Kak ayo foto hehehe," ujarnya.
Alma memenuhi permintaan Salwa dengan berfoto bersama. Setelah mengecup tangannya gadis itu pergi lagi berlari-larian mendekati Kirana dan Inayah. Menggemaskan.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Azan magrib pun berkumandang, walimatul'ursy telah di ujung akhir. Semua anak panti asuhan telah di antar pulang, Alma pikir setelah usai ia akan langsung kembali ke pesantren. Ternyata tidak, Kiai Bashir bilang, Manggala Adiwangsa menghadiah tiket gratis menginap di Lazuardi Hotel.
Sebenarnya sangat berlebihan, tapi lagi-lagi Alma tak bisa menolak, ia bersyukur, dan menerima tawaran Bapak Manggala.
"Akhhh ... capeknya, Ya Allah," ucap Alma dengan merebahkan diri di ranjang serba putih.
Hotel ini terlalu mewah.
Dengan merebahkan diri Alma di bantu oleh penata rias untuk menghapus make up. Sekitar sepuluh puluh menit berlalu Jafar terlihat masuk, dan mengambil duduk tepat di sampingnya---lelaki itu menunduk.
Ingin apa?
Benda kenyal mendarat di keningnya. Alma tersenyum tipis, ia sama sekali tak lupa menjanjikan hadiah pada Jafar. Tetapi suaminya ini mengapa terlihat tak lelah sama sekali? Tersenyum simpul semenjak memasuki kamar hotel.
"Kamu kenapa senyum terus?"
Jafar menggeleng.
"Kamu udah magriban?"
Jafar mengangguk.
"Saya belum." Alma berdiri tegak dibersamai mendorong Jafar mundur. "Baju gantinya udah di masukin, Mas?"
Jafar mengangguk.
"Haaa ... syukur deh, dalaman sa---maksud saya ... saya gerah Mas, waktunya ganti baju, saya merasa kayak udah bau gitu," ujar Alma tak beraturan, dengan membuka koper mengambil gamis dan kerudung, tak lupa juga pakaian dalam.
Sesaat pintu kamar mandi telah ia kunci. Alma berjongkok di lantai dengan pipi yang merah. Ah, ia merasa salah tingkah, harusnya biasa-biasa saja 'kan?
Kenapa juga tadi aku ngomong gitu?!
__ADS_1
Akh! Malu!
Secepatnya Alma membersihkan diri. Setelah ia terburu-buru mengambil air wudu di dekat wastafel, sangat beruntung ternyata di hotel semewah ini ada tempat wudu. Setidaknya seorang Manggala Adiwangsa benar-benar menghargai tamu-tamu yang menginap.
"Mas, saya sholat dulu," ujar Alma.
Lima belas menit berlalu Alma telah melaksanakan salat magrib, berdo'a sejenak dan menyusul Jafar yang duduk di sofa sedang bermain gawai.
Mungkin Mas Jafar memeriksa pekerjaan?
"Mas Jafar," ujar Alma pelan dengan mengambil duduk tempat di samping suaminya.
Jafar menengok.
"Kamu ngapain? Kerja?"
Jafar kembali menatap gawai dan membuka aplikasi note. "Saya meminta waktu sepuluh menit saja untuk mengecek hasil penjualan hari ini tidak apa-apa 'kan?"
"Sepuluh menit 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Nggak pa-pa." Jafar kembali fokus. Sedangkan Alma mengambil gawainya, mencari-cari timer dipasangnya sepuluh menit. Bukan Alma tak percaya. Ia hanya memastikan bahwa memang sepuluh menit saja, tidak lebih sedetik pun.
Delapan menit berlalu, berarti kurang dua menit saja. Namun suaminya itu masih nampak serius, dan ternyata juga Jafar membawa laptop. Apa-apaan ini? Memang tidak merasa lelah? Alma kembali melihat timer, waktu kurang satu menit lagi. Lima puluh sembilan, lima puluh delapan, lima puluh tujuh, hingga seterusnya ia masih melihat Jafar menampakkan wajah serius.
"Mas belum?"
Jafar menggeleng.
Okay. Masih ada tiga puluhan detik lagi.
Detik demi detik berkurang. Hingga gawainya bergetar, pertanda sudah sepuluh menit berlalu dan lagi-lagi Jafar masih mengetik-ngetik.
"Masih belum, Mas?"
Jafar menggeleng.
Lewat lima detik ini lho, Mas.
"Nyebelin banget kamu, Mas." Dengan wajah cemberutnya Alma menatap layar laptop. "Katanya, sepuluh menit."
"Saya udah timer tadi. Sekarang lewat sepuluh detik ada, Mas."
Jafar mengalihkan laptopnya pada Microsoft word. "Ternyata sepuluh menit masih kurang. Apa kamu akan marah jika saya meminta tambahan sepuluh menit lagi?" tulis Jafar.
"Iya," jawab Alma singkat.
"Iya itu apa? Kamu marah? Atau mengizinkan saya meminta waktu sepuluh menit lagi?" tulis Jafar.
"Iya saya marah, Mas!" Alma melepas rangkulannya pada lengan Jafar. "Katanya sepuluh menit."
Terdengar suara ketukan pintu. Alma hendak berjalan ke ambang pintu, tapi ia urungkan karena ternyata ia tadi baru melepas kerudung. Sehingga Jafar yang memilih membuka pintu, Alma pun ikut menyusul.
