
Menyesal kamu bilang? Astaghfirullah, batin Jafar yang mulai mengetik di laptop. "Saya tidak menyesal. Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?"
"Kalau gitu Mas jelasin semuanya."
Sampai satu menit berlalu Jafar tidak menulis apa-apa. Ia diam tidak menggerakkan tangannya, hingga terdengar suara tangis Dilara yang memanggil-manggil sang istri membuat Alma beranjak berlari menuju kamar Dilara. Jafar pun yang melihat, secepatnya menutup laptop dan ikut beranjak dari duduknya.
"Hussstttt." Alma mengusap-usap lembut surai anaknya. "Mama di sini, Sayang. Udah-udah. Nggak usah nangis. Sini Mama peluk, Sayang."
Tangan Jafar ikut terangkat, hendak mengusap surai Dilara. Namun tertahan saat melihat anaknya begitu erat memeluk sang istri. Dilara benar-benar menyayangimu, Alma. Bagaimana bisa saya merasa menyesal? Saya benar-benar bahagia atas kehadiran satu buah hati kita ini, batinnya yang hanya menatapi Dilara dan Alma yang saling berpelukan.
"Dilala tadi mimpi buluk, Ma. Dilala takut, tidur enggak ada yang nemenin." Dilara terlihat mengusap-usap hidung dengan tangan kanannya. "Dilala mau adek laki-laki ... hiks ... bial bisa jaga Dilala, Ma."
Jafar yang mendengar itu menunduk, ia bingung bagaimana cara menenangkan anaknya. Alma terus berujar, "Udah. Di sini kan ada Mama. Mama janji jagain Dilara."
"Enggak ... enggak mau. Kadang-kadang Mama pelgi, Dilala di tinggal di sini sendili, kadang-kadang juga ama Nenek," lanjut Dilara.
"Mama janji nggak akan pergi lagi. Mama kalau pergi janji ajak Dilara. Udah, ya Sayang, berhenti nangis," jawab Alma dengan masih mengusap-usap surai sang Anak.
Dilara melepas pelukan. "Mama enggak bohong 'kan?"
"Enggak, Sayang. Mama nggak bohong."
Dilara telah terlelap lagi. Alma terlihat bangkit lebih dulu meninggalkan kamar Dilara, lantas disusulnya oleh Jafar. Namun saat kembali ke kamar ternyata sang istri tak ada, ia berbalik mendekati arah dapur. Alma sedang sibuk di sana, ia memilih mendekat, dan memeluk sang istri dari belakang.
"Eh. Astaghfirullah, Mas. Kamu ngangetin," ujar Alma yang sibuk nengaduk-aduk.
__ADS_1
Jafar menyusupkan kepalanya pada ceruk leher Alma, dan menghirup aroma tubuh istrinya beberapa kali. Maafkan saya, Alma. Maaf. Tolong maafkan saya, yang sudah membuatmu berpikir seperti itu, batinnya dengan kedua tangan yang masih memeluk erat sang istri.
"Mas lepas, nanti ada Ummi."
Jafar menggeleng.
"Terus kamu mau apa? Ini udah malem. Ayo tidur."
Jafar tidak melepas tangannya. Namun memindah posisi tangan untuk saling menggenggam dengan Alma. Sedangkan istrinya itu hanya menghela napas dan menggeleng-geleng, lalu berjalan memasuki kamar dengan salah satu tangan yang memegangi saffron hangat.
"Sudah sampai kamar, Mas," ujar Alma yang menatapi Jafar masih menyentuh tangannya, tidak mau melepas. "Nggak di lepas? Gimana cara saya bisa tidurnya, Mas?"
Jafar melepas. Ia berjalan mendekati laci, dan membuka pada laci pertama, mengambil pena dan buku catatan di sana. Lantas kembali mendekati Alma yang sudah duduk di bibir ranjang.
"Saya mau terapi rutin lagi, Alma. Tolong antar saya. Tolong jangan marah dan jangan berpikir seperti itu lagi." Jafar memberi jeda di buku catatan itu. "Alasan saya tidak ingin memiliki anak lagi dengan kamu tentu karena saya ragu. Saya ragu dengan diri saya sendiri. Saya takut tidak bisa mendidik anak-anak kita."
Alma terdiam sejenak.
Jafar mengangguk. Tangannya kembali menulis. "Terima kasih, Alma."
"Kamu pasti sembuh, Mas." Alma menjeda, ia berbalik mengambil gawainya. "Saya hubungi pihak klinik dulu, ya?"
Jafar mengangguk.
Alma telah mengirim pesan singkat pada dokter yang menangani suaminya terapi dulu. Mungkin beliau sibuk, tapi tidak apa-apa, ia sudah mengabari dari klinik juga.
Jafar menggerakan bibirnya. "Sudah?"
__ADS_1
"Sudah, Mas."
Alma meletakkan kembali gawainya. Kemudian memberikan saffron hangat pada Jafar dan meminta suaminya itu untuk meneguk habis perlahan-lahan.
"Enak?"
Jafar mengangguk, memberikan gelas kosong pada Alma.
"Ayo tidur, Mas."
Jafar menggeleng.
"Kamu nggak ngantuk? Besok kan kamu berangkat ke outlet luar kota. Nanti capek, Mas."
Jafar tiba-tiba merentangkan tangan, mendekatkan diri pada Alma. Lantas menjatuhkan kepalanya pada bahu kiri sang istri, dengan tangan yang perlahan-lahan menyusup di pinggang ramping itu.
"Saya udah maafin kamu, Mas. Saya nggak marah."
Jafar menghela napas pelan saat mendengar ucapan Alma. Saya ingin memelukmu lagi, Alma. Saya ingin memeluk wanita yang benar-benar rela mengabdikan hidupnya untuk laki-laki seperti saya. Bahkan telah menghadiahkan saya satu kebahagiaan yang tiada tara. Jafar menggerakan-gerakan kepalanya, air mata telah memenuhi pelupuk matanya. Bagaimana bisa kamu memaafkan saya semudah itu, Alma? Saya sudah menyakitimu dengan memberi batasan antara dirimu dengan saya.
"Mas ..." Tangan Alma terangkat mengusap tengkuk suaminya. "Sudah, ya? Ayo tidur."
Jafar melepas pelukan, netranya langsung saling menatap, dan saat Alma hendak berujar, dirinya dengan cepat menyentuh kedua rahang sang istri. Lantas menyatukan kedua benda kenyal itu, dan perlahan-lahan menggerakkan ke arah kiri, turun ke leher jenjang sang istri.
"Mas ..."
Jafar tidak mengindahkan Alma, tangannya semakin sibuk berkeliaran menyentuh di mana-mana. Hingga seketika ia berhenti, saat sang istri mendesah, netranya menatap Alma sayu.
__ADS_1
"Sebentar aja, ya Mas?"
Jafar mengangguk.