
"Tadi Mardiyah ngasih kabar. Katanya, hari ini dia menikah sama Lutfan," ucap Alma sesaat Jafar menutup laptop dan mendekatinya.
Jafar mengangguk.
"Lutfan kasih tahu kamu?"
Lelaki itu menggeleng mengeluarkan buku catatan dan pena. "Mana mungkin dia memberi kabar," tulis Jafar.
"Kenapa nggak mungkin, Mas?"
Jafar menunduk---sekitar sepuluh detik ia mengangkat buku catatan. "Saya tidak perlu menjadi lumpuh untuk mengetahui apa yang dia pikirkan, Alma."
"Ma-maksud kamu apa?"
"Kekurangan yang sekarang Lutfan memiliki memang tak sama dengan saya. Namun, bukankah sama-sama merepotkan orang lain?" tulis Jafar.
Sejenak Alma terdiam. "Kamu tahu apa yang Lutfan pikirkan?"
Jafar mengangguk.
"Saya masih ingat jelas kamu menuliskan di buku catatan, bahwa penerimaan lebih penting dibandingkan rasa cinta." Alma mengangguk kecil. "Saya memahami itu, Mas."
"Dan saya juga nggak perlu menjadi Mardiyah untuk tahu apa yang dia pikirkan."
Jeda lima detik, Alma menghela napas pelan, pandangannya lurus pada televisi. "Jika kamu berpikir orang-orang, selain dirimu sendiri hanya bisa menilai dan menghakimi saja. Maka kamu salah, Mas. Orang-orang juga bisa berempati dan berbelas kasih. Saya nggak bilang semua orang. Tapi ada. Ada sebagai orang yang bisa memahamimu melebihi dirimu sendiri, Mas."
Jafar mengangkat buku catatan di depan mata Alma. "Siapa?"
Alma menengok. "Orang-orang di sekitarmu."
"Untuk menjadi orang yang bisa memahami keadaan orang lain. Kita cukup ..." Pandangan Alma kembali menatap televisi. "Memiliki ketulusan hati, Mas."
"Itu menurut saya." Alma menjeda. "Nggak tahu menurut kamu gimana."
Alma sedikit menengok saat buku catatan digeser padanya. "Saya percaya semua orang bisa berempati, tapi tidak luput juga orang-orang akan menilai menurut pandangan mereka sendiri-sendiri."
"Maka dari itu saya bilang, butuh ketulusan hati untuk bisa berempati."
Jafar menunduk lagi dan menulis."Kamu bilang tidak perlu menjadi Mardiyah untuk memahami apa yang dia pikirkan."
Terdapat jeda di satu halaman itu. "Lantas sekarang saya bertanya, apa yang Mardiyah pikirkan saat ingin mempercepat pernikahannya dengan Lutfan?"
Alma tersenyum tipis dan menoleh. "Kalau kamu tanya itu, saya nggak bisa jawab. Karena saya bukan Mardiyah."
"Coba ubah pertanyaanmu, Mas."
"Seperti?" tulis Jafar.
__ADS_1
Alma menatap tepat pada netra Jafar. "Apa yang Mardiyah pikirkan saat tetap memilih Lutfan? ... Kalau itu mungkin saya masih bisa jawab."
"Apa jawabannya?" tulis Jafar.
"Sama. Amanah." Alma memutuskan kontak mata. "Pasti kamu ingin jawaban selain amanah 'kan?"
Alma yakin Jafar mengangguk.
"Selain amanah tentu karena perasaan mendalam Mardiyah untuk Lutfan, Mas." Senyum tipis Alma tampakkan. "Kamu, Mardiyah, dan Lutfan tumbuh bersama."
"Nggak memungkiri ada perasaan mendalam 'kan?" Alma menengok menatap Jafar kembali. "Saya nggak mau bahas yang lalu-lalu, tapi nyatanya kebersamaan bisa menimbulkan rasa, Mas."
Perasaan Mardiyah terhadap kamu contohnya? Alma tersenyum tipis, tangannya terangkat mengusap dahi Jafar yang tertutupi surai. "Bisa aja, kan? Mardiyah sadar perasaan dia yang sebenarnya itu untuk Lutfan."
"Lagi pula, Mas. Yang saya dengar, orang-orang memutuskan menikah bukan sekadar karena cinta semata." Alma mengangguk kecil, dengan tangannya yang menjalar turun di sisi kiri pipi Jafar. "Banyak hal-hal yang perlu dipertimbangkan."
Jafar mengusap lembut tangan Alma dan menggerakan bibir. "Apa?"
"Kesiapan."
Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Kesiapan akan kemungkinan-kemungkinan."
Jafar mengangguk.
"Detik di mana saat kamu menikahi saya ..." Alma menatap teduh pada netra yang seakan ingin tahu segalanya. "Sungguh saya siap, Mas."
