
Perbincangan dengan Salwa tadi siang benar-benar penuh tawa. Cara bicara Salwa yang percis sekali dengan Lutfan, Alma lagi-lagi jadi berpikir sebenarnya Jafar lebih mirip dengan siapa? Apa benar dengan Abinya? Seperti yang pernah Ummi Salamah bicarakan?
Azan salat asar berkumandang, ia agaknya lupa untuk menghubungi Jafar kalau Salwa telah pergi. Bukan pulang---lebih tepatnya ke panti asuhan, karena tadi kebetulan ada Mardiyah yang datang mengantar beberapa buah-buahan untuknya.
Alma membuka gawai mencari-cari kontak nama suaminya, Mas Jafar.
^^^Mas, Salwa ke panti asuhan^^^
^^^Saya tetap di rumah,^^^
^^^lebih tepatnya saya sekarang di kamar^^^
Mas Jafar
Bada ashar saya pulang
^^^Iya, Mas^^^
Waktu yang Jafar minta Alma tak tahu berakhir kapan. Bagian terpentingnya ia merasa sedikit lega, setidaknya Jafar tidak abai, Jafar masih membalas pesan, Jafar masih mengkhawatirkannya, semua masih Jafar lakukan.
Keberuntungan yang mungkin tak akan ia dapati, jikalau ia menikah tidak dengan orang yang tepat. Mungkin kesalahan pahaman itu akan meretakkan rumah tangga yang baru berumur jagung ini.
Alma beranjak dari ranjang mengambil laptop miliknya. Ia pikir-pikir sudah lama ia tak menulis tentang segala hal, mungkin impiannya untuk menjadi penulis tidak akan terlaksana. Karena ia memiliki amanah baru yang mana itu mengurus Kedai Bersama milik Ibu sambungnya---Bibi Maryam.
Setelah posisi duduk sudah benar-benar nikmat, tangan kanan serta kirinya lihai mengetik.
"Dia bilang, 'pertengkaran adalah hal yang lumrah dan kata maaf akan selalu terdengar di telinga saya atau pun kamu.'
Saya setuju.
Karena tidak semua hati itu selaras.
Bukan tidak cocok, ya? Maksudku gini, ada saat-saat di mana manusia butuh untuk memahami dirinya sendiri, baru selanjutnya akan berusaha memahami orang lain. Atau mungkin sebaliknya?
Seperti yang dia minta tadi.
Waktu.
Dia membutuhkan waktu.
Dan aku hanya bisa memberi apa yang dia minta. Karena memaksa tidak akan membuahkan apa-apa dalam hubungan ini---pernikahan.
Jika dia berusaha memahamiku, bukankah sebagai seorang istri aku juga harus bisa lebih memahaminya?
-menuju waktu ashar.
Tertanda, Almahyra."
Tiba-tiba saja ia tertawa ringan.
"Ini mah jatuhnya aku cur--eh bukan-bukan! Bukan curhat! Ini semacam menulis diary untuk di konsumsi diri sendiri," ujar Alma dengan tawa lagi.
Terdengar suara pintu terbuka, spontan itu membuat Alma cepat-cepat menutup laptop. Ternyata Ummi Salamah----mertuanya, telah datang. Beliau mendekat dan mengusap pucuk kepala Alma yang tertutup kerudung.
"Udah baikan kamu, Nak?"
Alma mengangguk kecil. "Alhamdulillah udah Ummi. Tadi juga Alma keluar sebentar sama Mas Jafar. Di kulkas ada jus Alma tadi beli juga buat Ummi."
"Makasih, ya? Udah makan belum kamu?"
"Tadi jam sepuluh udah, makan bubur dibuatin sama Mas Jafar. Ini ta ... di, belum sih Ummi," jawab Alma.
Ummi Salamah manggut-manggut. "Kalau gitu, ayo makan. Ummi tadi beli bubur buat kamu."
Alma ikut beranjak menuju dapur. Ternyata dua mangkuk bubur telah tersaji di meja makan, dengan senyum mengembang ia mengambil duduk berseberangan dengan mertuanya.
__ADS_1
"Ummi makasih ..."
Ummi Salamah mengangguk, dilahapnya bubur itu bersama-sama dengan perlahan. "Oh iya katanya, Dokter Andira bilang jadwal operasinya di undur hari jumat, ya Nak?"
