Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 2 : Kenapa Kamu Berpikir Seperti Itu?


__ADS_3

Sebelum kelahiran Dilara. Jafar selalu berpikir positif mengenai keadaannya yang akan segera membaik. Namun nyata apa? Tidak kunjung ada kemajuan, bahkan sampai Dilara lahir dan usainya telah menginjak 2 tahun pun, Jafar masih tidak bisa berucap sepatah kata pun.


Sedih, memang. Tetapi untuk terus bertahan demi Dilara dan Alma adalah sesuatu yang harus Jafar ingat-ingat sampai nanti. Sebab hidupnya tidak lagi abu-abu, ada warna, ada canda, ada tawa dan semua hal baru yang ia dapatkan dari gadis kecil yang sekarang terlelap di samping.


"Mas, Dilara udah tidur. Kamu mau saya buatin kopi buat begadang ngerjain penjualan?"


Jafar menggangguk.


Alma menyibukkan diri sejenak di dapur. Lantas setelahnya ia kembali ke kamar, ternyata sang suami telah duduk di sofa sibuk dengan laptop.


"Silakan, Mas."


Jafar masih sibuk dengan laptopnya. Bahkan tidak mengindahkan Alma sama sekali, entahlah ... pekerjaan baginya adalah tempat melupakan kegagalan diri sebagai seorang Ayah.


Meskipun Alma selalu mengatakan bahwa ia tidak pernah gagal, bahwa ia adalah Ayah yang baik. Sungguh ia tidak terlalu mempercayai itu. Sebab nyatanya, ia tidak menjadi kategori Ayah yang bisa dikatakan berhasil.


"Mas ..."


Jafar menengok.


"Kamu nggak capek?"


Jafar menggeleng, dan kembali menatap laptop. Kemudian merubah pada microsoft word lantas mengetik di sana. "Jika kamu lelah tidur saja, Alma. Saya bisa mengerjakan ini sendirian, tanpa perlu di temani."


"Tanpa perlu di temani?" Kening Alma mengerut, lantas ia menyandarkan punggungnya pada sofa. "Dulu ... waktu kita baru punya Dilara kamu selalu curi-curi waktu. Sekarang Dilara udah agak besar, kok kamu kayaknya cuek, ya?"


"Kenapa, Mas?" Alma menatap Jafar dari samping. "Saya nggak menarik lagi?"

__ADS_1


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


Alma membaca tulisan itu tanpa Jafar yang melihatnya. "Gimana bisa saya nggak berpikir seperti itu, Mas. Sedangkan kamu aja kelihatan aneh. Makin lama, makin menjauh dari saya."


"Maaf," tulis Jafar.


Alma menggeleng. "Saya nggak minta permintaan maaf kamu. Saya cuma tanya kenapa kamu jadi jauh? Jadi cuek kayak gini?"


Jafar tidak mengetik apa-apa.


"Mas, bahkan ..." Alma terdengar menghela. "Kalau boleh saya jujur sebagai istri kamu, saya ngerasa kayak kamu ini ... bener-bener udah nggak tertarik lagi sama saya, Mas."


"Buang pikiran burukmu, Alma. Saya benar-benar tidak pernah berpikir seperti itu." Jafar memberi jeda di sana. "Kamu tetap menarik di mata saya."



Maafkan saya, Alma, batinnya dengan perlahan-lahan membuka kerudung Alma. Kemudian sedikit membungkuk, hendak mengendong sang istri, yang baru saja ia sentuh telah membuka mata.


"Kamu mau ngapain?"


Jafar hanya menatap.


"Sudah selesai?"


Jafar mengangguk.


Alma bangkit dari sofa. "Ya udah. Kalau gitu ayo pindah ke ranjang."

__ADS_1


Jafar tiada pilihan selain mengikuti Alma yang sudah merebahkan diri. Sedangkan, Dilara masih tertidur pulas dalam satu ruangan yang di sekat oleh dinding kayu.


"Ah iya, saya lupa. Sebelum tidur kamu biasanya minum saffron hangat." Saat Alma hendak bangkit, lengannya di tahan oleh Jafar, gugur sudah niatnya untuk keluar kamar. "Apa, Mas? Kamu butuh sesuatu?"


Jafar menggeleng.


"Kalau gitu lepasin saya."


Jafar menggeleng, lagi.


Alma menghela napas dan mengambil gawai yang berada di meja samping ranjang, lantas memberikannya pada Jafar. "Ketik sesuatu, Mas. Saya nggak mau menyimpulkan hal yang macam-macam."


"Saya minta maaf."


Kening Alma mengerut saat membaca apa yang di ketik Jafar. "Soal apa?"


"Semuanya," jawab Jafar dalam tulisan.


Alma terdiam sejenak. "Sebelum saya maafin kamu. Saya boleh tanya, Mas?"


Jafar mengangguk.


"Kenapa ... kamu jadi kayak gini, Mas?" Tiga detik Alma menjeda. "Bahkan dalam hubungan yang intim pun rasanya ... saya nggak tahan buat tanya tentang hal ini."


Jafar menatapnya.


"Kenapa saat kita melakukan itu ... kamu harus menggunakan pelindung, Mas? Kamu kenapa? Menyesal memiliki anak dari saya?" imbuh Alma.

__ADS_1


__ADS_2