Jafar menurunkan tangan Alma dari pipinya, merubah menjadi genggaman tangan. Sisi kanan tangannya menulis. "Contohnya, seperti sekarang 'kan, Alma? Kamu harus siap menerima kemungkinan terbesar bahwa suamimu ini akan tetap menjadi bisu."
"Dan saya juga harus siap menerima kemungkinan-kemungkinan atas keadaan kamu setelah operasi nantinya," lanjut Jafar di bawah halaman tersebut---sebelum ia membalik halaman berikutnya.
Alma mengangguk.
"Kamu benar, Mas."
Alma menautkan jari-jemari kirinya dengan Jafar. "Atas resiko apa pun. Saya harus siap, Mas."
"Pernikahan ini nggak lurus-lurus aja 'kan? Pasti di pertengahan jalan atau di awal atau di akhir ada lika-liku yang harus kita lewati. Kamu sanggup 'kan? Kamu juga mampu 'kan?" imbuh Alma.
Jafar mengangguk. "Selama bersamamu saya akan sanggup dan mampu," tulisnya.
"Saya nggak bisa berjanji untuk selalu bersamamu, Mas. Tapi ..." Alma tersenyum tipis, tangannya terangkat lagi mengusap pipi kiri suaminya. "Saat saya berada di dekatmu, dan saat saya masih bersamamu, di sampingmu seperti ini ..."
"Saya bersedia memberi segala kebahagiaan untukmu, memberi segala kekuatan untukmu ... semuanya akan saya berikan, Mas." Alma menunduk dengan tertawa ringan. Walau nyeri di perut terasa, rasa sakitnya tak apa-apa. "Karena kehidupan saya sekarang adalah kamu."
"Saya nggak berlebihan kok." Alma kembali menatap Jafar dengan tersenyum lebar menampakkan gigi rapihnya.
Tangan Jafar pun terangkat, mengusap pipi kanan Alma dan menjalar mengusap bibir merah alami itu. "Senyum." Jafar menggerakan bibirnya.
__ADS_1
"Senyum saya kenapa?"
"Manis," jawab Jafar dengan gerakkan bibir.
Alma tersenyum jahil. "Mau coba?"
Jafar melongo.
"Saya menawarkan, Mas."
Jafar menggeleng.
Netra Alma terbelalak. "Kamu menolak?"
Jafar mengangguk.
"Jarang-jarang saya menawar---"
Jafar bangkit, Alma pikir suaminya akan pergi, ternyata lelaki itu mengecup dahinya. Dan setelah itu Jafar kembali duduk dan menulis. "Sudah saya bilang 'kan? Setelah kamu pulih saya akan sangat merepotkan kamu. Jadi baiknya sekarang kamu istirahat, supaya segara pulih dan secepatnya saya repotkan."
Pipi Alma tiba-tiba saja memerah. Bahkan spontan saja ia menampar pelan pipi kanannya. Hilang. Hilangkan segala pikiran tak pantas, yang sebenarnya pantas untuk ia pikirkan. Tetapi waktu saat ini sungguh lah tak tepat.
"Ya-ya kamu do'ain, Mas. Bi-biar saya cepat sembuh," ucap Alma dengan terbata-bata.
Jafar mengangguk.
"A-anu. Sa-saya juga nggak sabar ngabisin uang kamu, Mas." Alma mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam selimutnya. "Lihat! Saya udah tulis beberapa di sini."
Jafar mengangguk lagi. Kali ini dengan senyum tipis.
"Awas kamu ngeluh."
Jafar menggeleng.
"Ya-yaudah sana kamu tidur. Nggak usah natap saya sambil senyum-senyum gitu," ucap Alma.
Jafar tidak berjalan menjauh. Namun kembali mendekatinya, setelah itu lagi-lagi dahinya di kecup dan Jafar membenarkan tatah letak selimut. Kemudian lelaki itu berdiri di depan nakas, seperti menulis sesuatu.
"Kamu ngapain?"
Jafar tiba-tiba saja meletakkan secarik kertas yang dilipatnya dipangkuan Alma. Setelah itu Jafar berjalan ke arah sofa panjang dan merebahkan diri di sana. Sedangkan Alma mengerutkan kening, apa yang dituliskan oleh Jafar? Ia membuka secarik kertas itu. "Saya tidak bisa memeluk kamu. Padahal salah satu hal yang paling saya sukai darimu adalah pelukan. Jadi sebagai gantinya, saya mengecup keningmu."
Semburat merah muncul kembali. Gagal sudah. Tidak akan kelanjutan untuk menonton Attack on Titan lagi. Jafar membuatnya terbang.
Nggak salah.
Wajar, kok.
__ADS_1
Pelukan saya memang menenangkan, Mas.