Almahyra

Almahyra
Bagian 59 (2)


__ADS_3

"Jika saya tidak sanggup menahan diri. Kamu ingin melakukan apa, Alma?" tulis Jafar di gawainya.


Alma terdiam. Sebenarnya pun ia tak tahu ingin melakukan apa, memangnya ada cara lagi? Ia hanya takut Jafar berpaling, atau kabar buruknya Jafar merasa bahwa pernikahan ini tidak ada yang patut untuk di kenang.


Jafar mendekatkan gawainya. "Selama ini pun saya tidak terlalu menahan diri, Alma. Saya melakukan hal-hal yang condong ke sana padamu. Jadi kamu tidak perlu risau, saya masih sanggup menahan diri sedikit lagi."


Setelah membaca itu, reaksi Alma hanya mengangguk. Jikalau dipikir-pikir memang benar, pernikahan ini hampir berjalan tiga minggu, masih ada satu minggu lebih menuju walimatul'ursy dan Alma telah menyiapkan diri.


Lagi-lagi apa yang di katakan Jafar benar. Entah lah apa yang terjadi pada otaknya, selalu saja berpikir yang bukan-bukan. Padahal tidak ada sedikit pun perubahan Jafar.


"Maaf, Mas."


"Saya tidak merasa ada kesalahan yang kamu lakukan. Lantas kenapa tiba-tiba meminta maaf?" Jafar mendekat gawainya lagi.


Alma menggeleng. "Nggak pa-pa, saya cuma mau minta maaf."


"Atau justru kamu yang merasa bosan?" tanya Jafar.


Spontan Alma menjawab, "Enggak, Mas!"


"Saya ... nggak bosan."


Jafar mendekatkan gawainya pada Alma. "Setelah jahitanmu di lepas, kamu pulih, dan kamu bisa menjalankan Kedai Bersama. Saya ingin mengajak kamu jalan-jalan."


Alma mengangguk-angguk. "Jadi ... harus nunggu saya pulih dulu? Sama nunggu saya jalani Kedai Bersama? Kenapa?"


"Kamu sudah siap bertanggung jawab atas kedai itu, kan? Jadi tolong lakukan dengan baik. Jangan mengecewakan Bibi Maryam dan Paman Idrus," tulis Jafar.


"Insya Allah, Mas."


Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih empat pulih lima menit. Semakin sunyi dan hanya terdengar deru napas keduanya, karena Alma pun tiba-tiba terdiam.


"Kamu nggak ngantuk, Mas?"


Jafar mendekatkan gawainya pada Alma. "Pejamkan matamu, Alma. Ini sudah hampir jam tiga."


Alma tiba-tiba saja teringat. "Oh iya, saya sampai lupa. Besok kan kita beli hadiah buat anak-anak panti juga, ya Mas?"


Jafar mengangguk.


"Kalau gitu saya mau tidur. Kamu tidur juga, Mas." Alma hendak bangkit mematikan lampu. Namun di tahan oleh Jafar. "Saya mau matiin lampu dulu."


Jafar menggeleng lelaki itu bangkit dan mematikan lampu. Lalu kembali bergabung di ranjang.


"Makasih, Mas."


...🌺...


Terkadang-kadang ia merasa iri dengan Jafar. Bagaimana bisa lelaki itu bangun lebih dulu darinya? Ummi Salamah bilang, Jafar telah berangkat ke Masjid Pesantren mendahuluinya bangun sekitar pukul tiga lebih dua puluh menit.


Sedetail itu memang mertuanya dalam mengingat.


Dan ia baru saja bangun mendekati ikamah. Lantas tiada waktu untuk ia berhenti, cepat-cepat mandi, salat, lalu mengganti pakaian lengkap dan menyiapkan sarapan.


"Mau masak kamu?"


Alma benar-benar terkejut karena Ummi Salamah tiba-tiba datang tanpa langkah yang terdengar. "I-iya Ummi. Ini mau masak."


Ummi Salamah menggeleng. "Enggak-enggak nggak boleh, duduk kamu, Nak. Nanti kamu ini mau lepas jahitan."


