Almahyra

Almahyra
Bagian 24


__ADS_3

"Sa-saya mau suami saya, menerima dirinya sendiri ... sebagaimana saya dan orang-orang menerima kamu, Jafar."


Leher Alma kian basah---entah keringat, entah juga air mata. Namun sesaat kemudian ia merasakan bahwa Jafar mengangguk dengan tetap menyandarkan kepala di lehernya.


"Sampai kapan pun, keputusan saya tentang pernikahan ini, nggak akan pernah berubah."


Jafar mengangguk.


"Kalau pun tiba-tiba saya ragu dan merubah keputusan. Saya akan membaca catatan kecil yang kamu berikan pagi tadi di meja makan."


Lagi, Jafar mengangguk.


"Dan kalau ternyata nggak berpengaruh. Saya akan tetap terus menerus membaca, sampai keputusan akhir saya adalah menetap bersamamu."


Jafar mengangguk lagi, dengan memeluk Alma semakin erat, telapak tangan besar Jafar menyentuh bahu Alma---melepas perlahan pelukan yang entah sudah dilakukannya berapa lama.


"Ka-mu mau bicara sesuatu?"


Alma masih tetap duduk di pangkuan Jafar dengan menyamping. Kemudian tangan kanan Jafar terbuka serta telapak tangan menghadap dalam, lantas dikenakan tangannya pada bibir dan digerakkan ke depan.


Di-dia menggunakan bahasa isyarat?


A-artinya apa?


Dengan seksama Alma memperhatikan bibir Jafar, menunggu-menunggu gerakan bibir yang barang kali akan sanggup di bacanya.


"Terima kasih."


Seulas senyuman tercetak di bibir tipis Alma. Saat netranya berhasil membaca gerakan bibir suaminya. "Sama-sama."


Kedua netra itu lagi-lagi beradu tanpa sadar, kian lama keheningan tiba-tiba suara dari gawai milik Jafar menyadarkan Alma yang dengan spontan berdiri menjauhi Jafar, karena telah terlalu lama berada di pangkuan.


"I-itu ponsel kamu bunyi," ucap Alma.


Jafar mengambil gawai yang berada di atas meja rias. Saat melihat nama yang tertera di panggilan, ia mendekati ke arah istrinya dan mengangkat gawai dengan layar menghadap pada Alma.


"Lutfan?" gumam Alma.


Jafar mengangguk. Dan geser tombol hijau, lantas mengklik tombol speaker.


"Assalamualaikum, pengganti baru! Gu--aku sengaja nelpon Mas, soalnya aku tahu kalian lagi dua-duaan di kamar, kan? Bibi tadi bilang, si Ukhti lelah, capek, butuh istirahat. Dan sebagai jomblo aku nggak mau tahu lelahnya ukhti ini karena apa, aku bener-bener bodo am---" ucap Lutfan dengan tiada henti.


Dengan menatap yakin Jafar, Alma mencoba menjawab Lutfan dengan sedikit mendekati suaminya lantas menyanggah, "Waalaikumussalam. Ada apa kamu telpon suami saya?"


"Iya ... iya suami." Lutfan terdengar terbahak-bahak menggoda Alma. Lantas tiga detik kemudian Lutfan kembali berucap, "Mas Jafar, Ukhti tolong segera resmikan pernikahan kalian secara hukum. Nggih. Takut-takut yang nggak tahu nanti salah paham. Jadi kalau perlu bantuan apa-apa gitu bisa minta tolong aku. Misalnya, nemenin foto berdua kah? Atau nganterin ke mana kah? Adik gantengnya Mas selalu siap siaga menjadi pengantar buat Mas Jafar. Apalagi sekarang seperangkat sama istri Mas, jadi makin siap apa-apa buat bantuin Mas."


"Iya. Terima kasih atas pengingatanmu dan tawaran dirimu. Nanti saya hubungi lagi, setelah diskusi sama suami saya," jawab Alma.


Dan setelah mengetahui bahwa itu adalah akhir kata istrinya. Jafar memutuskan panggilan sepihak---tidak peduli Lutfan masih berbicara panjang lebar.


