Almahyra

Almahyra
Bagian 27 (1)


__ADS_3

"Sebenarnya buat apa? Buat gue ngelakuin permintaan yang bahkan Abi sendiri pun nggak bisa lihat kebahagiaan gue nanti," ucap Lutfan lirih.


Di-dia ... sama seperti Jafar.


Dia trauma?


"Lutfan ..."


Spontan Lutfan tertawa ringan---Alma tahu tawa Lutfan hanya samaran, supaya kesedihannya tidak terdeteksi dari pandangan.


"Menyedihkan banget hidup gue." Lutfan berdiri hendak berlalu ke dapur. Namun tepat saat itu pula berpapasan dengan Mardiyah. Bahkan hampir menabrak dan mungkin akan menjatuhkan bubur yang dibawa oleh Mardiyah.


"Hati-hati dong! Lo ceroboh banget, sih. Dan kalau bubur itu jatuh kasihan lantainya, kotor. Emang lo---"


Ucapan Lutfan tertahan. Saat Mardiyah melenggang pergi memasuki kamar Ummi Salamah. Alma mendekati Lutfan yang berdiri di ambang pintu dapur.


"Yang salah kamu, Lutfan. Harusnya kamu minta maaf, bukannya ngomel-ngomel nggak jelas. Bahkan nyalahin Mardiyah," ucap Alma.


Alma memilih memasuki kamar Jafar. Setelahnya ia memilih duduk di tepi ranjang, meletakkan tas yang berisi baju serta beberapa barang kecil yang di bawanya. Kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang---menikmati halusnya selimut dan harumnya kamar.


"Humm, capek banget gini doang," gumam Alma.


Matanya terpejam. Ia rindu Bibi Maryam. Namun ia tidak ingin menangis lagi, Alma menghela napas pelan untuk mengatur pernapasannya. Pada akhirnya kehilangan itu adalah hal yang pasti. Ia perlahan-lahan telah memahaminya, tapi sebagai manusia ia terkadang masih tak menerima.


Kresek!


Kening Alma mengerut, ia mendengar suara seperti ... kantong plastik yang diletakkan di meja. Sedetik kemudian netra indah itu terbuka, saat merasakan ranjang sampingnya bergerak.


"Ja-jafar!"


Alma buru-buru terduduk tegak. Malu rasanya tidur tidak beraturan seperti tadi, belum lagi ternyata kerudung yang ia gunakan tersikap.

__ADS_1


Bisa-bisanya aku lupa kalau dia udah pulang! Ya Allah ...


"Ka-kamu mau tidur? Istirahat?"


Jafar menggeleng, menunjuk meja abu-abu yang berada di dekat lemari.


"Apa itu?"


Jafar mengeluarkan buku catatan dan membuka halaman tengah, lantas menunjukkan note kepada istrinya. "Saya janji bawa makanan dari outlet. Itu makanannya. Kamu coba, ya?"


Alma mengangguk dan berdiri mendekati meja. "Ini ... apa aja? Kok kayaknya banyak banget."


Jafar berdiri ikut mendekati Alma. Dan membuka lembaran tengah halaman kedua lalu menunjukkan kepada Alma lagi. "Ikan tanpa tulang, kentang cripsi, sayap saus pedas, ayam panggang madu dan minumannya jus Alpukat."


Alma spontan tertawa dengan menutup mulutnya. "Banyak banget. Enak-enak pasti ini. Saya siapin di depan ya? Biar nanti di makan sama-sama."


"Kentang cripsinya kamu ambil satu, sisanya buat di depan," tulis Jafar.


Jafar mengangguk, kemudian berjalan ke arah lemari mengambil celana ganti---mungkin berniat untuk mandi. Karena Alma lihat suaminya itu berjalan ke kamar mandi.


Di dapur. Alma menyiapkan beberapa makanan, lantas ditaruhnya dalam wadah satu persatu. Tepat saat itu juga Mardiyah terlihat melewati meja makan.


"Mar ..."


Mardiyah berdeham.


"Coba incip ini, kentang crispis. Jafar tadi bawa," sambung Alma.


Mardiyah mendekat, mengambil duduk di samping kursi tempat Alma berdiri. "Enak. Beli di ... mana?" tanya Mardiyah


"Bawa dari outlet. Katanya," jawab Alma.

__ADS_1


Tangan kanan Mardiyah mengambil kentang lagi dengan manggut-manggut ia ujar, "Kedai Amanah. Usaha rumah makan yang di bangun sama Ayahnya Jafar dan Lutfan."


"Jadi ... cabangnya di mana aja?"


Mardiyah menjawab, "Dari yang ku dengar di Surabaya, Malang, terakhir Sidoarjo."


"Wah! Banyak, ya?"


Mardiyah mengangguk.


Lutfan dan Jafar datang dari arah lorong ruang tengah---langsung duduk di kursi kiri dan kanan berseberangan. Tangan kanan Lutfan mengambil kentang crispi lalu diberinya sedikit saus, dan sekejap melahap habis.


"Enak banget! Resep yang di buat Abi sama Paman nggak ada tandingan emang," ucap Lutfan.


Alma telah usai menatah semua makanan, menyusul duduk di samping Jafar. "Kamu mau apa?"


"Hilih ... biasanya juga Mas Jafar ambil sendiri. Nggak usah ditawar-tawari segala Ukhti!"


Jafar menatap datar Lutfan dan menuliskan sesuatu di buku catatannya. "Kalau kamu iri. Lebih baik segera menikah," tulis Jafar.


"Secepatnya, Mas." Lutfan berkata dengan melirik ke Mardiyah sejenak. "Lagian Mas juga, kapan rencana kasih aku ponakan yang gemoy?"


"Uhuk-uhuk!"


Spontan saja Alma terbatuk-batuk.


"Ukhti ... ukhti ... gitu aja sampai syok lho, batuk-batuk lagi. Wajar kan gue tanya ke orang yang udah nikah?" ucap Lutfan.


Mardiyah terlihat menggeleng tak setuju. "Nggak wajar. Karena nggak semua orang yang baru nikah langsung dikaruniai anak."


Netra Lutfan menatap Mardiyah. Memang membenar. Namun Lutfan tetap tak mau kalah. Ia kembali berucap, "Ya gue cuma tanya, kok."

__ADS_1


"Berhenti mengoceh dan makan, Lutfan," tulis Jafar.


__ADS_2