"Iya Ummi. Kata Dokter Andira, operasi Alma ini termasuk operasi kecil, dan mungkin beliau ada operasi besar yang nggak bisa ditinggal jadi beliau minta operasi Alma dilaksanakan sesudah sholat jumat," jelas Alma.
Ummi Salamah menyuap lagi buburnya. "Terus sekarang Masmu di mana?"
"Mas Jafar ke outlet Ummi, tapi habis ini pulang kok."
"Terus tadi kamu ditemani siapa?"
Alma mengaduk-aduk buburnya. "Ditemani Salwa, Ummi. Sekarang Salwanya lagi ke panti, nggak tahu dia suka banget ke sana. Siapa juga yang ditemui."
Ummi Salamah mendekat, mengubah posisi duduknya berdampingan dengan Alma. Beliau mengeluarkan gawai, mengutak-atik sejenak dan menunjukkan kepada menantunya. "Bagus nggak ini, Nak?"
"Bagus, Ummi."
"Rencana nanti akadnya pakai ini. Kamu suka 'kan?"
"Suka, Ummi."
Seulas senyum simpul tercekat dibibir Ummi Salamah. "Untung banget kamu suka. Ummi nggak salah pilih alhamdulillah. Oh iya ... terus nanti ganti bajunya dua kali ya Nak? Eh tiga kali sama baju akadnya. Kamu nggak keberatankan 'kan Nak?"
"Insya Allah enggak, Ummi. Alma nggak bakal keberatan kok."
Karena Alma sadar, pernikahan Alma adalah kebahagiaan bersama.
Kebahagiaan untuk semua orang.
"Dua baju gantinya udah Salwa kirim ke butik. Itu sesuai sama pilihan kamu 'kan Nak? Nggak ada paksaan dari Salwa?"
"Enggak Ummi, nggak. Alhamdulillah nggak ada unsur pemaksaan dari Salwa. Alhamdulillah Alma emang suka sama baju-baju yang dikirim Salwa, dia ngirim lima model Ummi, dan Alma disuruh milih sendiri kok dua model itu," jelas Alma.
"Kamu malah ketawa. Ummi ini serius, Salwa itu suka maksa-maksa kalau soal beginian, dikira apa dia yang nikah gitu?"
Lagi-lagi Alma tertawa. "Biasanya anak perempuan suka gitu Ummi, hitung-hitung mungkin Salwa persiapan untuk pernikahannya di masa depan."
...🌺...
"Sudah makan?" tulis Jafar yang mengambil duduk bersebelahan---dengan memperlihatkan buku catatannya.
"Sudah, Mas. Tadi Ummi beli bubur, saya makan sama Ummi berdua."
Jafar mengangguk dan kembali menulis. "Perutmu baik-baik saja 'kan?"
"Baik alhamdulillah. Nggak sakit lagi, kok."
Jafar terdiam sejenak, kemudian menulis lagi. "Apa yang kamu lakukan dengan Salwa tadi saat di rumah?"
"Enggak ngapa-ngapain, saya sama dia cuma cerita-cerita aja, Mas."
Jafar mengeluarkan sesuatu di tas kecil hitam---yang mana itu adalah cincin emas dan memberikannya kepada Alma.
"Buat saya?"
"Iya. Itu sepasang dengan kalung yang saya berikan," tulis Jafar.
"Te ... rus? Ini buat nanti acara pernikahan kita? Atau apa? Kenapa tiba-tiba kamu ngasih saya ini?"
"Apa semua yang saya berikan untukmu harus memiliki alasan?" tulis Jafar.
Alma menggeleng pelan. "Nggak juga. Ta ... pi kan saya cuma tanya. Apa ini buat acara pernikahan kita nanti?"
__ADS_1
Buku catatannya Jafar letakkan di samping ranjang. Ia mengeluarkan gawai dan duduk lebih dekat pada Alma lantas mengetik sesuatu. "Tidak. Itu untukmu saya beli untukmu, bukan untuk apa-apa. Bukankah saya sudah bilang, bahwa cincin itu sepasang dengan kalung yang saya berikan sebagai mahar pernikahan di rumah Paman Idrus."
"Jadi?"
"Jadi silakan kamu pakai. Untuk cincin pernikahan kita, tetap yang dipilihkan oleh Bibi Maryam," tulis Jafar.
"Terima kasih, Mas ..."
Alma tiba-tiba saja teringat sesuatu, ia menatap Jafar lurus dan berujar, "Kamu sendiri udah makan?"
"Sudah," tulis Jafar.
"Kamu nggak bohong lagi?"