"Lutfan itu banyak bicara, ya? Tapi ... anehnya jadi lucu," ucap Alma.


Jafar tersenyum simpul dengan sedikit mengangguk.


Langkah kaki Alma mendekat pada meja rias, menatap cermin yang memantulkan diri dan tangannya sedikit terangkat menguncir surai, lantas mengunakan kerudung secepatnya. "Saya mau ke dapur ambil minum. Ka ... mu, mau minum sesuatu?"


"Teh."


Gerakan bibir Jafar terbaca kian cepat oleh Alma.

__ADS_1


"Okay. Kamu tunggu sini, ya?"


Sampai di dapur, Alma mengambil panci kecil untuk merebus air. Selanjutnya ia berjalan ke arah rak piring gelas, mengambil dua gelas kaca yang sedikit panjang lantas menaruhnya di meja. Dan di susul berjalan ke arah kulkas dalam---mengambil teh, juga tidak lupa memberi gula yang sudah tersedia di meja.


"Lho? Kok menantu Ummi bangun, sih?" tanya Ummi Salamah, yang kedatangannya benar-benar tak Alma sadari.


"Ini Ummi, Alma mau bikin teh. Ummi mau?"


Ummi Salamah menggeleng. "Nggak, Nak. Ummi nggak terlalu suka teh, pun kalau minum itu harus di paksa dulu sama Abinya Masmu."


Abi?


Ayahnya Jafar?


"Rasanya nggak enak ya, Ummi?"


Ummi Salamah terkekeh dan mengambil duduk di dekat kursi meja. "Bukan masalah nggak enaknya. Ummi ini emang nggak terlalu suka dari kecil dulu. Kalau orang yang suka pasti jawaban enak-enak aja."


"Iya juga, ya ..."


Alma berjalan mendekati kompor dan mematikannya. Lantas mengangkat panci kecil yang berisi air yang telah mendidih---pada kedua gelas yang telah berisi teh dan gula.


"Berkas-berkas buat daftarin pernikahan secara resmi jangan lupa segera disiapin, ya? Kalau ada apa-apa minta tolong anterin Lutfan, Ummi sudah bilang kok," ucap Ummi Salamah.


"Iya Ummi, secepatnya Alma sama Mas Jafar siapin."


Ummi Salamah menuang air mineral pada gelas kaca kecil dan meneguknya perlahan. "Surat pengantarnya biar nanti Ummi yang mintain. Pokoknya kalau semua udah beres, bilang ke Ummi."


"Iya, Ummi."


Ummi Salamah mengangguk. "Ya udah. Jumat bersama minggu ini ikut acara di pesantren, ya? Ummi kenalin ke orang-orang pesantren kalau kamu istri Jafar dan kalian sudah menikah."


Hari ini baru Rabu.


Dua hari lagi, ya?


"Mau ya, Nak?" lanjut Ummi Salamah dengan bertanya.


Alma mengangguk malu-malu. "Iya, Ummi. Alma mau."


...🌺...


Zuhur telah terlewat empat belas menit yang lalu. Alma terbangun tiba-tiba, entah mengapa ia lupa bagaimana bisa akhirnya ia tertidur---seingatnya setelah minum teh Jafar menuliskan bahwa lebih baik ia harus istirahat secukupnya. Dan seingatnya pula Jafar juga mengganti perban di luka lutut kanannya.


Ya udahlah nanti aku ingat-ingat lagi. Sekarang baiknya aku salat zuhur!


Saat hendak turun dari ranjang, netra Alma menangkap selembar kertas putih---yang ia yakini itu dari suaminya. Ia mengambil duduk di tepi ranjang dan membaca surat.


"Terima kasih atas segala ucapan serta pelukan hangat yang saya minta tiba-tiba tadi. Saya benar-benar malu, bagaimana bisa sebagai seorang laki-laki sampai hati saya melukai kamu? Bahkan tanpa harus saya berbicara pun kamu sudah memaafkan saya. Selama beberapa tahun ini, akhirnya saya menemukan seseorang yang bisa mengerti diri saya selain Ummi dan keluarga saya.


