
Hari ini tepat Jum'at terakhir. Jafar libur, Alma pun juga, niat sudah di tentukan kemarin malam bahwa keduanya akan mengikuti Jum'at bersama, tanpa gangguan apa-apa. Mungkin besok, Jafar dan Alma mulai menghitung pemasukan kedai.
Dan saat ini Alma sedang sibuk mengiris-iris bawang merah, Ummi Salamah memberi tugas untuk dirinya dan Jafar memasak bawang goreng yang digunakan nanti malam. Sedang Ummi Salamah, beliau sedang di rumah Umma Sarah, seperti biasa, beliau menemani sang Adik.
"Ah," desah Alma karena tidak sengaja tangannya teriris pisau. Dan dengan spontanitas, Jafar mengambil tangannya. "Enggak-enggak. Saya nggak pa-pa, Mas."
Jafar memaksanya berdiri menuju wastafel, menghidupkan kran air dan mencuci tangan Alma dengan bersih.
"Udah, Mas. Darahnya udah berhenti ini."
Benar. Darah telah berhenti, dan secepatnya Jafar menuntun sang istri untuk duduk kembali. Kemudian ia mengeluarkan gawai dan mulai mengetik. "Kenapa tidak hati-hati? Tanganmu jadi luka. Sekarang biar saya saja yang mengiris bawangnya. Kamu duduk dan diam."
"Gimana kalau saya yang goreng aja, Mas?"
Jafar menggeleng.
"Mas ..." Alma menautkan tangannya pada lengan Jafar. "Saya yang goreng, ya? Masa kamu sendiri. Padahal tugasnya ini berdua lho, jadinya nggak adil ini mah. Saya takutnya Ummi tahu terus saya di kasih tugas yang nggak berdua sama kamu. Saya nggak mau, Mas!"
Jafar menggeleng lagi.
"Okay. Coba tulis dulu alasannya kenapa? Padahal saya cuma ke iris dikit aja," ujar Alma.
Jafar mengetik dan menunjukkannya pada Alma. "Memang kamu tidak kelelahan? Semalam dan tadi pagi kita baru saja melakukan itu 'kan? Lalu tiba-tiba tanganmu terluka."
Alma berdecak kesal. "A-apaan? Alasannya nggak jelas. Kalau itu beda lagi, Mas. La-lagian, saya udah terbiasa."
Terbiasa apaan? Ya Allah mulutku!
"I-intinya saya nggak capek." Alma langsung bangkit, mengambil spatula. Lantas menggoreng bawang merah sampai kering kecokelatan. "Ya udah itu kamu iris-iris bawangnya, Mas."
Jafar mengangguk.
Selang beberapa menit terdengar ketukan di bagian pintu utama, di susul oleh suara yang memanggil-manggil Ummi Salamah.
"Kamu yang keluar, Mas?"
Jafar mengangguk dan berjalan mendekati pintu utama melihat siapa yang datang. Ah, Dimas ternyata. Pandangannya berubah datar, ia serius menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut lelaki di depannya ini.
"Mas saya mau ambil air mineral gelasnya," ujar Dimas terlihat sungkan.
Jafar mengangguk.
"Maaf nggih, Mas. Kalau saya ganggu."
__ADS_1
Saya sama sekali tidak merasa terganggu, batin Jafar yang mulai mengambil duduk di kursi dengan memandangi Dimas yang terlihat canggung atau mungkin tak nyaman karena kejadian terdahulu.
Cucu Mbok Isna itu mengangkat satu persatu kardus air mineral gelas ke kerobak dorong. Seperkian detik Jafar fokus memandangi ia mendengar suara Alma yang memanggil-manggilnya semakin dekat.
"Mas kamu kok la ..." Alma melihat Dimas yang sibuk. " ... ma."
Jafar bangkit. Sehingga Alma tersadar suaminya itu duduk di kursi, dan dengan tiba-tiba tangan Jafar menyusup di pinggangnya, memaksa Alma memasuk kembali ke dapur.
"Kamu ngapain kok lama, Mas? Kamu duduk-duduk lihatin dia?"
Jafar tidak menjawab, langsung meminta Alma duduk kembali. Karena posisi sang istri yang tak sejajar, Jafar meminta istrinya mendongak, dan detik itu juga kecupan singkat mendarat di bibir merah Alma.
"Udah sa---"
Ternyata bukan kecupan singkat saja. Jafar tiba-tiba saja memperdalam ciumannya, menarik tangan Alma untuk berpegangan pada pinggangnya. Satu detik, dua detik, bahkan sampai sepuluh detik Alma menghitung Jafar tidak memberinya ruang untuk bernapas.
"Eghmmm ... Ma-mas."
Ciuman itu terlepas. Alma menghirup udara banyak-banyak. Sedangkan Jafar terlihat tersengal-sengal, menatapnya dengan sayu.
"Kamu kenapa, Mas?"
Jafar menggeleng dan perlahan menarik kedua ujung bibirnya. Ia tersenyum simpul dan ikut mengambil duduk, mulai mengetik di gawai. "Saya hanya mengingat masa-masa yang buruk. Tetapi sekarang saya sudah baik-baik saja. Silakan kamu lanjut mengoreng, sebelum Ummi akan memarahimu dan saya."
