Almahyra

Almahyra
Bagian 22 : Seperti Apa Jafar?


__ADS_3

...22 : Seperti Apa Jafar?...


"Apa putra Ummi ... memperlakukan kamu dengan baik di dalam kamar?---Maksud Ummi, di sudut ruangan mana pun, saat kalian sedang berdua. Apa Jafar ... berperilaku buruk?"


Jeda lima detik Alma menjawab, "Mas Jafar baik, Ummi."


"Harusnya Ummi nggak tanya, ya? Karena pernikahan kalian pun baru terlaksana kemarin malam, dan kamu pasti belum mengenal Jafar lebih dalam," ucap Ummi Salamah.


Alma mengangguk pelan.


"Sampai sekarang Ummi benar-benar nggak nyangka, Nak. Kamu sudah menjadi menantu Ummi, bahkan pernikahan yang kamu minta jaraknya dalam tujuh bulan bisa terlaksana secepat ini." Ummi Salamah mendekat, menyentuh tangan Alma dan menggenggamnya erat. Lantas beliau kembali berujar, "Ummi harap, keputusan yang kamu ambil malam itu adalah benar."


Aku yakin Ummi, keputusanku adalah benar.


"Insya Allah, Ummi."


"Hari ini Ummi antar ke rumah sakit, ya?" tanya Ummi Salamah, saat genggaman tangan beliau terlepas.


Spontan Alma menggeleng. "Jangan sekarang Ummi, Alma belum bicara ke Mas Jafar tentang keadaan Alma yang sebenarnya."


"Jadi kapan secepatnya kamu bicara, Nak? ... Atau Ummi aja yang---"


Alma menyanggah, "Jangan, Ummi. Alma berencana hari ini bicara ke Mas Jafar."


"Ya sudah. Ummi mau ke kamar istirahat sebentar, Nak. Kalau misal kamu ngerasa bosan atau gimana, kamu bisa keliling pesantren sama Ustadzah Aini. Kamu pernah ketemu dia kan?"


"Pernah, Ummi. Tapi kayaknya Alma mau di kamar aja," ucap Alma.


Tidak menjadi masalah untuk Alma berdiam diri di kamar. Karena jika ia memilih mengelilingi pesantren, segala pertanyaan dari orang-orang harus dijawabmya satu persatu, belum lagi ada yang membicarakannya terang-terangan, Alma rasa ia masih tak sanggup.


Apalagi pernikahan ini terjalin dengan tiba-tiba.


Kling!


Notifikasi dari gawainya terdengar. Ummi telah memasuki kamar beliau, sedangkan Alma memilih duduk di sofa abu-abu ruang tamu.


Mardiyah


Selamat berbahagia atas pernikahanmu dengan Jafar, Alma.


Alma terdiam sejenak, memandangi nama Mardiyah yang tertera pada kontak yang mengirimkan pesan singkat ini.


Jadi, kamu rela Jafar menikah denganku, Mar?


Tangan kanan serta kirinya membalas pesan singkat itu dengan cepat.


^^^Terima kasih, Mardiyah.^^^


^^^Aku akan menunggu hari bahagiamu bersama Lutfan.^^^


Ditekannya pelan tombol bagian kanan gawai yang terpisah dengan volume. Sehingga layar gawai itu mati, lantas diletakkan gawai itu di atas meja. Netra Alma menengadah sejenak melihat atap semen, yang bercat putih. Semua di dalam rumah ini mendominasi putih, sedangkan di kamar Jafar, lebih mendominasi abu-abu.


Kemudian pandangannya turun perlahan, melihat foto yang dipajang laki-laki yang sangat mirip dengan Jafar, sedang mengunakan pakaian pernikahan bersanding dengan perempuan. Sedikit ke samping ada satu foto di mana lelaki remaja berpose datar sedang laki-laki paruh baya tersenyum lebar di sana.


Apa Jafar seperti Ayahnya?


Cara dia berkomunikasi denganku selalu mengunakan bahasa formal


Bahkan kurasa, jika sampai sekarang dia bisa berbicara pun, dia akan menjawab segala pertanyaanku dengan singkat.


Jafar ...

__ADS_1


Kenapa rasanya sulit sekali memahamimu?


Seolah-olah kamu sengaja menutup diri dariku.


Brak!