Yaitu, kamu. Terima kasih telah menerima ketidaksempurna saya, Alma," tulis Jafar.


Kedua sudut bibir Alma tertarik perlahan. Ia tersenyum simpul. Usai sudah dibacanya surat itu, ia kembali melipat surat menjadi dua bagian dan lagi-lagi berjalan ke arah lemari kayu---memasukan surat pemberian Jafar ke dalam tas.


"Bertambah satu lagi Jafar ... seenggaknya, surat ini juga bisa membuat saya berpikir dua kali," gumam Alma.


Secepatnya Alma berwudu. Lantas melaksanakan salat empat rakaat. Beberapa menit pun berlalu, setelah usai beribadah, ia mengambil kerudung instan navy---yang dipinjamkan oleh Ummi Salamah. Kemudian ia berjalan keluar kamar, ingin menuju ke dapur sebentar untuk minum. Namun saat melewati kamar mertuanya ia berniat ingin bertanya.


"Ummi?"

__ADS_1


Tiada suara.


Sunyi.


Bahkan pintu kamar pun sedikit terbuka, dan perlahan-lahan ia mencoba masuk. "Ummi, Alma permisi masuk. Ummi di dalam?"


"Apa Ummi keluar, ya?" gumamnya dengan bermonolog.


Berbalik. Keputusannya adalah meninggalkan kamar Ummi Salamah, karena sepertinya beliau pun tidak ada di sini. Namun sedetik ia berbalik, netranya menatap kain putih---seperti mukena dengan jari-jari kaki yang terintip di lubang.


Apa Ummi salat?


Kayak iya. Beliau salat sambil duduk.


Ta-tapi, kalau sambil duduk nggak mungkin serendah itu. Dan dari ranjang pasti masih kelihatan.


Alma kian mendekat. "Ummi? Ummi sholat?"


Tepat saat Alma berdiri di hadapan beliau. Netra Alma menangkap Ummi Salamah tergeletak tak sadarkan diri, dengan menggunakan mukena serta tangan kanan beliau yang memegangi pigura.


"Ya Allah, U-ummi!"


Panik.


Alma serasa bingung ingin melakukan apa. Tangannya tiba-tiba basah dan dingin, ia mencoba mendekati Ummi Salamah berniat untuk membawa beliau ke ranjang. Namun naas gagal. Kakinya tidak sanggup menopang karena benar-benar terlalu menekankan.


"A-aku harus hubungi Jafar ..."


Dengan tergesa-gesa Alma berlari ke kamar---mengambil gawai. Dan secepatnya mencari-cari kontak Jafar, lantas menekan tombol panggilan serta kembali lagi ke dalam kamar Ummi Salamah.


"Nggak-nggak!"


Alma menggeleng dan mematikan panggilan. Ia tahu Jafar tidak bisa menjawab panggilan, ia takut melukai Jafar lagi. Secepatnya ia mengirim sebuah pesan singkat, lantas di susul mencari nama Mardiyah dan menghubungi teman panti asuhannya itu.


Tersambung.


"Assalamualaikum, Mar. A-aku minta tolong sama kamu ..."


Dari seberang Mardiyah menjawab, "Waalaikumussalam. Ada apa?"


"Tolong kamu cari Lutfan. Dan bilang ke Umma kalau Ummi Salamah pingsan."


Alma yakin Mardiyah pasti sangat terkejut. Sedetik setelah mendengar itu Mardiyah berujar, "Ya Allah! Iya-iya. Sekarang kamu ke luar, cari Ustadzah Aini, kamu minta tolong ke beliau dulu."


...•...


...•...


...•...


Note:



Gambar di atas saya ambil dari TipsInfoBelajar blogspot. Yang mana ditulis Ikhwan Setiawan, April 22, 2014.


(Diatas adalah contoh cara Jafar mengunakan bahasa isyarat)


Saya pinjam ya, Mas. Sebagai contoh. Dan terima kasih juga atas informasinya mengenai penggunaan bahasa isyarat.

__ADS_1


__ADS_2