"Selamat sore, Nyonya Alma dan Tuan Jafar. Saya Riri kepala staf hotel di lantai lima, hendak mengundang Nyonya dan Tuan untuk menghadiri malam pribadi di tempat yang sudah kami sediakan," ujar staf hotel bername tag Riri.
Alma menjawab, "Iya. Tapi ... kami sama sekali tidak memesan tempat makan malam pribadi."
Staf hotel itu tersenyum simpul. "Tuan Manggala Adiwangsa yang menyediakan untuk Nyonya dan Tuan."
"Egh .. gitu." Alma sekilas menatap Jafar. "Terima kasih. Kami akan segera ke sana. Kira-kira pukul berapa?"
"Delapan, Nyonya."
Staf hotel itu pergi. Alma dan Jafar kembali duduk di sofa dengan terdiam sejenak. "Mas, ini ... Bapak Manggala Adiwangsa nggak berlebihan apa ngasih hadiahnya?" ujar Alma.
Jafar mengetik di laptop. "Saya juga merasa ini sedikit berlebihan."
"Kakek udah tahu?"
"Kakek hanya bilang bahwa Bapak Manggala menghadiah kita menginap di Lazuardi hotel selama satu minggu saja," tulis Jafar.
Netra Alma melebar. "Apa? Satu minggu? Gratis? Di hotel ini?"
__ADS_1
Jafar mengangguk.
"I-ini benaran?"
"Iya." Jafar menggerakkan bibir.
"Tadi saya pikir cuma satu, dua atau tiga hari. Eh ternyata seminggu. Ya Allah ..." Alma melepaskan kembali kerudung dan bangkit dari sofa langsung merebahkan diri di ranjang menghadap pada Jafar yang masih duduk di sofa.
"Nggak nyangka saya."
Sepuluh detik menjeda Jafar hanya memandanginya dari sofa. Alma kembali berujar, "Kamu nggak capek, Mas?
Alma menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. "Tidur sini coba. Tutup laptop kamu."
Jafar mengangguk---menutup laptop. Lantas menyusul Alma merebahkan diri di ranjang.
"Egh ..." Alma mendekatkan diri pada Jafar dengan menunjuk-nunjuk dada suaminya. "Kamu ingin hadiah apa?"
"Sesuai janji saya. Asal inget, Mas ..." Alma mendongak menatap Jafar. "Jangan mahal-mahal."
Lelaki itu tersenyum tipis.
"Ngapain kamu senyum?"
Jafar menggeleng. Suaminya itu tiba-tiba saja mengikis jarak, dan menariknya dalam dekapan, di kecupnya beberapa pucuk kepala. Alma merasa sedikit sesak, meminta Jafar berhenti. Namun karena suaminya itu terus bergerak, posisi berhenti pun tak terduga dengan Jafar yang berada di bawah sedang Alma di atas terduduk di perut suaminya.
"Mas!" Alma memukul pelan dada Jafar.
"Makanya jangan peluk saya erat-erat dong," ucap Alma dengan turun dari perut suaminya.
Jafar mengambil gawai yang tergeletak di meja. "Kenapa kamu menggunakan gamis?" tulis Jafar di gawai.
"Ya, nggak pa-pa. Kenapa emang? Salah?"
"Tidak. Hanya saja, apa kamu tidak gerah?" tulis Jafar.
"Gerah?" Alma menatap Jafar heran, di susul tangannya terangkat menunjuk pendingin ruangan. "Itu ada AC. Gerah gimana coba?"
"Maksud saya risih," tulis Jafar.
Alma menggeleng. "Enggak. Soalnya saya nggak pake legging, jadi ya ... biasa aja nggak risih."
"Ya tapi kalau keluar pakai legging lah," imbuh Alma.
Jafar mengangguk-angguk.
"Mas deketan sini coba," ujar Alma meminta Jafar mendekat. Satu kecupan mendarat mulus di pipi kiri suaminya. "Sekali-kali saya kecup pipi."
Jafar tiba-tiba saja merubah posisinya untuk duduk.
"Kenapa, Mas?"
Jafar menggeleng, sedikit menunduk mengetik di gawainya. "Kamu membuat saya malu saja."
Hah? Ya Allah ... kenapa menggemaskan sekali kamu, Mas?
"Di koper abu-abu adalah baju-baju yang kita gunakan untuk keluar. Sedangkan di koper hitam tadi ada baju tidur dan gamis biasa yang kamu gunakan," lanjut Jafar di gawainya.
"Iya, Mas."
"Saya ingin kamar mandi," tulis Jafar lagi dan melenggang pergi.
Alma tersenyum tipis dan menggeleng. Menghindar gitu? Dilihatnya layar gawai di sofa terlihat hidup.
"Siapa?" gumamnya.
Alma bangkit mengambil gawainya dan membuka pesan singkat. Siapa gerangan yang mengirim pesan?
Paman Idrus?
Paman Idrus
Jalani lah ibadah ini dengan sebaik-baiknya, Nak. Jadilah istri yang berbakti untuk suamimu, beri lah segala kebahagiamu untuk Jafar.
__ADS_1
Dukamu dan dukanya sekarang telah menjadi satu. Begitupula bahagiamu dan bahagianya. Paman selalu percaya Jafar akan menjadi laki-laki yang tepat untuk menjagamu, Alma.
Maafkan Paman tidak bisa menghadiri acaramu. Insya Allah dua atau tiga hari lagi, hadiah yang Paman kirim dari Malaysia akan segera sampai di kediamanmu, Nak.