Alma terdiam.


"Kan jahitannya udah kering, Ummi. Alma nggak pa-pa, kok," ucap Alma.


Ummi Salamah menggeleng.


"Te-terus Alma ngapain, Ummi?"

__ADS_1


Ummi Salamah lihai memotong tempe menjadi kotak-kotak. "Nggak ngapa-ngapain. Kamu diam aja."


Hingga lima belas menit berlalu hidangan oseng tempe dan kacang panjang telah tersaji. Sesederhana itu memang untuk sarapan, karena akan langsung habis dan makan siang pun akan memasak lagi.


"Itu Masmu udah datang," ucap Ummi Salamah.


Spontan Alma berbalik. Nggak kedengeran sama sekali langkah kakimu, Mas. Jafar terlihat mengambil duduk di samping Alma.


Sedangkan Ummi Salamah tidak duduk, beliau tiba-tiba saja berujar, "Ummi ke panti dulu, ya Nak? Udah di jemput Cak Sur kayaknya."


"Ummi, nggak sarapan?"


"Nanti sama Umma Sarah. Kali berdua sarapan, ya? Ummi berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Ayam berkokok berkali-kali. Alma dan Jafar telah usai sarapan. Seperti biasa, ia hanya ingin cuci piring sebentar. Namun lagi-lagi di larang.


"Mas ..." Jafar tak berbalik. Lelaki itu fokus mencuci piring dan gelas kotor. Sedangkan Alma terpaksa bangkit, dengan jahil ia memeluk suaminya dari belakang. "Nyebelin banget kamu!"


"Saya aja yang cuci." Alma menarik spon dengan tangan kiri yang masih merangkul pinggang Jafar. "Kamu mah ... saya ini udah sehat lho, Mas. Nanti juga mau lepas jahitan. Masa cuci peralatan dapur gini aja nggak boleh?"


Jafar mencuci tangannya, mendorong pelan Alma untuk menjauh. Hingga istrinya itu kembali duduk.


"Nyebelin." Alma cemberut, menyentak pelan tangan Jafar dari kedua bahunya. "Akhh!"


Jafar tiba-tiba saja berbalik. Alma tak sadar berteriak, spontan saja ia membungkam mulutnya, dengan menggeleng-geleng Jafar tersenyum tipis.


"Mas Jafar ... Mas Jafar ...." Alma memanggil-manggil nama suaminya terus menerus. Hingga keran air berhenti, semua peralatan dapur telah usai di cuci. Jafar berbalik, mendekatinya dengan duduk berjongkok di bawah.


"Berdiri, Mas." Jafar menggeleng. Tangan lelaki itu meraba di perutnya yang telah rata tanpa tonjolan. Hari ini Alma menggunakan rok dan baju terpisah, bukan gamis. Hingga detik berikutnya, baju panjang itu di sikap. "Kamu mau lihat perut saya?"


Jafar mengangguk.


"Egh ..." Alma menunduk, menyikap bajunya sedikit ke atas. "Lihat ... jahitannya, Mas."


"Hm?" Alma mengusap perutnya. "Sakit?"


Jafar mengangguk.


"Enggak, Mas."


Gawai Alma yang berada di kamar tiba-tiba saja berdering. Secepatnya ia berlari mengambil gawainya---meninggalkan Jafar yang masih terduduk di sana.


"Halo, Mar?"


Alma berjalan menuju dapur. Dan duduk kembali di kursi yang berhadapan-hadapan dengan Jafar.


"Ganggu?"


Alma menggeleng. "Enggak. Kenapa?"


"Aku denger kalian mau ke kota. Boleh minta tolong?" ucap Mardiyah di seberang.


Alma menatap lurus pada Jafar. "Boleh, Mar. Minta tolong apa?"


"Titip hadiah buat Inayah."


Sebelah alis Alma terangkat. Hadiah buat Inayah? Alma tak tahu semenjak kapan Mardiyah dekat dengan Inayah. Atau memang, dirinya saja yang baru tahu?


"Boleh?" tanya Mardiyah, lagi.


