Almahyra

Almahyra
Bagian 62


__ADS_3

Sesuai janji Jafar sekitar pukul lima sore, ia dibangunkan. Dan sekarang telah menuju waktu isya, Alma sebenarnya bosan hanya berdiam diri menunggu Jafar kembali dari mushola hotel.


Dipikir-pikir lagi mengenai panggilan tatap mukanya dengan Ummi Salamah tadi siang sangat membuatnya tak tenang. Segala prasangka buruk memenuhi otak. Bahkan tiba-tiba saja mempengaruhi mood, bukan tak suka. Namun perihal diberikan anak oleh sang pencipta bukan lah kehendak dirinya atau pun Jafar.


Alma tahu hal-hal seperti itu layak untuk dipertanyakan. Sekali lagi, layak dan mungkin sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Tetapi sebenarnya jika ia pikir-pikir lagi, ini salah. Pernyataan itu sangat salah.


"Ya Allah, Mas! Saya kaget," ucap Alma saat tak sadar Jafar telah masuk. Jadi ia benar-benar melamun selama itu?


"Kenapa?" Jafar menggerakkan bibir.


"Kamu mau dengar apa yang saya pikirin, Mas?"


Jafar mengangguk.


"Anak. Soal anak."


Jafar mengambil buku catatan dan pena. "Apa ini yang Ummi bahas tadi? Secepatnya memiliki anak?"


Alma mengangguk.


"Menurut kamu ..." Alma menjeda tiga detik. "Apa wajar Ummi bertanya seperti itu?"


Jafar mendekatkan buku catatannya. "Wajar."


"Tapi apa mungkin ada ucapan Ummi yang menyakitimu?" lanjut Jafar di bawah halaman.


"Eghmm ... wajar?" Alma mengangguk-angguk. "Karena sering dipertanyakan, pasti menjadi wajar 'kan Mas?"


Alma menggeleng. "Enggak kok. Nggak ada ucapan Ummi yang nyakitin saya."


"Saya cuma merasa ... seharusnya pertanyaan itu nggak menjadi wajar."


"Saya memahami kamu, Alma." Terdapat jeda di satu halaman. "Tidak apa-apa jika satu dua kali Ummi dan keluarga besar saya bertanya kepada kamu tentang kehamilan. Saya masih merasa itu wajar. Namun jika lebih dari tiga sampai empat kali, saya tidak akan membiarkan itu terulang lagi."


"Kamu yakin?"

__ADS_1


Jafar mengangguk.


Alma menghela napas pelan dan menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Jafar. "Saya nggak masalah sama pertanyaan Ummi. Cuma mungkin, sebagai seorang menantu saya sedikit merasa takut."


"Saya takut nggak bisa memenuhi keinginan Ummi untuk memiliki cucu." Alma mengigit bibir bawah. Kemudian ia kembali berujar, "Belum lagi, kamu adalah anak semata wayang, Mas."


"Dan lagi pula, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha. Namun jika Allah tak berkehendak pun, seorang janin---"


Ucapan Alma tertahan saat benda kenyal itu saling bersentuhan. Ada apa? Kenapa bisa tiba-tiba begini? Satu tangannya terangkat mendorong pelan dada bidang Jafar. Sedikit sesak. Ia butuh pasokan oksigen, terlalu lama ciuman ini.


"Kamu ... kamu kenapa, Mas?"


Jafar menggeleng. Lelaki itu mendekat dan mencium singkat keningnya.


"Jangan mengucapkan sesuatu yang seperti itu, Alma. Saya tidak suka. Bukankah seharusnya kamu bisa menjaga lisanmu? Kamu tidak lupa bahwa terkadang-kadang ucapan manusia bisa menjadi do'a. Jadi tolong ucapkan sesuatu yang baik dari bibirmu. Jika tidak bisa? Lebih kamu diam saja."


Itu yang Alma baca setelah lima belas detik suaminya menulis dan meletakkan buku catatan itu di ranjang. Lantas Jafar memasuki kamar mandi, tanpa menatapnya lagi.


Kamu benar, Mas ...


Alma ber-istighar berkali-kali, memohon apa pun akan prasangka buruknya pada sang pencipta. Jafar benar. Mengapa orang-orang sepertinya yang dapat berbicara tak pandai menjaga lisan?


"Mas ..." ujar Alma saat melihat pintu kamar mandi kembali terbuka.


Jafar mendekat dan kembali duduk di sampingnya.


"Maaf."


Jafar mengangguk saja.


"Saya nggak janji bisa jaga lisan saya sebaik orang-orang terdahulu saya, Mas. Tapi saya bakal berusaha terus. Makasih udah ingetin saya, Mas."


Jafar mengangguk lagi.


Kamar ini sunyi. Bahkan remang-remang, karena lampu utama kamar dimatikan oleh Jafar, dan dari kaca hotel terlihat pemandangan pusat kota yang semakin larut. Mungkin sekarang sudah memasuki pukul delapan malam, selalu saja lampu-lampu yang tersusun di gedung-gedung tinggi membuat keindahan tersendiri di pusat kota ini.

__ADS_1


Tangan Alma terasa di genggam. Jafar pun telah berganti menggunakan pakaian santai, tak kerja juga. Sebab sebelum magrib semuanya telah usai dikerjakan. Pendingin ruangan menyapu bahunya, suhu ruang ini agaknya tak bersahabat. Ia hendak bangkit mengambil remote AC, namun tak sempat.


Benda kenyal milik Jafar kembali mengecup-ngecup bahu kanan Alma, sampai menjalar pada leher. Lantas di sikapnya, surai panjang yang menutupi leher indah sang istri. Harumnya sama. Selalu membuatnya suka.


"Kamu ... mau lagi?"


Tangan kiri Jafar mengusap-usap lembut pipi kiri Alma sesaat hendak mencumbu bibir merah yang sedikit pucat karena sang istri tak berdandan.


Terlepas.


"Nggak pa-pa, kok ... kalau ..." Alma menghindari tatapan Jafar. "Mau lagi, Mas."


Jafar kembali mengecup setiap jengkal tubuh sang istri. Seperti halnya tadi siang, tetapi sekarang ada yang berbeda dari Alma saat ia menyikap lingerie bagian atas. Ada tanda merah di sana.


"Ke-napa?"


Jafar menggeleng.


"Itu ... bekas tadi ..." Jafar tiba-tiba saja menyentuh salah satu gundukan. "Mas ..."


Jafar berhenti.


"Saya ... saya ha-haus. Saya mau minum dulu."


Jafar terdiam sejenak. Sesaat kemudian ia tersadar dan tersenyum tipis menjauhkan diri dari tubuh Alma yang terburu-buru bangkit mendekati meja yang berhadapan-hadapan dengan sofa. Lantas sesegera meneguk air mineral.


Jafar menatapnya seolah-olah bertanya, sudah?


"Mau ... lanjut?" tanya Alma mendekati Jafar, lagi.


"Boleh?" Jafar menggerakkan bibirnya.


Alma mengangguk. "Boleh. Kalau kamu mau."


"Mau."

__ADS_1


Alma tertawa ringan melihat suaminya yang sedikit kalut. Ia merebahkan diri terlebih dahulu di ranjang dan disusul oleh Jafar.


Sebenarnya ... masih sakit, Mas.


__ADS_2