Suara yang cukup nyaring membuat lamunan Alma tercerai berai. Jafar terlihat menjatuhkan beberapa buku-buku yang dibawanya, dan kejadian itu sontak membuat Alma langsung berdiri, mendekati ambang pintu, lantas membantu Jafar memunguti beberapa buku.


Alma berpikir semua buku ini baru---karena cukup tajam, halus, bahkan baunya juga berbeda. Saat tangannya hendak mengambil buku yang berdekatan dengan tangan kiri Jafar, netra Alma menangkap luka gores di telapak tangan suaminya.


"Tangan kamu ..."


Aktivitas Jafar terhenti, ia membuka telapak tangan kirinya. Luka gores ini cukup panjang. Namun tidak terlalu sakit, ia menjawab Alma dengan menggeleng.


"Kamu mau ke mana?"


"Kamar," jawab Jafar dengan gerakan bibir yang langsung terbaca oleh Alma.


Semua buku Jafar letakkan di atas meja. Kemudian suaminya itu mendekati lemari, mengambil kertas cokelat yang cukup lebar, tidak lupa juga selotip.


"Kamu mau bungkus buku-buku itu?"


Jafar mengangguk.


"Saya bantu. Tapi luka di tangan kamu ... sa-saya mau lihat, saya kasih handsaplast dulu," ucap Alma.


Ia mendekati Jafar yang tengah berdiri. Dan dengan patuh suaminya memberikan tangan kiri, lantas membuka telapak tangan---membiarkan Alma memasangkannya. Perbandingan tinggi yang berjarak 7 meter membuat Jafar sedikit menunduk memperhatikan istrinya dengan seksama.


"Sele ... sai," ucap Alma tertahan saat kedua netranya beradu tatap dengan Jafar sejenak.


Jafar menarik tangan kirinya.


"Ka-mu mau bungkus ini satu-satu atau berapa?"


"Okay. Jadi dua-dua, saya yang bungkus bukunya, kamu tolong potong-potong selotipnya, yang agak panjang, ya?"


Kedua tangan Alma lihai merapikan bungkusan yang berisi dua buku sekaligus, entahlah dibuat apa oleh Jafar. Satu bungkusan, usai. Hingga yang terakhir, berjumlah empat bungkusan.


"Selesai."


Jafar mengeluarkan buku catatannya, dan membiarkan Alma membaca tulisan yang tertera di sana.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Ngomong-ngomong, buku-buku itu ... buat siapa?"


Jafar menunduk sejenak, menuliskan empat nama di buku catatannya. "Abian, Aji, Kirana, Inayah."


"Anak panti asuhan? ... Kirana sama Inayah? Emang ada apa tiba-tiba kamu kasih mereka hadiah buku? Bukannya milad Kirana sama Inayah udah lewat ya?"


Jafar telah memasukan semua hadiah di dalam tas. Setelahnya ia menuliskan balasan untuk Alma. "Apa memberi hadiah harus menunggu salah satu dari mereka bertambah usia?"


"Ya-ya nggak juga. Saya cuma tanya aja."


Jafar berjalan ke arah lemari, menyimpan sisa kertas cokelat dan selotip tadi. Kemudian ia menunduk sejenak lagi dan menulis sesuatu untuk Alma.


"Kamu mau ikut saya ke panti?" tulis Jafar.


Alma mengangguk.


"Sa-saya mau ke kamar mandi dulu. Tolong tunggu, sebentar," pinta Alma.

__ADS_1


...🌺...


Canggung.


Rasanya aneh berjalan berdua dengan beriringan seperti ini. Jafar di sisi kiri, Alma di sisi kanan. Tiada pembicaraan, pun jika sebagai istri Alma bertanya, itu akan merepotkan untuk Jafar menjawabnya.


Dan saat melewati rumah terakhir tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya yang memanggil Jafar. Maka spontan itu membuat keduanya berhenti melihat siapa gerangan yang memanggil.


"Mas Jafar gimana kabarnya toh? Masih inget ndak sama Bapak?"


Jafar terlihat bingung ingin meletakkan tas yang dibawanya di mana---dan dengan segala kesadaran Alma mengambil alih tas itu. Jafar terlihat mengeluarkan pena dan kertas, tetapi belum sempat Jafar menulis lelaki paruh baya itu kembali berujar.