"Boleh, Mar."


"Nanti aku kirim contohnya di WA. Maaf kalau merepotkan," ujar Mardiyah.


"Enggak kok, Mar."

__ADS_1


Panggilan telepon terputus sesaat Mardiyah mengucap salam. Alma membuka aplikasi pesan singkat dan melihat apa yang akan dibelikan Mardiyah untuk Inayah.


"Apa?" Jafar menggerakan bibir.


"Peralatan sekolah sama ... satu set gamis, Mas."


Jafar mengangguk.


"Ah ... saya baru inget, Mas. Ternyata habis ini Inayah ulang tahun. Tepat Minggu bersama kalau nggak salah," ujar Alma.


Jafar mengangguk lagi dan mengeluarkan pena serta buku catatan. "Kamu di panti dekat dengan Inayah?"


"Saya dekat sama Kirana dan Inayah, Mas. Kamar saya bersebelahan dengan kamar mereka."


"Jadi, kamu ingin menghadiahi Inayah apa?" tulis Jafar.


Alma menggeleng. "Nggak tahu. Gamis kah, Mas?"


Jafar menulis lagi di atas meja. "Kerudung saja."


"Kerudung?"


Jafar mengangguk.


"Boleh-boleh. Saya nanti beli semua warna aja, buat Inayah sama Kirana juga."


Jafar menarik Alma pelan ke dalam kamar, meminta istrinya itu segera berganti pakaian yang layak saat di depan umum. Matahari pun telah terbit sesuai dengan janji Jafar, bahwa ia akan mengunjungi makam Abi mertuanya di pemakaman pesantren.


Setelah berdoa dan menabur bunga. Alma dan Jafar segera berlalu ke dalam mobil, secepatnya menuju rumah sakit.


"Jadi ... Abi Mas sama Abinya Lutfan meninggalkan waktu Lutfan masih sekolah, ya Mas?"


Jafar mengangguk.


"Pasti berat banget," lirih Alma.


Sepuluh detik berlalu Jafar menggeser buku catatannya dan menaruh di pangkuan Alma. "Bagi orang-orang yang memandang pasti ujian ini cukup berat, Alma. Namun saya tidak pernah lupa bahwa Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Jadi saya percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walau dulu, sempat ada ragu di benak saya."


Alma mengambil alih pena di tangan Jafar. Tangan mungilnya lihai menulis di sana. "Seharusnya saat menerima cobaan seberat apapun itu, kita nggak boleh ragu, kan Mas? Tapi mau bagaimana lagi? Kita ini tetap manusia," tulis Alma.


Jafar terlihat mengangguk dan mengambil alih buku catatan. "Tetapi sungguh, Alma. Hikmah dibalik segala kejadian yang saya dan Lutfan lalui ini nyata."


"Saya bisa kembali percaya, saya bisa kembali bangkit, saya bisa baik-baik saja itu semua karena ada Ummi ada keluarga dan ada kamu di sini sekarang," lanjut Jafar di bawah.


"Jadi ... kehadiran saya termasuk hikmah?" bisik Alma.


"Kehadiran seorang istri seperti kamu termasuk kebahagiaan yang terduga. Setelah bertahun-tahun saya merasakan kesedihan dan kesepian hidup sendiri, Alma," tulis Jafar.


Kamu sadar nggak sih, Mas? Kamu selalu mengulang-ulang ini. Kamu selalu menyebut bahwa kamu merasa bahagia memiliki saya.


Selalu terulang.


Dan saya, selalu bahagia.


Gawai Jafar tiba-tiba saja berbunyi. Sepertinya pesan masuk. Lelaki itu mendekatkan gawai padanya. Tertera nama: Ummi.


Ummi


Nak, jangan lupa sepulang lepas jahitan bantu Ummi menulis nama-nama orang yang di undang, ya?


"Egh ..." Alma menatap Jafar dan gawai itu bergantian. "Undangan walimatul'ursy, Mas?"


Jafar mengangguk.


"Iya, nanti saya bantu juga."


[.]

__ADS_1


__ADS_2