Alma berdiri. "Kalau Ummi marah itu ya salah Mas lah. Ngapain pakai a-anu cium-cium segala? Tahu nggak? Itu ngabisin durasi saya buat ngoreng bawangnya!" jelas Alma dan berlalu menuju kompor mulai mengoreng bawang merah lagi.
"Katanya libur?"
Jafar mengangguk.
"Terus itu apa? Masa kamu mau keluar. Terus kamu ninggalin saya sendirian?" Alma mengerucut bibir dan spontan mengangkat tangannya, lalu melingkarkan pada tengkuk Jafar. "Tega banget kamu. Awas aja kalau minta apa-apa ke saya. Saya nggak bakal kabulin. Titik!"
Jafar mengetik yang mana langsung bisa di lihat oleh Alma, sebab sekarang sang istri bersandar di dada bidangnya. "Hanya satu outlet saja. Ada kendala yang tidak bisa di tangani staf di sana, Alma. Saya berniat ingin mengajakmu, tetapi saya benar-benar takut tidak bisa fokus menyelesaikan masalah ini."
Netra Alma melebar, ia mendongak menatap suaminya. "Secara nggak langsung kamu bilang saya ganggu dong, Mas?"
Alma melepas tautan tangannya di tengkuk Jafar, ia kembali menggoreng bawang merah. "Ya udah, yaudah. Asal kamu janji nggak lama nggak pa-pa. Saya izini."
Jafar meminta Alma berbalik, di pelukannya erat sang istri dan juga tidak lupa di kecupnya beberapa kali dari kening, pipi kiri kanan dan yang terakhir pada bibir. Setelahnya Jafar benar-benar pergi.
Sesi terakhir menggoreng bawang tanpa Jafar benar-benar membosankan. Selesai memasukan semua bawang merah, Alma berniat istirahat sejenak dengan duduk di kursi. Namun netranya tiba-tiba menangkap secarik kertas.
Apa dari Mas Jafar?
__ADS_1
Di tariknya kertas itu yang terlipat menjadi dua.
"Saya akan pulang cepat, Alma. Jangan berpikir juga bahwa kamu adalah pengganggu. Sama sekali, bukan. Fokus saya di sana adalah pekerjaan. Sedangkan di fokus rumah saya adalah kamu. Mengerti?" tulis Jafar.
...🌺...
Sekitar pukul dua belas siang. Salwa berkunjung ke rumah. Sedangkan Jafar, suaminya belum juga pulang. Katanya sebentar, ternyata lama. Menyebalkan sekali.
"Kak, Kak."
Alma menengok. "Apa, Sal?"
"Anu, ini ..." Salwa tiba-tiba saja menyentuh perutnya. "Udah ada dedeknya belum, seh?"
Semula Alma heran, tiba-tiba saja ia tersenyum tipis dan berkata, "Emang kamu siap jadi Tante?"
"Siap! Siap banget, Kak. Pokoknya kalau perempuan semoga secantik Kak Alma. Terus ..." Salwa nampak berpikir, ia terlihat girang sekali. "Kalau laki-laki semoga segagah Mas Jafar. Terus suami-able banget kayak Mas. Pokoknya harus-harus."
Alma menggeleng-menggeleng. "Suami-able?"
"Iya. Kata santriwati, sama temen-temenku, Kak. Masa kalau main ke sini mau lihatin Mas Jafar aja. Kan ngeselin banget! Mana bilangnya gini, Ya Allah Salwa beruntung banget kamu punya Mas kayak Mas Jafar, udah manis, gagah, tinggi dan bla-bla-bla," ujar Salwa yang terlihat kesal.
"Harusnya kamu nggak cemberut gitu. Yang di bilang temen-temenmu benar, kamu beruntung punya Mas kayak Mas Jafar 'kan?"
Netra Salwa melebar, ia mengangkat kedua tangan dan mengibas ke kiri kanan. "Enggak-enggak, justru yang ngerasa lebih beruntung bukan aku. Ya Kak Alma lah! Bisa memiliki seutuhnya! Uwahhh, apa lagi kalau tiba-tiba ada bayi kecil pasti perbaduannya bagus banget Ya Allah!"
Iya, kamu benar, Sal. Saya lebih beruntung.
"Kalau suatu saat Kakak hamil, terus udah lahir. Awas aja kamu nggak mau gendong!"
Salwa menyahut, "Mau, Kak. Mau. Kakak sama Mas usahanya yang giat. Biar cepet jadi, hehehe."
"Astaghfirullah. Mulutmu sama pikiranmu! Do'a aja, Salwa."
Salwa tertawa kecil. "Iya, Kak aku do'ain."
^^^
Note:
Mungkin akan ada 1 atau 2 Extra terakhir.
__ADS_1
Tidak henti-henti saya mengingatkan barang kali ada yang ingin berkunjung. Sudah 31 Part. Lutfan dan Mardiyah sudah menikah. Pasangan satu ini lebih romantis yang menjorok ke mengemaskan, ya mungkin ... ada sedihnya. Tetapi masih penuh tawa untuk bab-bab awal.
Sekian.