"Mas Jafar lupa sama Bapak, yo? Bapak yang dagang bakso dulu, pas Mas masih remaja sering beli ... kalau emang lupa yo ndak pa-pa. Ini Bapak bawain bakso, sengaja Bapak nyiapin ini buat Mas Jafar. Maaf kalau misalnya Bapak ganggu, assalamualaikum."


Be-beliau nggak tahu kalau Jafar nggak bisa bicara?


Jafar hendak mengejar. Namun lelaki paruh baya itu telah menyeberang, dan bahkan motor-motor yang lalu-lalang membuat Jafar tidak bisa sampai tepat waktu. Lelaki paruh baya itu pergi. Buku serta pena Jafar pun terjatuh karena spontan berlari.


Dan sungguh Alma merasa bersalah, hanya diam dan melihat saja. Jafar kembali, dengan raut wajah yang sangat sulit untuk Alma baca, bungkusan dalam tas pun di ambil alih serta pena juga buku catatan.


Jafar berhenti di depan pos panti asuhan. Dan menuliskan sesuatu untuk Pak Rizal penjaga panti asuhan. "Saya minta tolong Bapak kasih ini ke anak-anak panti yang namanya Abian, Aji, Kirana dan Inayah. Terima kasih, Pak."


"Nggih, Mas Jafar. Ndak mampir dulu toh?"


Jafar menggeleng. Sedangkan Alma seolah-olah tak mengerti maksud dari Jafar yang tiba-tiba saja menitipkan hadiah itu kepada Pak Rizal.


"Kamu---"


Ucapan Alma terhenti. Saat tangan kanannya tiba-tiba di genggam oleh Jafar, dan ditariknya perlahan untuk mengikuti suaminya keluar dari gerbang panti asuhan.


"Jafar kamu baik-baik aja?"


Jafar terus menggenggam tangan Alma membuat istrinya berjalan seiringan.


"Sa-saya minta maaf, saya tadi---"


Genggaman yang semula terasa biasa di telapak tangan beralih ke pergelangan tangan, kini seakan-akan menekan---menimbulkan kesakitan.


"Jafar, sakit. Lepasin tangan saya," ucap Alma pelan, karena ia tiada ingin orang-orang mendengar apa yang diucapkannya.


Gerbang pesantren Al-Hikmah terlihat. Jafar tetap tidak mau melepaskan genggamannya, terus menggenggam dan menarik Alma sedikit keras untuk memasuki kamar. Bahkan terdengar napas Jafar tersengal-sengal seakan menahan amarah, tatapan netranya pun menjadi tajam. Alma meletakkan bakso yang diberikan oleh lelaki paruh baya tadi disebuah meja, dan tangannya menarik tangan Jafar yang kunjung lepas.


"Jafar lepas!"


Genggaman Jafar terlepas.


"Tangan saya sakit. Kalau emang kamu marah karena saya nggak bantu kamu bicara ke Bapak itu harusnya---"


Brak!


Jafar memukul pembatas kayu yang digunakan untuk memisahkan ruangan ganti dan ranjang. Sehingga mengakibatkan pembatas itu rusak dibagiin depan sampai menebus ke belakang. Jafar menunduk dalam, menghela napas berkali-kali, ia tidak peduli tangannya kembali terluka.


Alma bergeming, berdiri di belakang lelaki yang tengah emosi ini. Ia hanya berharap Ummi Salamah tidak melihat perilaku anaknya untuk saat ini. Sekitar dua menit Jafar terdiam, ia berbalik tanpa menatap Alma dan berjalan ke arah meja kayu rias membuka laci, mengambil pena serta buku catatan di sana.


Dan dengan tangan yang mengeluarkan sedikit darah, Alma melihat suaminya itu menuliskan sesuatu. Setelah usai, Jafar berjalan ke arah kamar mandi dan masuk menutup pintu tanpa berbalik.


Tanpa sadar, air mata menetes di pipi kiri Alma.


"Pada akhirnya kamu berada dititik merasa malu bersuami seperti saya, Alma. Maaf, jika sekiranya saya membuat kamu takut. Karena sebenarnya pun saya tidak sesabar dan sebaik yang orang-orang bicarakan," tulis Jafar.


Note:

__ADS_1


Saya mau tanya, apa pertengkaran ini cukup terasa?


__ADS_2