Jafar menggeleng.
"Kamu beneran nggak bohong? Kalau emang iya kamu udah makan, sebutin kamu makan apa? Di mana juga? Jam berapa juga? Ini udah selesai ashar, dan saya nggak lihat kamu makan sama sekali, tadi pagi kamu udah sarapan atau belum pun saya nggak tahu, Mas," jelas Alma.
Terdengar helaan napas pelan dari Jafar, dengan perlahan ia mengetik. "Saya tidak berbohong, tadi jam sepuluh saya makan dua risoles."
"Mas!" Raut wajah Alma tiba-tiba saja berubah netranya pun berkaca-kaca. "Ka-mu ini ... sama aja bohong."
Alma hendak beranjak dari ranjang. Namun lagi-lagi Jafar menahannya dengan menyentuh pergelangan tangan kanannya. "Apa, Mas?"
"Kamu ini ... gimana kalau kamu sakit?"
"Lepas." Tangan Alma menarik tangan Jafar pelan-pelan dari pergelangan tangannya. "Saya mau kamu makan. Saya mau ambilin kamu makan. Kamu harus makan nasi dulu, Mas."
"Kamu itu nyadar nggak sih? Kalau nggak makan nasi dari tadi pagi kamu nanti bisa sakit!"
Genggaman dipergelangan tangan Alma terlepas. Namun sebelum itu Jafar mengunci istrinya untuk kembali duduk, lantas ia mengetik di gawai. "Maaf. Saya akan makan. Saya bisa mengambil makanan sendiri. Kamu di sini saja, kembali istirahat."
Penolakan itu entah dibersamai rasa khawatir, entah pula memang tak ingin menerima perhatiannya. Sungguh ia memahami Jafar tentu masih marah, tapi untuk melalaikan diri sendiri baginya itu adalah perbuatan yang tidak bisa diterima. Ia berniat untuk menyusul suaminya, dengan menuju dapur juga---ternyata Jafar tengah menyantap makanan di sana.
"Mau minum teh?"
Jafar menggeleng.
"Terus mau minum apa?"
Jafar menggeleng lagi dengan melahap makanannya perlahan. Kemudian mengambil pena dan kertas yang tersedia di meja. "Air putih saja. Dan jika saya bisa meminta tolong. Tolong ambilkan jus yang kamu belikan tadi di lemari pendingin."
Tanpa sadar senyuman mengembangkan di bibir Alma. "Iya, kamu tunggu sini. Saya ambilin jus dulu."
Beberapa detik jus telah ditaruh meja, di susul pula air putih di gelas kaca ukuran sedang. Alma mengambil duduk berseberangan dengan Jafar---memandangi suaminya itu terus menerus.
"Ini minum air putih dulu," ucap Alma menyerah air putih pada Jafar, lantas kembali memandangi lagi. "Jangan lupa jusnya di minum juga, Mas."
"Apa-apaan kamu menatapi saya seperti itu?" tulis Jafar---yang Alma yakini ini bernada protes.
"Lho nggak pa-pa 'kan? Saya cuma mau natap Mas aja. Nggak ada larangan juga natap su-a-mi saya sendiri," jawab Alma.
Wajah cemburut Jafar sangat lucu untuk dilihat oleh Alma. Tangan Jafar kembali menulis lagi. "Tapi saya sama sekali tidak nyaman kamu pandangi saya seperti itu, Alma."
Alma kian mendekat---mendekatkan tubuh juga pandangnya. "Nggak nyaman gimana kamu, Mas? Saya ini cuma mau lihatin kamu lama-lama, saya nggak berniat ngapa-ngapain kok."
Spontan Jafar menahan tubuh Alma, hingga sang pemilik tubuh kembali pada tempat duduk awal. "Bahasa tubuhmu dan cara berbicaramu seolah-olah berniat melakukan sesuatu terhadap saya, Alma," tulis Jafar lagi.
"Enggak! Saya .... saya cuma niat goda kamu aja, nggak maksud apa-apa," ucap Alma.
Kedua sudut bibir Jafar terangkat, dan tangannya kembali menulis. "Jika pada akhirnya saya tergoda. Apa kamu bersedia bertanggung jawab?"
Note:
Operasi Alma diundur hari Jumat. Padahal saya udah yakin kok tadi sebelum up Bagian 45 udah edit dari rabu depan, jadi hari jumat. Eh ternyata pas saya cek belum. Maafin, ya.
__ADS_1